
Sean memang sudah gila karena menapakkan kakinya di rumah Dinaya. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan Om Romi dan Tante Gasyi. Entah bagaimana pertemuan mereka nanti. Sean sudah pasrah kalau-kalau mendapat minimal bogeman mentah di wajah gantengnya.
Menarik napas pelan, Sean memberanikan diri mengetuk pintu rumah bergaya elegan itu. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka lebar. Menampilkan seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenal.
"Nak Sean?"
Sean menampilkan senyuman manisnya. Awalnya, Sean berpikir kehadirannya tidak dibutuhkan. Di luar dugaan, Tante Gasyi malah menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
Rumah itu masih sama seperti beberapa tahun lalu. Jujur, Sean hanya beberapa kali bertemu dengan Tante Gasyi saat ia menjemput Mama Reyna yang ikut arisan.
Sean menerawangi isi rumah itu. Seingatnya dulu banyak foto Dinaya yang terpampang hampir di seluruh dinding rumah. Sekarang ke mana foto-foto itu?
Tak lama dari itu, Tante Gasyi muncul dengan membawa nampan berisi minuman sirup dingin dan setoples makanan ringan. Sean kembali menempati tempat duduknya semula. Tante Gasyi ikut duduk di hadapan Sean.
"Om Romi ke mana, Tan?" tanya Sean penasaran.
"Om Romi sama Tema keluar kota. Ada urusan pekerjaan," sahut Tante Gasyi. Tema adalah kakak lelaki Dinaya. Sean hanya bisa ber oh ria. Sungguh, ia merasa sangat canggung.
"Nak Sean kabarnya udah jadi psikolog, benar?" tanya Tante Gasyi mencairkan suasana yang sempat membeku. Sean hanya mengangguk pelan.
"Kamu udah hebat sekarang. Sudah lama gak datang lagi ke rumah. Mungkin semenjak Dinaya pergi," ujar Tante Gasyi. Ada raut kesedihan di wajah Tante Gasyi. Hal itu membuat hati Sean mencelos.
"Tan, kedatangan Sean ke sini sebenarnya ada maksud tertentu. Selain bersilahturahmi tentunya," ungkap Sean tidak mau basa-basi lagi. Mumpung nama Dinaya telah masuk dalam pembahasan.
"Tentang Dinaya?" tebak Tante Dinaya. Sean mengangguk pelan.
"Iya."
"Lupain aja, Sean."
Sean membelalakkan matanya mendengar ucapan Tante Gasyi. Wanita itu menyuruhnya melupakan apa?
"Maksud Tante?"
"Lupain Dinaya. Lupain tentang semua tentang dia. Apapun itu, anggap aja kamu gak pernah ketemu dia," ujar Tante Dinaya dengan mudahnya mengatakan hal itu.
Sean tidak menyangka ia akan mendapat respon seperti itu. Apa memang terlalu berat untuk mengatakan permasalahan Dinaya padanya? Dia hanya penasaran apa yang telah terjadi.
"Apa karena Sean, Tante? Dinaya pergi karena Sean, kan?" desak Sean tidak tahan lagi. Ia tidak bisa melupakannya begitu saja.
"Apapun alasan Dinaya pergi, lebih baik kamu lupain aja. Dinaya lebih bahagia tanpa kamu. Jadi, anggap aja kamu gak kenal dia."
"Gak bisa gitu aja, Tante. Sean ... Sean ...."
Sean tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia rasa nada bicaranya sudah melewati batas. Saat ini ia berbicara dengan orang yang lebih tua. Sangat tidak sopan rasanya jika berbicara dengan intonasi tinggi.
"Kalau gitu, apa yang akan kamu lakuin kalau tahu semuanya? Awalnya Tante biarin Dinaya berjuang buat kamu, Dinaya sudah dewasa jadi rasanya tidak mungkin Tante ikut campur. Tapi, setelah Dinaya kamu lukai hari itu, Tante merasa gagal jadi orang tua. Tante minta kamu paham perasaan kami sebagai orang tua," jelas Tante Gasyi.
