
HOTEL itu terlihat suram
dengan bentuk bangunannya yang klasik. Hotel itu berlantai tiga dan memiliki
seratus tiga belas kamar di dalamnya. Atmosfernya menawarkan misteri masa lalu.
Cerita-cerita tragis beberapa tahun yang lalu masih tersirat di benak
masyarakat sekitar.
Hotel itu terkenal angker. Dulu
ada pembunuhan tragis di salah satu kamarnya. Tragedi pembantaian seorang
perempuan tuna susila yang di mutilasi menjadi tujuh bagian. Jasadnya di simpan
di dalam kasur hingga tidak seorangpun yang mengetahuinya. Jasad itu terbongkar
setelah tiga hari mayat itu mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.
Polisi tidak menemukan siapa pembunuhnya. Konon arwahnya gentayangan menghantui
tamu hotel yang lain.
Malam itu hujan deras sekali.
Angin berhembus kencang diiringi suara petir yang menggelegar bagai halilintar
menerjang. Di dalam hotel ada tiga remaja putri yang menginap satu malam saja. Listrik
padam sejak beberapa jam lalu. Tidak ada penerangan sama sekali. Hanya sebuah
lentera kecil yang menempel di dinding kamar. Ketiga remaja itu terlibat
pembicaraan yang serius.
“Kamu yakin kita menginap di hotel
ini, San?” tanya Laura berkomentar. Laura seorang penulis berusia sembilan
belas tahun. Cantik berkulit kuning langsat dengan mata bundar bercahaya. Laura
merasakan sebuah atmosfer aneh di ruangan itu.
“Sudahlah, La. Kita tidak punya
pilihan lain. Malam sudah semakin larut dan aku kedinginan. Kita mau cari
penginapan dimana lagi? Kamu kenapa sih seperti orang ketakutan begitu?”
Santi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Gadis itu suka dengan hal-hal
yang berbau mistis apalagi tempat-tempat klenik. Dia ingin membuktikan apakah
ada dunia lain selain dunia fanah ini.
“Iya, La. Kita sudah capek mencari penginapan, dan hotel ini yang paling dekat. Kita terpaksa menempati hotel ini. Mana mati lampu dan hujan deras di luar sana.
Dingin banget, La.” celetuk Maya yang juga mengeringkan rambutnya.
Laura mengelus-elus lengannya yang semakin meremang sambil memperhatikan
seisi kamar. Tadi dia sempat berbincang-bincang dengan receptionis di bawah.
Sang resepsionis bercerita kalau hotel itu sudah sepi pelanggan sejak tiga
tahun yang lalu. Dia juga bercerita kalau ada mahasiswi tewas mengenaskan di
salah satu kamar hotel.
“Aku takut, San, May. Hotel ini tidak nyaman untuk kita. Aku khawatir.
Bulu kudukku merinding terus,” suara Laura terdengar gemetar.
“Alaaa…kamu penakut amat sih, La. Jangan parno gitu dong, gak bagus untuk
masa pertumbuhan mental. Kita cuma satu malam aja kok di sini. Selanjutnya kita
cari kamar kost.” Santi meletakkan handuk kecilnya di atas meja.
“Tapi aku takut, San… Aku
merasa gelisah.”
“Itu karena kamu ketakutan
dengan cerita-cerita imajinasimu sendiri. Di hotel ini tidak ada
apa-apanya, Laura. Apalagi hantu seperti dalam cerpen-cerpenmu itu. Jangan
konyol! Kuntilanak, genderuwo itu cuma ada di film-film saja!” ujar Santi yang
merasa risih dengan sikap Laura.
Laura terdiam sambil terus memperhatikan kamar hotel yang sangat suram. Lampu
remang-remang dari sebuah lentera kecil. Tidak ada penerang lain selain itu. Laura
kembali memperhatikan kamar berukuran empat kali empat berwarna kecoklatan itu dengan
perlahan. Dindingnya dihiasi wallpaper yang uniq. Lukisan-lukisan tua terpajang
di dinding kamar.
Mata Laura mengawasi sekeliling kamar sambil bergidik. Tempat tidur yang
tidak begitu mewah dan perabotan yang juga terlihat model lama. Laura masih
tidak yakin dengan pilihan teman-temannya untuk menginap di hotel itu. Apalagi
di setiap kamarnya memberikan nuansa mistik hingga membuat bulu kuduk
merinding.
Laura menelan air liurnya beberapa kali sambil terus ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari
keningnya. Tengkuknya terus meremang seperti ada mahluk halus yang
tengah memperhatikan mereka. Laura duduk di atas tempat tidur sambil terus
mengawasi seputar kamar. Dia memperhatikan kamar itu dari sudut ke sudut.
Langi-langit kamar yang sengaja didekorasi awan kelabu membuat hati Laura
dihantui bayangan-bayangan masa lalu. Dingin dan tidak nyaman. Laura mengambil
buku catatannya dari dalam tas. Membuka lembaran-lembaran yang kosong dengan
goresan penanya. Laura membuat judul baru untuk novelnya. Kali ini dia ingin
__ADS_1
mengangkat cerita misteri. Cerita yang membuat bulu kuduk merinding. Grrrr…..
