GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA

GADIS BLONDE DI RUMAH BELANDA
Episode 8, MISTERI LEMBAH GUNUNG SIBAYAK


__ADS_3

Puncak gunung Sibayak kelihatan berkabut. Pohon-pohon pinus masih basah karena air hujan sore


tadi. Hawa dingin kembali menawarkan aroma segar. Burung-burung liar pun


berkicau dan bernyanyi bersahutan.


Beberapa


mahasiswa pecinta alam tengah sibuk mendirikan tenda induk. Setelah beberapa


jam mereka istirahat di lereng gunung. Pendakian kali ini sangat melelahkan


mereka. Terlebih tebing dan terjal sudah banyak yang rapuh. Batu-batuan banyak


yang runtuh serta semak belukar yang acap kali mengganggu perjalanan mereka..


Kabut tipis


perlahan menyelimuti sebagian lereng gunung. Hawa dingin beberapa kali menyusup


hingga ke tulang ari. Senja menapak dengan sinar matahari yang lembayung. Kabut


tipis mendadak saja menebal dan menutupi sebagian perkemahan. Senja itu


mendadak saja suasana menjadi mencekam. Tak ada lagi hewan nocturnal yang berkicau.


Kelelahan yang teramat memakan seluruh tenaga membuat mereka tertidur lebih


awal. Dan hanya Kristina yang terpaku menatapi bara api yang mulai redup karena


tetes air hujan yang perlahan mulai membasahi.


Malam itu


suasana menjadi sangat dingin. Kristina kelihatan cemas sambil sesekali


memperhatikan hutan belantara. Sejak sore tadi ia tidak melihat Hans.


 “Kamu


lihat Hans, Ed?“ Kristina bertanya dengan berat.


Edy yang


ditanyai menggeleng sambil terus memetik senar gitar sambil bersenandung.


Sebagian mahasiswa tengah asyik menikmati puncak Gunung Sibayak. Beberapa


diantara mereka bekumpul sambil menikmati secangkir kopi panas. Kristina segera


berlalu dari tempat itu. Hatinya masih merasa cemas dengan tidak diketemukan


sosok Hans.


“Sis, aku


khawatir, sejak tadi aku tidak melihat sosok Hans. Kemana dia ya?“ tanya


Kristina pada Siska.


“Aku juga tidak


melihat Hans, Kris. Tapi sore tadi aku melihatnya sedang mencari kayu bakar..”


Kristina menarik


nafas dengan berat. Tak berapa lama, dari kejauhan Hans muncul dengan gerak


yang amat lambat. Tatapannya kosong dan tajam. Wajahnya mendadak saja menjadi


pucat dan dingin. Hans memang kelihatan aneh.


“Kamu dari mana


saja, Hans?“ tanya Kristina begitu Hans menghampiri mereka.


“Aku tidak


kemana–mana, Kris. Aku disini saja.” sahut Hans datar dan kaku. Mendadak saja


suaranya berubah berat dan parau. Kelakuan Hans pun semakin aneh .


“Ya sudah, kalau


begitu kamu istirahat saja dulu, Hans. Aku akan membuatkan kopi panas untukmu.”


ucap Kristina sambil berlalu. Siska beranjak dari duduknya dan mengikuti


langkah Kristina. Hans diam saja dengan tatapan yang semakin kosong.


“Hans kelihatan


aneh, Kris.” kata Siska dikeheningan. Siska mendadak saja punya pirasat lain


tentang Hans.


“Mungkin Hans


kelelahan, Sis. Sejak tadi kita tidak melihat dia. Mungkin saja Hans


berkeliling jauh di hutan ini untuk mencari kayu bakar.”


“Tapi aku


melihat keanehan pada diri Hans, Kris. Wajahnya pucat, pucat sekali…”


“Sudahlah,


jangan  berprasangka buruk terus. Hari sudah menjelang malam, lebih baik


kita menyiapkan makan malam untuk rekan–rekan.“


“Tapi, Kris…”


Kristina tidak


menggubris perkataan Siska. Kemudian ia berlalu menemui Hans yang tengah duduk


terpaku di atas batu.


“Ini kopinya,

__ADS_1


Hans. Minumlah, agar tubuhmu menjadi hangat.” ucap Kristina sambil meletakkan


kopi panas di samping Hans. Dengan perlahan Hans menoleh ke arah Kristina


sambil tersenyum kaku. Tidak seperti  biasanya. Dulu senyum itu begitu


manis dirasakan Kristina. Tapi kini…


“Sejak tadi aku


tidak melihatmu, Hans. Kau kemana saja?“ tanya Kristina di tengah keheningan


yang mulai mencekam. Hans tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku dengan tatapan


yang tajam.


“Sebaiknya


kalian kembali saja ke kota.“ kata Hans datar dan parau. Kristina mendadak saja


keheranan.


“ Kenapa harus


kembali, Hans. Bukankah kita baru saja tiba di puncak ini?“


“Sudahlah, hari


sudah semakin gelap. Sebaiknya kau segera bergabung dengan rekan yang lain.“


ucap Hans penuh dengan teka teki. Kemudian Kristina menarik nafas sejenak.


“Kamu tidak


gabung, Hans?“ tanya Kristina seraya beringsut.


Hans menggeleng


dengan kaku.


“Aku disini


saja. Aku ingin menikmati kesendirianku..”


“Baiklah…” selah


Kristina seraya berlalu. Beberapa kali ia mengibaskan kotoran yang melekat di


celana jeansnya.  Kristina pun segera bergabung dengan rekan yang lain.


