GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 6, KUCING HITAM


__ADS_3

Malam kian larut dan pekat. Suasana yang semakin mencekam menghantui desa kecil dekat


perkebunan tebuh. Desa yang dulu aman dan tentram itu kini terusik dengan sosok


mahluk aneh dan mengerikan. Bayangan gaib yang tidak kasad mata haus akan darah


dan jantung manusia!!


Konon mahluk


aneh itu adalah jelmaan seekor kucing hitam yang memintal tumbal seorang anak


manusia. Namun ketika tumbal terakhir ingin didapat, kucing hitam yang melintas


di jalan itu ditabrak oleh seorang lelaki baya. Kucing hitam itupun menggelepar


dan mati.


Malam itu


diwarnai dengan jerit seorang bocah dari dalam hutan. Kucing hitam dengan wujud


yang mengerikan muncul di hadapannya. Tanpa merasa belai kasih mahluk


mengerikan itu menerkam dan mencabik-cabik dada sang bocah. Ia menjerit


histeris, merasakan sakit yang amat sangat. Meraung dan merintih dengan


kuatnya. Tak berapa lama ia menggelepar di rerumputan dan semak belukar. Dari


lehernya keluar darah segar berwarna kehitaman. Tubuhnya mengenjang beberapa


kali ketika mahluk aneh itu mencabik serta mengoyak dada bocah itu dan melahap


jantungnya sampai habis. Bocah itu pun tewas bersimbah darah.


Sosok


bayangan aneh dan mengerikan itu menatap tajam ke arah hutan. Sorot matanya


yang merah menyala seakan menembus kegelapan malam.


Sosok


bayangan aneh dan mengerikan itu melesat mencari tumbal lainnya! Dan entah


siapa yang akan menjadi tumbal berikutnya!!!


@@@


Rangga


bergidik mendengarkan cerita itu dari temannya. Bahwa di desa Tebuh, dimana


Rangga ingin melakukan penelitian untuk sebuah judul skripsi, ada sosok mahluk


gaib yang haus akan darah!


Senja itu


Rangga tampak tergesa-gesa. Wajahnya pucat dan kalut!!


Senja pun menapak dan malam pun menjelang. Malam itu hujan baru saja


redah. Genangan–genangan air yang mengalir membuat parit-parit kecil di pinggir


jalan. Sesekali kilat menyambar–nyambar  diatas jalanan yang becek.


Malam itu


Rangga harus segera tiba di rumah seorang gamot yang bersedia ditumpanginya


untuk beberapa hari.


Sepeda motor


yang dikendarainya bergerak kencang menembus hutan–hutan kecil yang masih


basah. Jantungnya kembali bergemuruh kencang dan tidak menentu. Ia terus


waspada jika sosok gaib yang mengerikan itu  muncul di depannya. Tapi tanpa sengaja Rangga menabrak seekor  kucing hitam yang sedang melintas di tengah


jalan. Kucing hitam yang ditabraknya itu kontan tersungkur dan menggelepar


kesakitan. Darah segar mengucur deras dari kepala dan mulutnya. Darah itu


membanjiri jalanan yang becek.


Rangga  kembali tergesa–gesa.


Pikirannya semakin kalut dan dingin. Rangga tidak memperdulikan kucing hitam


yang ditabraknya. Ia hanya menatapnya sekilas tanpa menghiraukan kucing hitam


itu. Kemudian Rangga  mencampakkan  kucing hitam itu  ke dalam  jurang dengan sadis!!


Dengan tergopoh–gopoh ia mengendarai sepeda motornya lagi dengan kencang.


Ia tak ingin sosok gaib mengerikan itu mempergokinya dan melahap jantungnya.


Namun mendadak saja sepeda motornya terhenti. Derit roda beberapa kali


menghentakkan tubuhnya.


Rangga terhenti dengan degub jantung yang tidak teratur. Memperhatikan


sekeliling hutan yang gelap gulita. Kini ia berada tepat di tengah–tengah hutan


yang  sangat  mengerikan!! Gelap dan menakutkan!!


Kabut  tipis menyelimuti sebagian semak belukar.


Dari balik rimbunan pohon tiba-tiba bergerak bayangan aneh yang membekaskan


pijakan di rerumputan. Tidak ada bentuk tubuh yang kasat mata.


Bayangan–bayangan itu bergerak menghampirinya.


Rangga bergidik dengan keringat yang terus mengucur deras dari keningnya.


Dengan gugub


dan kalut Rangga mencoba menstarter sepeda motornya beberapa kali. Namun tidak


menyala!


“Sial!“ dengusnya kesal.


Rangga tercekat! Ia bergerak mundur beberapa langkah. Pikirannya

__ADS_1


semakin  kalut. Keringat dingin membasahi


sekujur tubuhnya.


