Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 26


__ADS_3

"Apa yang sedang mereka lakukan, Grandpa?" 


Greisy memandang ke luar jendela ketika mobil yang membawa wanita itu tampak melaju di atas tembok penghubung antara istana dan  universitas kerajaan.


"Upacara pemakaman 3 anggota keluarga Alley yang meninggal, Yang Mulia," jawab Servant Classa yang tampak sedang mengendalikan mobil.


"Oh…" Greisy tertegun.


Ia mengingat kembali angka korban kematian dari penduduk kota yang terbunuh akibat ledakan yang terjadi.


Pikirannya terus merasa terganggu bahkan ketika pintu mobil telah dibuka dan dia telah tiba di universitas negara, wanita tersebut sekalipun tidak menyadari hal tersebut.


"Yang Mulia… Yang Mulia!" panggil Servant Classa yang bahkan sampai harus menggoyangkan tubuh Greisy agar wanita itu segera sadar dari lamunannya.


"Ahh, Grandpa…" Greisy menoleh ke pintu yang terbuka, " Ternyata sudah sampai… Maafkan aku, Gandpa!" ucap wanita sembari melangkah keluar dari mobil.


"Lupakanlah kejadian kemarin di kota! Anda bisa melakukannya, bukan, Yang Mulia?" bisik laki-laki tua ketika Greisy hendak melangkah menuju pintu utama gedung jurusan.


"Hm!" Greisy menganggukan kepala, "Maafkan aku atas lamunanku, Kakek!" ucap wanita itu, merasa bersalah.


"Hmm… baiklah. Sekarang pergilah sesuai perintah, Yang Mulia. Saya berharap anda bisa segera keluar dari universitas ini agar saya tidak membuang banyak waktu untuk mengantarkan anda lagi," ucap laki-laki tua tersebut, mengejutkan Greisy.


Ahh benar…


Greisy mulai merasa bahwa dirinya adalah beban bagi pelayan itu. Dia juga belum berhasil melaksanakan perintah putra mahkota untuk berbuat kekacauan.


"Maafkan aku, Grandpa!"


"Baiklah," jawab laki-laki tua yang tetap berdiri pada posisinya, sampai Greisy melangkahkan kaki, barulah dia melangkah masuk menuju mobil.


**********


Greisy terus melangkah kaki, menaiki anak tangga.


Dia memegang jadwal kuliah dan menyadari bahwa kali itu, dosen yang mengajarnya berbeda.


Tidak lagi Callan, tetapi seorang lainnya.


Greisy juga harus berada di ruangan berbeda dari ruang sebelumnya. Di lantai tiga, dan dia harus menaiki tangga yang lain.


"Mamamu adalah pemimpin yang tidak berguna. Hampir saja ayahku mati jika aku lemah,"


"Lalu kau kira mamamu adalah orang yang pantas untuk memimpin negara? Aku yakin keadaan kota akan lebih kacau jika dia yang mengambil alih,"


"Brengsek, berani sekali kau merendahkan ibuku,"


"Kau dulu yang memulainya, Anna!" 


Greisy menghentikan langkah ketika ia mendengar keributan di koridor lantai kedua.


Wanita itu melihat Pangeran Negara terlihat sedang marah pada wanita muda di hadapannya.


Greisy tidak mengenal wanita itu tetapi…


Bukankah sebaiknya dia ikut campur dalam pertengkaran mereka untuk membuat lebih kekacauan?


Pikir Greisy demikian.


Lalu dia segera melangkah mendekati pangeran negara dan wanita yang ia dengar dipanggil dengan nama 'Anna'.


"Aku pikir ratu negara memang tidak berguna," ucap Greisy memberikan sindiran ketika ia datang, mendekati.


"Ha… Grei! Berani sekali kau berkata seperti itu tentang ibuku,"


"67 korban yang meninggal, 3 diantaranya adalah anggota keluarga Alley. Bagaimana mungkin seorang ratu bisa berguna jika dia tidak mampu melindungi rakyatnya?" jelas Greisy sembari tersenyum mengejek pangeran negara.


"Huh, benar. Anggota Alley meninggal karena ibu terlambat menyadari kekacauan," jawab wanita di hadapan pangeran negara.

__ADS_1


Dia adalah putri kerajaan – Qianna.


"Hahahaha!" Greisy tertawa lebar, menggema di koridor sana. Suara tawanya juga mengejutkan semua orang di sana. Tadinya bahkan tidak seorangpun yang berani menyaksikan pertengkaran antara pangeran negara dan putri kerajaan, tetapi ketika mendengar tawa Greisy, beberapa orang mulai memberanikan diri untuk melihat ke arah mereka.


