GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 1, BANGUNAN TUA BERDARAH


__ADS_3

Sebuah  bangunan  tua, berdiri kokoh


dengan angkuhnya. Sebagian bangunan tua itu sudah keropos dan retak ditelan


masa. Konon nya bangunan tua itu sudah berusia ratusan tahun yang lalu. Tampak


dari bangunannya bekas peninggalan zaman Belanda. Rumput dan ilalang menjalar


panjang dimana-mana, rimbun sekali. Sebuah anak sungai kecil terletak di


belakang bangunan tua itu. Airnya mengalir amat lambat, dari sebuah mata air.


Airnya jernih dan teramat dingin. Rimbunan pohon dan akar yang mulai menjalar


ke seluruh bangunan, nampak sangat angker. Banyak yang menyebut bangunan itu


sebagai bangunan angker. Karena banyak kejadian-kejadian berdarah yang


mengerikan terjadi di sana.


Tak seorang pun yang berani menjajakinya.Banyak sarang laba-laba dan hewan melata lainnya. Gentengnya sudah hancur


dan berserakan di lantai berlumut. Temboknya sudah berubah warna dan retak.


Halaman belakang rimbun, penuh ilalang. Sebuah pohon beringin bertengger di


halaman belakang. Konon pohon itu sangat angker. Setiap malam sering terdengar


tangisan-tangisan pilu yang menyayat hati. Belum lagi penampakan sosok


perempuan dengan wajah hancur penuh belatung dan wajahnya hangus terbakar. Sosok


mengerikan itu muncul di balik jendela. Menyeringai dengan gigi yang tajam.


Senja  itu


Riri baru saja keluar dari sekolah. Kegiatan ekstra sangat menyita


waktunya. Padahal ia berusaha agar pelajaran ekskul diganti menjadi hari minggu


saja. Namun banyak guru yang nggak setuju.


Riri keluar dengan perasaan cemas. Sudah sore. Ia


berharap agar tiba di rumah sebelum maghrib. Tapi sayang, magrib telah berlalu


dan malam pun menjelang. Riri turun dari angkutan umum. Dari jalan besar Riri


berjalan menyelusuri jalan kecil yang gelap menuju perkampungan. Untuk menuju


rumahnya ia terpaksa melintasi bangunan  tua berhantu itu. Pohon–pohon yang rindang dan


gelap sebagian ada penunggunya. Pohon–pohon besar itu seolah hidup dan seakan


ingin menerkam dirinya. Tak seorang-pun ia temukan melintas di sana. Riri


bergidik lagi. Keringat dingin mengucur deras membasahi keningnya. Riri kembali


untuk tenang, namun jantungnya berdebar kencang tak menentu. Sambil mendekap


bukunya, Riri terus berjalan dengan tertunduk.


Malam yang sunyi dan gelap teramat panjang dirasa.


Tak ada seorang-pun yang berani keluar malam itu. Seolah mereka pun tahu malam


itu akan ada kejadian  mengerikan!!


Samar terdengar


suara seseorang berjalan di belakangnya. Riri menghela nafas dengan lega. Ia


mengucap syukur, ada seseorang yang menemaninya. Riri mempercepat langkahnya


menyelusuri jalan-jalan kecil yang penuh semak dan belukar. Batu kerikil


yang  tajam sudah tak dirasakan lagi.


Perlahan Riri menoleh ke arah sosok seorang yang


berjalan di belakangnya. Seorang wanita tua  membawa bakul di pundaknya. Wajahnya tidak kelihatan karena terlalu


gelap. Riri ingin menghentikan langkahnya, namun terasa berat sekali. Ingin ia


menyapa wanita  tua itu. Tapi begitu ia


menoleh untuk yang kedua kali, sosok tubuh tua itu menghilang dari kegelapan.


Riri semakin bergidik dan ketakutan. Keringat dingin mengucur terus-menerus


membasahi sekujur tubuhnya. Tengkuknya  merinding tiada terkira. Kemudian Ia berlari kecil tak tentu


arah.


Malam semakin gelap dan sepi menjadi malam


yang sangat menyeramkan. Riri menangis ketakutan.  Seluruh persendiannya bergetar. Namun  ia terus berlari dan berlari.


