GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 14, TUJUH DARAH PERAWAN


__ADS_3

Asap rokok menebal, membuat kabut tipis di


ruangan kecil berukuran 3x4. Wajah Pandapotan terlihat tegang dan memerah. Ia


memerhatikan laki-laki tua di depannya. Laki-laki berkulit coklat gelap


berjanggut putih dengan sebatang rokok kretek di bibirnya. Sesekali laki-laki


itu mengepulkan asab rokoknya sambil menatap wajah Pandapotan dengan lekat. Ia


tidak banyak bicara namun di wajahnya menyimpan beribu tanda tanya. Pandapotan


yang diperhatikan seperti itu mulai tidak tenang.


“Bagaimana, Pak? Apakah ada jalan keluarnya?”


tanya Pandapotan ragu.


Laki-laki itu masih terdiam sambil mengepulkan


asap rokoknya, kemudian melumatkannya di atas asbak aluminium. Ia


manggut-manggut sendiri seolah berbicara pada mahluk gaib di depannya.


Laki-laki itu melihat guci tanah yang berisi air putih dan beberapa bunga


setaman. Bau kembang dan kemenyan menyeruak memenuhi kamar.


“Anda serius dengan keinginan anda?” tanya


laki-laki itu sambil menatap wajah Pandapotan yang terlihat tegang.


“Iya, Pak...” jawabnya tegas.


“Baik, saya akan melakukan apa yang anda minta.


Sekarang anda pulanglah. Semuanya akan berjalan lancar,”


Pandapotan terlihat bingung, namun ia beranjak


juga dari ruangan itu setelah memberikan beberapa lembar uang ke laki-laki tua


berjanggut putih. Semuanya sudah ia pertimbangkan. Apapun resikonya dia sudah


siap.


Malam kembali menawarkan kepekatan pada


jalan-jalan setapak menuju jalan utama dari rumah laki-laki tua itu. Perkebunan


karet tumbuh subur dan membuat keadaan semakin gelap. Tidak ada penerangan sama


sekali.


“Bagaimana, Pak dokter?” tanya Suparjo, seorang


supir yang memperkenalkan  Pandapotan


pada laki-laki tua itu.


“Semuanya akan berjalan lancar kata bapak tua


itu,”


Suparjo manggut-manggut.


“Trus tujuan kita kemana, Pak?”


“Kita kembali ke rumah sakit saja.”


“Baik, Pak.”


Suparjo membukakan pintu untuk Pandapotan.


Mobil kijang melaju di jalan tanah dan


berlumpur. Dalam perjalanan, Pandapotan hanya diam dan termenung. Apakah


laki-laki tua itu bisa dipercaya atau hanya memanfaatkan uangnya saja.


“Jangan khawatir, Pak dokter. Laki-laki itu


orang sakti. Yakin saja padanya, semua pasti berjalan lancar,”


“Aku jadi khawatir, Jo. Perasaanku nggak enak,”


“Itu biasa, Pak dokter. Nanti juga bapak akan


merasakan hasilnya.”


Pandapotan kembali terdiam sepanjang perjalanan


pulang. Perkebunan karet terlihat sangat gelap dan mencekam. Seperti ada


sepasang mata yang mengawasi mereka dari jauh. Mata merah yang menakutkan.



Hujan baru saja reda, namun masih menyisahkan hawa dingin di sekitar


perkebunan kelapa sawit. Gelap dan sepi. Kabut tipis menyelimuti sebagian


perkebunan. Hawanya menawarkan atmosfer yang sangat menakutkan. Seperti ada


sosok mahluk halus yang bergentayangan mencari tumbal.


Koridor rumah sakit terlihat sepi dan mencekam. Beberapa waktu lalu


seorang perawat gantung diri di pohon beringin yang bertengger di dekat rumah


sakit. Konon arwahnya gentayangan menakuti siapa saja yang melintasi pohon itu.


Tidak ada hewan malam yang bersuara. Senyap. Aroma rumah sakit yang khas


dengan obat-obatan menyeruak hingga ke sudut koridor. Bau kamper, amis dan


memuakan serta bau-bau tak sedap lainnya juga membuat bulu kuduk merinding.