Decak tapak


kaki yang membekaskan pijakan itu amat terasa di telinga Rangga. Rangga kembali


mengatur detak jantungnya yang tidak teratur. Keringat dingin terus mengalir


deras dari keningnya.


Sosok


bayangan aneh dan mengerikan itu mulai terlihat jelas di pelupuk matanya. Sosok


bayangan gaib itu berbentuk manusia setengah binatang. Namun tidak tahu pasti


sosok mengerikan itu.


Kepulan asap


tiba–tiba saja menyeruak memenuhi semak belukar. Rangga terkesiap untuk


beberapa kali. Dengan tangan gemetar Rangga menghempaskan sepedamotornya di


atas rerumputan. Ia bergerak mundur seraya ingin berlari dari bayangan


mengerikan itu.


Sosok wajah


mengerikan tiba–tiba saja muncul di depannya. Mayat–mayat seorang bocah bangkit


dari liang kubur dengan deraian darah ditubuhnya. Mayat–mayat mengerikan itu


seakan ingin mencekik tubuh Rangga.


Rangga


menjerit dengan histeris.


Mayat-mayat


bocah cilik itu meraung dan merintih dengan lirihnya. Menahan sakit yang acap


kali mendera di liang kubur!


“Toolooonng!” teriak Rangga dengan histeris.  Serasa seluruh persendiannya terhenti dan


tidak dapat digerakkan sama sekali.


Sosok


bayangan aneh menatapnya dengan tajam dengan sorot mata merah menyala.


 “Siapa kau!” sergah Rangga semakin


kalut. Mahluk itu diam saja dengan tatapan yang sangat tajam. Sorot matanya


memperhatikan gerak–gerik Rangga yang semakin ketakutan.


“Apa yang kau inginkan dariku!” teriak Rangga lagi.


“Kau! telah membunuhku!“ suara mahluk mengerikan itu bergema memecah


“Tidak! aku tidak membunuhmu! Siapa kau sebenarnya!“


“Kau telah mencampakkan aku ke dalam jurang! Aku merasa kesakitan


yang  amat sangat. Tapi kau justru


membuang aku dengan sadis!“


Rangga terpaku dengan tatapan tajam. Beberapa jam lalu ia menabrak seekor


kucing hitam yang melintas di tengah jalan.


“Tidak! Aku tidak sengaja! Tolong maafkan aku!” tukas Rangga dengan bibir


bergetar. Keringat dingin terus membanjiri sekujur tubuhnya.


“Aku tidak akan memaafkanmu!“ pekik mahluk itu dengan penuh amarah.


Rangga yang semakin bergerak mundur berusaha lari dari tempat itu. Dengan


tenaga yang masih tersisa ia lari sekencang–kencangnya. Nafasnya sesekali


tersengal dan jantungnya bergemuruh kencang sekali.


Rangga menebas bebatuan yang berserakan di seputar jalanan itu. Jalan


setapak di tengah–tengah hutan mendadak saja menjadi buntu.


Suasana semakin mencekam dan dingin. Malam itu tak seorangpun


dijumpainya.


“Kau takkan lepas dariku!!!“ teriak mahluk itu dengan suara melengking


tinggi.  Rangga terkejut untuk beberapa


kali. Petir yang menyambar–nyambar di malam itu seakan mewarnai  keangkeran hutan Pecah Kulit. Sesekali


Rangga  mengatur pernafasannya yang


terasa berat dan sesak.


“Jangan, tolong  maafkan aku.”  jerit  Rangga tergus bergetar.


“Kau telah


menghancurkan seluruh hidupku! Kau pantas mati di tanganku! “


“Tidaaaakk!!!!” jerit Rangga sambil berlari kencang menembus hutan –


hutan yang gelap.


Sosok bayangan aneh dan mengerikan itu melesat mengejar sosok Rangga.


Rangga terjatuh terhempas bebetuan. Beberapa kali ia merasakan sakit di


kakinya. Rangga berusaha bangkit dari maut yang tengah merejamnya.


Sosok bayangan aneh mengerikan itu adalah jelmaan siluman kucing hitam.


Pada bulan ke lima belas tepatnya malam itu ia akan mengalami reinkarnasi,


menjadi manusia sakti yang tak terkalahkan. Tapi mendadak saja sekujur tubuhnya

__ADS_1


menggelepar ketika Rangga menabraknya dan mencampakkannya ke dalam jurang


dengan sadis..!!


“Aku tidak akan memaafkanmu!”  pekik mahluk itu dengan suara yang tajam.


