
Di lorong WC sekolah waktu di jam pulang sekolah ada dua anak remaja yang sedang membicarakan sesuatu.
"Gue serius sama Lo Megha "
Remaja laki laki yang bernama Devano itu mencoba meyakinkan cewek cantik di depannya sambil memegang kedua tangannya. Lalu remaja cantik yang di sebut namanya Megha itu berkata.
"sulit untuk aku percaya keseriusan kamu Devan ? aku tau, banyak anak cewek di sekolah ini yang sudah pernah jadi pacar kamu ".
" Lo adalah cewek yang baik, cantik yang pernah gua kenal. Lo beda dengan yang lain."
kata kata manis itu keluar dari mulut Devano seakan terus menyakinkan Megha. Dengan tindakan romantisnya Devano berlutut di depan Megha yang masih menggenggam kedua tangan Megha dan melanjudkan kata katanya
"apakah seorang Devano tidak pantas mendapatkan cinta dari Lo Megha?".
Akhirnya dengan penuh rayuan Megha pun luluh dan menganggukkan kepalanya yang tandanya Megha menerima Devano menjadi pacarnya. Devano dengan penuh senyum di bibirnya langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Megha. Lalu dengan lembut Devano mengecup bibir gadis cantik itu.
Dari kejauhan terlihat satu lagi remaja laki laki melihat adegan ciuman sepasang kekasih itu lalu membuang muka dan masam . Terlihat di raut wajahnya ada rasa kecewa dan terluka atau lebih tepatnya rasa terhianati . Lalu dia pergi meninggalkan apa yang di lihatnya di lorong WC tadi. Loh apa hubungannya remaja satu ini dengan sepasang kekasih itu ?? Ya yang barusan melihat sepasang remaja yang lagi kasmaran itu namanya adalah Tirta. Dia dan Devano berteman atau mungkin teman dekat atau lebih tepatnya lagi sahabat. Devano dan Tirta berteman sudah dari SMP dan sekarang mereka menginjak kelas XII SMA. Gambaran seorang Devano Yang sudah terduga dari rasa tidak percayanya Megha ke Devano tentu saja Devano adalah remaja yang menikmati masa remajanya, dia cukup memiliki paras yang tampan sehingga banyak adik adik kelas perempuan dan seangkatannya yang menyukainya. Namun meskipun begitu Devano tidak mempunyai keinginan untuk mengoleksi jumlah mantan pacarnya. Cukup dengan dia bersikap manis dan lembut kesetiap cewek yang mendekatinya, namun berbeda dengan Tirta. Walaupun dia tidak kalah parasnya dengan Devano , Tirta lebih cuek dan diam dengan cewek tapi tidak menutup kemungkinan Tirta tidak pacaran ya. Tirta lebih menyukai dan menyayangi perempuan cukup dengan dunianya tidak perlu ada orang yang tau. Berbeda dengan Devano yang selalu merespon cewek yang mendekatinya dan Devano adalah tipikal orang yang apa adanya di depan publik.
Di perjalanan pulang di dalam mobil expander hitam Devano melirik sahabatnya yang sejak tadi diam fokus menyetir. Ya tidak salah memang setiap hari Tirta seperti ini kan?. Tapi Devano melihat tatapan mata dan raut wajah Tirta yang berbeda. Dan dengan candaan setiap harinya Devano nyeletuk "heh Lu nape , muka kusut kek kanibo baru di peres".
kemudian Tirta menoleh ke arah Devano dan memberikan senyum pelitnya lalu dengan menyeletuk berkata "udah yang keberapa Lo nyium cewek"
"anjir, Lo ngelihat gua tadi" sontak Devano langsung memiringkan badannya yang lagi posisi nyender di bangku jok mobil kearah Tirta.
"gimana ya, gua udah lama ngga punya cewek. terus Megha ini beda gua rasa, dia baik dan anggun yang ngga di buat buat. jadi gue berkeinginan dia jadi pacar gue" lanjut Devano sambil menatap kearah depan.
"kalo Lo udah tau dia baik jangan Lo mainin" gumam Tirta.
"apa ? sejak kapan Lo perhatian sama cewe? " Devano heran baru kali ini sahabatnya itu memperdulikan nasib cewek yang baru dia pacarin itu.
"udah ah, jangan banyak bacot lo. gue mau fokus nyetir, pengen cepet cepet nyampek rumah terus tidur" timpal Tirta.
Di rumah Tirta yang sedang tertidur sehabis pulang sekolah dan jam smartphone nya menunjukan pukul 5 sore.
"kakek mau nyebrang ? sini aku bantu kek" .