"Kenapa kau tertawa?" tanya putri kerajaan dengan nada dingin.


"Tentu saja aku tertawa mendengat kebodohanmu," jawab Greisy, dia juga memberikan senyuman mengejek untuk putri kerajaan.


"Apa?"


"Alley adalah keluarga besar di negara, harusnya mereka bisa melindungi rakyat mereka, tetapi konyolnya, mereka malah mati sia-sia. Hmm.. hahaha!" jelas Greisy,


Dia tertawa lagi bahkan sampai memegang perutnya.


Braakkk!


"Ouch!"


Dan hal itu memancing emosi putri kerajaan dan wanita itu mendorong Greisy dengan cepat hingga Greisy jatuh menabrak dinding.


"Berani sekali kau menghina harga diri keluarga Alley! Siapa kau? Dan dari suku mana kau berasal. Aku akan merobek mulutmu dan menghukum keluargamu karena sudah salah mendidikmu," tanya putri kerajaan begitu marah.


Lalu dia segera mendekati Greisy.


Braakk!


"Akkhh!" Dan terjatuh ketika Greisy telah menendang kakinya. "Kau… !"


"Rasakan ini!" ucap Greisy yang telah berdiri dan memandang tajam ke arah putri kerajaan.


Putri kerajaan segeta berdiri lalu akan menyerang Greisy dengan kepala tangannya. 


Tetapi sayangnya, tangan wanita itu tergenggam erat oleh tangan pangeran negara.


"Remmornian… kau tidak ingin berurusan dengan keluarga pelindung raja, bukan?" ucap pangeran negara yang telah menghempaskan tangan putri kerajaan.


"Dia berasal dari keluarga Remmornian,"


"Tapi dia perempuan. Bagaimana mungkin?" tanya putri kerajaan, terkejut.


"Satu-satunya keturunan wanita yang terlahir, meskipun dia adalah Dominant Classie," jawab Pangeran Negara sembari menghela napas panjang.


"Aku tidak menyangka kau bisa berlagak sesombong itu hanya karena kau adalah satu-satunya keturunan wanita keluarga Remmornian," sindir putri kerajaan sembari mendekati Greisy yang memandangnya tajam, " Tapi hanya sekedar anggota saja, seharusnya kau tahu aku siapa, bukan? Dan kau harus menghormatiku sebagai putri kerajaan ini," ucap putri kerajaan, memberitahukan jabatannya.


"Hmm… hahaha!" Namun Greisy malah menertawakannya.


"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang Greisy, sontak membuat putri kerajaan semakin marah.


"Tidak sopan. Aku akan memanggil kepala keluarga Remmornian untuk menghukummu sikap lancangmu itu," ancam putri kerajaan, "Ewald, kau bisa menjadi saksi atas kelancangannya padaku," ucap putri kerajaan.


Tetapi wanita itu semakin terkejut ketika melihat sikap pangeran negara yang tampak tetap berdiri, bahkan laki-laki itu membuang wajah.


Putri kerajaan menyadari reaksi dari pangeran negara. Dia sangat yakin bahwa laki-laki tersebut enggan untuk menuruti ucapannya.


"Ewald!"


"Lakukan saja, Putri Kerajaan yang bodoh! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu," jawab Greisy begitu santai.


Dia bahkan mulai melangkah kaki untuk menaiki tangga menuju lantai ketiga.


"Brengsek, lebih baik aku sendiri yang menghukummu langsung hari ini."


Kemudian Greisy tersenyum lega.


Ahhh… sepertinya sebentar lagi dia akan dikeluarkan dari kampus karena telah membuat putri kerajaan terluka.


Begitulah rencananya yang akan membalas serangan dari putri kerajaan nantinya.

__ADS_1


"Berhenti kau!"


Putri negara menarik kerah kemeja yang Greisy dari arah belakang.


Baakkk!


Lalu setelah berbalik, Greisy mendorong wanita itu hingga ia mundur ke belakang.


"Ahhh… kau akan terluka, wanita bodoh. Kau pikir kau bisa melukaiku?" ucap Greisy, menantang.


Hal itu semakin memancing emosi putri kerajaan yang mulai melangkah dengan cepat untuk memukul Greisy dengan kepala tangannya.