 “Riri...”


tiba–tiba suara seseorang memanggil namanya. Suara nyaring mengerikan yang


membangunkan bulu kudu’. Suara–suara kematian dari liang kubur yang bangkit di


malam itu. Tengkuk Riri terasa semakin membesar dan dingin. Riri berusaha lari


sekencang–kencangnya. Ia terus berlari melewati  ilalang-ilalang panjang dan semak belukar. Riri mempercepat satu


langkah. Buku yang didekapnya pun berjatuhan dan berserakan dimana-mana. Ia

__ADS_1


tidak perduli lagi dengan semua itu. Ia terus berlari dan berlari. Tiba-tiba


saja ia terantuk pada sebuah pohon besar di depannya. Pohon beringin yang


menjulang tinggi! Dengan keangkuhannya pohon itu seolah menghadang Riri. Riri


merintih lirih kesakitan. Dengan sempoyongan Riri berusaha menjauhi pohon itu.


Pohon yang dikenal tempat menghuni bangsa jin dan setan. Suara-suara kematian


itu selalu mengikutinya. Decak telapak kaki menghampirinya, namun tak berbayang


dan tidak berwujud.


Riri terjatuh menubruk sesuatu. Bukunya


berserakan di rerumputan dan semak belukar. Riri terpaku memperhatikan


sekelilingnya. Sebuah hutan yang rindang dan penuh dengan pohon-pohon raksasa.


Riri kembali menangis dan terus berlari mencari tempat berlindung. Langkahnya


terhenti ketika sebuah suara menyapanya.


“Kenapa kau berlari, nak…?“ suara itu


nyaring bertanya.


Riri terkejut. Suara itu semakin dekat di


gendang telinganya. Tidak ada bentuk dan wujud, hanya gerakannya yang membekas


di semak-semak. Riri bergerak mundur ketakutan.


“Siapa kau?!!” tanya Riri seraya berteriak.


Nafasnya tersengal sambil memegangi kepalanya, ia bergerak mundur.


“Kau bertanya kepadaku?”  suara itu semakin melengking. Riri


bergidik  lagi.


“Bangkitlah, nak. Kau tidak usah takut.


Karena ketakutan mu akan hilang malam  ini, begitu hilangnya jasad dari dirimu!“


Riri terkejut setengah mati.


“Apa maksudmu?!  Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dariku?!!“


Teriak Riri sambil menangis.


“Aku  ingin  nyawa-mu!!! “


“Tidaaak!!! Kau tidak berhak mengambil


nyawaku!!!“ sergah Riri sambil terus berlari. Ketakutan yang kian menggerogoti


Mendadak saja di depannya muncul sosok


seorang pelajar smu yang bersimbah darah.


“Kau!! ” pekik Riri tertahan.


“Kau mengenalku?“ sosok itu bertanya serius


dengan tatapan tajam.


“Tidak, aku tidak mengenalmu..!“ suara Riri


terdengar semakin berat.


“Aku adalah korban kebejatan seorang guru.


Mereka telah merenggut keperawanan ku. Aku tidak terima itu!!“


“Tapi apa sangkut pautnya denganku? “


“Hahahahhaaaaa!!“ sosok itu menyeringai.


“Ayahmu telah memperkosahku!! Aku murkah


padamu!!“


“Tidaaak!!! Itu tidak mungkin!!“ Riri


terisak.


Angin bertiup kencang. Sekelebatan bayangan


putih tiba-tiba muncul di depannya. Kini arwah seorang wanita baya dengan


anaknya yang muncul di depan Riri. Mereka menangis terseduh. Air matanya


berwarna kemerahan. Lehernya terpenggal mengerikan.


“Siapa kalian?“ tanya Riri seakan menjerit


ketakutan. Menutup matanya berkali-kali.


“Anak durjanah!!“ suara wanita baya itu


keluar melengking.


“Apa yang kalian ingin kan dariku?!!“


“Aku ingin kau menjadi penghuni baru kastil


kami.”

__ADS_1


“Tidaaak!!“ Riri menjerit dan kembali


bergerak mundur. Kemudian berlari dengan kencangnya. Riri menjerit dengan


histeris minta pertolongan, namun malam itu tak seorang pun mendengar


jeritannya. Riri terjatuh lagi ketika sebuah batu besar menghalangi langkahnya.