Tirta yang ada di dalam mobil sambil menunggu lampu hijau menyala dia melihat gadis berseragam putih abu abu sedang membantu seorang kakek menyebrang. Di mata Tirta gadis itu terlihat sisi jiwa perempuan yang penyayang, lembut dan anggun dengan rambut lurus tergerai serta seragam putih abu abu yang pas dengan bentuk tubuhnya tidak terlalu ketat dan tidak terlalu kebesaran serta membawa tas selempang warna ping yang melekat di tubuhnya itu. Tirta yang sedang asyik menikmati ciptaan Tuhan itu seketika terbelalak karena bunyi klakson "tin....tin..toth..toth". Dan...dia terbangun dari tidurnya. Itu adalah mimpi namun juga kejadian nyata yang dulu Tirta alami. Tirta baru saja bermimpi waktu pertama kali melihat Megha di lampu merah, sejak itu Tirta melihat lagi gadis lampu merah itu di sekolahnya. Ternyata dia siswi angkatan baru yang baru masuk kelas X , dengan rasa percaya dirinya Tirta mulai mendekati Megha dan dengan senyum sumringah dan malu malunya Megha menerima perkenalan Tirta. Namum saat waktu itu adalah waktu pulang sekolah jadi tidak terlalu ramai dan tidak ada siswa siswi yang memperhatikan mereka karena pasti ingin segera pulang. Dan sejak itu Mereka berdua saling kenal dan dekat dan akhirnya Tirta pun menyatakan perasaannya ke Megha tepat satu bulan setelah PDKT. Mereka berdua menjalin hubungan diam diam tanpa mempublikasikan di Sosial media mereka ataupun secara langsung. Namun satu Minggu setelah itu waktu pulang sekolah di lorong WC Tirta melihat kejadian yang tidak menyenangkan, ya tentu saja melihat Devano dan Megha yang sedang berciuman. Tirta hatinya hancur, rasanya ingin marah tapi itu adalah temannya. Tangannya mengepal raut wajahnya memerah lalu pergi ke parkiran dan masuk ke mobil. Lima belas menit kemudian Devano datang dan masuk mobil itu juga. Itulah kisah cinta antara Megha dan Tirta yang hanya bertahan satu minggu. Entah apa alasan Megha menghianati Tirta, yang jelas Tirta tidak bisa memaafkan hal itu sebesar apapun rasa sukanya Tirta ke Megha.
Kembali lagi ke Tirta yang melihat smartphone nya menunjukan jam setengah 6 sore dan begitu banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Megha.
__ADS_1
" sayang kamu lagi ngapain"
" sayang kamu di mana ?"
" kenapa tidak jawab telefon aku 😣"
Begitulah kira-kira tiga di antara banyak pesan yang Megha kirim lewat aplikasi chat online nya.
" brengsek...!!! perempuan ini kenapa tidak merasa berdosa dan bersalah? ngga bisa gini aja gue harus selesaikan ini" ujar Tirta dalam hatinya. Walau hatinya hancur dan ingin marah tapi Tirta tidak bisa. Dia begitu mencintai gadis itu dan dia begitu menghargai pertemanannya dengan Devano.
Keesokan harinya...
"Lo bawa motor sendiri, gue ga kesana".
Pesan singkat yang di kirim Tirta untuk Devano.
"Okelah gua bawa motor sendiri, udah lama juga kagak nyetir motor".
Devano melihat jam tangannya menunjukan pukul 06:40 pagi lalu bergegas dia mengambil motor di garasi rumah dan langsung tancap gas.
Sampainya Devano di parkiran sekolah dia langsung kedatangan dua cewek cantik
" Iya nih, biasanya juga kemana mana sama kembaran Lo" timpal Dinda gadis yang agak tomboy itu. Mungkin karena sering bersama dan berdua mulu Devano dan Tirta sering di bilang kembar bak dewa dewa langit yang tampan.
"Nona nona cantik, permisi ya dewa langit mau mencari kembarannya" pungkas Devano yang menamai Tirta adalah kembarannya.
Sedangkan di koridor sekolah Megha ingin bertemu Tirta, dia ingin tanya kenapa tidak menjawab panggilan telfon nya dari kemarin dan tidak membalas chat nya. Sembari matanya menyapu setiap sudut sekolah mencari cari Tirta. Lalu Megha putuskan untuk menemui Tirta di kelasnya di jam istirahat.
Beberapa jam kemudian "kriinggg....." bell istirahat berbunyi bergegas Megha ingin pergi ke kelas Tirta. Namu saat sedang merapikan bukunya di meja ternyata Tirta sudah duluan menemuinya di kelas.
"sayang, baru aja aku mau ke kelas kamu" kata kata yang keluar dari mulut Megha namun Tirta masih diam dan menatap Megha. Lalu Megha melanjudkan pertanyaan dengan lembut di iringi nada manis dan menggenggam tangan Tirta serta memasang mata berbinar dan wajah merajuknya. "kenapa dari kemaren ngga jawab telfon aku, chat juga ngga di bales".
" Aku suka sifat manis kamu, dan aku suka jiwa penyayang kamu. Tapi yang ngga aku suka dari kamu, kamu mempermainkan dua orang teman".
Kata kata yang keluar dari mulut Tirta membuat jantung Megha "Deeegh" langsung tersentak kaget.
" Tirta kamu...??" Megha tidak bisa berkata kata lagi
" Apa ? kaget ? " imbuh Tirta lalu melanjudkan lagi yang ingin dia katakan "kalo Lo suka sama Devan , bilang dari awal aku juga ngga akan marah. Kamu juga ngga perlu bersandiwara padaku kan".
