
Asap rokok menebal, membuat kabut tipis di
ruangan kecil berukuran 3x4. Wajah Pandapotan terlihat tegang dan memerah. Ia
memerhatikan laki-laki tua di depannya. Laki-laki berkulit coklat gelap
berjanggut putih dengan sebatang rokok kretek di bibirnya. Sesekali laki-laki
itu mengepulkan asab rokoknya sambil menatap wajah Pandapotan dengan lekat. Ia
tidak banyak bicara namun di wajahnya menyimpan beribu tanda tanya. Pandapotan
yang diperhatikan seperti itu mulai tidak tenang.
“Bagaimana, Pak? Apakah ada jalan keluarnya?”
tanya Pandapotan ragu.
Laki-laki itu masih terdiam sambil mengepulkan
asap rokoknya, kemudian melumatkannya di atas asbak aluminium. Ia
manggut-manggut sendiri seolah berbicara pada mahluk gaib di depannya.
Laki-laki itu melihat guci tanah yang berisi air putih dan beberapa bunga
setaman. Bau kembang dan kemenyan menyeruak memenuhi kamar.
“Anda serius dengan keinginan anda?” tanya
laki-laki itu sambil menatap wajah Pandapotan yang terlihat tegang.
“Iya, Pak...” jawabnya tegas.
“Baik, saya akan melakukan apa yang anda minta.
Sekarang anda pulanglah. Semuanya akan berjalan lancar,”
Pandapotan terlihat bingung, namun ia beranjak
juga dari ruangan itu setelah memberikan beberapa lembar uang ke laki-laki tua
berjanggut putih. Semuanya sudah ia pertimbangkan. Apapun resikonya dia sudah
siap.
Malam kembali menawarkan kepekatan pada
jalan-jalan setapak menuju jalan utama dari rumah laki-laki tua itu. Perkebunan
karet tumbuh subur dan membuat keadaan semakin gelap. Tidak ada penerangan sama
sekali.
“Bagaimana, Pak dokter?” tanya Suparjo, seorang
supir yang memperkenalkan Pandapotan
pada laki-laki tua itu.
“Semuanya akan berjalan lancar kata bapak tua
itu,”
Suparjo manggut-manggut.
“Trus tujuan kita kemana, Pak?”
“Kita kembali ke rumah sakit saja.”
“Baik, Pak.”
Suparjo membukakan pintu untuk Pandapotan.
Mobil kijang melaju di jalan tanah dan
berlumpur. Dalam perjalanan, Pandapotan hanya diam dan termenung. Apakah
laki-laki tua itu bisa dipercaya atau hanya memanfaatkan uangnya saja.
“Jangan khawatir, Pak dokter. Laki-laki itu
orang sakti. Yakin saja padanya, semua pasti berjalan lancar,”
“Aku jadi khawatir, Jo. Perasaanku nggak enak,”
“Itu biasa, Pak dokter. Nanti juga bapak akan
merasakan hasilnya.”
Pandapotan kembali terdiam sepanjang perjalanan
pulang. Perkebunan karet terlihat sangat gelap dan mencekam. Seperti ada
sepasang mata yang mengawasi mereka dari jauh. Mata merah yang menakutkan.
Hujan baru saja reda, namun masih menyisahkan hawa dingin di sekitar
perkebunan kelapa sawit. Gelap dan sepi. Kabut tipis menyelimuti sebagian
perkebunan. Hawanya menawarkan atmosfer yang sangat menakutkan. Seperti ada
sosok mahluk halus yang bergentayangan mencari tumbal.
Koridor rumah sakit terlihat sepi dan mencekam. Beberapa waktu lalu
seorang perawat gantung diri di pohon beringin yang bertengger di dekat rumah
sakit. Konon arwahnya gentayangan menakuti siapa saja yang melintasi pohon itu.
Tidak ada hewan malam yang bersuara. Senyap. Aroma rumah sakit yang khas
dengan obat-obatan menyeruak hingga ke sudut koridor. Bau kamper, amis dan
memuakan serta bau-bau tak sedap lainnya juga membuat bulu kuduk merinding.