Sean membungkam. Benar, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Semua sudah terlambat. Dinaya sudah pergi sejak lama dan kemapa baru sekarang Sean memikirkan nasib Dinaya? Apa hanya karena hantu Dinaya yang terus menganggunya?
"Tan--"
"Kalau untuk bahas Dinaya lagi, lebih baik kamu pulang."
__ADS_1
Itu pengusiran halus. Wajar, Tante Gasyi mungkin tahu seberapa brengseknya ia menyakiti Dinaya dulu. Hanya saja, benarkah ia tidak boleh mendapat sedikit informasi tentang kematian Dinaya?
"Oke. Sean minta maaf sebesar-besarnya karena Din--"
"Cukup lupain aja, ya?" mohon Tante Gasyi.
Sean tidak bisa menolaknya. Dia mengangguk penuh hingga senyuman wanita itu terbit. Bahkan untuk meminta maaf pun, Sean tidak diberi kesempatan.
Mungkin keluarga Dinaya sudah terlalu kecewa padanya. Sean tidak tahu harus apalagi. Ia pun meminta pamit pada Tante Gasyi. Tidak lupa menitip salam untuk dua lelaki yang juga menghuni rumah itu.
Dengan langkah berat, Sean keluar dari sana. Ia tidak mendapatkan informasi apapun. Bukannya lega, Sean semakin resah. Ia tidak tahu alasan apa yang membuat dirinya harus melupakan sosok Dinaya. Rasanya ... itu kejam.
Sean baru saja akan masuk ke dalam mobil, tetapi pergerakannya terhenti tatkala melihat sosok yang tidak asing muncul. Ia mengenalnya, bahkan sangat kenal dengan lelaki berkemeja putih. Devin.
Sean memburu langkahnya menghampiri Devin. Lelaki yang baru saja akan masuk ke dalam gerbang rumah Dinaya itu kaget dengan kehadiran Sean.
"Udah lama gak ketemu, Vin," sapa Sean. Devin tersenyum.
"Ya, udah lama banget. Gimana kabar lo?" tanya Devin ramah, seperti biasa.
"Gue? Kayak yang lo lihat," sahut Sean. Devin manggut-manggut.
"Ya, gue rasa juga gitu. Gak ada yang perlu gue khawatirin. Lo selalu baik-baik aja."
Entah perasaan Sean saja, kalimat itu sedikit menyindirnya. Sean berdeham dan memasang wajah yang tak kalah ramah.
"Lo mau ke rumah Dinaya?" tanya Sean. Devin menoleh sesaat ke kawasan rumah Dinaya.
Sean hanya manggut-manggut. Pertanyaan retorisnya hanya untuk meyakinkan saja. Matanya tak sengaja terhenti pada sebuah buket bunga. Devin yang menyadari mata Sean mengarah pada bunganya buru-buru menyembunyikannya di belakang tubuh.
"Ehm! Lo baru aja dari rumah ini juga?" tanya Devin yang jelas-jelas mengalihkan perhatian Sean.
"Iya."
"Kalau gitu gue masuk dulu."
Mendadak Devin menghindarinya. Ada apa sebenarnya? Pasti ada yang salah mengingat wajah Devin yang terlihat gugup.
Sean menahan tangan Devin. Jangan harap ada gerakan slow motion seperti di drama-drama. Sean menatap Devin dengan tatapan mengintimidasi.
"Lo keliatan terburu-buru," ucap Sean setengah menyindir.
"Perlu gue kasih tahu ke lo?" tanya Devin terlihat tidak suka.
"Okay. Bukan urusan gue. Tapi ... gue kayaknya butuh lo saat ini," sahut Sean bersungguh-sungguh.
Sean kenal Devin dengan baik. Jika Sean adalah penjahat bagi Dinaya, maka Devin adalah superhero-nya. Jika Sean menolak cinta Dinaya secara mentah-mentah, maka Devin rela menampung cinta Dinaya walau bagiannya hanya sedikit. Jika Sean terlalu buta apapun mengenai Dinaya, maka Devin tahu segalanya.
