GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 13, PENGINAPAN ANGKER


__ADS_3

HOTEL itu terlihat suram


dengan bentuk bangunannya yang klasik. Hotel itu berlantai tiga dan memiliki


seratus tiga belas kamar di dalamnya. Atmosfernya menawarkan misteri masa lalu.


Cerita-cerita tragis beberapa tahun yang lalu masih tersirat di benak


masyarakat sekitar.


Hotel itu terkenal angker. Dulu


ada pembunuhan tragis di salah satu kamarnya. Tragedi pembantaian seorang


perempuan tuna susila yang di mutilasi menjadi tujuh bagian. Jasadnya di simpan


di dalam kasur hingga tidak seorangpun yang mengetahuinya. Jasad itu terbongkar


setelah tiga hari mayat itu mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.


Polisi tidak menemukan siapa pembunuhnya. Konon arwahnya gentayangan menghantui


tamu hotel yang lain.


Malam itu hujan deras sekali.


Angin berhembus kencang diiringi suara petir yang menggelegar bagai halilintar


menerjang. Di dalam hotel ada tiga remaja putri yang menginap satu malam saja. Listrik


padam sejak beberapa jam lalu. Tidak ada penerangan sama sekali. Hanya sebuah


lentera kecil yang menempel di dinding kamar. Ketiga remaja itu terlibat


pembicaraan yang serius.


“Kamu yakin kita menginap di hotel


ini, San?” tanya Laura berkomentar. Laura seorang penulis berusia sembilan


belas tahun. Cantik berkulit kuning langsat dengan mata bundar bercahaya. Laura


merasakan sebuah atmosfer aneh di ruangan itu.


“Sudahlah, La. Kita tidak punya


pilihan lain. Malam sudah semakin larut dan aku kedinginan. Kita mau cari


penginapan dimana lagi? Kamu kenapa sih seperti orang ketakutan begitu?”


Santi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Gadis itu suka dengan hal-hal


yang berbau mistis apalagi tempat-tempat klenik. Dia ingin membuktikan apakah


ada dunia lain selain dunia fanah ini.


“Iya, La. Kita sudah capek mencari penginapan, dan hotel ini yang paling dekat. Kita terpaksa menempati hotel ini.  Mana mati lampu dan hujan deras di luar sana.


Dingin banget, La.” celetuk Maya yang juga mengeringkan rambutnya.


Laura mengelus-elus lengannya yang semakin meremang sambil memperhatikan


seisi kamar. Tadi dia sempat berbincang-bincang dengan receptionis di bawah.


Sang resepsionis bercerita kalau hotel itu sudah sepi pelanggan sejak tiga


tahun yang lalu. Dia juga bercerita kalau ada mahasiswi tewas mengenaskan di


salah satu kamar hotel.


“Aku takut, San, May. Hotel ini tidak nyaman untuk kita. Aku khawatir.


Bulu kudukku merinding terus,” suara Laura terdengar gemetar.


“Alaaa…kamu penakut amat sih, La. Jangan parno gitu dong, gak bagus untuk


masa pertumbuhan mental. Kita cuma satu malam aja kok di sini. Selanjutnya kita


cari kamar kost.” Santi meletakkan handuk kecilnya di atas meja.


“Tapi aku takut, San… Aku


merasa gelisah.”


“Itu karena kamu ketakutan


dengan cerita-cerita imajinasimu sendiri. Di hotel ini tidak ada


apa-apanya, Laura. Apalagi hantu seperti dalam cerpen-cerpenmu itu. Jangan


konyol! Kuntilanak, genderuwo itu cuma ada di film-film saja!” ujar Santi yang


merasa risih dengan sikap Laura.


Laura terdiam sambil terus memperhatikan kamar hotel yang sangat suram. Lampu


remang-remang dari sebuah lentera kecil. Tidak ada penerang lain selain itu. Laura


kembali memperhatikan kamar berukuran empat kali empat berwarna kecoklatan itu dengan


perlahan. Dindingnya dihiasi wallpaper yang uniq. Lukisan-lukisan tua terpajang


di dinding kamar.


