
Poooommmm!
Suara kereta api bawah tanah terdengar cukup menggelega dan terkadang juga mengguncang beberapa bagian dari Exile Area.
Lalu beberapa saat kemudian, ketika sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju distrik paling jauh, kereta api tersebut terhenti dan membuat penumpang di dalamnya terkejut.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Putra Mahkota Advisor Classa pada petugas kereta api yang tadinya memberikan pelayan untuk laki-laki tersebut.
Saat itu, laki-laki tersebut tampak duduk di samping putra mahkota yang terlihat sedang menggunakan masker wajah.
"Kita sudah sampai, Lord," jawab petugas tersebut.
"Tetapi, bukankah kita masih berada di distrik 96?" tanya Advisor Classa yang sesungguhnya belum pernah mengunjungi seluruh wilayah Exile Area.
"Kereta api tidak bergerak sampai ke sana
Setelah distrik 96, kereta api akan keluar dari Exile Area melalui pintu belakang dan akan kembali ke stasiun utama," jawab petugas tersebut membuat Advisor Classa tertegun.
Ya.
Dia merasa terbebani karena harus membawa banyak sekali makanan, sementara putra mahkota sedang menyembunyikan identitasnya dan akan sangat sulit meminta bantuan para petugas kereta api yang sedang bertugas, sementara dia tidak melihat seorangpun polisi militer di sana.
"Chyr… bagaimana kalau kita tinggalkan sebagian kantung-kantung makanan dan minuman itu?" tanya Advisor Classa, memberikan saran.
"Tidak, Bawa semua ke distrik 98," jawab putra mahkota, membuatnya begitu kecewa.
Dia juga tampak tersenyum pahit karena harus membawa banyak barang dengan berjalan kaki saja.
"Lord, Mungkinkah anda mau aku untuk membantumu?" ucap petugas kereta api, menawarkan bantuan.
"Apa tidak ada kendaraan untuk menuju ke distrik 98 selain hanya berjalan kaki saja? Kalau kau membantuku, aku khawatir Pengemudi akan kesulitan bekerja sendirian," jawab Advisor Classa, menolak tawaran.
"There's no, Lord. Kau hanya bisa berjalan kaki untuk menuju ke distrik 98 dan akan sangat sulit untuk meminta bantuan warga distrik di sini karena kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lemah dan sakit jiwa," jawab petugas tersebut, semakin membuat Advisor Classa kecewa sembari menoleh ke arah putra mahkota yang telah membawa kantung-kantung plastik milik keluar dari kendaraan tersebut.
"Chyr!"
"Pakai Ponselmu dan ambilkan foto serta video kegiatanku sekarang! Kita akan mengurangi makanan dan minuman dengan membagikannl di tempat ini!" perintah putra mahkota dari luar kendaraan.
"Oh.. Alright!" jawab Advisor Classa yang cukup bingung dengan perintah putra mahkota yang menurutnya sangat aneh.
**********
"Kalian pasti akan menyesal karena telah melukaiku, aku pastikan itu!" ancam laki-laki bertubuh jangkung yang dipaksa membawa ibu Cloe untuk keluar dari Exile Area.
"Haaa…!" ucap Cloe yang hatinya telah berubah menjadi sangat bahagia karena akhirnya Ibunya telah keluar dari penjara yang kejam, "Memangnya kamu pikir kamu siapa? Berani sekali berbicara seperti itu!" ucap Cloe, mengejek.
Dia sangat senang akhirnya orang-orang yang telah mengambil paksa makanan dari warga distrik mendapatkan hukuman dari Greisy.
"Aku beritahu padamu, aku adalah putra dari Letnan Ogie, ayahku seorang polisi militer dan aku pasti akan melaporkan perbuatan kalian. Kalian tidak akan bisa lari dari kejaran ayahku nanti," lanjut ancam laki-laki tersebut, benar-benar merasa sangat marah setelah rasa takutnya menghilang.