Rangga tergopoh–gopoh lagi dengan nafas tersengal. Sesekali ia mengatur


pernafasannya yang terasa sepenggal. Ia tidak tahu pasti jalan keluar malam


itu. Ia merasa telah berkeliling hutan lebih dari sepuluh kali.


Suara–suara tajam dan menyeringai histeris itu kembali bermain–main di


telinganya. Dengus nafas yang memburu tajam terus saja menghampirinya. Suara


decak telapak kaki yang tidak berbayang terlihat berhenti di depannya.


Rangga mendadak saja terhenti. Ia bergerak mundur beberapa meter.


Pikirannya yang semakin kalut serasa mengusik detak jantungnya.


“Toloonng!!”  jerit Rangga lagi.


Tak seorang pun mendengar jeritan Rangga di malam itu. Jeritan–jeritan Rangga


bagaikan angin lalu yang berhembus dengan semilir .


Bibirnya yang bergetar semakin pucat. Keringat dingin yang terus


membanjiri tubuhnya jatuh di perut bumi. Rangga tergopoh–gopoh lagi berlari


dari sosok mengerikan itu. Tapi mendadak saja ia terjatuh, dan sosok mengerikan


itu menerkamnya dengan sadis!!!


Rangga berusaha meronta dan mengadukan perlawanan. Namun sedikit


tenaganya yang masih tersisa tidak sanggup melawan hujaman sosok gaib


mengerikan itu. Rangga menjerit  lagi


dengan histeris.


Sosok bayangan mengerikan itu menerkam dengan seketika.


Rangga menjerit beberapa kali ketika lehernya mengucurkan darah segar


yang terasa menyakitkan!! Sosok bayangan mengerikan itu mencabik–cabik tubuh


Rangga dengan sadisnya. Rangga menjerit kesakitan yang amat sangat, ketika  siluman itu menghisap darahnya. Dengan  seketika saja Rangga tersungkur dan  menggelepar  di rerumputan. Darah segar  memuncrat deras dari lehernya. Rangga pun tewas dengan mengenaskan.


@@@


“Kucing hitam yang saya tabrak itu ternyata siluman jadi–jadian.” ucap


Bastian dengan suara parau.


Gilang terpaku seakan membayangkan kejadian mengerikan sepuluh tahun


yang  lalu itu. Ia menarik nafas dengan


berat. Bulu kuduknya mendadak saja merinding mengingat kejadian itu.Gilang


beringsut dari duduknya, ia membenahi dan mengemasi barang–barangnya. Kening


lelaki baya itu berkerut memperhatikan Gilang dengan cemas.


“Saya harus kembali ke kota, pak.” ujar Gilang  sore itu.


“Apa  tidak sebaiknya besok saja,


nak Gilang.“


“Besok saya harus segera membuat laporan, untuk sebuah redaksi. Saya


tidak bisa menundak keberangkatan saya.”


Lelaki baya itu menghela nafas dengan berat. Khawatir akan terjadi


apa-apa dengan Gilang.


“Sebaiknya nak Gilang berhati–hati. Hari sudah semakin sore.” ucap


Bastian lagi. Gilang mengangguk sekenahnya. Kemudian ia menstarter sepeda


motornya dengan suara yang berisik.


“Saya pergi dulu, pak.” pamitnya. Sepeda motornya segera melaju kencang.


Mata Bastian menatap tajam ke arah Gilang yang melewati hutan kecil di


perkampungan.


‘Mudah–mudahan tidak terjadi apa-apa.’ selahnya pelan.


Menadadak saja langit menjadi hitam dengan diwarnai suara guntur yang


sangat menggelegar. Gilang terkejut setengah  mati. Jantungnya mulai bergemuruh kencang. Pirasat lain bermain–main


lagi di benaknya.


‘Mengapa mendadak saja langit menjadi gelap, padahal tadi langit terang


benderang.’ ucapnya dalam hati.


Gilang melewati hutan–hutan kecil di sekitar perkampungan. Kembali kilat


menyambar–nyambar dengan dahsyatnya. Beberapa meter lagi Gilang akan memasuki


hutan angker yang sangat mengerikan. Jantungnya yang bergemuruh kencang semakin


bedebuk tidak menentu. Pikiran kalud lagi–lagi membebani benaknya. Sehingga  Gilang tidak memperhatikan jalan yang penuh


kerikil dan berlubang.


“Greett….”


Mendadak saja derit roda sepeda motornya terhenti. Gilang semakin


terkejut dengan sorot mata yang semakin tajam mengawasi semak belukar.


“Astagfirullah!!” pekiknya tertahan. Gilang terkejut lagi alang–kepalang.


Ia menabrak seekor  kucing hitam hingga


menggelepar!!!


Gilang panik dan semakin ketakutan. Gilang adalah tumbal berikutnya!!!!

__ADS_1


__ADS_2