
Malam gelap menyelimuti Desa
Sidomulyo. Sebuah desa kecil di perkebunan kelapan sawit. Suara binatang malam
bersahutan silih berganti. Kadang suara itu terdengar menyeramkan manakala suara
burung hantu yang entah darimana datangnya mewarnai keheningan malam.
Angin dingin yang basah
menyapu seisi desa Sidomulyo. Desa yang di kelilingi kebun kelapa sawit itu
tampa angker dan menakutkan. Orang-orang desa tatkala menarik selimutnya ketika
malam tiba. Tak seorang pun yang berani keluar di malam itu.
Konon arwah seorang gadis
remaja berusia tujuh belas tahun sering muncul di persimpangan kebun.
Kematiannya yang tragis itu menyisakan ketakutan yang amat dalam bagi warga
desa Sidomulyo. Gadis itu mati mengenaskan pada malam jum’at kliwon di bulan
suro. Bulan yang sangat keramat.
Kadang kala kemunculan arwah
gadis itu membangkitkan bulu kudu. Belum lagi rintihannya yang sangat
memilukan. Dan wajahnya yang sangat mengerikan.
Hawa dingin semakin menusuk
tulang. Malam kian mencekam. Lampu-lampu rumah di tepian jalan mulai padam.
Bayangan-bayangan hitam yang memantul bak sebuah monster seakan ini menerkam
desa kecil itu.
Rimba yang
malam itu turun dari angkutan umum menghentakkan kakinya. Ia melangkah dengan
berat, melihat kebun kelapa sawit yang begitu gelap, pekat dan menakutkan.
Rimba baru
saja tiba di desanya. Ia terhenti sesaat sambil menghela nafas dengan berat.
Rongga pernafasannya seakan sesak ketika hembusan angin yang dingin menerpa
tubuhnya. Ia terhenti memperhatikan pendopo masuk ke desanya yang sudah mulai
rusak. Desanya yang dulu rapi dan bersih, kini gersang dan tidak terurus.
’Kemana warga
desa?’ batinnya heran.
Rimba
melangkahkan kakinya menyelusuri perkebunan sawit. Sesekali ia menghapus keringat
dingin yang membasahi keningnya. Suara-suara binatang malam seakan memecahkan
hening yang semakin mencekam. Bauh anyir mendadak saja menyengat hidungnya. Di
sebuah jembatan kecil. Mendadak saja bulu kuduknya meremang.
Rimba
melewati jalan-jalan becek dan berlumpur. Beberapa meter lagi ia akan sampai di
sebuah tikungan dimana telah bertengger gubuk kecil tempat ronda para hansip.
Namun malam itu tak seorang pun di jumpai di sana. Reman cahaya lampu pijar
seakan menyeka pandangannya. Samar ia mendengar tangisan pilu yang sangat
menyayat hati. Suara seorang gadis. Rimba tersentak kaget. Suara berat itu
seperti dikenalnya.
Rimba
terhenti di persimpangan pondok kecil. Lamat-lamat ia memperhatikan sosok
seorang gadis duduk di gubuk itu. Rimba memicingkan matanya untuk mengamati
sosok gadis yang memakai baju putih itu.
”Asty...”
selahnya parau. Dengan berat bercampur gelisa, Rimba menghampiri sosok Asty.
”Asty.” sapa
Rimba ragu. Gadis itu menoleh dengan pelan.
”Kak, Rimba.”
Gadis itu menyahut dengan parau.
”Kenapa
malam-malam begini kamu ada di sini?”
Gadis itu
diam saja sambi sesenggukan. Rimba menghampirinya dan memapah pundaknya.
”Kamu
kenapa?” tanya Rimba lagi. Menatap wajah Asty dengan lekat. Gadis itu
__ADS_1
menggeleng dengan berat.
”Ayo, kakak
antar pulang ya.” pujuk Rimba.
”Tapi, kak.”
”Sudah, kakak
akan bilang sama orang tua kamu nanti.”
”Kalau mereka
tidak menerima Asty, bagaimana?”
”Asty,
bagaimana orang tua tidak mau menerima anaknya sendiri?”
”Tapi,
kak...” Asty tertuntuduk. Kemudian mengikuti langkah Rimba menyelusuri
perjalanan. Rimba merasakan dinginnya angin malam. Apalagi saai ia mengamit
jemari tangan Asty.
”Tanganmu
dingin sekali, As?” tanya Rimba dikeheningan. Asty tidak menjawab. Ia hanya
tertunduk dengan mata tidak berkedip.
”Kamu sakit?”
Gadis itu
menggeleng. Rimba kembali merasakan keanehan yang terselubung di wajah Asty.
Seperti ada masalah yang ia tutupi dari Rimba. Belum lagi Rimba merasa aneh,
karena tubuh Asty bergitu ringan seperti kapas.
”Sudah
sampai, kak. Asty di sini saja.” ucap Asty ketika tiba tak jauh dai rumahnya.