Hans kembali


terpaku dengan tatapan yang penuh dengan misteri. Wajahnya yang kelihatan aneh


itu menatap sekilas teman–temannya yang tengah bergembira. Ada rasa sesak dan


sedih di hatinya. Walau ia ingin bergabung dengan teman lainnya. Ia takut kalau


temannya tidak menginginkan kehadirannya.


@@@


Malam itu


sore tadi. Hans benar benar telah berubah. Wajahnya terlihat beku dan dingin.


Kristina


mengintai sekilas ke luar tenda. Ia memperhatikan sekeliling  hutan–hutan


yang kelihatan semakin angker. Mendadak saja bulu kudu’nya merinding tiada


terkira. Ia melihat sosok Hans duduk terpaku di bebatuan. Kristina terkejut.


’Hans…’ pekiknya tertahan.


Kristina


memberanikan diri untuk memperhatikan gerak–gerik Hans. Bauh wewangian


tiba–tiba saja menyengat di hidungnya. Bauh kemenyan serasa menyelimuti


perkemahan. Bauh darah segar yang amis dan memuakkan memecahkan seluruh


persendiannya.


Hans beringsut


dari duduknya dengan amat lambat. Kemudian ia menatap ke arah tenda induk dan


regu lainnya. Tatapan itu diperhatikan oleh Kristina lewat pentalasi tenda.


Kristina terkejut. Kepala Hans tiba–tiba saja berubah hancur bersimbah darah!!!


Darah itu meleleh terus menerus dari kepalanya hingga membanjiri seluruh


tubuhnya. Kristina terkesiap dan ingin menjerit. Tapi malam itu ia tidak dapat


berteriak sedikitpun. Ia hanya memperhatikan kejadian itu dengan kalud.


Perlahan Hans


beringsut bergerak lambat pergi meninggalkan perkemahan. Dan sosok tubuh Hans


yang sudah hancur itu hilang di tengah hutan–hutan yang sangat menyeramkan!!


Kristina


menangis terisak sambil mengguncang tubuh Siska. Ia menceritakan kejadian itu


dengan berurai airmata. Kristina mengingat perkataan Siska sore tadi. Kalau


memang ia ingin melihat sosok Hans yang sesungguhnya, maka lihatlah dengan


pandangan terbalik.


“Tidaaakk….Aaaaakkkkhhhh!!!!!“


jerit Kristina dengan histeris.


Tak berapa lama

__ADS_1


beberapa mahasiswa menghampiri tenda putri dimana Kristina menjerit.


“Ada apa,


Kris?“  tanya  Edy keheranan. Kristina mendadak saja menangis tersedu


dan pilu.


“Hans, Ed…”


selahnya sambil menahan tangis.


“Kenapa dengan


Hans?“ seorang mahasiswa menimpali.


“Hans sudah


meninggal, Ed. Hans sudah meninggal…” ucapnya lagi sambil terisak.


“Apa?” beberapa


rekan mahasiswa terkejut dengan spontan. Mereka saling berpandangan sambil


berpegangan satu sama lain.


“Sebaiknya kita


segera meninggalkan tempat ini, Ed.” Selah Kristina semakin kalud. Tiba–tiba


saja suara berat membuyarkan keheningan mereka.


“Jangan tinggalkan


aku, Ed.” ucap Hans dengan suara nyaring.


Dengan spontan


beberapa mahasiswa menjerit dan terkejut ketakutan.


“Hans…” pekik


Edy tertahan.


“Jangan


tinggalkan aku begitu saja. Aku butuh teman, Ed...”


Edy terkejut


dengan seketika.


“Tidak, Hans!!


Kalau kau memang benar sudah meninggal pergi kau ke alammu. Jangan kau sakiti


teman–temanmu,”


“Tapi aku butuh


teman, Ed. Aku tidak ingin tinggal sendiri di sini.” suara Hans semakin


nyaring.


“Tidak, Hans.


Tidak! itu tidak mungkin.”  tukas Edy berusaha tenang.


Dengan perlahan


wajah Hans berubah mengerikan! Tubuhnya mendadak saja berlumuran darah! Dan


sebagian tubuhnya melepuh terkelupas bagai tersiram air panas.


Beberapa


mahasiswa lainnya berhambur ketakutan sambil menjerit histeris.  Mereka


masuk kembali ke dalam tenda dan mendekam ditenda saling berpelukan.


Tubuh Hans


semakin melepuh.


“Kembalikan


jasadku, Ed.” selah Hans dengan suara berat dan hampir hilang ditelan sayub


angin dingin. Siska dan Kristina semakin begidik melihat tubuh Hans yang


mengrikan!! Perlahan tubuhnya pun sirna dengan jeritan yang sangat memilukan.


“Aaaaaaaaakkkkhhh.



Jeritan itu


seakan menghantui puncak Gunung Sibayak.


Arwah Hans


dengan perlahan hilang di kegelapan malam. Arwah itu masih penasaran.


Pagi itu mereka


segera mengemasi peralatan dan membuka tenda. Mereka segera pergi meninggalkan


tempat mengerikan itu. Mereka tidak tahu dimana jasad Hans berada. Bahkan tim


SAR yang berusaha mencari jasad itu tidak menemukan mayat Hans di seputar


lembah Sibayak. Jasad Hans sirna entah kemana. Sebagian binatang buas tengah


menyaksikan pesta besar mereka.  Jasad  Hans tercabik–cabik.


Kini lembah itu


menjadi angker. Meski beberapa kali orang sering mendaki puncaknya. Sebagian


mereka menikmati keindahan itu, walau selentingat mistis menjadi gunjingannya.

__ADS_1


@@@


__ADS_2