Belum lagi wangi bunga melati yang entah
dari mana datangnya. Wangi bunga itu juga membuat suasana menjadi mencekam.
Di ujung koridor terlihat seorang Perawat berjalan tergesa sambil
mendekap berkas-berkas pasien di dadanya. Perawat itu terlihat gelisah dan
ketakutan. Pandangannya mengedar ke kanan dan ke kiri. Tidak ada pengunjung
sama sekali yang dijumpai. Tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan
sanak-saudara pasien. Malam ini terasa sunyi dan mencekam. Mungkin karena hujan
baru saja reda dan biasanya para pengunjung ikut tidur bersama pasien.
Perawat itu mendegut ludahnya beberapa kali ketika melewati beberapa
ruang-ruang kosong sepanjang koridor. Detak jantungnya mulai tak menentu ketika
harus melewati ruang otopsi. Di mana kemarin beberapa ahli forensik membedah
dada sosok mayat korban tabrak lari yang sangat mengenaskan.
Perawat itu mempercepat langkahnya hingga menimbulkan suara telapak kaki
yang beradu kencang. Di sudut koridor ia melihat seorang suster berjalan sambil
mendorong tempat tidur pasien. Perawat itu sedikit merasa lega dan terus
mempercepat langkahnya agar ia bisa bersama sang suster. Di perempatan koridor
Perawat itu terkejut setengah mati. Suster yang ia lihat tadi sudah tidak ada.
Ia memperhatikan ruang-ruang pasien yang kosong dan mati lampunya. Jantung
Perawat itu kembali berdebuk kencang. Sedikit berlari ia melewati
ruangan-ruangan itu. Lorong-lorong itu terlihat gelap dan menakutkan.
Keringat dingin mengucur dari keningnya. Ingin ia menjerit dan menangis,
namun bibirnya terus bergetar. Jantungnya berdebar tidak menentu. Ia terus
berjalan sambil mengatur detak jantungnya.Terbesit lagi di benaknya tentang
cerita-cerita misteri dari temannya. Sosok arwah seorang perawat dengan wajah
pucat dan sebagian wajahnya sudah busuk penuh belatung. Kuku-kuku tangannya
panjang dan runcing. Rambutnya awut-awutan.
Perawat itu mulai tak nyaman ketika mendengar suara menangis sesenggukan
dari sudut ruang kosong. Ia melangkahkan kakinya dengan berat. Ingin kembali ke
ruang perawatan itu sama saja bunuh diri. Ia sudah melaluinya dengan rasa
__ADS_1
ketakutan yang sangat luar biasa. Perawat itu mengintai dari balik dinding,
namun tidak ada siapa-siapa di sana. Perawat itu kembali melangkahkan kakinya
berjalan tergesa. Ia berhenti sejenak ketika melihat lorong gelap di depannya.
Lorong itu terkenal angker. Selalu saja ada penampakan saat malam tiba.
Lampunya sudah puluhan kali diganti, namun tetap saja mati.
Perawat itu mendegut ludahnya seraya menghentikan langkahnya. Jantungnya
kembali berdebuk kencang tak menentu. Keringat dingin terus saja membasahi
wajahnya. Bau amis menyengat di hidungnya. Seperti bau darah segar yang
memuakkan. Bau itu perlahan berubah menjadi bau tak sedap. Bau bangkai yang
sangat menjijikan. Perawat itu merasa mual dan mau muntah. Tiba-tiba saja ia
melihat seorang perawat keluar dari lorong gelap itu dengan tubuh terbalik.
“Akkkkkhhhhh.....” Perawat itu menjerit histeris.
Ia berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berkas-berkas pasien
berjatuhan di lantai. Perawat itu menangis dengan nafas tersengal. Ia panik dan
ketakutan. Pandangannya nanar dan ia berlari tak tentu arah. Di sudut lorong
Kenanga ia berhenti ketika melihat di depannya ada tulisan KAMAR MAYAT!