Belum lagi wangi  bunga melati yang entah


dari mana datangnya. Wangi bunga itu juga membuat suasana menjadi mencekam.


Di ujung koridor terlihat seorang Perawat berjalan tergesa sambil


mendekap berkas-berkas pasien di dadanya. Perawat itu terlihat gelisah dan


ketakutan. Pandangannya mengedar ke kanan dan ke kiri. Tidak ada pengunjung


sama sekali yang dijumpai. Tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan


sanak-saudara pasien. Malam ini terasa sunyi dan mencekam. Mungkin karena hujan


baru saja reda dan biasanya para pengunjung ikut tidur bersama pasien.


Perawat itu mendegut ludahnya beberapa kali ketika melewati beberapa


ruang-ruang kosong sepanjang koridor. Detak jantungnya mulai tak menentu ketika


harus melewati ruang otopsi. Di mana kemarin beberapa ahli forensik membedah


dada sosok mayat korban tabrak lari yang sangat mengenaskan.


Perawat itu mempercepat langkahnya hingga menimbulkan suara telapak kaki


yang beradu kencang. Di sudut koridor ia melihat seorang suster berjalan sambil


mendorong tempat tidur pasien. Perawat itu sedikit merasa lega dan terus


mempercepat langkahnya agar ia bisa bersama sang suster. Di perempatan koridor


Perawat itu terkejut setengah mati. Suster yang ia lihat tadi sudah tidak ada.


Ia memperhatikan ruang-ruang pasien yang kosong dan mati lampunya. Jantung


Perawat itu kembali berdebuk kencang. Sedikit berlari ia melewati


ruangan-ruangan itu. Lorong-lorong itu terlihat gelap dan menakutkan.


Keringat dingin mengucur dari keningnya. Ingin ia menjerit dan menangis,


namun bibirnya terus bergetar. Jantungnya berdebar tidak menentu. Ia terus


berjalan sambil mengatur detak jantungnya.Terbesit lagi di benaknya tentang


cerita-cerita misteri dari temannya. Sosok arwah seorang perawat dengan wajah


pucat dan sebagian wajahnya sudah busuk penuh belatung. Kuku-kuku tangannya


panjang dan runcing. Rambutnya awut-awutan.


Perawat itu mulai tak nyaman ketika mendengar suara menangis sesenggukan


dari sudut ruang kosong. Ia melangkahkan kakinya dengan berat. Ingin kembali ke


ruang perawatan itu sama saja bunuh diri. Ia sudah melaluinya dengan rasa

__ADS_1


ketakutan yang sangat luar biasa. Perawat itu mengintai dari balik dinding,


namun tidak ada siapa-siapa di sana. Perawat itu kembali melangkahkan kakinya


berjalan tergesa. Ia berhenti sejenak ketika melihat lorong gelap di depannya.


Lorong itu terkenal angker. Selalu saja ada penampakan saat malam tiba.


Lampunya sudah puluhan kali diganti, namun tetap saja mati.


Perawat itu mendegut ludahnya seraya menghentikan langkahnya. Jantungnya


kembali berdebuk kencang tak menentu. Keringat dingin terus saja membasahi


wajahnya. Bau amis menyengat di hidungnya. Seperti bau darah segar yang


memuakkan. Bau itu perlahan berubah menjadi bau tak sedap. Bau bangkai yang


sangat menjijikan. Perawat itu merasa mual dan mau muntah. Tiba-tiba saja ia


melihat seorang perawat keluar dari lorong gelap itu dengan tubuh terbalik.


“Akkkkkhhhhh.....” Perawat itu menjerit histeris.


Ia berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berkas-berkas pasien


berjatuhan di lantai. Perawat itu menangis dengan nafas tersengal. Ia panik dan


ketakutan. Pandangannya nanar dan ia berlari tak tentu arah. Di sudut lorong


Kenanga ia berhenti ketika melihat di depannya ada tulisan KAMAR MAYAT!