Mata Laura mengawasi sekeliling kamar sambil bergidik. Tempat tidur yang


tidak begitu mewah dan perabotan yang juga terlihat model lama. Laura masih


tidak yakin dengan pilihan teman-temannya untuk menginap di hotel itu. Apalagi


di setiap kamarnya memberikan nuansa mistik hingga membuat bulu kuduk


merinding.


Laura menelan air liurnya beberapa kali sambil terus ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari


keningnya. Tengkuknya terus meremang seperti ada mahluk halus yang


tengah memperhatikan mereka. Laura duduk di atas tempat tidur sambil terus


mengawasi seputar kamar. Dia memperhatikan kamar itu dari sudut ke sudut.


Langi-langit kamar yang sengaja didekorasi awan kelabu membuat hati Laura


dihantui bayangan-bayangan masa lalu. Dingin dan tidak nyaman. Laura mengambil


buku catatannya dari dalam tas. Membuka lembaran-lembaran yang kosong dengan


goresan penanya. Laura membuat judul baru untuk novelnya. Kali ini dia ingin

__ADS_1


mengangkat cerita misteri. Cerita yang membuat bulu kuduk merinding. Grrrr…..


Pintu kamar mandi terayun terbuka. Kreeeaaaakkk…. Suara pintu yang aneh. Santi


keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya yang basah. Laura melihat


kening Santi yang sedikit berdarah. Wajah Santi terlihat pucat. Laura


mengerutkan keningnya.


“Kamu kenapa, San?” tanya Laura heran. Matanya menangkap luka di kening


Santi yang terlihat jelas. Luka lebar tapi tidak berdarah.


“Nggak apa-apa, La. Memangnya kenapa?”


“Keningmu luka, San?”


“Mmm… Aku tadi kebentur dinding di kamar mandi, La.” jawabnya. Suaranya


terdengar dingin dan parau.


“Wajahmu kok pucat?” tanya Laura seraya memperhatikan wajah Santi.


Santi menunduk. “Sudahlah, Laura. Aku nggak apa-apa kok. Aku mau tidur,


ngantuk,” ucapnya seraya berbaring di tempat tidur.


Laura menghela berat. “Hati-hati dong, San. Lantai kamar mandi itu kan licin,


kalau terpeleset bisa koit loh.” Nasehat Laura. Santi tak bergeming. Ia tetap


saja berbaring dengan posisi membelakangi Laura.


Maya bangkit dan masuk ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan yang


kering. Laura melanjutkan tulisannya dengan rasa takut, lalu di letakkannya di


atas meja. Ia memperhatikan jendela kamar yang sidikit terbuka. Terayun beberapa


kali karena tertiup angin. Laura


tersentak, kemudian dia beringsut menuju jendela kamar dan buru-buru


menutupnya. Setelah jendela tertutup Laura kembali ke meja kecil.


Memperhatikan judul yang ditulisnya. KAMAR KOSONG.


Jedaaarrrr….


Jendela kamar terbuka dan mengepak-ngepak tertiup angin. Laura


terperanjat kaget dan bergidik. Padahal jendela itu sudah dikuncinya


rapat-rapat, kenapa bisa terbuka lagi? Dahi Laura berkerut. Membuat garis-garis


yang tegas.