Deegg... Jantungnya terus bergemuruh. Di samping kamar mayat berdiri
sosok perempuan berambut panjang awut-awutan. Bajunya penuh bercak darah. Sosok
itu membelakanginya sambil menyisir rambutnya yang panjang. Bau melatin dan bau
amis berbaur menjadi satu. Bau itu membuat sang perawat merasa mual dan mau
muntah. Dengan perlahan sosok itu menoleh ke arahnya. Perawat itu pun menjerit
begitu melihat wajah hancur penuh belatung.
“Akkhhh...!!!”
Perawat itu panik dengan keringat yang bercucuran. Ingin menjerit dan
berlari, namun bibirnya terasa terkatup sangat kuat. Langkahnya seperti
tertahan. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.
“Tolooooongggg....” teriaknya histeris.
Sosok itu menyeringai dan membuat senyuman yang menakutkan. Dari mulutnya
keluar darah kental berwaran merah kehitaman. Sebagian wajahnya terkelupas
busuk dengan mata terjuntai keluar. Gigi-giginya hitam bertaring. Lidahnya
menjulur panjang keluar.
“Akkkhhhh....”
Perawat itu menjerit sambil terus berlari ketakutan. Suara-suara aneh
mulai bersahutan. Suara jeritan, tangisan dan erangan-erangan yang entah dari
mana datangnya memekakan gendang telinga. Suara tangisan pilu dari liang kubur.
Suara cekikikan Kuntilanak membahana di dahan-dahan pohon beringin. Perawat itu
terus berlari di lorong-lorong gelap. Tiba-tiba saja ia terbelalak dengan bibir
gemetar ketika melihat sosok mengerikan keluar dari lorong gelap. Sosok tinggi
besar berbulu hitam dengan kuku-kuku yang tajam dan runcing. Sosok mengerikan itu berjalan mendekatinya sambil membawa
jantung manusia.
“AAAARGGGGGHHHHHHKKKK.....”
Perawat itu menjerit lagi dan berlari
sekencang-kencangnya. Tiba-tiba saja ia terjatuh. Tubuhnya terseret di lorong
gelap. Seperti ada yang menariknya dengan tragis. Kemudian tubuhnya melayang ke
atas berputar-putar, setelah itu jatuh terjerembab di tanah. Jeritan dan
“Aggkkhh... Toloooongggg....”
SREETTT....
Perawat itu menahan sakit yang tiada terkita
ketika dadanya terkoyak lebar menganga. Darah memuncrat membasahi seragam
putihnya. Sosok mahluk mengerikan yang wujudnya seperti Genderuwo itu
mencabik-cabik jantungnya dan melahabnya seperti melahap daging mentah. Tubuh
sang perawat berkelojotan menahan sebuah kematian.
Jeritan perawat itu pun hilang bersama sayup
suara lolongan anjing yang entah darimana. Bau amis dan bau kemenyan menyeruak
di sepanjang koridor rumah sakit. Bau darah segar menyusup ke lorong-lorong
yang gelap. Sebagian tercium oleh pasien yang di rawat di ruang-ruang sepi.
Pandapotan yang baru tiba di rumah sakit mendadak
saja terbelalak kaget ketika melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya.
Ia sangat ketakutan dengan wajah pias dan mengintai dari balik tembok.
Sosok mahluk itu pun menghilang di lorong-lorong
gelap bersama suaranya yang mendesis mengerikan. Desisan itu membuat bulu kuduk
merinding. Tubuh perawat itu juga
menghilang entah kemana. Pandapotan terlihat shock!
Malam bergelayut pekat seperti kemarin-kemarin.
Tidak ada hewan nocturnal yang bersahutan silih berganti. Sepi. Suasana rumah
sakit pun terlihat mencekam dengan adanya cerita-cerita menyeramkan dari
beberapa pasien dan perawat yang pernah mengalaminya. Apalagi atmosfer yang
dipancarkan dari pohon beringin yang tumbuh subur di taman depan rumah sakit.
Pohon itu membuat sebagian perawat bergidik ngeri. Tak jarang mereka mencium
wewangian dari batang pohon itu.
Di kamar berukuran 3x4 ada dua orang perawat yang
ngobrol serius tentang kejadian-kejadian yang pernah mereka alami.