Deegg... Jantungnya terus bergemuruh. Di samping kamar mayat berdiri


sosok perempuan berambut panjang awut-awutan. Bajunya penuh bercak darah. Sosok


itu membelakanginya sambil menyisir rambutnya yang panjang. Bau melatin dan bau


amis berbaur menjadi satu. Bau itu membuat sang perawat merasa mual dan mau


muntah. Dengan perlahan sosok itu menoleh ke arahnya. Perawat itu pun menjerit


begitu melihat wajah hancur penuh belatung.


“Akkhhh...!!!”


Perawat itu panik dengan keringat yang bercucuran. Ingin menjerit dan


berlari, namun bibirnya terasa terkatup sangat kuat. Langkahnya seperti


tertahan. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.


“Tolooooongggg....” teriaknya histeris.


Sosok itu menyeringai dan membuat senyuman yang menakutkan. Dari mulutnya


keluar darah kental berwaran merah kehitaman. Sebagian wajahnya terkelupas


busuk dengan mata terjuntai keluar. Gigi-giginya hitam bertaring. Lidahnya


menjulur panjang keluar.


“Akkkhhhh....”


Perawat itu menjerit sambil terus berlari ketakutan. Suara-suara aneh


mulai bersahutan. Suara jeritan, tangisan dan erangan-erangan yang entah dari


mana datangnya memekakan gendang telinga. Suara tangisan pilu dari liang kubur.


Suara cekikikan Kuntilanak membahana di dahan-dahan pohon beringin. Perawat itu


terus berlari di lorong-lorong gelap. Tiba-tiba saja ia terbelalak dengan bibir


gemetar ketika melihat sosok mengerikan keluar dari lorong gelap. Sosok tinggi


besar berbulu hitam dengan kuku-kuku yang tajam dan runcing. Sosok mengerikan itu berjalan mendekatinya sambil membawa


jantung manusia.


“AAAARGGGGGHHHHHHKKKK.....”


Perawat itu menjerit lagi dan berlari


sekencang-kencangnya. Tiba-tiba saja ia terjatuh. Tubuhnya terseret di lorong


gelap. Seperti ada yang menariknya dengan tragis. Kemudian tubuhnya melayang ke


atas berputar-putar, setelah itu jatuh terjerembab di tanah. Jeritan dan


“Aggkkhh... Toloooongggg....”


SREETTT....


Perawat itu menahan sakit yang tiada terkita


ketika dadanya terkoyak lebar menganga. Darah memuncrat membasahi seragam


putihnya. Sosok mahluk mengerikan yang wujudnya seperti Genderuwo itu


mencabik-cabik jantungnya dan melahabnya seperti melahap daging mentah. Tubuh


sang perawat berkelojotan menahan sebuah kematian.


Jeritan perawat itu pun hilang bersama sayup


suara lolongan anjing yang entah darimana. Bau amis dan bau kemenyan menyeruak


di sepanjang koridor rumah sakit. Bau darah segar menyusup ke lorong-lorong


yang gelap. Sebagian tercium oleh pasien yang di rawat di ruang-ruang sepi.


Pandapotan yang baru tiba di rumah sakit mendadak


saja terbelalak kaget ketika melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya.


Ia sangat ketakutan dengan wajah pias dan mengintai dari balik tembok.


Sosok mahluk itu pun menghilang di lorong-lorong


gelap bersama suaranya yang mendesis mengerikan. Desisan itu membuat bulu kuduk


merinding. Tubuh  perawat itu juga


menghilang entah kemana. Pandapotan terlihat shock!



Malam bergelayut pekat seperti kemarin-kemarin.


Tidak ada hewan nocturnal yang bersahutan silih berganti. Sepi. Suasana rumah


sakit pun terlihat mencekam dengan adanya cerita-cerita menyeramkan dari


beberapa pasien dan perawat yang pernah mengalaminya. Apalagi atmosfer yang


dipancarkan dari pohon beringin yang tumbuh subur di taman depan rumah sakit.


Pohon itu membuat sebagian perawat bergidik ngeri. Tak jarang mereka mencium


wewangian dari batang pohon itu.


Di kamar berukuran 3x4 ada dua orang perawat yang


ngobrol serius tentang kejadian-kejadian yang pernah mereka alami.