Kemudian ia bangkit dari jatuhnya dan berlari lagi. Malam itu tepat malam


jum’at ke lima belas. Bulan purnama memancar terang di langit hitam. Perlahan cahayanya  mulai redup karena tertutup  kabut  hitam.


Kilatan cahaya menyambar beberapa kali.


Cahayanya yang menyilaukan itu seolah membelah langit ketujuh. Angin bertiup


kencang  sekali,  menghempas tubuh Ririh.


“Toloooong!!!” teriak Riri  keras. Sambil menangis ia berlari tanpa


tujuan. Akhirnya ia tiba di sebuah bangunan tua yang selama ini ia takuti. Riri


berhenti sejenak memperhatikan bangunan tua itu. Ia tidak menyadari kalau roh


gentayangan itu telah menarik hatinya. Sambil tertatih-tatih ia masuk lewat


pintu depan yang sudah keropos. Ia melihat pecahan-pecahan kaca berserakan


bersimbah darah. Bau busuk dan bangkai menyeruak menjadi satu. Riri menangis


lagi sejadi–jadinya.


Roh–roh gentayangan itu telah menanti


kedatangannya. Sosok tubuh tak berkepala itupun muncul dengan mengerikan. Darah


yang mulai menggumpal dan ulat–ulat yang berjatuhan membuat Riri tak berdaya.


Sosok seorang bocah cilik yang merintih kesakitan dan meraung karena kepalanya


yang terpenggal menghampiri Riri. Sekoyong–konyong saja Riri menjerit histeris.


Beberapa penggalan kepala komunis zaman belanda dulu pun melototinya dengan


lumuran darah!! Mata-mata itu perlahan meleleh copot dari pelopaknya. Sebagian


kepala yang mengerikan itu sudah berulat. Riri menjerit lagi. Jeritannya lebih


histeris. Riri berusaha lari dari tempat itu. Namun seketika itu pula Riri


terjatuh dan tergelincir. Terjerembab di lantai dan menubruk sesuatu yang


memuakan.


Terlihat tubuh seorang pelajar smu dengan


seragam sekolah. Terbujur kaku tak bernyawa. Sebagian tubuhnya sudah busuk dan


mengeluarkan bau tak sedap. Riri menjerit histeris. Kemudian ia bangkit dan


berlari lagi mencari tempat persembunyian. Namun lagi-lagi Riri terpeleset dan


tergelincir. Ia terpeleset dari anak tangga. Kemudian terjerembab dengan


kuatnya. Sebuah benda tajam menusuk tenggorokkannya hingga ia mengerang


kesakitan. Darah segar segera saja memuncrat deras membanjiri anak tangga. Riri


pun dengan seketika berhenti bernafas. Darah segar mengucur lagi membanjiri


anak tangga yang angker. Riri tewas dengan kepala terpenggal di anak tangga.


Setelah beberapa kali tubuh Riri menggelepar dengan diakhiri dengus nafas yang


tersengal berat.


Roh itu tertawa melengking dan menyeringai misteri. Ternyata roh-roh


gentayangan itu punya dendam kesumat pada Roto, papa Riri. Roh-roh gentayangan


itu adalah orang-orang yang telah dijoliminya. Difitnah dan dihujat. Dia adalah


janda beranak satu yang difitnah Roto.


Malam itu Gordy tengah asyik menunggu Riri, adiknya


sambil tertidur di kursi panjang. Sudah jam dua belas, kenapa Riri belum juga


pulang,’ batinnya.


“Kreeeeek….” Tiba–tiba suara pintu nyaring


terbuka. Suara pintu itu semakin aneh terdengar. Sosok tubuh Riri berdiri di


depan pintu. Wajahnya  pucat dan dingin.


Gordy terbangun memandangi wajah Riri yang mendadak menjadi aneh.


“Riri, dari mana aja sih? Kakak kan capek menunggu


sampai jam segini.“ kata Gordy memarahi, ia melirik arlojinya. Tepat pukul dua


belas malam. Riri hanya terdiam dengan mata sayu.


Tiba-tiba saja kepala Riri terpenggal jatuh


ke lantai. Sekonyong-konyong saja Gordy terkejut setengah mati, ia menjerit


histeris. Matanya terbelalak melihat tubuh adiknya yang sudah berlumuran

__ADS_1


darah!!


__ADS_2