“Aku takut, Lel. Hari ini giliranku jaga malam,”
ucap seorang perawat kepada temannya. Raisa mendengarkan percakapan mereka dari
balik kamarnya.
“Apa yang kamu takutkan? Kamu kan udah biasa
tugas malam?” tanya Lely yang asik mengolesi pelembab di wajahnya.
“Aku nggak tau, Lel. Hari ini aku merasa
ketakutan aja. Malam ini kan malam jum’at. Konon katanya ada hantu yang sangat
menyeramkan, Lel dan konon dulu ada tujuh perawat yang raib begitu saja,”
“Ah, kamu ini ada-ada aja. Dasar penakut. Yang
namanya rumah sakit itu ya begitu, Din. Pasti dikait-kaitkan dengan
cerita-cerita misteri. Apalagi di rumah sakitkan banyak pasien yang mati
mengenaskan sampai arwahnya gentayangan. Kamu kenapa sih jadi parno gitu? Kalau
kamu takut, nggak usah jadi perawat,”
“Uughh... Lely. Aku serius. Carla juga pernah
cerita kalau ia pernah melihat sekelebatan bayangan putih disana. Konon ada
__ADS_1
mahluk yang mengerikan, Lel. Sosok mahluk halus yang haus jantung manusia,”
“Udah ah... Kamu semakin ngelantur aja. Jangan
terpancing dengan cerita-cerita konyol seperti itu, Din... Aku nggak mau
cerita-ceritamu itu menghantui kehidupanku, Din,”
“Apa kamu nggak tau kalau rumah sakit ini
angker?”
“Masa bodoh ah. Aku nggak peduli, Din. Toh belum
tentu kita bisa dierima bekerja di rumah sakit lain. Aku butuh biaya untuk
adik-adikku. Orangtuaku sudah nggak sanggup membiayai sekolah adik-adikku.
Sudah ah, jangan nyeritain yang itu mulu,” Lely menarik selimutnya.
“Ugghhh... Lely... Jangan tidur dulu dong,”
“Mau gapain lagi sih, Diiin? Aku ngantuk nih.”
“Temeni aku dulu. Aku mau siap-siap jaga malam,”
“Yaudah. Dasar penakut.”
“Ugh...”
Dinda membetutkan bibirnya. Ia mengelus
tengkuknya yang mulai berdiri. Ia melihat Lely sudah memejamkan matanya. Dinda
beranjak membuka pintu kamar dengan perasaan ragu. Derit suara pentu terdengar
mendecit. Kemudian Dinda keluar dengan rasa takut.
Dinda berjalan dengan rasa takut. Ia melihat koridor-koridor di depannya
yang terlihat sepi. Apalagi halaman depan rumah sakit yang terlihat gelap,
membuat jantung Dinda berdetak tidak menentu. Keringat dingin mengucur deras
dari keningnya. Ia mendegut ludah ketika ingin melalui koridor bangsal 13.
Koridor itu selalu gelap. Tidak ada lampu. Padahal sudah beberapa kali diganti
bola lampunya, namun selalu mati. Pandangan Dinda mengedar ke taman dan koridor
di sebelahnya.
Takut-takut ia melangkahkan kakinya. Di ujung koridor ia melihat seorang
perawat berjalan ke arahnya. Sedikit merasa lega, Dinda melangkahkan kakinya
dan berjalan di koridor gelap. Namun suara telapak kaki perawat itu menghilang
begitu saja. Dinda terkejut dan mendongak mencari bayangan sang perawat. Tidak
ada.
Deg...!
Jantung Dinda bergemuruh kencang. Perasaannya mulai gelisah. Kini ia
sudah berada di tengah koridor yang gelap. Matanya mengedar melihat ruang-ruang
gelap di sisi kiri dan kanannya. Pandangannya nanar ketika melihat pintu-pintu
ruang gelap itu terbuka. Ia seperti melihat penggalan-penggalan adegan
pembantaian yang mengerikan di ruangan itu. Dimana seorang perawat digorok
lehernya dan dibelah dadanya. Beberapa laki-laki berbadan gelap mengambil
jantung sang perawat. Darah mengucur deras berserakan di lantai. Dinda
ketakutan dengan bibir gemetar. Tiba-tiba saja perawat itu bangkit dengan sosok
yang mengerikan. Lehernya hampir putus berlumuran darah dan berjalan mendekati
Dinda.
