GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 5, MALAM MENCEKAM


__ADS_3

Malam gelap menyelimuti Desa


Sidomulyo. Sebuah desa kecil di perkebunan kelapan sawit. Suara binatang malam


bersahutan silih berganti. Kadang suara itu terdengar menyeramkan manakala suara


burung hantu yang entah darimana datangnya mewarnai keheningan malam.


Angin dingin yang basah


menyapu seisi desa Sidomulyo. Desa yang di kelilingi kebun kelapa sawit itu


tampa angker dan menakutkan. Orang-orang desa tatkala menarik selimutnya ketika


malam tiba. Tak seorang pun yang berani keluar di malam itu.


Konon arwah seorang gadis


remaja berusia tujuh belas tahun sering muncul di persimpangan kebun.


Kematiannya yang tragis itu menyisakan ketakutan yang amat dalam bagi warga


desa Sidomulyo. Gadis itu mati mengenaskan pada malam jum’at kliwon di bulan


suro. Bulan yang sangat keramat.


Kadang kala kemunculan arwah


gadis itu membangkitkan bulu kudu. Belum lagi rintihannya yang sangat


memilukan. Dan wajahnya yang sangat mengerikan.


Hawa dingin semakin menusuk


tulang. Malam kian mencekam. Lampu-lampu rumah di tepian jalan mulai padam.


Bayangan-bayangan hitam yang memantul bak sebuah monster seakan ini menerkam


desa kecil itu.


Rimba yang


malam itu turun dari angkutan umum menghentakkan kakinya. Ia melangkah dengan


berat, melihat kebun kelapa sawit yang begitu gelap, pekat dan menakutkan.


Rimba baru


saja tiba di desanya. Ia terhenti sesaat sambil menghela nafas dengan berat.


Rongga pernafasannya seakan sesak ketika hembusan angin yang dingin menerpa


tubuhnya. Ia terhenti memperhatikan pendopo masuk ke desanya yang sudah mulai


rusak. Desanya yang dulu rapi dan bersih, kini gersang dan tidak terurus.


’Kemana warga


desa?’ batinnya heran.


Rimba


melangkahkan kakinya menyelusuri perkebunan sawit. Sesekali ia menghapus keringat


dingin yang membasahi keningnya. Suara-suara binatang malam seakan memecahkan


hening yang semakin mencekam. Bauh anyir mendadak saja menyengat hidungnya. Di


sebuah jembatan kecil. Mendadak saja bulu kuduknya meremang.


Rimba


melewati jalan-jalan becek dan berlumpur. Beberapa meter lagi ia akan sampai di


sebuah tikungan dimana telah bertengger gubuk kecil tempat ronda para hansip.


Namun malam itu tak seorang pun di jumpai di sana. Reman cahaya lampu pijar


seakan menyeka pandangannya. Samar ia mendengar tangisan pilu yang sangat


menyayat hati. Suara seorang gadis. Rimba tersentak kaget. Suara berat itu


seperti dikenalnya.


Rimba


terhenti di persimpangan pondok kecil. Lamat-lamat ia memperhatikan sosok


seorang gadis duduk di gubuk itu. Rimba memicingkan matanya untuk mengamati


sosok gadis yang memakai baju putih itu.


”Asty...”


selahnya parau. Dengan berat bercampur gelisa, Rimba menghampiri sosok Asty.


”Asty.” sapa


Rimba ragu. Gadis itu menoleh dengan pelan.


”Kak, Rimba.”


Gadis itu menyahut dengan parau.


”Kenapa


malam-malam begini kamu ada di sini?”


Gadis itu


diam saja sambi sesenggukan. Rimba menghampirinya dan memapah pundaknya.


”Kamu


kenapa?” tanya Rimba lagi. Menatap wajah Asty dengan lekat. Gadis itu

__ADS_1


menggeleng dengan berat.


”Ayo, kakak


antar pulang ya.” pujuk Rimba.


”Tapi, kak.”


”Sudah, kakak


akan bilang sama orang tua kamu nanti.”


”Kalau mereka


tidak menerima Asty, bagaimana?”


”Asty,


bagaimana orang tua tidak mau menerima anaknya sendiri?”


”Tapi,


kak...” Asty tertuntuduk. Kemudian mengikuti langkah Rimba menyelusuri


perjalanan. Rimba merasakan dinginnya angin malam. Apalagi saai ia mengamit


jemari tangan Asty.


”Tanganmu


dingin sekali, As?” tanya Rimba dikeheningan. Asty tidak menjawab. Ia hanya


tertunduk dengan mata tidak berkedip.


”Kamu sakit?”


Gadis itu


menggeleng. Rimba kembali merasakan keanehan yang terselubung di wajah Asty.


Seperti ada masalah yang ia tutupi dari Rimba. Belum lagi Rimba merasa aneh,


karena tubuh Asty bergitu ringan seperti kapas.


”Sudah


sampai, kak. Asty di sini saja.” ucap Asty ketika tiba tak jauh dai rumahnya.


