
Sebuah bangunan tua, berdiri kokoh
dengan angkuhnya. Sebagian bangunan tua itu sudah keropos dan retak ditelan
masa. Konon nya bangunan tua itu sudah berusia ratusan tahun yang lalu. Tampak
dari bangunannya bekas peninggalan zaman Belanda. Rumput dan ilalang menjalar
panjang dimana-mana, rimbun sekali. Sebuah anak sungai kecil terletak di
belakang bangunan tua itu. Airnya mengalir amat lambat, dari sebuah mata air.
Airnya jernih dan teramat dingin. Rimbunan pohon dan akar yang mulai menjalar
ke seluruh bangunan, nampak sangat angker. Banyak yang menyebut bangunan itu
sebagai bangunan angker. Karena banyak kejadian-kejadian berdarah yang
mengerikan terjadi di sana.
Tak seorang pun yang berani menjajakinya.Banyak sarang laba-laba dan hewan melata lainnya. Gentengnya sudah hancur
dan berserakan di lantai berlumut. Temboknya sudah berubah warna dan retak.
Halaman belakang rimbun, penuh ilalang. Sebuah pohon beringin bertengger di
halaman belakang. Konon pohon itu sangat angker. Setiap malam sering terdengar
tangisan-tangisan pilu yang menyayat hati. Belum lagi penampakan sosok
perempuan dengan wajah hancur penuh belatung dan wajahnya hangus terbakar. Sosok
mengerikan itu muncul di balik jendela. Menyeringai dengan gigi yang tajam.
Senja itu
Riri baru saja keluar dari sekolah. Kegiatan ekstra sangat menyita
waktunya. Padahal ia berusaha agar pelajaran ekskul diganti menjadi hari minggu
saja. Namun banyak guru yang nggak setuju.
Riri keluar dengan perasaan cemas. Sudah sore. Ia
berharap agar tiba di rumah sebelum maghrib. Tapi sayang, magrib telah berlalu
dan malam pun menjelang. Riri turun dari angkutan umum. Dari jalan besar Riri
berjalan menyelusuri jalan kecil yang gelap menuju perkampungan. Untuk menuju
rumahnya ia terpaksa melintasi bangunan tua berhantu itu. Pohon–pohon yang rindang dan
gelap sebagian ada penunggunya. Pohon–pohon besar itu seolah hidup dan seakan
ingin menerkam dirinya. Tak seorang-pun ia temukan melintas di sana. Riri
bergidik lagi. Keringat dingin mengucur deras membasahi keningnya. Riri kembali
untuk tenang, namun jantungnya berdebar kencang tak menentu. Sambil mendekap
bukunya, Riri terus berjalan dengan tertunduk.
Malam yang sunyi dan gelap teramat panjang dirasa.
Tak ada seorang-pun yang berani keluar malam itu. Seolah mereka pun tahu malam
itu akan ada kejadian mengerikan!!
Samar terdengar
suara seseorang berjalan di belakangnya. Riri menghela nafas dengan lega. Ia
mengucap syukur, ada seseorang yang menemaninya. Riri mempercepat langkahnya
menyelusuri jalan-jalan kecil yang penuh semak dan belukar. Batu kerikil
yang tajam sudah tak dirasakan lagi.
Perlahan Riri menoleh ke arah sosok seorang yang
berjalan di belakangnya. Seorang wanita tua membawa bakul di pundaknya. Wajahnya tidak kelihatan karena terlalu
gelap. Riri ingin menghentikan langkahnya, namun terasa berat sekali. Ingin ia
menyapa wanita tua itu. Tapi begitu ia
menoleh untuk yang kedua kali, sosok tubuh tua itu menghilang dari kegelapan.
Riri semakin bergidik dan ketakutan. Keringat dingin mengucur terus-menerus
membasahi sekujur tubuhnya. Tengkuknya merinding tiada terkira. Kemudian Ia berlari kecil tak tentu
arah.
Malam semakin gelap dan sepi menjadi malam
yang sangat menyeramkan. Riri menangis ketakutan. Seluruh persendiannya bergetar. Namun ia terus berlari dan berlari.
