
Malam kian larut dan pekat. Suasana yang semakin mencekam menghantui desa kecil dekat
perkebunan tebuh. Desa yang dulu aman dan tentram itu kini terusik dengan sosok
mahluk aneh dan mengerikan. Bayangan gaib yang tidak kasad mata haus akan darah
dan jantung manusia!!
Konon mahluk
aneh itu adalah jelmaan seekor kucing hitam yang memintal tumbal seorang anak
manusia. Namun ketika tumbal terakhir ingin didapat, kucing hitam yang melintas
di jalan itu ditabrak oleh seorang lelaki baya. Kucing hitam itupun menggelepar
dan mati.
Malam itu
diwarnai dengan jerit seorang bocah dari dalam hutan. Kucing hitam dengan wujud
yang mengerikan muncul di hadapannya. Tanpa merasa belai kasih mahluk
mengerikan itu menerkam dan mencabik-cabik dada sang bocah. Ia menjerit
histeris, merasakan sakit yang amat sangat. Meraung dan merintih dengan
kuatnya. Tak berapa lama ia menggelepar di rerumputan dan semak belukar. Dari
lehernya keluar darah segar berwarna kehitaman. Tubuhnya mengenjang beberapa
kali ketika mahluk aneh itu mencabik serta mengoyak dada bocah itu dan melahap
jantungnya sampai habis. Bocah itu pun tewas bersimbah darah.
Sosok
bayangan aneh dan mengerikan itu menatap tajam ke arah hutan. Sorot matanya
yang merah menyala seakan menembus kegelapan malam.
Sosok
bayangan aneh dan mengerikan itu melesat mencari tumbal lainnya! Dan entah
siapa yang akan menjadi tumbal berikutnya!!!
@@@
Rangga
bergidik mendengarkan cerita itu dari temannya. Bahwa di desa Tebuh, dimana
Rangga ingin melakukan penelitian untuk sebuah judul skripsi, ada sosok mahluk
gaib yang haus akan darah!
Senja itu
Rangga tampak tergesa-gesa. Wajahnya pucat dan kalut!!
Senja pun menapak dan malam pun menjelang. Malam itu hujan baru saja
redah. Genangan–genangan air yang mengalir membuat parit-parit kecil di pinggir
jalan. Sesekali kilat menyambar–nyambar diatas jalanan yang becek.
Malam itu
Rangga harus segera tiba di rumah seorang gamot yang bersedia ditumpanginya
untuk beberapa hari.
Sepeda motor
yang dikendarainya bergerak kencang menembus hutan–hutan kecil yang masih
basah. Jantungnya kembali bergemuruh kencang dan tidak menentu. Ia terus
waspada jika sosok gaib yang mengerikan itu muncul di depannya. Tapi tanpa sengaja Rangga menabrak seekor kucing hitam yang sedang melintas di tengah
jalan. Kucing hitam yang ditabraknya itu kontan tersungkur dan menggelepar
kesakitan. Darah segar mengucur deras dari kepala dan mulutnya. Darah itu
membanjiri jalanan yang becek.
Rangga kembali tergesa–gesa.
Pikirannya semakin kalut dan dingin. Rangga tidak memperdulikan kucing hitam
yang ditabraknya. Ia hanya menatapnya sekilas tanpa menghiraukan kucing hitam
itu. Kemudian Rangga mencampakkan kucing hitam itu ke dalam jurang dengan sadis!!
Dengan tergopoh–gopoh ia mengendarai sepeda motornya lagi dengan kencang.
Ia tak ingin sosok gaib mengerikan itu mempergokinya dan melahap jantungnya.
Namun mendadak saja sepeda motornya terhenti. Derit roda beberapa kali
menghentakkan tubuhnya.
Rangga terhenti dengan degub jantung yang tidak teratur. Memperhatikan
sekeliling hutan yang gelap gulita. Kini ia berada tepat di tengah–tengah hutan
yang sangat mengerikan!! Gelap dan menakutkan!!
Kabut tipis menyelimuti sebagian semak belukar.
Dari balik rimbunan pohon tiba-tiba bergerak bayangan aneh yang membekaskan
pijakan di rerumputan. Tidak ada bentuk tubuh yang kasat mata.
Bayangan–bayangan itu bergerak menghampirinya.
Rangga bergidik dengan keringat yang terus mengucur deras dari keningnya.
Dengan gugub
dan kalut Rangga mencoba menstarter sepeda motornya beberapa kali. Namun tidak
menyala!
“Sial!“ dengusnya kesal.
Rangga tercekat! Ia bergerak mundur beberapa langkah. Pikirannya
__ADS_1
semakin kalut. Keringat dingin membasahi
sekujur tubuhnya.
