
Di bangku taman sekolah Jeni yang waktunya sudah sedikit longgar maksudnya tidak sibuk dengan urusan OSIS nya dan lomba lomba cerdas cermat nya akhirnya bisa kumpul bareng terus dengan Davikah.
"jujur deh vik, Lo suka kan sama Tirta" Jeni mencium gelagat Davikah yang sering curi curi pandang ke arah Tirta.
"apa'an sih Jen ngaco deh". Jawab Davikah dengan mata yang tidak bisa bohong.
"gue kenal Lo udah lama, dan gue ngga pernah jauh dari Lo , gue tau Lo sedang jatuh cinta" papar Jani meyakinkan Davikah.
"nggak"
"sejak tadi tuh mata Lo ngelihatin Tirta noh". Jeni melengoskan kepalanya ke arah Tirta yang sedang latihan basket bersama dengan timnya. Davikah yang masih menutupi perasaannya tidak menyanggah lagi tuduhan Jeni, jadi gadis itu memilih diam. Dari lapangan basket Tirta menuju Davikah dan Jeni
"kalian berdua nonton gue ya besok".
"besok ??? , yah kalo besok gue ngga bisa. kan Sabtu gue ada rapat OSIS. Tapi Vika bisa koq". Jeni menunjuk Davikah.
"iya iya besok gue nonton, harus menang ya awas aja kalah".
"ok, awas kalo ngga nonton". segera Tirta kembali ke timnya untuk latihan.
Hari Sabtu pun tiba dan pertandingan basket di gelar. Suara sorak sorak antar kubu suporter meramaikan lapangan basket itu. Sebelum para pemain memasuki lapangan pertandingan Davikah melihat ada Mega di bangku kubu lawan. Davikah terkejut karena tidak tau jika lawan sekolahnya adalah sekolah Devano. Sudah beberapa bulan sejak kejadian di mall Davikah tidak pernah melihat lagi Devano dan Mega. Davikah pikir masalah mereka bertiga sudah selesai dan saling memaafkan, karena selama ini Tirta juga tidak pernah cerita apa lagi terbuka sama Davikah. Sedangkan di tempat ruang ganti pemain, Devano duduk sambil menggenggam kedua tangannya. Laki laki yang berjulukan dewa langit itu seperti resah karena akan bertemu Tirta. Ya sejak kejadian di mall dan di malam penginapan itu Devano dan Mega memutuskan untuk tidak mencari cari Tirta dan menemui Tirta lagi. Karena pasti hasilnya akan nihil. Jadi setelah sekian lama mereka akan bertemu lagi tapi bertemu di lapangan pertandingan. Dua dewa langit yang dulu bersahabat dan bahkan sering di sebut kembar itu kini harus bertanding merebutkan gelar kemenangan.
Para pemain pun memasuki lapangan Devano dan Tirta saling berhadapan, Tirta juga tidak mengetahui jika lawannya adalah mantan sekolahnya dulu. Karena Tirta bukan tim inti dia hanya cadangan jadi tidak begitu memperdulikan lawan sekolahnya. Di pertandingan kali ini Tirta di masukan tim inti karena salah satu pemain tim basketnya ada yang cedera saat latihan dan pelatih pun tau jika lawannya kali ini tangguh maka Tirta di masukan tim untuk bermain. Tirta yang mengetahui lawannya adalah tim Devano segera mata Tirta menuju ke arah suporter ya laki laki itu seperti mencari seseorang tentu saja orang yang Tirta cari adalah Mega. Pertandingan pun dimulai , para pemain mulai saling merebutkan bola basket agar segera bisa mencetak poin.
Di tempat duduknya kaki Davikah gatal ingin sekali menemui Mega. Gadis itu ingin sekali berbicara dengan Mega dan mencoba membantu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Tirta. Lalu Davikah putuskan untuk menemui Mega.
"hai" sapa Davikah kepada Mega.
"hai" Mega menyambut sapaan Davikah dengan kebingungan. Karena sepertinya Mega tidak pernah mengenal Davikah.
