Free Stalker

Free Stalker
4. For Four


__ADS_3

Sean mengacak rambutnya. Ia menghela napas panjang. Dilonggarkannya dasi yang ia rasa agak ketat. Ia lelah dan pusing secara bersamaan.


Pikirannya menerawang pada gadis yang menjadi pasiennya. Pasien yang baru saja keluar dari ruangannya. Gadis berusia 13 tahun. Malang nian nasibnya, di usia yang masih belia seperti itu sudah mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh oleh orang tidak dikenal. Psikisnya terganggu. Miris. Sean bisa melihat betapa terlukanya gadis itu.


"Harusnya anak kecil itu udah masuk SMP, tapi psikisnya jadi terganggu gara-gara kelakuan orang bejat."


Sontak Sean mengalihkan pandangannya ke jendela. Hantu itu kembali datang. Dinaya terlihat duduk di kusen jendela dengan kedua kaki yang menggantung. Ia mengayun-ayunkan kakinya.


Katanya kaki hantu tidak pernah mencapai tanah. Namun, yang Sean lihat malah sebaliknya. Begitu Dinaya loncat dan mendaratkan kakinya di lantai, Sean berniat untuk membantah rumor itu di sebuah forum. Forum online bernama "Catch the ghost" itu diperuntukkan kepada orang-orang indigo dan siapapun yang menyukai hal-hal berbau horor.


Sean indigo? Inilah yang menjadi permasalahannya. Ia tidak tahu apakah benar ia telah menjadi indigo. Jujur, pertemuan pertamanya dengan Dinaya setelah gadis itu menghilang selama dua tahun terkesan biasa saja.


Hanya saja sedikit kaget ketika pada suatu pagi muncul yang pernah ia tolak cintanya itu. Dinaya datang ke ruangannya di rumah sakit. Seperti yang selalu dilakukannya, wanita itu menyatakan perasaannya. Padahal Sean sudah berulang kali menolak cinta Dinaya. Hingga wanita itu menghilang selama setahun. Lalu di pertemuan selanjutnya, Dinaya yang datang adalah hantu sekarang.


Sean mengalihkan pandangannya seolah tidak melihat kehadiran Dinaya. Hanya seperti ini cara menghindari hantu itu, berpura-pura tidak lihat.


"Heran deh, masih aja pura-pura gak lihat," cibir Dinaya menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


Sean mengabaikan Dinaya dan memfokuskan diri pada data-data pasien. Ia tidak peduli jika kepalanya terasa akan pecah karena menahan pusing.


"Kamu belum sarapan dan ngelewatin makan siang, Sean. Harus berapa kali aku ingatin kamu?" marah Dinaya dengan bersedekap di depan dada.


Sean tidak menggubrisnya. Ia menghela napas.


"Kamu mengabaikan aku lagi! Lihat aku, Sean! Mulai saat ini aku akan terus ganggu kamu!" sentak Dinaya kesal. Ia tidak bisa mengatur emosinya saat ini.


Sean masih terlihat tidak peduli. Tiba-tiba kertas yang dipegang Sean ditarik kasar oleh Dinaya. Sean memasang wajah kesal. Namun, tampaknya Dinaya tidak peduli. Wanita itu mengulurkan tangannya di dahi Sean.


"Panas ...," lirih Dinaya dengan raut wajah khawatir.


Sean menepis tangan Dinaya yang terasa dingin. Dia hampir lupa bahwa Dinaya adalah hantu. Dia menatap tajam Dinaya seolah menyuruhnya untuk tidak mengusik lelaki itu.


"Jangan sentuh aku!" desis Sean pelan.


"Kamu lebih baik istirahat dulu. Jangan terlalu paksain diri," saran Dinaya.


"Pergi!" perintah Sean dingin. Ia memejamkan mata dan menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Sakit aja masih nyebelin!" omel Dinaya yang masih tertangkap di telinga Sean.


Helaan napas terdengar. Sean tidak mau peduli. Ia masih beranggapan bahwa dirinya hanya sendirian di sana. Lama-lama ia bisa gila karena meladeni hantu. Sepertinya ia harus konsultasi dengan Sagitta, sekretaris Ren yang merupakan seorang indigo.