Decak tapak
kaki yang membekaskan pijakan itu amat terasa di telinga Rangga. Rangga kembali
mengatur detak jantungnya yang tidak teratur. Keringat dingin terus mengalir
deras dari keningnya.
Sosok
bayangan aneh dan mengerikan itu mulai terlihat jelas di pelupuk matanya. Sosok
bayangan gaib itu berbentuk manusia setengah binatang. Namun tidak tahu pasti
sosok mengerikan itu.
Kepulan asap
tiba–tiba saja menyeruak memenuhi semak belukar. Rangga terkesiap untuk
beberapa kali. Dengan tangan gemetar Rangga menghempaskan sepedamotornya di
atas rerumputan. Ia bergerak mundur seraya ingin berlari dari bayangan
mengerikan itu.
Sosok wajah
mengerikan tiba–tiba saja muncul di depannya. Mayat–mayat seorang bocah bangkit
dari liang kubur dengan deraian darah ditubuhnya. Mayat–mayat mengerikan itu
seakan ingin mencekik tubuh Rangga.
Rangga
menjerit dengan histeris.
Mayat-mayat
bocah cilik itu meraung dan merintih dengan lirihnya. Menahan sakit yang acap
kali mendera di liang kubur!
“Toolooonng!” teriak Rangga dengan histeris. Serasa seluruh persendiannya terhenti dan
tidak dapat digerakkan sama sekali.
Sosok
bayangan aneh menatapnya dengan tajam dengan sorot mata merah menyala.
“Siapa kau!” sergah Rangga semakin
kalut. Mahluk itu diam saja dengan tatapan yang sangat tajam. Sorot matanya
memperhatikan gerak–gerik Rangga yang semakin ketakutan.
“Apa yang kau inginkan dariku!” teriak Rangga lagi.
“Kau! telah membunuhku!“ suara mahluk mengerikan itu bergema memecah
“Tidak! aku tidak membunuhmu! Siapa kau sebenarnya!“
“Kau telah mencampakkan aku ke dalam jurang! Aku merasa kesakitan
yang amat sangat. Tapi kau justru
membuang aku dengan sadis!“
Rangga terpaku dengan tatapan tajam. Beberapa jam lalu ia menabrak seekor
kucing hitam yang melintas di tengah jalan.
“Tidak! Aku tidak sengaja! Tolong maafkan aku!” tukas Rangga dengan bibir
bergetar. Keringat dingin terus membanjiri sekujur tubuhnya.
“Aku tidak akan memaafkanmu!“ pekik mahluk itu dengan penuh amarah.
Rangga yang semakin bergerak mundur berusaha lari dari tempat itu. Dengan
tenaga yang masih tersisa ia lari sekencang–kencangnya. Nafasnya sesekali
tersengal dan jantungnya bergemuruh kencang sekali.
Rangga menebas bebatuan yang berserakan di seputar jalanan itu. Jalan
setapak di tengah–tengah hutan mendadak saja menjadi buntu.
Suasana semakin mencekam dan dingin. Malam itu tak seorangpun
dijumpainya.
“Kau takkan lepas dariku!!!“ teriak mahluk itu dengan suara melengking
tinggi. Rangga terkejut untuk beberapa
kali. Petir yang menyambar–nyambar di malam itu seakan mewarnai keangkeran hutan Pecah Kulit. Sesekali
Rangga mengatur pernafasannya yang
terasa berat dan sesak.
“Jangan, tolong maafkan aku.” jerit Rangga tergus bergetar.
“Kau telah
menghancurkan seluruh hidupku! Kau pantas mati di tanganku! “
“Tidaaaakk!!!!” jerit Rangga sambil berlari kencang menembus hutan –
hutan yang gelap.
Sosok bayangan aneh dan mengerikan itu melesat mengejar sosok Rangga.
Rangga terjatuh terhempas bebetuan. Beberapa kali ia merasakan sakit di
kakinya. Rangga berusaha bangkit dari maut yang tengah merejamnya.
Sosok bayangan aneh mengerikan itu adalah jelmaan siluman kucing hitam.
Pada bulan ke lima belas tepatnya malam itu ia akan mengalami reinkarnasi,
menjadi manusia sakti yang tak terkalahkan. Tapi mendadak saja sekujur tubuhnya
__ADS_1
menggelepar ketika Rangga menabraknya dan mencampakkannya ke dalam jurang
dengan sadis..!!
“Aku tidak akan memaafkanmu!” pekik mahluk itu dengan suara yang tajam.