“Riri...”
tiba–tiba suara seseorang memanggil namanya. Suara nyaring mengerikan yang
membangunkan bulu kudu’. Suara–suara kematian dari liang kubur yang bangkit di
malam itu. Tengkuk Riri terasa semakin membesar dan dingin. Riri berusaha lari
sekencang–kencangnya. Ia terus berlari melewati ilalang-ilalang panjang dan semak belukar. Riri mempercepat satu
langkah. Buku yang didekapnya pun berjatuhan dan berserakan dimana-mana. Ia
__ADS_1
tidak perduli lagi dengan semua itu. Ia terus berlari dan berlari. Tiba-tiba
saja ia terantuk pada sebuah pohon besar di depannya. Pohon beringin yang
menjulang tinggi! Dengan keangkuhannya pohon itu seolah menghadang Riri. Riri
merintih lirih kesakitan. Dengan sempoyongan Riri berusaha menjauhi pohon itu.
Pohon yang dikenal tempat menghuni bangsa jin dan setan. Suara-suara kematian
itu selalu mengikutinya. Decak telapak kaki menghampirinya, namun tak berbayang
dan tidak berwujud.
Riri terjatuh menubruk sesuatu. Bukunya
berserakan di rerumputan dan semak belukar. Riri terpaku memperhatikan
sekelilingnya. Sebuah hutan yang rindang dan penuh dengan pohon-pohon raksasa.
Riri kembali menangis dan terus berlari mencari tempat berlindung. Langkahnya
terhenti ketika sebuah suara menyapanya.
“Kenapa kau berlari, nak…?“ suara itu
nyaring bertanya.
Riri terkejut. Suara itu semakin dekat di
gendang telinganya. Tidak ada bentuk dan wujud, hanya gerakannya yang membekas
di semak-semak. Riri bergerak mundur ketakutan.
“Siapa kau?!!” tanya Riri seraya berteriak.
Nafasnya tersengal sambil memegangi kepalanya, ia bergerak mundur.
“Kau bertanya kepadaku?” suara itu semakin melengking. Riri
bergidik lagi.
“Bangkitlah, nak. Kau tidak usah takut.
Karena ketakutan mu akan hilang malam ini, begitu hilangnya jasad dari dirimu!“
Riri terkejut setengah mati.
“Apa maksudmu?! Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dariku?!!“
Teriak Riri sambil menangis.
“Aku ingin nyawa-mu!!! “
“Tidaaak!!! Kau tidak berhak mengambil
nyawaku!!!“ sergah Riri sambil terus berlari. Ketakutan yang kian menggerogoti
Mendadak saja di depannya muncul sosok
seorang pelajar smu yang bersimbah darah.
“Kau!! ” pekik Riri tertahan.
“Kau mengenalku?“ sosok itu bertanya serius
dengan tatapan tajam.
“Tidak, aku tidak mengenalmu..!“ suara Riri
terdengar semakin berat.
“Aku adalah korban kebejatan seorang guru.
Mereka telah merenggut keperawanan ku. Aku tidak terima itu!!“
“Tapi apa sangkut pautnya denganku? “
“Hahahahhaaaaa!!“ sosok itu menyeringai.
“Ayahmu telah memperkosahku!! Aku murkah
padamu!!“
“Tidaaak!!! Itu tidak mungkin!!“ Riri
terisak.
Angin bertiup kencang. Sekelebatan bayangan
putih tiba-tiba muncul di depannya. Kini arwah seorang wanita baya dengan
anaknya yang muncul di depan Riri. Mereka menangis terseduh. Air matanya
berwarna kemerahan. Lehernya terpenggal mengerikan.
“Siapa kalian?“ tanya Riri seakan menjerit
ketakutan. Menutup matanya berkali-kali.
“Anak durjanah!!“ suara wanita baya itu
keluar melengking.
“Apa yang kalian ingin kan dariku?!!“
“Aku ingin kau menjadi penghuni baru kastil
kami.”
__ADS_1
“Tidaaak!!“ Riri menjerit dan kembali
bergerak mundur. Kemudian berlari dengan kencangnya. Riri menjerit dengan
histeris minta pertolongan, namun malam itu tak seorang pun mendengar
jeritannya. Riri terjatuh lagi ketika sebuah batu besar menghalangi langkahnya.