Pintu kamar mandi terayun terbuka. Kreeeaaaakkk…. Suara pintu yang aneh. Santi
keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya yang basah. Laura melihat
kening Santi yang sedikit berdarah. Wajah Santi terlihat pucat. Laura
mengerutkan keningnya.
“Kamu kenapa, San?” tanya Laura heran. Matanya menangkap luka di kening
Santi yang terlihat jelas. Luka lebar tapi tidak berdarah.
“Nggak apa-apa, La. Memangnya kenapa?”
“Keningmu luka, San?”
“Mmm… Aku tadi kebentur dinding di kamar mandi, La.” jawabnya. Suaranya
terdengar dingin dan parau.
“Wajahmu kok pucat?” tanya Laura seraya memperhatikan wajah Santi.
Santi menunduk. “Sudahlah, Laura. Aku nggak apa-apa kok. Aku mau tidur,
ngantuk,” ucapnya seraya berbaring di tempat tidur.
Laura menghela berat. “Hati-hati dong, San. Lantai kamar mandi itu kan licin,
kalau terpeleset bisa koit loh.” Nasehat Laura. Santi tak bergeming. Ia tetap
saja berbaring dengan posisi membelakangi Laura.
Maya bangkit dan masuk ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan yang
kering. Laura melanjutkan tulisannya dengan rasa takut, lalu di letakkannya di
atas meja. Ia memperhatikan jendela kamar yang sidikit terbuka. Terayun beberapa
kali karena tertiup angin. Laura
tersentak, kemudian dia beringsut menuju jendela kamar dan buru-buru
menutupnya. Setelah jendela tertutup Laura kembali ke meja kecil.
Memperhatikan judul yang ditulisnya. KAMAR KOSONG.
Jedaaarrrr….
Jendela kamar terbuka dan mengepak-ngepak tertiup angin. Laura
terperanjat kaget dan bergidik. Padahal jendela itu sudah dikuncinya
rapat-rapat, kenapa bisa terbuka lagi? Dahi Laura berkerut. Membuat garis-garis
yang tegas.
Tak berapa lama Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah muram. Dia merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur di sisi Santi. Laura memperhatikan kedua temannya
yang terlihat aneh. Tak lama Santi dan Maya tertidur pulas sedangkan Laura
masih berkedip-kedip gelisah. Dia tidak bisa tidur. Laura mendengar suara-suara
aneh entah dari mana. Buru-buru ia naik ke tempat tidur sambil menarik selimut.
dari dalamnya. Suara-suara tangisan dan rintihan pilu. Suara itu membuat Laura
tercekat. Keningnya berkeringat dan bibirnya bergetar ketakutan. Di sisi pintu
dia melihat rambut panjang menjuntai keluar dan tergerai. Tidak tahu itu rambut
siapa. Santi dan Maya sudah tertidur di sampingnya. Laura menutup matanya
dengan selimut. Tengkuknya merinding tiada terkira.
Grrrrr….hhhssss….Laaauurrraaa…..
Terdengar suara desahan aneh dari kamar mandi. Laura terperanjat dan ketakutan. Hujan di luar sana belum berhenti.
Sesekali kilatan cahaya terlihat dari celah jendela. Lentera kecil padam dan
kamar menjadi gelap. Hanya pantulan cahaya dari kilat yang menerangi kamar
hotel. Laura membuka matanya, namun suasana aneh menyergapnya. Dia seperti
melihat penggalan-penggalan mimpi di matanya. Seorang perempuan berpakaian
seksi keluar dari kamar mandi. Terlihat pertengkaran sengit dengan sorang
laki-laki. Laki-laki itu memukul perempuan itu dengan tenaganya yang kuat.
Kemudian mencekik lehernya hingga perempuan itu berkelojotan. Matanya melotot
tajam menghadapi kematian. Laki-laki itu mengambil pisau dari lipatan celananya,
lalu menghunuskan ke perut perempuan itu.
Laura bergidik ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.
Penggalan-penggalan mimpi itu muncul lagi di mata Laura. Dia melihat perempuan
itu dipotong-potong menjadi tujuh bagian.
“Tidaaaakkkk….!!!” jerit Laura histeris. Mimpi itu berakhir dengan
dibarengi suara petir yang menggelegar. Laura membuka matanya lebar-lebar.
Mengawasi seisi kamar. Santi dan Maya masih tertidur pulas. Dengan keberanian
yang sepenggal, Laura beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dia ingin
melihat rambut siapa yang terjuntai di sana. Pelan Laura melangkahkan kakinya.
Memperhatikan kamar mandi yang gelap. Laura menggigit bibirnya. Di sana dia
melihat tubuh seorang perempuan tergeletak bersimbah darah di kepalanya.
“Aaaaghhhhkkk…” Laura menjerit histeris. Ia menangis dengan bibir
gemetar, lalu membangunkan Santi dan
Maya. Namun Santi dan Maya tidak mau bangun.