Kehadiran Devin saat ini di depan rumah Dinaya juga menjadi pertanyaan besar bagi Sean. Sebegitu cintanya Devin pada Dinaya hingga masih saja membawa buket bunga yang sama seperti waktu sebelumnya.
"Gue enggak ada waktu buat lo," sinis Devin.
See? Keramahan Devin menghilang. Ya, seperti itulah Devin yang sebenarnya. Memusuhi Sean.
__ADS_1
"Tapi lo pasti punya waktu untuk Dinaya, kan?" sindir Sean.
Devin tersenyum sinis. Dia meneliti tubuh Sean dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Mungkin ada yang salah di sini. Sejak kapan seorang Sean tertarik untuk bahas Dinaya?"
"Sejak Dinaya meninggal, mungkin," sahut Sean dengan nada mengejek.
Bukk!!!
Sean terjatuh akibat pukulan keras dari Devin. Sean sudah menyiapkan dirinya jika dipukul oleh Om Romi atau Tema, tetapi di luar dugaan bahwa si pejuang cintanya Dinayalah yang melakukan hal itu.
Sean tersenyum miring. Ia mengelap bibirnya yang mengeluarkan darah. Menatap penuh remeh pada Devin. Ia ingin tahu sejauh mana kemarahan Devin padanya.
"Gue udah tahan terlalu lama untuk enggak mukul lo. Tapi sekarang gue udah muak lihat wajah lo. Seharusnya lo gak ada di sini hari ini. Masih punya muka buat datangi rumah Dinaya?" murka Devin dengan napas terengah-engah. Dia cukup marah ternyata.
Devin bahkan tidak peduli dengan buket bunganya yang sudah tergeletak begitu saja di tanah. Ia ingin menghajar Sean hingga mati, tetapi logikanya masih berjalan. Ia masih perlu melakukan beberapa hal lagi sebelum masuk penjara jika memang ingin menghabisi Sean.
Sean bangkit dari posisinya. "Segini doang? Lo gak berniat mukul gue sampe mati?"
Tepat. Devin memang ingin melakukan hal itu. Namun, waktunya belum tepat.
"Gue akan bunuh lo di waktu yang tepat. Tapi bukan sekarang. Gue harus penuhi janji seseorang dulu." Masih dengan nada marah Devin menyahut ucapan Sean.
"Seseorang itu Dinaya?"
"Lo perlu tahu?" sinis Devin.
"Gue suka lihat lo kayak gini. Perjuangan lo kelihatan berarti. Gak kayak pengecut selama ini, sok berperan jadi sahabat yang baik bagi Dinaya," decih Sean meremehkan.
Devin mencengkram kerah Sean dengan tatapan tajam. "Coba lo pikirin, pengecut mana gue sama lo?"
Sean menolak tubuh Devin menjauhinya. Ia cukup tersinggung dengan ucapan Devin.
"Apa maksud lo?" tanya Sean tidak terima.
"Gak ada yang perlu gue jelasin ke lo. Cuma mau bilang, sekarang perasaan lo gak berarti apa-apa. Lupain Dinaya. Anggap dia gak pernah ada di hidup lo," sahut Devin.
Emosi Sean tersulut dan dengan penuh amarah, ia melayangkan satu bogeman di rahang Devin. Sungguh, awalnya ia tidak berniat membalas. Namun, ia tidak suka dengan kata-kata Sean. Mereka satu sama.
"Setelah Dinaya ngusik hidup gue, lo nyuruh gue lupain gitu aja?" tanya Sean dengan penuh emosi. Devin tersenyum sinis.
"Kenapa? Lo gak bisa lupain Dinaya? Apa susahnya lupain dia?"
Sean tidak tahan untuk membogem Devin lagi. Namun, ia rasa tidak perlu meladeni lelaki itu. Ia memilih masuk ke dalam mobilnya.
"Gimana rasanya jatuh cinta? Mati rasa? Sayangnya, Tuhan enggak memihak lo."
Mungkin benar, Sean harus membogem Devin lagi.
~Jadi, gimana rasanya jatuh cinta?~
Tbc.
__ADS_1