“Aaarrrghhhkkkkk.....” Dinda menjerit histeris sambil berlari. Berkasnya
berserakan di lantai. Dinda ketakutan sambil menangis. Koridor-koridor di
depannya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Dinda berlari lagi dengan
nafas tersengal. Tiba-tiba saja ia berhenti ketika mendengar suara mendesis
aneh dan menggeram seperti binatang buas. Dinda mendegut ludah dengan bibir
gemetar. Ia sesenggukan dengan keringat bercucuran. Perlahan sosok hitam besar
berbulu lebat keluar dari koridor yang gelap. Sosok itu menyeringai dengan
giginya yang tajam. Matanya bulat merah melotot ke arahnya. Kuku-kuku mahluk
itu hitam dan runcing. Tidak tahu mahluk apakah itu. Yang ia ingat sosok itu
sebagai sosok menakutkan bernama Genderuwo.
“Aaarrrhhggggkkkk....” Dinda kembali menjerit histeris.
Jeritan itu seperti lolongan anjing yang menggetarkan bulu kuduk.
Dinda bergerak mundur melihat sosok mengerikan di depannya. Ia ingin
menjerit sekuat-kuatnya dan berlari, namun bibirnya seperti terkatup begitu
saja. Tiba-tiba saja Dinda tersedak nggak bisa bernafas. Dadanya mengeluarkan
darah. Sosok mengerikan itu mencengkram dada Dinda dan menarik jantungnya
hingga Dinda kejang-kejang. Dengan lahap mahluk itu melahap jantung Dinda yang
sudah berkelojotan di lantai. Darah mengalir deras membasahi lantai keramik.
Di teras rumah berwarna putih dengan gaya kebaratan, duduk seorang
laki-laki baya dengan pandangan menerawang. Laki-laki tua berusia 58 tahun itu
masih terlihat begitu segar. Ia terbayang lagi dengan kejadian dua puluh tahun
yang lalu. Kejadian yang membuat hidupnya selalu dihantui rasa bersalah, namun
itu sudah menjadi perjanjian yang harus ditepati. Dimana ia menyaksikan sendiri
betapa tragisnya suster Martha tewas mengenaskan. Dadanya tercabik-cabik
seperti diterkam binatang buas. Tubuhnya terseret di lorong gelap menuju pohon
beringin. Darah berserakan di lantai dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia
sangat ketakutan.
Ia duduk sambil menantikan putrinya yang akan tiba di Indonesia dari
Amerika. Ia sangat membutuhkan tenaga anaknya sebagai dokter ahli.
“Pa....” Tegur istrinya membuyarkan lamunan Pandapotan. “Kok melamun?
Nggak baik melamun sore-sore begini. Apa yang papa lamunkan?”
“Hmm... nggak apa-apa, Ma... Papa baik-baik aja kok.”
Sang istri memperhatikan Pandapotan dengan lekat.
“Papa...” Gumamnya pelan. “Sarah katanya langsung ke rumah sakit.”
Pandapotan tiba-tiba saja terkejut dan membelalakan matanya. Ia terlihat
gelisah dan membuat istrinya ikutan gelisah.
“Untuk apa dia ke rumah sakit, Ma?”
Sang istri menggeleng dan hanya menatap Pandapotan yang semakin gelisah
dengan keringat mengucur deras di keningnya.
“Gawat, Ma... Gawat... Kita harus segera ke rumah sakit.”
Belum sempat Pandapotan beranjak tiba-tiba saja angin bertiup kencang dan
menghembuskan tubuhnya. Pandapotan semaki terkejut ketika tubuhnya menggigil
dan bergidik. Anak gadisnya menjadi tumbal terakhir untuk melengkapi tujuh
darah perawan.
“TIDAAAAKKKKK....” Pandapotan menjerit dengan penuh penyesalan.
__ADS_1