“Santi bangun, San… Aku takut…” tangisnya. Santi tak bergeming. Laura
terus saja membangunkan Santi hingga dia melihat bantal Santi mengeluarkan
__ADS_1
darah. Laura terkejut setengah mati. Tangisnya terhenti dan berganti dengan
rasa takut. Wajahnya berubah pias.
“Santi, kamu kenapa, Sant?” jerit Laura mengguncang tubuh Santi. Laura
teringat akan sosok perempuan di kamar mandi. Buru-buru dia melihat kamar mandi
dan terkejut sekali. Dia melihat sosok Santi ada dua. Laura bergerak mundur
ketakutan. Menangis sejadi-jadinya.
“Santi…” pekiknya menangis. Laura teringat akan Maya. Dengan gerakan yang
repleks dia membangunkan Maya. Namun Maya tidak ada di tempat tidur. Laura
kembali menangis dan ketakutan.
“Tolooonnnggg….” tangis Laura meledak.
Dari balik selimut Laura melihat ada sebuah gerakan-gerakan aneh yang
membuat Laura semakin terkejut dan ketakutan. Mata Laura terbelalak. Dari balik
selimut dia melihat sosok perempuan dengan wajah pucat dan mengeluarkan darah
di kepalanya. Wajah itu seperti wajah Santi dan Maya, hanya saja sangat
mengerikan.
”Aggggkkkkk....” teriaknya
histeris. Laura bergerak mundur dan bersandar di dinding. Ia menggigit bibirnya
sambil terus ketakutan dan menangis. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu
kamar yang terkunci. Seperti ada yang mengunci dari luar. Laura panik dan terus
menggedor-gedor pintu kamar seraya menjerit ketakutan.
”Santi... tolong aku, San!!”
teriak Laura menangis. ”Maya...! Kalian dimana? Jangan tinggalin aku sendiri di
sini... huuu... huuu...” tangis Laura semakin meledak.
Sosok perempuan itu merangkak
dari tempat tidur dan mendekati Laura yang ketakutan. Rambutnya tergerai menutupi
sebagian wajahnya yang penuh darah. Luka itu mengingatkan Laura pada luka di
kening Santi. Laura menjerit-jerit ketakutan. Wajah itu memang wajah Santi yang
berubah menjadi mengerikan.
Klek... tiba-tiba saja pintu
terbuka. Laura berlari kencang melewati koridor yang gelap di lantai tiga. Di
luar hujan semakin deras dengan kilatan cahaya yang sesekali memberi warna
terang menyala di sekitar ruangan. Laura menangis sambil terus berlari.
Langkahnya tertatih-tatih. Koridor gelap gulita.
“Santi… kamu di mana? Mayaaa!!!” teriak Laura panik. Laura berlari
sambil menggedor pintu kamar lainnya.
Tidak ada sahutan sama sekali. Laura semakin panik dan ketakutan. Dari sudut
koridor dia melihat Maya dengan wajah pucat. Wajah itu sesekali diterangi
kilatan cahaya petir.
Laura terkejut dan semakin ketakutan. Dia terus berlari mencari tangga
turun dengan tergesa dan terburu-buru.
Tak sengaja Laura terpeleset di anak tangga dan terjatuh. Tubuhnya menghempas
jendela kaca hingga pecah. Pecahan kaca menacap di lehernya.
Agggghhhhkkkkk.......
Laura bangun dari tidurnya.
Dia masih berada di kamar hotel sendirian. Ruangan itu berubah suram dan
menyeramkan. Penuh sarang laba-laba dan berantakan. Lemari pakaan terbuka
dengan pintu rusak. Tempat tidur juga sudah tidak tahu lagi bentuknya.
Pandangan Laura mengedar.
Kamar terlihat gelap. Hanya cahaya lampu dari luar yang menerangi kamar. Ia
bangkit dengan perlahan menghampiri jendela kamar. Di bawah ia melihat sosok
seorang gadis tergeltak bersimbah darah. Ia mengenali sosok gadis itu. Itu
adalah dirinya yang jatuh dari jendela kamar.
Laura tewas seketika. Darah kental mengucur deras di anak tangga. Santi
dan Maya sudah lebih dulu tewas sejak di kamar mandi. Saat itu Santi kaget, tiba-tiba
saja dia melihat pemandangan yang mengerikan di kamar mandi. Dia melihat sosok
perempuan terpotong-potong berlumuran darah. Santi terpeleset hingga kepalanya
pecah membentur pembatas lantai. Sedangkan Maya, terpeleset karena tangan Santi
yang menghalangi jalannya. Kepala Maya pecah dan mengeluarkan darah begitu
banyak. Rambutnya keluar dari pintu kamar mandi.
Malam semakin mencemkam dan
dingin. Hujan mulai redah tapi masih menawarkan udara yang sangat menusuk kulit
ari. Burung hantu yang bertengger di pohon mangga berkoak perih. Lolongan
anjing dari kejauhan terdengar menyayat hati. Lolongan itu menghantarkan Laura
pada sebuah kamar gelap yang kosong dan sangat angker.!!! Suara burung hantu
semakin berkoak perih. Membuat bulu kuduk semakin merinding. Malam terasa sepi
__ADS_1
dan dingin.