
Puncak gunung Sibayak kelihatan berkabut. Pohon-pohon pinus masih basah karena air hujan sore
tadi. Hawa dingin kembali menawarkan aroma segar. Burung-burung liar pun
berkicau dan bernyanyi bersahutan.
Beberapa
mahasiswa pecinta alam tengah sibuk mendirikan tenda induk. Setelah beberapa
jam mereka istirahat di lereng gunung. Pendakian kali ini sangat melelahkan
mereka. Terlebih tebing dan terjal sudah banyak yang rapuh. Batu-batuan banyak
yang runtuh serta semak belukar yang acap kali mengganggu perjalanan mereka..
Kabut tipis
perlahan menyelimuti sebagian lereng gunung. Hawa dingin beberapa kali menyusup
hingga ke tulang ari. Senja menapak dengan sinar matahari yang lembayung. Kabut
tipis mendadak saja menebal dan menutupi sebagian perkemahan. Senja itu
mendadak saja suasana menjadi mencekam. Tak ada lagi hewan nocturnal yang berkicau.
Kelelahan yang teramat memakan seluruh tenaga membuat mereka tertidur lebih
awal. Dan hanya Kristina yang terpaku menatapi bara api yang mulai redup karena
tetes air hujan yang perlahan mulai membasahi.
Malam itu
suasana menjadi sangat dingin. Kristina kelihatan cemas sambil sesekali
memperhatikan hutan belantara. Sejak sore tadi ia tidak melihat Hans.
“Kamu
lihat Hans, Ed?“ Kristina bertanya dengan berat.
Edy yang
ditanyai menggeleng sambil terus memetik senar gitar sambil bersenandung.
Sebagian mahasiswa tengah asyik menikmati puncak Gunung Sibayak. Beberapa
diantara mereka bekumpul sambil menikmati secangkir kopi panas. Kristina segera
berlalu dari tempat itu. Hatinya masih merasa cemas dengan tidak diketemukan
sosok Hans.
“Sis, aku
khawatir, sejak tadi aku tidak melihat sosok Hans. Kemana dia ya?“ tanya
Kristina pada Siska.
“Aku juga tidak
melihat Hans, Kris. Tapi sore tadi aku melihatnya sedang mencari kayu bakar..”
Kristina menarik
nafas dengan berat. Tak berapa lama, dari kejauhan Hans muncul dengan gerak
yang amat lambat. Tatapannya kosong dan tajam. Wajahnya mendadak saja menjadi
pucat dan dingin. Hans memang kelihatan aneh.
“Kamu dari mana
saja, Hans?“ tanya Kristina begitu Hans menghampiri mereka.
“Aku tidak
kemana–mana, Kris. Aku disini saja.” sahut Hans datar dan kaku. Mendadak saja
suaranya berubah berat dan parau. Kelakuan Hans pun semakin aneh .
“Ya sudah, kalau
begitu kamu istirahat saja dulu, Hans. Aku akan membuatkan kopi panas untukmu.”
ucap Kristina sambil berlalu. Siska beranjak dari duduknya dan mengikuti
langkah Kristina. Hans diam saja dengan tatapan yang semakin kosong.
“Hans kelihatan
aneh, Kris.” kata Siska dikeheningan. Siska mendadak saja punya pirasat lain
tentang Hans.
“Mungkin Hans
kelelahan, Sis. Sejak tadi kita tidak melihat dia. Mungkin saja Hans
berkeliling jauh di hutan ini untuk mencari kayu bakar.”
“Tapi aku
melihat keanehan pada diri Hans, Kris. Wajahnya pucat, pucat sekali…”
“Sudahlah,
jangan berprasangka buruk terus. Hari sudah menjelang malam, lebih baik
kita menyiapkan makan malam untuk rekan–rekan.“
“Tapi, Kris…”
Kristina tidak
menggubris perkataan Siska. Kemudian ia berlalu menemui Hans yang tengah duduk
terpaku di atas batu.
“Ini kopinya,
__ADS_1
Hans. Minumlah, agar tubuhmu menjadi hangat.” ucap Kristina sambil meletakkan
kopi panas di samping Hans. Dengan perlahan Hans menoleh ke arah Kristina
sambil tersenyum kaku. Tidak seperti biasanya. Dulu senyum itu begitu
manis dirasakan Kristina. Tapi kini…
“Sejak tadi aku
tidak melihatmu, Hans. Kau kemana saja?“ tanya Kristina di tengah keheningan
yang mulai mencekam. Hans tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku dengan tatapan
yang tajam.
“Sebaiknya
kalian kembali saja ke kota.“ kata Hans datar dan parau. Kristina mendadak saja
keheranan.
“ Kenapa harus
kembali, Hans. Bukankah kita baru saja tiba di puncak ini?“
“Sudahlah, hari
sudah semakin gelap. Sebaiknya kau segera bergabung dengan rekan yang lain.“
ucap Hans penuh dengan teka teki. Kemudian Kristina menarik nafas sejenak.
“Kamu tidak
gabung, Hans?“ tanya Kristina seraya beringsut.
Hans menggeleng
dengan kaku.
“Aku disini
saja. Aku ingin menikmati kesendirianku..”
“Baiklah…” selah
Kristina seraya berlalu. Beberapa kali ia mengibaskan kotoran yang melekat di
celana jeansnya. Kristina pun segera bergabung dengan rekan yang lain.
