
BRAAAKKK
Pintu terbuka dengan sangat keras, sehingga mengagetkan Emma yang tengah membuat teh itu.
"Astaga!!" Decak Emma
"Emma, apa kau melihat Leo?" Tanya Lilin sambil terengah-engah Huuff Huuff Huuff.
"Hei, tenang lah, tenang tenang" Emma mencoba menenangkan Lilin, lalu menodongkan cangkir yang berisi Teh.
Lilin menerima teh dari Emma "terima kasih" lalu ia menyeruputnya.
Setelah menghabiskan 1 cangkir teh panas, Lilin menjelaskan apa yang terjadi.
"itu salah kamu yang terbawa emosi, udah kamu cari di seluruh kantor?" ujar Emma
"sudah Emma, aku sampai menggila saat mencari Leo" Lilin mengacak rambutnya frustasi
"lain kali jangan di bentak dulu Leonya, kamu jangan terlalu mencampurkan masalah kamu ke Leo"
"iya aku tau, tapi yang lebih penting, kita temukan Leo dulu" Kata Lilin, dia menggeret Emma menuju ruangan CCTV untuk melihat dimana terakhir Leo berada.
***
"mau nambah lagi, es krimnya?" tanya Xi
Leo menggeleng "sudah cukup 2 saja, nanti aku dimarahi sama mommy kalau banyak-banyak"
Disaat Lilin sedang menggila saat mencari Leo, sedangkan Leo dan Xi bersantai-santai di pinggir danau sambil menikmati es krim rasa vanilla yang sangat enak.
"om" panggil Leo, Xi tersentak karena Leo memanggilnya Om. Apakah dia setua itu? pikirnya.
"e-ee, yaa? kenapa?" Tanya Xi dengan ramah.
"mau sama mommy aku tidak?"
Xi tidak paham apa yang dimaksud dengan Leo "maksudnya?"
__ADS_1
"Om, mau aku jodohin sama Mommy aku tidak?"
Mata Xi membuat ketika Leo mengucapkan kata itu "Tapi, di hati om sudah ada yang mengisi. walaupun orang itu sudah pergi".
"Pergi kemana?" tanya Leo.
"Entahlah, om juga tidak tahu, om juga sedang mencarinya, bahkan om mencarinya dari 5 tahun yang lalu" jelas Xi, dia mengusap-usap kepala Leo.
"Apa om masih mencintainya?".
"tentu saja masih, aku ingin sekali bertemu dengannya secara langsung, dan mengajaknya untuk menikah".
"Woooo, itu yang dinamakan pria sejati" kagum Leo, membuat Xi tertawa "Ahahaha, darimana kamu belajar kata seperti itu".
"mommy aku yang mengajarinya" ucap Leo, lalu dia membuang stik es krim ke tong sampah.
"Oh iya om, mau tidak sama mommy aku, dia cantik banget" Ujar Leo
"AHAHAHA, nanti om Pikirkan lagi. kalau gitu ayo pulang, mommy kamu pasti cariin kamu"
"LEEOOOO"
Mereka menoleh ke sumber suara yang berasal, dari kejauhan terlihat Lilin yang tengah berlari menuju Leo dan Xi.
"Huft Huft Huft"
"Mommy?, apa yang Mommy lakuin di sini?" tanya Leo, tetapi Lilin langsung memeluk tubuh Leo dengan sangat erat.
Xi yang ada disana, memperhatikan wajah Mommynya Leo. Dia terkejut ketika Lilin melihat ke arahnya "Anda siapa ya?".
"Om ini yang sudah membantuku" potong Leo.
"Lilin, apa itu kau?" ucap Xi secara tidak sadar.
Lilin mengamati wajah Xi dengan teliti, dia terbelalak ketika ia baru sadar yang sedang dihadapannya adalah Xi Tang, masa lalunya.
"Maaf, anda mungkin salah orang" ucap Lilin, dia terpaksa berbohong kepada Xi, dan itu di lihat oleh Leo.
__ADS_1
Leo merasa kesal "Mommy bohong ya?"
Lilin membulatkan matanya "sstt, kali ini saja!" bisik Lilin ke Leo.
Anak itu menggeleng pelan "no no no Mommy!"" ucapnya sambil menggerakkan jari telunjuknya.
Perempuan itu menghela nafas, dan mulai berbicara "iya, ini aku kenapa?"
"oh, syukurlah kamu baik-baik saja" Ujar Xi dengan perasaan bahagia dan sedih.
"iya, aku berterima kasih kepada mu telah menjaga Leo, kalau begitu kita berdua pulang" Lilin menggandeng tangan Leo.
"tunggu, aku ingin bicara denganmu, 4 mata!" tegas Xi.
"aku menolak!" tolak Lilin mentah-mentah.
"aku akan memaksamu kalau begitu"
"coba saja kalau bisa"
Tanpa mempedulikan perkataan Lilin, Xi menggendong Lilin ala karung beras, dan Ia menggendong Leo ala Kucing.
"hei! turunkan aku!"
"woiii!!"
"brengsek"
"tidak ada yang perlu dibicarakan, semuanya sudah jelas. kita berdua sudah selesai 5tahun yang lalu!"
"ADA! SEKARANG DIAMLAH!. Atau aku akan berbuat lebih dari ini?!" Tegas Xi.
Lilin pun hanya terdiam, sedangkan Leo sedang berusaha mencerna apa yang di katakan Xi tadi.
Lelaki itu membawa Lilin dan Leo ke mobil, walaupun saat menuju di Mobil semua orang yang ada di taman tertawa sekaligus heran. Perempuan itu hanya bisa menahan malu dan marah.
Lalu mereka bertiga menuju ke Kediaman Xi Tang.
__ADS_1