“Aku takut, Lel. Hari ini giliranku jaga malam,”


ucap seorang perawat kepada temannya. Raisa mendengarkan percakapan mereka dari


balik kamarnya.


“Apa yang kamu takutkan? Kamu kan udah biasa


tugas malam?” tanya Lely yang asik mengolesi pelembab di wajahnya.


“Aku nggak tau, Lel. Hari ini aku merasa


ketakutan aja. Malam ini kan malam jum’at. Konon katanya ada hantu yang sangat


menyeramkan, Lel dan konon dulu ada tujuh perawat yang raib begitu saja,”


“Ah, kamu ini ada-ada aja. Dasar penakut. Yang


namanya rumah sakit itu ya begitu, Din. Pasti dikait-kaitkan dengan


cerita-cerita misteri. Apalagi di rumah sakitkan banyak pasien yang mati


mengenaskan sampai arwahnya gentayangan. Kamu kenapa sih jadi parno gitu? Kalau


kamu takut, nggak usah jadi perawat,”


“Uughh... Lely. Aku serius. Carla juga pernah


cerita kalau ia pernah melihat sekelebatan bayangan putih disana. Konon ada

__ADS_1


mahluk yang mengerikan, Lel. Sosok mahluk halus yang haus jantung manusia,”


“Udah ah... Kamu semakin ngelantur aja. Jangan


terpancing dengan cerita-cerita konyol seperti itu, Din... Aku nggak mau


cerita-ceritamu itu menghantui kehidupanku, Din,”


“Apa kamu nggak tau kalau rumah sakit ini


angker?”


“Masa bodoh ah. Aku nggak peduli, Din. Toh belum


tentu kita bisa dierima bekerja di rumah sakit lain. Aku butuh biaya untuk


adik-adikku. Orangtuaku sudah nggak sanggup membiayai sekolah adik-adikku.


Sudah ah, jangan nyeritain yang itu mulu,” Lely menarik selimutnya.


“Ugghhh... Lely... Jangan tidur dulu dong,”


“Mau gapain lagi sih, Diiin? Aku ngantuk nih.”


“Temeni aku dulu. Aku mau siap-siap jaga malam,”


“Yaudah. Dasar penakut.”


“Ugh...”


Dinda membetutkan bibirnya. Ia mengelus


tengkuknya yang mulai berdiri. Ia melihat Lely sudah memejamkan matanya. Dinda


beranjak membuka pintu kamar dengan perasaan ragu. Derit suara pentu terdengar


mendecit. Kemudian Dinda keluar dengan rasa takut.


Dinda berjalan dengan rasa takut. Ia melihat koridor-koridor di depannya


yang terlihat sepi. Apalagi halaman depan rumah sakit yang terlihat gelap,


membuat jantung Dinda berdetak tidak menentu. Keringat dingin mengucur deras


dari keningnya. Ia mendegut ludah ketika ingin melalui koridor bangsal 13.


Koridor itu selalu gelap. Tidak ada lampu. Padahal sudah beberapa kali diganti


bola lampunya, namun selalu mati. Pandangan Dinda mengedar ke taman dan koridor


di sebelahnya.


Takut-takut ia melangkahkan kakinya. Di ujung koridor ia melihat seorang


perawat berjalan ke arahnya. Sedikit merasa lega, Dinda melangkahkan kakinya


dan berjalan di koridor gelap. Namun suara telapak kaki perawat itu menghilang


begitu saja. Dinda terkejut dan mendongak mencari bayangan sang perawat. Tidak


ada.


Deg...!


Jantung Dinda bergemuruh kencang. Perasaannya mulai gelisah. Kini ia


sudah berada di tengah koridor yang gelap. Matanya mengedar melihat ruang-ruang


gelap di sisi kiri dan kanannya. Pandangannya nanar ketika melihat pintu-pintu


ruang gelap itu terbuka. Ia seperti melihat penggalan-penggalan adegan


pembantaian yang mengerikan di ruangan itu. Dimana seorang perawat digorok


lehernya dan dibelah dadanya. Beberapa laki-laki berbadan gelap mengambil


jantung sang perawat. Darah mengucur deras berserakan di lantai. Dinda


ketakutan dengan bibir gemetar. Tiba-tiba saja perawat itu bangkit dengan sosok


yang mengerikan. Lehernya hampir putus berlumuran darah dan berjalan mendekati


Dinda.


