
Andien menatapi kampus bercat abu-abu di depannya. Bangunan megah itu terletak di
sebuah sudut jalan. Dekat persimpangan kota.
Namun sepertinya banyak yang tidak kenal dengan bangunan itu. Kampus yang sudah
lama ditinggalkan itu menjadi sebuah saksi bisu. Kampus bercat putih itu mulai
kusam dan hancur. Dindingnya mulai retas dan berlumpur. Atapnya banyak yang
bocor hingga meleleh ke lantai. Membasahi lantai semen yang kini mulai
menjamur. Kelihatan gersang, suram dan kotor. Sebagian sisi kampus ditumbuhi
pohon-pohon liar dan rimbun. Cat putih yang mulai usang dan terkelupas membuat
orang merinding melihatnya. Kayu-kayu tua yang berserakan di sebagian gedung
membuat suasana kampus semakin angker!
Adien terpaku dengan pandangan tajam. Tak seorangpun mahasiswa
dijumpainya. Bagaikan kampus tidak berpenghuni.
Andien bergidik ngeri melihat kenagkuhan bangunan itu. Kemudian
membetulkan kacamatanya yang sesekali melorot dari batang hidungnya.
Seminggu yang lalu Andien mendapat beasiswa dari kampus yang belum sama
sekali dikenalnya itu. Sudah lama sekali ia ingin mendapatkan beasiswa dari
salah satu universitas. Apalagi universitas itu terkenal di mata orang. Tak
salah rasanya ia menerima tawaran itu.
Andien memperhatikan kertas putih ditangannya berkali-kali. Apa ada yang
salah dengan catatan itu? Tidak sama sekali. Nama kampus, alamat, dan sketsa
sama persis.
“Tapi kenapa gersang sekali?” bisik Andien kecil. Hatinya mulai ragu.
Perlahan Andien melangkahkan kakinya dengan berat. Berharap ia tidak
salah melangkah. Karena kampus di depannya pantas disebut bangunan tua. Yang
berdiri diatas tanah luas di pinggir jalan.
Andien mengernyitkan kening sambil terus menatap tajam gedung di
depannya. Kembali ia memperhatikan sudut kampus yang mulai reot. Bangku-bangku
kayu banyak berserakan dan rusak. Tapi baru beberapa langkah saja ia berjalan
mendadak saja suasana kampus berubah. Hembusan angin menghalangi pandangannya,
dengan sekejap mata keadaan yang semula sepi dan gersang mendadak berubah
menjadi suasana kampus yang ramai mahasiswanya.
Andien tertegun seketika. ‘Apakah aku bermimpi?’ pikirnya. Gedung kampus
di depannya mendadak saja berubah bersih dan rapi. Pekarangan depan ditumbuhi
bunga-bunga segar dan pagar tersusun rapi. Dari sudut koridor terlihat beberapa
dosen tengah bercengrama dengan mahasiswa. Memakai baju putih dengan model
tahun tujuh puluhan. Potongan baju yang aneh dengan warna-warna kusam. Andien
memperhatikan mereka dengan lekat. Memperhatikan cara berpakaian mereka yang
sudah ketinggalan zaman.
“Kuno banget sih,” selahnya pelan.
Andien mendekap bukunya di dada dan berjalan dengan perlahan. Melewati
beberapa mahasiswa dan dosen. Memperhatikan mereka satu persatu. Namun mendadak
saja ia tercekat. Sesuatu yang aneh terlintas dibenaknya. Gerakan para dosen
dan mahasiswa yang tengah bercengkrama di sudut koridor amat lambat dari
putaran roda kehidupan. Andien melirik arlojinya dengan seketika. Dan untuk
kedua kalinya ia merasa kaget. Jam di pergelangan tangannya tidak bergerak
sedikitpun. Padahal pagi tadi jam itu baik-baik saja.
‘Jam ku mati,’ ucapnya pelan, sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Mungkin jarum jamnya terselip satu-sama lain. Namun tetap saja mati. Andien
terus saja berkutat dengan jam tangannya, kesal dan mulai tidak tenang.
Keringat dingin mendadak saja membasahi keningnya.
Andien mendongakan kepalanya dengan perlahan, kembali menatap ke depan.
dan lagi-lagi suasana mendadak berubah. Andien terkesiap. dosen yang tadinya
bercengkrama di sudut koridor mendadak saja hilang. Suasana sepi.