"Anna, berhentilah membuat kekacauan di kampus!" ucap seorang laki-laki yang telah menghalangi putri negara untuk mendekati Greisy.


Laki-laki itu bahkan berdiri tepat di hadapan Greisy. Dia membelakangi wanita itu.


"Callan!" panggil putri kerajaan, " Kenapa kau juga membelanya? Memangnya siapa dia sampai kalian semua berani menghalangiku untuk menghukumnya?" tanya putri kerajaan, membentak marah.


Dia mengepalkan kedua tangan yang telah ia turunkan, dan merasa geram hingga gigi-giginya yang putih terdengar bergemeretakan.


"Sebaiknya urungkan niatmu untuk menghukumnya!" ucap Callan, memberikan saran.


"Kenapa?" Lalu putri kerajaan dengan cepat menghampiri Callan dan menggenggam erat kerah jubah laki-laki tersebut dengan kedua tangannya, " Kenapa aku harus mengalah pada orang yang jabatannya lebih rendah dariku?" tanya putri kerajaan, begitu marah.


Lalu kedua tangan Callan menggenggam kedua pergelangan tangan wanita tersebut dan melepaskan kedua tangan wanita itu dari kerah jubah putih yang ia kenakan.


"Siapa yang jabatannya lebih rendah darimu?" ucap Pangeran negara yang telah datang mendekati dan berdiri di belakang putri kerajaan.


"Apa maksudmu? Kau pikir seorang Dominant Classie bisa memiliki jabatan yang lebih tinggi daripada Main Classie?" tanya putri kerajaan yang telah berbalik dan memandang pangeran negara.


"Hm!" jawab Callan, " Seperti jabatan putri negara yang lebih tinggi daripada putri kerajaan, padahal putri negara adalah seorang Dominant Classie, maka seperti itulah jabatan Greisy terhadapmu," lanjut Callan menjelaskan.


Dan hal itu sontak membuat putri kerajaan tertegun.


"Maksudmu… dia adalah seorang putri, begitu?" tanya putri kerajaan lagi, 


Wanita tersebut merasa benar-benar sangat bingung pada saat itu.


Matanya bahkan mulai memerah karena dia menyadari bahwa hanya ada satu jabatan putri yang belum terisi di kerajaan.


Ya…


Tangisan putri kerajaan mulai jatuh menetes, membasahi pipi.


Hatinya merasa sangat kesakitan.


Dia memandang ke arah Callan berharap bahwa yang ia dengarkan itu hanyalah sebuah mimpi saja.


Dia tidak ingin mengetahui hal itu, dia tidak ingin jabatan yang selama ini selalu menjadi impiannya, kini dimiliki oleh orang lain.


"Huh!" Callan segera membalikan tubuhnya ke arah Greisy yang masih berdiri. "Kau baik-baik saja, Grei?" Dia bertanya sembari mengangkat tangan dan menyentuh perban di bibir Greisy saat itu.


Callan membiarkan pertanyaan putri kerajaan begitu saja. Dia tahu bahwa wanita tersebut pasti telah memahami posisi Greisy saat itu, maka dia tidak perlu memberikan jawaban.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Greisy pada Callan sembari menggenggam pergelangan tangan laki-laki tersebut untuk tidak menyentuh perban di bibirnya lagi.


"Mengganti perbanmu, aku akan menggantikannya untukmu. Perban itu berdarah," jawab Callan dengan nada yang begitu lembut, "Ayo!" Lalu menggenggam tangan Greisy dengan erat dan membawa wanita itu untuk melangkah bersamanya.


"Callan!" panggil putri kerajaan yang tampak menundukan kepala.


"Kau harus bisa menerimanya, Anna. Dan urungkanlah niatmu untuk menghukumnya jika kau tidak ingin Chyrill membencimu," ucap Pangeran negara, memberikan saran sembari menepuk pelan bahu putri kerajaan sejenak.


"Benarkah dia adalah putri mahkota?" tanya putri kerajaan memastikan sembari memandang mata pangeran negara dengan matanya yang berair.


"Hm! Dia sudah menikah dengan Chyrill dan dia adalah putri mahkota negara ini," jawab Pangeran negara sembari mulai berbalik dan melangkah untuk mengejari Callan dan Greisy.


Meninggalkan putri kerajaan dengan perasaan perih yang wanita itu miliki.

__ADS_1


"Chyrill, kenapa kau melakukan ini semua padaku? Kenapa kau menikahi wanita lain selain aku?" gumam putri kerajaan, begitu terlihat kesakitan.


__ADS_2