Tak berapa lama Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah muram. Dia merebahkan


tubuhnya di atas tempat tidur di sisi Santi. Laura memperhatikan kedua temannya


yang terlihat aneh. Tak lama Santi dan Maya tertidur pulas sedangkan Laura


masih berkedip-kedip gelisah. Dia tidak bisa tidur. Laura mendengar suara-suara


aneh entah dari mana. Buru-buru ia naik ke tempat tidur sambil menarik selimut.


dari dalamnya. Suara-suara tangisan dan rintihan pilu. Suara itu membuat Laura


tercekat. Keningnya berkeringat dan bibirnya bergetar ketakutan. Di sisi pintu


dia melihat rambut panjang menjuntai keluar dan tergerai. Tidak tahu itu rambut


siapa. Santi dan Maya sudah tertidur di sampingnya. Laura menutup matanya


dengan selimut. Tengkuknya merinding tiada terkira.


Grrrrr….hhhssss….Laaauurrraaa…..


Terdengar suara desahan aneh dari kamar mandi. Laura terperanjat dan  ketakutan. Hujan di luar sana belum berhenti.


Sesekali kilatan cahaya terlihat dari celah jendela. Lentera kecil padam dan


kamar menjadi gelap. Hanya pantulan cahaya dari kilat yang menerangi kamar


hotel. Laura membuka matanya, namun suasana aneh menyergapnya. Dia seperti


melihat penggalan-penggalan mimpi di matanya. Seorang perempuan berpakaian


seksi keluar dari kamar mandi. Terlihat pertengkaran sengit dengan sorang


laki-laki. Laki-laki itu memukul perempuan itu dengan tenaganya yang kuat.


Kemudian mencekik lehernya hingga perempuan itu berkelojotan. Matanya melotot


tajam menghadapi kematian. Laki-laki itu mengambil pisau dari lipatan celananya,


lalu menghunuskan ke perut perempuan itu.


Laura bergidik ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.


Penggalan-penggalan mimpi itu muncul lagi di mata Laura. Dia melihat perempuan


itu dipotong-potong menjadi tujuh bagian.


“Tidaaaakkkk….!!!” jerit Laura histeris. Mimpi itu berakhir dengan


dibarengi suara petir yang menggelegar. Laura membuka matanya lebar-lebar.


Mengawasi seisi kamar. Santi dan Maya masih tertidur pulas. Dengan keberanian


yang sepenggal, Laura beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dia ingin


melihat rambut siapa yang terjuntai di sana. Pelan Laura melangkahkan kakinya.


Memperhatikan kamar mandi yang gelap. Laura menggigit bibirnya. Di sana dia


melihat tubuh seorang perempuan tergeletak bersimbah darah di kepalanya.


“Aaaaghhhhkkk…” Laura menjerit histeris. Ia menangis dengan bibir


gemetar, lalu  membangunkan Santi dan


Maya. Namun Santi dan Maya tidak mau bangun.


“Santi bangun, San… Aku takut…” tangisnya. Santi tak bergeming. Laura


terus saja membangunkan Santi hingga dia melihat bantal Santi mengeluarkan

__ADS_1


darah. Laura terkejut setengah mati. Tangisnya terhenti dan berganti dengan


rasa takut. Wajahnya berubah pias.


“Santi, kamu kenapa, Sant?” jerit Laura mengguncang tubuh Santi. Laura


teringat akan sosok perempuan di kamar mandi. Buru-buru dia melihat kamar mandi


dan terkejut sekali. Dia melihat sosok Santi ada dua. Laura bergerak mundur


ketakutan. Menangis sejadi-jadinya.


“Santi…” pekiknya menangis. Laura teringat akan Maya. Dengan gerakan yang


repleks dia membangunkan Maya. Namun Maya tidak ada di tempat tidur. Laura


kembali menangis dan ketakutan.


“Tolooonnnggg….” tangis Laura meledak.


 Dari balik selimut Laura melihat ada sebuah gerakan-gerakan aneh yang


membuat Laura semakin terkejut dan ketakutan. Mata Laura terbelalak. Dari balik


selimut dia melihat sosok perempuan dengan wajah pucat dan mengeluarkan darah


di kepalanya. Wajah itu seperti wajah Santi dan Maya, hanya saja sangat


mengerikan.