“Kenapa mereka?” batinnya heran. Andien menghela degan berat dan terus
saja berjalan melewati beberapa ruangan. Terlihat sepi dan hening. Beberapa
koridor juga terlihat senyap. ‘Hei, kemana mereka? Baru saja mereka berkeliaran
di sini, kok sudah nggak ada?’ bisik Andien seraya mengatur detak jantungnya.
__ADS_1
Laboratorium yang terletak di sudut koridor terlihat berantakan. Sesaat
terlintas di hidungnya wangi daging panggang yang membuat perutnya keroncongan.
Kebetualan tadi pagi ia tidak sarapan. Barangkali disekitar sini ada penjual
sate.
Beberapa kali Andien menelan air liurnya. Menenangkan perutnya yang
benar-benar keroncongan. Dari pentalasi kaca ruangan terlihat beberapa
mahasiswa tengah berkutat di pemanggangan. Andien terhenti dan memperhatikan
merekadengan lekat. Menaikkan sebelah alisnya. ‘Kok ada acara bakar-bakar?’
batinnya lagi. Andien terkejut ketika seorang mahasiswa menatapnya dengan
tajam. Matanya seakan menusuk jantung Andien hingga mencabik-cabiknya dengan
sadis. Buru-buru Andien menunduk dan segera berlalu. Namun Andien masih
penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Andien mencoba mengintai dari
pentalasi lain. Dan…..
Deg!! Jantung Andien bergemuruh kencang sekali.
Andien terkejut alang kepalang. Matanya terbelalak kaget begitumelihat
kejadian mengerikan yang dilakukan mahasiswa di ruang laboratorium. Mereka
memanggang seonggok kepala manusia dan memekannya dagingnya degan lahap.
Penggalan kepala seorang perempuan. Rambutnya tergerai dan sebagia terbakar
oleh api.
“Wuuaaak!”
Andien mendadak saja merasa mual dan mau muntah melihatnya. Degan jantung
yang terus bergemuruh kencang Andien buru-buru berlari dari tempat itu.
Berusaha meminta tolong dengan dengan bibir bergetar. Namun suara itu seakan
berlalu terbawa angina.
Dengan perasaan kalut dan keringat bercucuran Andien terus berlari melewati
koridor. Ruangan-ruangan usang dan berserakan. Namun lagi-lagi suasana kampus
mendadak saja berubah dalam sekejap mata. Suasana mendadak saja menjadi gelap.
Awan putih berubah menjadi kelabu. Angin berhembus sepoy namun basah.
Andien menangis dengan buku berserakan di lantai yang kini ditumbuhi
Andien terjatuh di sudut koridor. Dan melihat beberapa ruangan kampus
yang porak poranda dan diwarnai jeritan-jeitanhisteris mahasiswi. Jerit
ketakutan yang teramat dalam. Jeritan yang sangat memilukan itu
terngiang-ngiang di benak Andien.
Dari kejauhan terlihat beberapa orang pemuda dengan perawakan seram
menyeret seorang mahasiswa dan membantainya hingga luka memar di sekujur
tubuhnya. Andien bergidik melihat kejadian itu.
“Hei, jangan sakiti orang itu!” teriak Andien seketika dengan bibir
bergetar. Namun orang berperawakan tinggi berkulit hitam itu tidak
menggubrisnya. Bahkan mereka tidak menghiraukan kehadiran Andien disana.
“Hei, lepaskan dia!” teriak Andien lagi.
Beberapa kali mereka tidak menggubris kata-kata Andien. Kemudian menyeret
mahasiswa itu dengan kejam. Mengikat lehernya dan menutup matanya. Sesekali
mereka menendang dan memukul dengan bongkahan kayu hingga kepala mahasiswa itu
pecah dan mengeluarkan darah segar. Andien bergidik ngeri menutup matanya.
Menangis sejadi-jadinya sambil terus berlari. Andien menjerit ketakutan. Namun
diperempatan gedung mendadak saja suasan menjadi hening. Tidak ada seorangpun
disana. Andien menatap ruangan kosong yang berabu. Bau busuk menyengat di
hidungnya. Hingga ia terbatuk beberapa kali. Keringat terus mengucur deras
membanjiri tubuhnya.
Andien bergidik lagi. Ketakutan yang sangat luar biasa mendera dirinya.
“Sebaiknya kamu segera meninggalkan kampus ini.” mendadak saja Andien
terkejut ketika seorang menyapanya. Seorang laki-laki culun memakai seragam
putih. Rambutnya terbela samping dan kuno.