Sesuatu yang dingin menempel di dahi Sean. Ia kesal dengan sikap menyebalkan hantu itu.


"Aku udah bilang keluar!!!"


"Kamu ngusir aku, Sean?"


Suara itu berbeda dengan suara Dinaya. Refleks Sean membuka matanya. Ia melihat Yeni berdiri di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.


Sean memutari bola matanya di seluruh ruangan. Dinaya tidak ada di sana. Ia merasa bersalah pada Yeni. Apa wanita itu yang menempelkan plester kompres di dahinya? Lagipula tidak mungkin jika hantu yang melakukannya.

__ADS_1


"Maaf, aku gak bermaksud ngusir kamu. Tadi itu aku digangguin mulu soalnya," ucap Sean buru-buru sebelum Yeni melangkah pergi. Wanita itu tersenyum lega. Ia pun menarik kursi dan duduk di depan Sean.


"Kamu yang nempelin ini?" tanya Sean seraya menunjuk ke dahinya. Yeni mengangguk.


"Thanks."


"Urwel. Kamu kelihatannya demam, jadinya aku tempelin plester itu," jelas Yeni.


"Tahu dari mana kalau aku sakit? Kamu baru datang kan?" tanya Sean penasaran. Yeni mengusap lehernya dengan wajah memerah.


"Aku udah di sini sejak sejam yang lalu. Kamu tidur kupikir karena lelah dan aku nyoba nyentuh kening kamu. Ternyata kamu demam seperti dugaanku."


Sean mengernyit kebingungan. Sejam yang lalu? Ia bahkan merasa seperti baru tidur sekitar 15 menit. Sedari tadi ia bersama Dinaya dan dalam keadaan terjaga. Tidur selama sejam rasanya tidak mungkin.


Sean melirik jamnya. Benar. Ia telah melewatkan satu jam. Namun, bagaimana bisa? Lalu ke mana Dinaya? Hantu itu selalu muncul di saat dirinya sendirian. Bukankah seharusnya wanita ada di sini?


"Kamu kelihatan kebingungan. Lebih baik kamu istirahat aja. Badan kamu beneran panas, loh," saran Yeni terlihat khawatir. Sean mengangguk. Ia memang merasa kurang enak badan. Rasanya tidak mungkin untuk melanjutkan pekerjaannya. Lagi pula tidak ada pasien yang memiliki janji dengannya lagi.


"Siapa yang ganggu kamu?" tanya Yeni penasaran. Sean tidak mungkin mengatakan kebenarannya. Bisa-bisa ia dianggap gila oleh Yeni.


"Gak tau. Kucing kali," sahut Sean asal. Yeni mengernyitkan keningnya. Bagaimana mungkin kucing? Ia bahkan tidak melihat seekor kucing pun di sana.


Sean membereskan mejanya. Yeni membantu Sean. Yeni sudah berdiri di sebelah Sean untuk memapahnya, tetapi Sean menolak. Rasanya tidak pantas dipapah di saat ia hanya terserang demam.


Yeni dan Sean berjalan bersisian. Yeni terlihat bahagia dengan senyuman yang berkembang di bibirnya.


"Pulang bareng aku?" tanya Sean menawarkan.


"Aku gak selemah itu. Nyetir mobil masih oke, kok," kekeh Sean. Yeni mengangguk. Lagipula ini kesempatan baik untuk mendekati Sean lagi.


Yeni dan Sean masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman rumah sakit. Hingga mobil melaju meninggalkan rumah sakit, Yeni masih bingung memulai percakapan.


"Kamu gak kerja? Tahu dari mana tempat kerjaku?" tanya Sean memulai pembicaraan. Yeni bersyukur Sean memilih mencairkan suasana.


"Kerja, kok. Aku cuma mau ketemu kamu doang. Tadinya aku mau pulang, tapi karena nunggu kamu aku minta izin sama Ren. Masalah tempat kerja kamu, aku tanya Ren. Gak nyangka kita berada di kota yang sama. Bahkan sejak setahun yang lalu." Yeni menjawab apa adanya. Sean tersenyum simpul. Yeni masihlah Yeni yang dulu. Suka blak-blakan.


"Setelah pulang dari Australia?" tebak Sean.


"Eum." Yeni mengangguk. Ia lalu memandang Sean dengan penuh kerinduan. Setahun tidak bertemu rasanya sangat lama.