"Oh jadi kau adalah beban keluagamu. Pantas saja kau dibuang di Exile Area," sindir Cloe, memancing emosi laki-laki yang membawa ibunya.
"Apa maksudmu?" bentak laki-laki itu marah sembari akan menurunkan ibu Cloe dari punggungnya.
Plak!
__ADS_1
Tetapi terpaksa menggendongnya kembali karena Greisy telah memukul kepala laki-laki tersebut.
"Terus berjalan! Kau pikir kami takut dengan sampah negara sepertimu?" perintah Greisy dengan nada dingin, dan laki-laki tersebut tampak ketakutan kembali.
Dia khawatir jika Greisy akan membunuhnya atau juga menendangnya seperti wanita tersebut menendang teman dari laki-laki bertubuh jangkung itu.
"Hahahaha Poor you!" ejek Cloe tertawa lebar, lalu terdiam cepat ketika ibunya tampak menyentuh bahu Cloe yang berjalan beriringan dengan laki-laki jangkung itu.
"Berhentilah membuatnya marah, Cloe!" ucap Ibu Cloe, membuka suara.
"Mommy!" Dan itu mengejutkan Cloe karena selama ini Ibunya selalu saja diam dan tidak ingin berbicara padanya.
"Dengarkan ibumu!" ucap Greisy menyarankan, bersamaan dengan mereka yang telah keluar dari gua penghubung Wilayah kerajaan dengan Exile Area.
Krrkkk!
Dan mereka sontak terkejut ketika melihat para polisi militer tampak berjajar rapi, menghalangi langkah mereka sembari membawa senjata.
"Hah!"
"Grei!" panggil Cloe yang terkejut,
"Daddy!" Bersamaan dengan laki-laki bertubuh jangkung yang tampak telah menurunkan Ibu Cloe dari punggungnya secara kasar,
Beruntungnya, Greisy yang berjalan di belakang laki-laki tersebut telah berhasil memeluk tubuh Ibu Cloe dan wanita tersebut tampak telah duduk sembari memangku tubuh Ibu Cloe yang lemah di atas dedaunan kering hutan pohon jati.
"Feel you! Kalian pasti akan dihukum mati karena telah memawa kabur seorang kriminal," teriak laki-laki bertubuh jangkung yang telah berlari mendekati ayahnya yang masih berdiri diam.
"Kenapa…?" teriak Cloe marah, "Bukankah sudah cukup ibuku disiksa? Kedua kakinya bahkan tidak berfungsi lagi, dia bahkan dipaksa tinggal di penjara kotor yang penuh dengan kotoran dan mayat manusia? Bukankah seharusnya hukuman ibuku berakhir? Tidak ada bukti Valid bahwa dialah yang membunuh ayahku tetapi kenapa kalian tetap menyiksanya?" teriak Cloe yang menangis marah sembari melontarkan setiap pertanyaan, "Harusnya kalian menghukum dia karena menyebabkan banyak warga distrik 98 mati dan membuat distrik itu mengerikan, dialah yang telah mencuri jatah makanan mereka, dia dan teman-temannyalah yang telah terbukti Valid membunuh banyak manusia!" tuduh Cloe pada laki-laki bertubuh jangkung, mengejutkan laki-laki tersebut.
"Tidak mungkin putraku melakukan itu," jawab seorang polisi militer yang telah melangkah maju, keluar dari barisannya.
"Jangan percaya padanya, Daddy!" ucap laki-laki bertubuh jangkung membela diri.
"Kau bisa membuktikan kejahatan putramu dengan datang ke Distrik 98, dan menanyai setiap warga di sana," jawab Greisy yang masih memangku ibu Greisy.
"Percuma saja Grei, orang seperti mereka tidak akan mengakui kesalahannya. Meskipun mereka bersalah, mereka juga pasti akan menyembunyikan kesalahan mereka dengan menuduh orang yang tidak bersalah untuk menutupi perbuatan jahat mereka!" tuduh Cloe lagi sembari berteriak, marah.
Dan hal itu membuat laki-laki bertubuh jangkung melangkah cepat mendekati Cloe.