”Biar kaka


antar kamu sampai depan pintu.”


”Nggak usah,


kak.” Asty menepisnya.


”Baiklah


kalau begitu kamu pulanglah. Kakak pergi dulu.” ucap Rimba seraya melangkahkan


kakinya. Ia kembali menghirup angin malam yang semakin dingin. Pikiran-pikiran


memastikan kalau Asty sedang berjalan menujuh rumahnya. Dan megetuk pintu


depan. Namun Asty tidak kelihatan.


’Apakah Asty


sudah tiba di rumah?’ batin Rimba bertanya. Sementara ia tidak mendengar suara


Asty mengetuk pintu. ’Apa mungkin pintu mereka sengaja idak dikunci, agar Asty


bisa masuk.’


Rimba kembali


melangkahkan kakinya. Kemudian melirik jam tangannya.’ Sudah jam dua belas


malam.’


@@@


Pagi itu


Rimba melamun di depan teras rumahnya.


”Kasihan Asty


ya, bu.” ucap Rimba pada ibunya. Kemudian ia menenggak susu hangat buatan ibu.


”Hhh, kasihan


memang gadis itu. Ibu juga tidak menyangka Asti nekat berbuat itu.”


Rimba


terpaku. Matanya tajam menatap ibu.


”Apa yang


sudah diperbuat Asty, bu?” tanya Rima penasaran.


”Begitulah


cinta anak muda zaman sekarang.”


”Maksud ibu?”


Rimba mengernyitkan keningnya.


”Sudahlah,


Rimba. Malam ini pa nyoto mengundang kamu untuk kirim doa.”


Rimba kembali

__ADS_1


keheranan. Masih penasaran dengan perkataan ibu.


”Kirim doa


utuk siapa, bu?”


”Kamu ini


aneh. Ya, untuk Asty.” jawab ibu sekenahnya. Rimba semakin bingung.


”Memangnya


Asty kenapa, bu?” Rima semakin penasaran.


”Sudah empat


puluh hari Asty dikebumikan, Rimb.” ucap ibu seakan memecahkan jantung Rimba.


Kontan saja Rimba sesenggukan.


”Asty


dikebumikan???” Rimba terlihat kaget. ”Nggak mungkin, bu. Tadi malam Rimba


bertemu dengan Asty. Kasihan dia, menangis di gubuk ronda.”


”Astagfirullah,


Rimba. Itu pasti arwah Asty. Arwah Asty memang masih gentayangan. Kata pak


ustad dia belum diterima bumi.”


Rimba terpaku


menatap ibu. Seakan bibirnya keluh dengan hal itu. Rimba kembali mengingat


pertemuan itu. Memang saa itu ada keanehan yang tersimpan dalam diri Asty.


”Jadi


Asty...?”


”Asty


meninggal dunia karena bunuh diri.” jawab ibu seakan membuat tengkuk Rimba


merinding. Gadis ibu memang mati bunuh diri. Setelah sang kekasih merenggut


kehormatannya, dan menabur benih kenistaan. Sang kekasih tidak bertanggung


jawab dan malah pergi meninggalkan Asty. Ayah dan ibu Asty juga tidak menerima


keberadaan Asty dikampungnya. Asty putus asa dan bunuh diri.


”Asty... malang


sekali nasipmu...” guman Rimba pelan. Dulu dia memang sangat mengagumi sosok


Asty. Namun karena perbedaan kedudukan, Rimba hanya menyimpan sisa cinta itu.


”Jangan


melamun terus, Rim. Kamu segera mandi, sudah sore. Pak Nyoto sudah menunggu.”


Kata ibu mengejutkan. Rima masih tidak percaya akan perbuatan Asty yang sangat


tragis.


@@@


Sore itu


Rimba harus kembali ke kota. Karena besok ada sebuah pekerjaan yang harus ia


selesaikan. Namun karena kelamaan menunggu ibu, Rimba baru keluar saat senja


menjelang magrib.


Ia


menyelusuri jalan setapak yang penuh dengan semak dan belukar. Kebun kelapa


sawit semakin kelihatan menakutkan. Dan Rimba tercekat ketika mendengar suara


Asty menangis pilu. Rimba bergegas melangkahkan kaki nya. Mempercepat gerakan


itu dengan terburu-buru.


”Jangan


tinggalkan Asty, kak...” Suara rintihan pilu kembali terngiang di telinga


Rimba. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.


’Asty...’


bisiknya pelan.


”Jangan


ganggu kakak, As. Biarkan kakak pergi. Kembalilah kamu ke alammu. Kita sudah


berbeda jauh.”


”Asty takut


sendiran, kak...”


”Sudahlah,


Ast. Mohon ampun pada yang kuasa. Semoga engkau di terima di sisi-Nya.”


Asty menangis


dengan suara yang sangat memilukan. Perlahan tangisan itu pun menghilang bagai

__ADS_1


dihembus angin malam. Arwah Asty pun seakan melebur di telan bumi.


@@@


__ADS_2