Hening lagi. Yeni tidak suka suasana seperti ini. Namun, Sean sepertinya juga tidak tertarik dengan percakapan mereka. Yeni tidak suka begini, ia pun memutuskan membahas topik yang mungkin akan menarik.


"Kamu tahu alasan Dinaya meninggal?" tanya Yeni.


Deg.


Sean mengeratkan tangannya pada stir mobil. Pembahasan yang sedikit sensitif. Ia sebenarnya takut membahas wanita itu. Takut kalau kemunculannya datang secara mendadak. Sean tidak mau mati hanya karena serangan jantung.


"Aku gak tahu," sahut Sean pelan.


"Aku denger dari Ren kalau dia meninggal setelah kamu nolak dia dua tahun yang lalu. Duh, bodohnya aku yang tahu setelah satu tahun kemudian. Aku merasa bersalah sama dia. Ka--"

__ADS_1


"Karena kita pacaran?" tanya Sean memotong ucapan Yeni.


"Eum. Kayaknya terlalu kejam kalau kamu jadiin aku pacar kamu hanya karena mau nolak Dinaya. Kejam buat Dinaya ... dan juga aku."


Sean sedikit kaget dengan penuturan Yeni. Di luar dugaannya selama ini.


"Dinaya kayaknya bunuh diri."


Cciitt!


Sean mengerem mobilnya secara mendadak. Ia hampir saja menabrak mobil di depannya. Ia bahkan tidak melihat bahwa ada lampu merah.


Bunuh diri? Sean tidak tahu apa-apa. Sampai sekarang ia belum mencari tahu apapun tentang Dinaya. Jika Dinaya bunuh diri, berarti benar itu karena kejadian dua tahun yang lalu. Saat ia menolak Dinaya dengan kejam.


Sean mulai resah. Jika faktanya seperti itu, berarti bukan tanpa alasan arwah Dinaya terus menganggunya. Dinaya memiliki dendam padanya. Dia juga ingat mata Dinaya yang selalu memancarkan luka.


Apa yang diinginkan arwah Dinaya? Apa dia akan dibunuh karena kekejamannya waktu itu?


Dua tahun yang lalu. Kejadian buruk juga menimpa Ren, sahabatnya. Tunangan Ren kecelakaan dan koma. Sean tidak pernah tahu bahwa di tahun yang sama, ia juga memiliki takdir yang buruk.


Masih lekat di ingatan Sean, saat itu dia dan Ren berada di rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa tunangan Ren kecelakaan. Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang dibawa dengan bangkar dan ditutup kain putih. Tidak salah lagi, Sean sempat melihat gelang yang familiar. Kenapa Sean baru memikirkannya sekarang?


"Tadi itu bahaya Sean," peringat Yeni. Wanita itu hampir saja terbentur dengan dashboard mobil. Untung ada selt belt.


"Ma-maaf," cicit Sean masih memikirkan perihal Dinaya.


Yeni hanya bisa mengembuskan napas kesal. Persis seperti ketika mereka pacaran dulu. Sosok Yeni yang punya temperamen buruk. Suka marah. Namun, itu terlihat lucu bagi Sean.


"Kenapa ketawa?" tanya Yeni dengan wajah super kesalnya.


"Kamu lucu kalau lagi marah," ucap Sean di sela-sela tawanya. Yeni tersipu karena ucapan Sean. Sean juga lucu jika tertawa lepas seperti itu.


"Kamu suka ngambek. Persis seperti kita pacaran dulu. Dan kamu selalu harus dibujuk dengan es krim," kekeh Sean.


Raut wajah Yeni berubah. Ia menatap Sean dalam.


"Sean," panggil Yeni.


"Ya?" Sean memandang Yeni. Masih dengan tawanya.


"Aku gak suka ngambek. Dan aku gak suka es krim."


Sean menghentikan tawanya. Apa yang ia katakan tadi?


"Lampunya hijau, Sean!"


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sesosok wanita yang duduk dengan tenangnya di jok belakang. Memperhatikan reaksi dua manusia yang memiliki isi hati yang berbeda.


~Bahkan aku selalu terlihat di matamu.~


🌂🌂🌂

__ADS_1


__ADS_2