“Aaarrrghhhkkkkk.....” Dinda menjerit histeris sambil berlari. Berkasnya


berserakan di lantai. Dinda ketakutan sambil menangis. Koridor-koridor di


depannya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Dinda berlari lagi dengan


nafas tersengal. Tiba-tiba saja ia berhenti ketika mendengar suara mendesis


aneh dan menggeram seperti binatang buas. Dinda mendegut ludah dengan bibir


gemetar. Ia sesenggukan dengan keringat bercucuran. Perlahan sosok hitam besar


berbulu lebat keluar dari koridor yang gelap. Sosok itu menyeringai dengan


giginya yang tajam. Matanya bulat merah melotot ke arahnya. Kuku-kuku mahluk


itu hitam dan runcing. Tidak tahu mahluk apakah itu. Yang ia ingat sosok itu


sebagai sosok menakutkan bernama Genderuwo.


“Aaarrrhhggggkkkk....” Dinda kembali menjerit histeris.


Jeritan itu seperti lolongan anjing yang menggetarkan bulu kuduk.


Dinda bergerak mundur melihat sosok mengerikan di depannya. Ia ingin


menjerit sekuat-kuatnya dan berlari, namun bibirnya seperti terkatup begitu


saja. Tiba-tiba saja Dinda tersedak nggak bisa bernafas. Dadanya mengeluarkan


darah. Sosok mengerikan itu mencengkram dada Dinda dan menarik jantungnya


hingga Dinda kejang-kejang. Dengan lahap mahluk itu melahap jantung Dinda yang


sudah berkelojotan di lantai. Darah mengalir deras membasahi lantai keramik.



Di teras rumah berwarna putih dengan gaya kebaratan, duduk seorang


laki-laki baya dengan pandangan menerawang. Laki-laki tua berusia 58 tahun itu


masih terlihat begitu segar. Ia terbayang lagi dengan kejadian dua puluh tahun


yang lalu. Kejadian yang membuat hidupnya selalu dihantui rasa bersalah, namun


itu sudah menjadi perjanjian yang harus ditepati. Dimana ia menyaksikan sendiri


betapa tragisnya suster Martha tewas mengenaskan. Dadanya tercabik-cabik


seperti diterkam binatang buas. Tubuhnya terseret di lorong gelap menuju pohon


beringin. Darah berserakan di lantai dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia


sangat ketakutan.


Ia duduk sambil menantikan putrinya yang akan tiba di Indonesia dari


Amerika. Ia sangat membutuhkan tenaga anaknya sebagai dokter ahli.


“Pa....” Tegur istrinya membuyarkan lamunan Pandapotan. “Kok melamun?


Nggak baik melamun sore-sore begini. Apa yang papa lamunkan?”


“Hmm... nggak apa-apa, Ma... Papa baik-baik aja kok.”


Sang istri memperhatikan Pandapotan dengan lekat.


“Papa...” Gumamnya pelan. “Sarah katanya langsung ke rumah sakit.”


Pandapotan tiba-tiba saja terkejut dan membelalakan matanya. Ia terlihat


gelisah dan membuat istrinya ikutan gelisah.


“Untuk apa dia ke rumah sakit, Ma?”


Sang istri menggeleng dan hanya menatap Pandapotan yang semakin gelisah


dengan keringat mengucur deras di keningnya.


“Gawat, Ma... Gawat... Kita harus segera ke rumah sakit.”


Belum sempat Pandapotan beranjak tiba-tiba saja angin bertiup kencang dan


menghembuskan tubuhnya. Pandapotan semaki terkejut ketika tubuhnya menggigil


dan bergidik. Anak gadisnya menjadi tumbal terakhir untuk melengkapi tujuh


darah perawan.


“TIDAAAAKKKKK....” Pandapotan menjerit dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2