Plakk!
Dan menampar wajah wanita itu,
"Berani sekali kau memukulnya!" bentak Greisy yang marah,
Dan hal itu membuat ayah dari laki-laki bertubuh jangkung tersebut mendekati Cloe.
"Kau… Akan kupastikan kau…"
Bakkk!
Dan menendang perut putranya dengan salah satu lutut kaki, sebelum Greisy selesai berbicara.
"Mohon untuk memaafkan perbuatannya, Lady!" ucap laki-laki paruh baya tersebut sembari menghempaskan tubuh putranya jatuh ke atas tumpukan dedaunan kering.
__ADS_1
"Daddy!"
"Yang Mulia, saya mohon untuk tidak membenci saya atas perbuatan putra saya!" pinta laki-laki paruh baya tersebut sembari membungkuk di hadapan Greisy dengan meletakan salah satu tangan ke Dada.
"Yang Mulia, kami akan menyelidiki kasus ini dan kami pasti akan menghukum semua pihak yang bersalah dengan semestinya!" ucap seorang polisi militer lain yang telah keluar dari barisannya bersamaan dengan sebuah mobil negara yang telah berhenti tepat di dekat Greisy.
"Grei!" panggil seorang laki-laki.
"Zion!"
"Kembalilah, Chyrill sedang mencarimu! Karena kau pergi tiba-tiba, Kakek Rio dihukum masuk ke penjara," jawab seorang laki-laki lain yang telah keluar dari mobil, dia adalah Hand–Right Classa.
"Apa?"
**********
Putra mahkota yang telah melangkah memasuki area perbatasan distrik tampak memandang tajam ke arah depan sembari berhenti sejenak.
"Bau busuk sekali!" ucapnya, mengeluh.
Padahal dia sedang menggunakan masker.
Sementara itu, Advisor Classa tampak berdiri sembari membawa tas besar dipunggungnya.
"Chyrill, aku tidak sanggup berada di sini!" keluh laki-laki tersebut perlahan-lahan mundur ke belakang karena merasa mual.
"Kau mau kemana?" tanya putra mahkota yang telah menoleh ke arah samping, " Kita harus masuk ke dalam untuk menemukan Milikku!" perintahnya mulai melangkah kembali.
"Chyrill!"
"Apa kau ingin aku menghukummu? Aku pastikan kau akan tinggal di sini setahun penuh jika kau tidak ikut melangkah bersamaku," ancam putra mahkota, membuat Advisor Classa terpaksa mengikuti langkah kakinya.
"Aku yakin kau akan menyesal jika masuk semakin jauh ke dalam, Chyrill!" peringatkan Advisor Classa.
"Help me… Help… seorang wanita pengguna masker telah menyerang saya! Dia memutuskan kabel listrik dan membawa seorang kriminal kabur. Awalnya aku mengira dia adalah putri mahkota, tetapi mungkin tebakanku salah," ucap seorang polisi penjaga yang tampak telah berhenti di depan putra mahkota bersamaan dengan tiga orang lain yang mengikutinya.
"Wanita yang mamakai masker itu juga menendang saya sampai saya pingsan," keluh seorang laki-laki bertubuh gemuk.
"Dia juga menampar saya," keluh seorang bertubuh pendek,
"Dan dia mengancam ingin membunuh saya," juga keluh seorang wanita di sana.
"Oh… Kalau begitu lupakanlah dia!" perintah putra mahkota dari balik masker.
"Apa? Tapi dia telah membawa kabur seorang kriminal," jawab polisi penjaga, menolaknya.
"Lupakanlah dia dan membusuklah dalam penjara!"
Dorrr… Dorr… Dorr… Dorr!
Perintah Advisor Classa yang telah menembak keempat orang yang mengadu di sana.
"Chyrill!"
"Buang mereka ke penjara Exile Area!" perintah putra mahkota yang telah melangkah kaki.
__ADS_1
"Baiklah!" Bersamaan dengan Advisor Classa yang telah meraih ponselnya.