__ADS_1
"cukup Tirta, dengerin dulu aku bisa jelasin" Megha mencoba menjelaskan.
"Apa yang perlu di jelaskan, mata gue ngga buta".Jari telunjuk dan jari tengahnya menunjuk matanya seakan apa yang dia lihat di lorong WC kemarin adalah benar . Lalu Tirta berpaling sambil berkata "kita akhiri saja" lalu pergi dari kelas itu. Megha terpaku, tubuhnya gemetar dia melihat Tirta begitu marah. Dia juga bisa melihat sorot mata Tirta yang tajam karena kecewa. Tak terasa air mata mengalir di pipi Megha , gadis itu merasakan cinta yang tulus d mata Tirta tapi dia telah menyakitinya .
Ternyata setelah Tirta berlalu dari kelas Megha, Ada Devano yang mendengarkan pertengkaran antara Tirta dan Megha. Devano berada di luar sisi kanan pintu kelas sedangkan Tirta berlalu ke arah kiri maka Tirta tidak melihat Devano. Ya tentu karena Devano mau kekelas cewek yang baru resmi dipacarinya kemaren. Devano melihat Megha menangis namun tidak bersuara hanya air mata yang terus menerus mengalir di pipinya. Sambil mengusap air matanya Megha melihat Devano di balik pintu, Megha pun tau pasti Devano sudah dengar semuanya. Karena merasa bersalah dengan Devano dan Tirta , Megha pun tidak menyapa Devano dia memilih diam dan menenangkan dirinya di kelas. Sementara itu, Devano ingin mendatangi Megha tapi kakinya terhenti dan akhirnya dia putuskan untuk mencari Tirta dan ingin bicara dengannya. Devano mencari Tirta ke kantin dan memang benar Tirta di sana, Tirta sedang duduk dan menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan di atas meja terlihat ada sebotol minuman bersoda di depannya namun tidak dia minum. Lalu Devano menghampiri Tirta dan memegang bahu Tirta sembari berkata dan melanjudkan duduk di sebelah Tirta. " Bro..." terhenti sejenak lalu melanjudkan kata katanya.
" Gua minta maaf, harusnya ngga seperti ini kan. Kenapa Lo ngga bilang". Namun Tirta tidak menjawab dia malah mendongakan kepalanya lalu memukul Devano sampai jatuh ke lantai dan membuat bibir Devano terluka.
" Tonjok aja , tonjok sepuas lo. Jika dengan ini bisa maafin gue" .
Teriak Devano sambil memegang bibirnya yang terluka.
" Sial...!!! gue sudah jatuh cinta beneran sama Megha sejak pertama gua liat dia". Tirta menarik kerah baju seragam milik Devano dan bersuara nada tinggi , namu setelah itu nada suaranya mereda dan berkata lagi
" Tapi kenapa harus ada lo... Lo itu temen baik gue, gue ngga bisa bersaing sama lo" lalu Tirta melepaskan tarikannya kemudian meninggalkan Devano yang masih tersungkur di lantai.
Setelah meninggalkan Devano di kantin ternyata Tirta menemui wali kelasnya di ruang guru yaitu bu Rahma.
" Jadi kemarin kamu telfon ibu bilang mau pindah sekolah itu jadi Tirta ?" tanya Bu Rahma dengan nada khas seorang guru.
"Iya Bu jadi" . Jawab Tirta dengan sopan.
"Apa sudah mendapat persetujuan dari orang tua kamu ? ". Tanya Bu Rahma lagi untuk memastikan.
" Orang tua saya sudah memberikan persetujuan bu." Jawab Tirta lagi
"kamu sudah kelas 12 loh Tirta. apa ngga nunggu sampai lulus saja" Bu Rahma bertanya lagi ragu ragu.
"Tidak Bu, ini kan juga baru kenaikan kelas, jadi saya sudah putuskan tetap ingin pindah sekolah" Terang Tirta .
"baiklah". Sembari memakai kacamata minusnya Bu Rahma mebuka laci dan mengambil map yang terbuat dari plastik lalu membaca sebentar selembar kertas yang di ambilnya dari map itu " ini surat pindah kamu tadi malam ibu sudah print kan. Kamu minta tanda tangan orang tua kamu sebagai persetujuan kamu pindah sekolah. Besok surat ini kamu bawa lagi kesekolah berikan ke ibu ya setelah itu kamu dapat surat pengantar pindah dari sekolah".
" Baik Bu, mungkin besok ibu saya yang mengantarnya, mulai hari ini saya izin tidak masuk kelas saya merasa tidak enak badan"
"Ya udah kamu diizinkan untuk pulang, dan ingat kamu baik baik ya di sekolah baru kamu" Ibu Rahma tidak lupa menasehati anak didiknya itu.
"Terimakasih Bu, permisi". Tirta berpamitan.
Setelah Tirta berpamitan, Bu Rahma begumam pelan "ilang satu deh , anak didik ku yang ganteng". Huuuufffzzzzz.....
__ADS_1
***