Rangga tergopoh–gopoh lagi dengan nafas tersengal. Sesekali ia mengatur
pernafasannya yang terasa sepenggal. Ia tidak tahu pasti jalan keluar malam
itu. Ia merasa telah berkeliling hutan lebih dari sepuluh kali.
Suara–suara tajam dan menyeringai histeris itu kembali bermain–main di
telinganya. Dengus nafas yang memburu tajam terus saja menghampirinya. Suara
decak telapak kaki yang tidak berbayang terlihat berhenti di depannya.
Rangga mendadak saja terhenti. Ia bergerak mundur beberapa meter.
Pikirannya yang semakin kalut serasa mengusik detak jantungnya.
“Toloonng!!” jerit Rangga lagi.
Tak seorang pun mendengar jeritan Rangga di malam itu. Jeritan–jeritan Rangga
bagaikan angin lalu yang berhembus dengan semilir .
Bibirnya yang bergetar semakin pucat. Keringat dingin yang terus
membanjiri tubuhnya jatuh di perut bumi. Rangga tergopoh–gopoh lagi berlari
dari sosok mengerikan itu. Tapi mendadak saja ia terjatuh, dan sosok mengerikan
itu menerkamnya dengan sadis!!!
Rangga berusaha meronta dan mengadukan perlawanan. Namun sedikit
tenaganya yang masih tersisa tidak sanggup melawan hujaman sosok gaib
mengerikan itu. Rangga menjerit lagi
dengan histeris.
Sosok bayangan mengerikan itu menerkam dengan seketika.
Rangga menjerit beberapa kali ketika lehernya mengucurkan darah segar
yang terasa menyakitkan!! Sosok bayangan mengerikan itu mencabik–cabik tubuh
Rangga dengan sadisnya. Rangga menjerit kesakitan yang amat sangat, ketika siluman itu menghisap darahnya. Dengan seketika saja Rangga tersungkur dan menggelepar di rerumputan. Darah segar memuncrat deras dari lehernya. Rangga pun tewas dengan mengenaskan.
@@@
“Kucing hitam yang saya tabrak itu ternyata siluman jadi–jadian.” ucap
Bastian dengan suara parau.
Gilang terpaku seakan membayangkan kejadian mengerikan sepuluh tahun
yang lalu itu. Ia menarik nafas dengan
berat. Bulu kuduknya mendadak saja merinding mengingat kejadian itu.Gilang
beringsut dari duduknya, ia membenahi dan mengemasi barang–barangnya. Kening
lelaki baya itu berkerut memperhatikan Gilang dengan cemas.
“Saya harus kembali ke kota, pak.” ujar Gilang sore itu.
“Apa tidak sebaiknya besok saja,
nak Gilang.“
“Besok saya harus segera membuat laporan, untuk sebuah redaksi. Saya
tidak bisa menundak keberangkatan saya.”
Lelaki baya itu menghela nafas dengan berat. Khawatir akan terjadi
apa-apa dengan Gilang.
“Sebaiknya nak Gilang berhati–hati. Hari sudah semakin sore.” ucap
Bastian lagi. Gilang mengangguk sekenahnya. Kemudian ia menstarter sepeda
motornya dengan suara yang berisik.
“Saya pergi dulu, pak.” pamitnya. Sepeda motornya segera melaju kencang.
Mata Bastian menatap tajam ke arah Gilang yang melewati hutan kecil di
perkampungan.
‘Mudah–mudahan tidak terjadi apa-apa.’ selahnya pelan.
Menadadak saja langit menjadi hitam dengan diwarnai suara guntur yang
sangat menggelegar. Gilang terkejut setengah mati. Jantungnya mulai bergemuruh kencang. Pirasat lain bermain–main
lagi di benaknya.
‘Mengapa mendadak saja langit menjadi gelap, padahal tadi langit terang
benderang.’ ucapnya dalam hati.
Gilang melewati hutan–hutan kecil di sekitar perkampungan. Kembali kilat
menyambar–nyambar dengan dahsyatnya. Beberapa meter lagi Gilang akan memasuki
hutan angker yang sangat mengerikan. Jantungnya yang bergemuruh kencang semakin
bedebuk tidak menentu. Pikiran kalud lagi–lagi membebani benaknya. Sehingga Gilang tidak memperhatikan jalan yang penuh
kerikil dan berlubang.
“Greett….”
Mendadak saja derit roda sepeda motornya terhenti. Gilang semakin
terkejut dengan sorot mata yang semakin tajam mengawasi semak belukar.
“Astagfirullah!!” pekiknya tertahan. Gilang terkejut lagi alang–kepalang.
Ia menabrak seekor kucing hitam hingga
menggelepar!!!
Gilang panik dan semakin ketakutan. Gilang adalah tumbal berikutnya!!!!
__ADS_1