Hans kembali
terpaku dengan tatapan yang penuh dengan misteri. Wajahnya yang kelihatan aneh
itu menatap sekilas teman–temannya yang tengah bergembira. Ada rasa sesak dan
sedih di hatinya. Walau ia ingin bergabung dengan teman lainnya. Ia takut kalau
temannya tidak menginginkan kehadirannya.
@@@
Malam itu
sore tadi. Hans benar benar telah berubah. Wajahnya terlihat beku dan dingin.
Kristina
mengintai sekilas ke luar tenda. Ia memperhatikan sekeliling hutan–hutan
yang kelihatan semakin angker. Mendadak saja bulu kudu’nya merinding tiada
terkira. Ia melihat sosok Hans duduk terpaku di bebatuan. Kristina terkejut.
’Hans…’ pekiknya tertahan.
Kristina
memberanikan diri untuk memperhatikan gerak–gerik Hans. Bauh wewangian
tiba–tiba saja menyengat di hidungnya. Bauh kemenyan serasa menyelimuti
perkemahan. Bauh darah segar yang amis dan memuakkan memecahkan seluruh
persendiannya.
Hans beringsut
dari duduknya dengan amat lambat. Kemudian ia menatap ke arah tenda induk dan
regu lainnya. Tatapan itu diperhatikan oleh Kristina lewat pentalasi tenda.
Kristina terkejut. Kepala Hans tiba–tiba saja berubah hancur bersimbah darah!!!
Darah itu meleleh terus menerus dari kepalanya hingga membanjiri seluruh
tubuhnya. Kristina terkesiap dan ingin menjerit. Tapi malam itu ia tidak dapat
berteriak sedikitpun. Ia hanya memperhatikan kejadian itu dengan kalud.
Perlahan Hans
beringsut bergerak lambat pergi meninggalkan perkemahan. Dan sosok tubuh Hans
yang sudah hancur itu hilang di tengah hutan–hutan yang sangat menyeramkan!!
Kristina
menangis terisak sambil mengguncang tubuh Siska. Ia menceritakan kejadian itu
dengan berurai airmata. Kristina mengingat perkataan Siska sore tadi. Kalau
memang ia ingin melihat sosok Hans yang sesungguhnya, maka lihatlah dengan
pandangan terbalik.
“Tidaaakk….Aaaaakkkkhhhh!!!!!“
jerit Kristina dengan histeris.
Tak berapa lama
__ADS_1
beberapa mahasiswa menghampiri tenda putri dimana Kristina menjerit.
“Ada apa,
Kris?“ tanya Edy keheranan. Kristina mendadak saja menangis tersedu
dan pilu.
“Hans, Ed…”
selahnya sambil menahan tangis.
“Kenapa dengan
Hans?“ seorang mahasiswa menimpali.
“Hans sudah
meninggal, Ed. Hans sudah meninggal…” ucapnya lagi sambil terisak.
“Apa?” beberapa
rekan mahasiswa terkejut dengan spontan. Mereka saling berpandangan sambil
berpegangan satu sama lain.
“Sebaiknya kita
segera meninggalkan tempat ini, Ed.” Selah Kristina semakin kalud. Tiba–tiba
saja suara berat membuyarkan keheningan mereka.
“Jangan tinggalkan
aku, Ed.” ucap Hans dengan suara nyaring.
Dengan spontan
beberapa mahasiswa menjerit dan terkejut ketakutan.
“Hans…” pekik
Edy tertahan.
“Jangan
tinggalkan aku begitu saja. Aku butuh teman, Ed...”
Edy terkejut
dengan seketika.
“Tidak, Hans!!
Kalau kau memang benar sudah meninggal pergi kau ke alammu. Jangan kau sakiti
teman–temanmu,”
“Tapi aku butuh
teman, Ed. Aku tidak ingin tinggal sendiri di sini.” suara Hans semakin
nyaring.
“Tidak, Hans.
Tidak! itu tidak mungkin.” tukas Edy berusaha tenang.
Dengan perlahan
wajah Hans berubah mengerikan! Tubuhnya mendadak saja berlumuran darah! Dan
sebagian tubuhnya melepuh terkelupas bagai tersiram air panas.
Beberapa
mahasiswa lainnya berhambur ketakutan sambil menjerit histeris. Mereka
masuk kembali ke dalam tenda dan mendekam ditenda saling berpelukan.
Tubuh Hans
semakin melepuh.
“Kembalikan
jasadku, Ed.” selah Hans dengan suara berat dan hampir hilang ditelan sayub
angin dingin. Siska dan Kristina semakin begidik melihat tubuh Hans yang
mengrikan!! Perlahan tubuhnya pun sirna dengan jeritan yang sangat memilukan.
“Aaaaaaaaakkkkhhh.
”
Jeritan itu
seakan menghantui puncak Gunung Sibayak.
Arwah Hans
dengan perlahan hilang di kegelapan malam. Arwah itu masih penasaran.
Pagi itu mereka
segera mengemasi peralatan dan membuka tenda. Mereka segera pergi meninggalkan
tempat mengerikan itu. Mereka tidak tahu dimana jasad Hans berada. Bahkan tim
SAR yang berusaha mencari jasad itu tidak menemukan mayat Hans di seputar
lembah Sibayak. Jasad Hans sirna entah kemana. Sebagian binatang buas tengah
menyaksikan pesta besar mereka. Jasad Hans tercabik–cabik.
Kini lembah itu
menjadi angker. Meski beberapa kali orang sering mendaki puncaknya. Sebagian
mereka menikmati keindahan itu, walau selentingat mistis menjadi gunjingannya.
__ADS_1
@@@