”Aggggkkkkk....” teriaknya


histeris. Laura bergerak mundur dan bersandar di dinding. Ia menggigit bibirnya


sambil terus ketakutan dan menangis. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu


kamar yang terkunci. Seperti ada yang mengunci dari luar. Laura panik dan terus


menggedor-gedor pintu kamar seraya menjerit ketakutan.


”Santi... tolong aku, San!!”


teriak Laura menangis. ”Maya...! Kalian dimana? Jangan tinggalin aku sendiri di


sini... huuu... huuu...” tangis Laura semakin meledak.


Sosok perempuan itu merangkak


dari tempat tidur dan mendekati Laura yang ketakutan. Rambutnya tergerai menutupi


sebagian wajahnya yang penuh darah. Luka itu mengingatkan Laura pada luka di


kening Santi. Laura menjerit-jerit ketakutan. Wajah itu memang wajah Santi yang


berubah menjadi mengerikan.


Klek... tiba-tiba saja pintu


terbuka. Laura berlari kencang melewati koridor yang gelap di lantai tiga. Di


luar hujan semakin deras dengan kilatan cahaya yang sesekali memberi warna


terang menyala di sekitar ruangan. Laura menangis sambil terus berlari.


Langkahnya tertatih-tatih. Koridor gelap gulita.


“Santi… kamu di mana? Mayaaa!!!” teriak Laura panik. Laura berlari


sambil  menggedor pintu kamar lainnya.


Tidak ada sahutan sama sekali. Laura semakin panik dan ketakutan. Dari sudut


koridor dia melihat Maya dengan wajah pucat. Wajah itu sesekali diterangi


kilatan cahaya petir.


Laura terkejut dan semakin ketakutan. Dia terus berlari mencari tangga


turun dengan  tergesa dan terburu-buru.


Tak sengaja Laura terpeleset di anak tangga dan terjatuh. Tubuhnya menghempas


jendela kaca hingga pecah. Pecahan kaca menacap di lehernya.


Agggghhhhkkkkk.......


Laura bangun dari tidurnya.


Dia masih berada di kamar hotel sendirian. Ruangan itu berubah suram dan


menyeramkan. Penuh sarang laba-laba dan berantakan. Lemari pakaan terbuka


dengan pintu rusak. Tempat tidur juga sudah tidak tahu lagi bentuknya.


Pandangan Laura mengedar.


Kamar terlihat gelap. Hanya cahaya lampu dari luar yang menerangi kamar. Ia


bangkit dengan perlahan menghampiri jendela kamar. Di bawah ia melihat sosok


seorang gadis tergeltak bersimbah darah. Ia mengenali sosok gadis itu. Itu


adalah dirinya yang jatuh dari jendela kamar.


Laura tewas seketika. Darah kental mengucur deras di anak tangga. Santi


dan Maya sudah lebih dulu tewas sejak di kamar mandi. Saat itu Santi kaget, tiba-tiba


saja dia melihat pemandangan yang mengerikan di kamar mandi. Dia melihat sosok


perempuan terpotong-potong berlumuran darah. Santi terpeleset hingga kepalanya


pecah membentur pembatas lantai. Sedangkan Maya, terpeleset karena tangan Santi


yang menghalangi jalannya. Kepala Maya pecah dan mengeluarkan darah begitu


banyak. Rambutnya keluar dari pintu kamar mandi.


Malam semakin mencemkam dan


dingin. Hujan mulai redah tapi masih menawarkan udara yang sangat menusuk kulit


ari. Burung hantu yang bertengger di pohon mangga berkoak perih. Lolongan


anjing dari kejauhan terdengar menyayat hati. Lolongan itu menghantarkan Laura


pada sebuah kamar gelap yang kosong dan sangat angker.!!! Suara burung hantu


semakin berkoak perih. Membuat bulu kuduk semakin merinding. Malam terasa sepi

__ADS_1


dan dingin.


__ADS_2