Kemudian ia bangkit dari jatuhnya dan berlari lagi. Malam itu tepat malam
jum’at ke lima belas. Bulan purnama memancar terang di langit hitam. Perlahan cahayanya mulai redup karena tertutup kabut hitam.
Kilatan cahaya menyambar beberapa kali.
Cahayanya yang menyilaukan itu seolah membelah langit ketujuh. Angin bertiup
kencang sekali, menghempas tubuh Ririh.
“Toloooong!!!” teriak Riri keras. Sambil menangis ia berlari tanpa
tujuan. Akhirnya ia tiba di sebuah bangunan tua yang selama ini ia takuti. Riri
berhenti sejenak memperhatikan bangunan tua itu. Ia tidak menyadari kalau roh
gentayangan itu telah menarik hatinya. Sambil tertatih-tatih ia masuk lewat
pintu depan yang sudah keropos. Ia melihat pecahan-pecahan kaca berserakan
bersimbah darah. Bau busuk dan bangkai menyeruak menjadi satu. Riri menangis
lagi sejadi–jadinya.
Roh–roh gentayangan itu telah menanti
kedatangannya. Sosok tubuh tak berkepala itupun muncul dengan mengerikan. Darah
yang mulai menggumpal dan ulat–ulat yang berjatuhan membuat Riri tak berdaya.
Sosok seorang bocah cilik yang merintih kesakitan dan meraung karena kepalanya
yang terpenggal menghampiri Riri. Sekoyong–konyong saja Riri menjerit histeris.
Beberapa penggalan kepala komunis zaman belanda dulu pun melototinya dengan
lumuran darah!! Mata-mata itu perlahan meleleh copot dari pelopaknya. Sebagian
kepala yang mengerikan itu sudah berulat. Riri menjerit lagi. Jeritannya lebih
histeris. Riri berusaha lari dari tempat itu. Namun seketika itu pula Riri
terjatuh dan tergelincir. Terjerembab di lantai dan menubruk sesuatu yang
memuakan.
Terlihat tubuh seorang pelajar smu dengan
seragam sekolah. Terbujur kaku tak bernyawa. Sebagian tubuhnya sudah busuk dan
mengeluarkan bau tak sedap. Riri menjerit histeris. Kemudian ia bangkit dan
berlari lagi mencari tempat persembunyian. Namun lagi-lagi Riri terpeleset dan
tergelincir. Ia terpeleset dari anak tangga. Kemudian terjerembab dengan
kuatnya. Sebuah benda tajam menusuk tenggorokkannya hingga ia mengerang
kesakitan. Darah segar segera saja memuncrat deras membanjiri anak tangga. Riri
pun dengan seketika berhenti bernafas. Darah segar mengucur lagi membanjiri
anak tangga yang angker. Riri tewas dengan kepala terpenggal di anak tangga.
Setelah beberapa kali tubuh Riri menggelepar dengan diakhiri dengus nafas yang
tersengal berat.
Roh itu tertawa melengking dan menyeringai misteri. Ternyata roh-roh
gentayangan itu punya dendam kesumat pada Roto, papa Riri. Roh-roh gentayangan
itu adalah orang-orang yang telah dijoliminya. Difitnah dan dihujat. Dia adalah
janda beranak satu yang difitnah Roto.
Malam itu Gordy tengah asyik menunggu Riri, adiknya
sambil tertidur di kursi panjang. Sudah jam dua belas, kenapa Riri belum juga
pulang,’ batinnya.
“Kreeeeek….” Tiba–tiba suara pintu nyaring
terbuka. Suara pintu itu semakin aneh terdengar. Sosok tubuh Riri berdiri di
depan pintu. Wajahnya pucat dan dingin.
Gordy terbangun memandangi wajah Riri yang mendadak menjadi aneh.
“Riri, dari mana aja sih? Kakak kan capek menunggu
sampai jam segini.“ kata Gordy memarahi, ia melirik arlojinya. Tepat pukul dua
belas malam. Riri hanya terdiam dengan mata sayu.
Tiba-tiba saja kepala Riri terpenggal jatuh
ke lantai. Sekonyong-konyong saja Gordy terkejut setengah mati, ia menjerit
histeris. Matanya terbelalak melihat tubuh adiknya yang sudah berlumuran
__ADS_1
darah!!