”Biar kaka
antar kamu sampai depan pintu.”
”Nggak usah,
kak.” Asty menepisnya.
”Baiklah
kalau begitu kamu pulanglah. Kakak pergi dulu.” ucap Rimba seraya melangkahkan
kakinya. Ia kembali menghirup angin malam yang semakin dingin. Pikiran-pikiran
memastikan kalau Asty sedang berjalan menujuh rumahnya. Dan megetuk pintu
depan. Namun Asty tidak kelihatan.
’Apakah Asty
sudah tiba di rumah?’ batin Rimba bertanya. Sementara ia tidak mendengar suara
Asty mengetuk pintu. ’Apa mungkin pintu mereka sengaja idak dikunci, agar Asty
bisa masuk.’
Rimba kembali
melangkahkan kakinya. Kemudian melirik jam tangannya.’ Sudah jam dua belas
malam.’
@@@
Pagi itu
Rimba melamun di depan teras rumahnya.
”Kasihan Asty
ya, bu.” ucap Rimba pada ibunya. Kemudian ia menenggak susu hangat buatan ibu.
”Hhh, kasihan
memang gadis itu. Ibu juga tidak menyangka Asti nekat berbuat itu.”
Rimba
terpaku. Matanya tajam menatap ibu.
”Apa yang
sudah diperbuat Asty, bu?” tanya Rima penasaran.
”Begitulah
cinta anak muda zaman sekarang.”
”Maksud ibu?”
Rimba mengernyitkan keningnya.
”Sudahlah,
Rimba. Malam ini pa nyoto mengundang kamu untuk kirim doa.”
Rimba kembali
__ADS_1
keheranan. Masih penasaran dengan perkataan ibu.
”Kirim doa
utuk siapa, bu?”
”Kamu ini
aneh. Ya, untuk Asty.” jawab ibu sekenahnya. Rimba semakin bingung.
”Memangnya
Asty kenapa, bu?” Rima semakin penasaran.
”Sudah empat
puluh hari Asty dikebumikan, Rimb.” ucap ibu seakan memecahkan jantung Rimba.
Kontan saja Rimba sesenggukan.
”Asty
dikebumikan???” Rimba terlihat kaget. ”Nggak mungkin, bu. Tadi malam Rimba
bertemu dengan Asty. Kasihan dia, menangis di gubuk ronda.”
”Astagfirullah,
Rimba. Itu pasti arwah Asty. Arwah Asty memang masih gentayangan. Kata pak
ustad dia belum diterima bumi.”
Rimba terpaku
menatap ibu. Seakan bibirnya keluh dengan hal itu. Rimba kembali mengingat
pertemuan itu. Memang saa itu ada keanehan yang tersimpan dalam diri Asty.
”Jadi
Asty...?”
”Asty
meninggal dunia karena bunuh diri.” jawab ibu seakan membuat tengkuk Rimba
merinding. Gadis ibu memang mati bunuh diri. Setelah sang kekasih merenggut
kehormatannya, dan menabur benih kenistaan. Sang kekasih tidak bertanggung
jawab dan malah pergi meninggalkan Asty. Ayah dan ibu Asty juga tidak menerima
keberadaan Asty dikampungnya. Asty putus asa dan bunuh diri.
”Asty... malang
sekali nasipmu...” guman Rimba pelan. Dulu dia memang sangat mengagumi sosok
Asty. Namun karena perbedaan kedudukan, Rimba hanya menyimpan sisa cinta itu.
”Jangan
melamun terus, Rim. Kamu segera mandi, sudah sore. Pak Nyoto sudah menunggu.”
Kata ibu mengejutkan. Rima masih tidak percaya akan perbuatan Asty yang sangat
tragis.
@@@
Sore itu
Rimba harus kembali ke kota. Karena besok ada sebuah pekerjaan yang harus ia
selesaikan. Namun karena kelamaan menunggu ibu, Rimba baru keluar saat senja
menjelang magrib.
Ia
menyelusuri jalan setapak yang penuh dengan semak dan belukar. Kebun kelapa
sawit semakin kelihatan menakutkan. Dan Rimba tercekat ketika mendengar suara
Asty menangis pilu. Rimba bergegas melangkahkan kaki nya. Mempercepat gerakan
itu dengan terburu-buru.
”Jangan
tinggalkan Asty, kak...” Suara rintihan pilu kembali terngiang di telinga
Rimba. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.
’Asty...’
bisiknya pelan.
”Jangan
ganggu kakak, As. Biarkan kakak pergi. Kembalilah kamu ke alammu. Kita sudah
berbeda jauh.”
”Asty takut
sendiran, kak...”
”Sudahlah,
Ast. Mohon ampun pada yang kuasa. Semoga engkau di terima di sisi-Nya.”
Asty menangis
dengan suara yang sangat memilukan. Perlahan tangisan itu pun menghilang bagai
__ADS_1
dihembus angin malam. Arwah Asty pun seakan melebur di telan bumi.
@@@