“Kamu siapa?” tanya Andien ragu. Bibirnya bergetar ketakutan.
“Itu tidak perlu. Belum saatnya kamu menempati kampis ini.“ ucapnya lagi.
“Tapi, aku mendapatkan beasiswa dari kampus ini.“ suara Andien parau.
“Hari sudah semakin gelap. Sebaiknya kamu pulang saja.“ Laki-laki itu
__ADS_1
terus saja melarang keinginan Andien.
Andien kembali memperhatikan beberapa koridor yang kelihatan sepi. Dan
mendadak saj lelaki itu hilang dari pandangannya. Jantung Andien
semakinbergumuruh kencamg.
Suara lolongan anjing pun mendadak saja membahan di senja itu. Lolongan
mengerikan dan membangkitkan arwah gentayangan dari liang kubur. Dengan nafas
tersengal Andien berusaha mencari pintu keluar. Namun di ruang perpustakaan
yang kini hancur berantakan, Andien melihat beberapa mahasiswa yang memotong
leher mereka sendiri. Darah mengucur deras membanjiri lantai. Seorang mahasiswa
juga membantai beberapa dosen di ruangan laboratorium. Ia memenggal kepala
seorang dosen yang tidak suka dengannya. Andien terkejut dan menjarit lagi
ketakutan.
Dari ujung koridor seseorang memanggil-manggil namanya.
“Andiieeeennn,“ suara iu lembut namun menggetarkan bulu roma. Andien
berpaling dengan keringat bercucuran. Air matanya seakan membanjiri pipinya.
“Tidaaaaak!!!” jerit Andien menangis. ”Jangan akuuu.” isaknya tersedu.
Dengan bergegas ia berlari menjauh dari tempat itu. Namun lagi-lagi ia kembali
ke tempat semula. Tempat dimana ia
melihat beberapa mahasiswa dengan bercak darah di bajunya. Andien berlari lagi
berusaha mencari gerbang kampus. Nafasnya terus tersengal dan keringat mengucur
deras. Tiba-tiba saja Andien terpeleset di sebuah ruangan gelap. Terpelanting
di sebuah anak tangga dan terjerembab di lantai. Tubuh Andien terkulai tak
berdaya. Malam semakin mencekam. Suara lolongan anjing semakin mengerikan.
@@@
Keesokan pagi, Andien ditemukan seorang penjaga kampus yang sudah tua
rentah. Lelaki itu mengguncang-guncang tubuh Andien yang terkulai di lantai.
Perlahan Andien pun terbangun dengan terkejut.
“Kenapa nona ada di sini?” tanya lelaki baya itu ketika Andien siuman.
“Saya dimana, pak?” tanya Andien heran
“Nona ada di kampus tua.”
“Kampus tua?” Andien terkejut memperhatikan lelaki baya itu.
“Kampus ini sudah lama sekali tidak dipergunakan, non. Sudah lebih
sepuluh tahun yang lalu.”
“Sepuluh tahun?” Andien terbelalak. ”Tapi saya mendapat beasiswa itu
seminggu yang lalu, pak.”
“Kamu telah tertipu dengan bisikan arwah itu.”
“Arwah siapa, pak?”
“Hh..kejadian itu sudah lama sekali. Pembantaian yang dilakukan oleh
beberapa ******* dan seorang mahasiswa yang frustasi karena tidak dapat
mengikuti ujian Negara. Seorang dosen ia mengizinkan dia ikut ujian itu, dan
akhirnya ia ingin balas dendam. Dia membantai dosen dan membunuhnya.
Menggantung dan memenggal kepala dosen, bahkan membakarnya hidup-hidup.
Beberapa mahasiswa jadi korbannya.”
“Jadi…”
“Sebaiknya kamu pulang saja. Tidak ada yang selamat dalam tragedy itu.
Hanya beberpa orang saja yang mampu bertahan. Semua dibantai.”
“Siapa orang itu, pak?”
“Saya dan istri saya.”
Andien menelai air liurnya memperhatikan cerita lelaki itu.
“Saya berhasil melarikan diri dari ruang bawah tanah. Dan beberapa teman
lainnya.”
Andien tertunduk.
“Sekarang pulanglah. Orang tuamu telah menanti kehadiranmu.” kata lelaki
itu memapah Andien keluar dari gerbang kampus. Andien kembali memperhatikan
kampus tua itu sambil bergidik ngeri. Kemudian mengambil kertas formulir yang
bertuliskan kampus XXX tahun 1960.
“Haaaahk..!”
__ADS_1