"gue Vika , apa kita boleh ngobrol sebentar di luar" Davikah mengulurkan tangan minta untuk di jabat oleh tangan Mega.
"Mega, ada masalah apa ya, apa kita saling kenal" tanya Mega kebingungan.
"mungkin Lo belum mengenal gue, tapi gue udah pernah beberapa kali lihat lo". Davikah memberi penjelasan.
"terus ?" Mega bertanya lagi .
"ini soal Tirta" kalimat Davikah sontak membuat Mega terbelalak.
"ok" karena mendengar nama Tirta, Mega pun mengiyakan ajakan Davikah.
Di luar lapangan basket dua gadis remaja itu mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"So, apa yang mau kamu katakan soal Tirta". Mega memulai percakapan terlebih dahulu
"gue ngga tau harus di mulai dari mana yang jelas karena akhir akhir ini gue kenal dan dekat sama Tirta gue merasa ada yang ngga beres dengan hatinya. ya gue bisa bicara seperti itu karena setiap Tirta habis bertengkar sama Lo Tirta langsung mendadak menjadi diam terus mencari cewek untuk dia ajak kencan" kalimat kalimat yang keluar dari mulut Davikah membungkam mulut Mega dan lagi lagi gadis itu terlihat murung.
"selepas benar atau ngga gosip yang gue denger tentang Lo, Tirta dan Devan gue berharap kalian bisa baikan".
"Lo juga kenal Devano " tanya Mega tidak percaya jika Davikah juga mengenal dewa langit si player itu.
"iya sebelum gue kenal Tirta gue lebih dulu kenal sama Devan".
__ADS_1
"oooh.. Devano sama Tirta dulu sahabatan, ini semua salah gue. Gue yang udah masuk di antara mereka dan merusak persahabatan mereka". Davikah melihat penyesalan di mata gadis itu.
"mungkin dengan berjalan nya waktu semua akan baik baik saja. Dan sekarang gue mau kasih tau Lo, kalo gue juga suka sama Tirta". mendengar pengakuan Davikah, Mega hanya tersenyum simpul
"siapa sih yang nggak suka sama Tirta".
"kalo gitu gue minta sama Lo jangan cari cari Tirta lagi, biar gue yang memperbaiki hatinya".
"tapi jika Tirta yang nyari gue, gue ngga bisa untuk bilang tidak". Kalimat yang di utarakan Mega membuat Davikah agak kecewa, gadis itu merasakan bahwa Mega masih mengharapakan Tirta.
Kedua gadis itu lupa waktu hingga akhirnya pertandingan pun selesai dan di menangkan oleh tim Devano. Sejak bermain mata Tirta tak henti melirik ke arah penonton mencari keberadaan Mega sehingga membuat dia tidak fokus untuk menerima operan bola. setelah pertandingan hujan pun turun penonton ramai membubarkan diri sedangkan Mega memilih untuk tetap duduk di bangku tempat di mana tadi dia ngobrol dengan Davikah membiarkan badannya di guyur air hujan. Sedangkan Davikah bergegas berlari ke dalam lapangan melawan arus penonton yang keluar dari dalam lapangan pertandingan. Davikah melihat Tirta, laki laki itu mencari seseorang setelah memastikan di bangku penonton tidak ada lagi orang Tirta bergegas keluar melawati Davikah begitu saja sampai sampai Davikah memanggilnya pun tidak dia jawab. Kemudian Davikah mengikuti perginya Tirta menerobos air hujan yang jatuh begitu lebat.
"Mega" Tirta membangunkan lamunan Mega yang masih duduk membiarkan dirinya di basahi oleh air hujan.
"Tirta, ngapain Lo kesini" sontak Mega berdiri tidak percaya Tirta menemuinya. Tidak menunggu lama Tirta langsung mencium bibir Mega memegang kedua pipi gadis itu ******* melahap habis bibir Mega. Davikah yang menyaksikan hal itu langsung membuang muka, hatinya hancur walaupun sudah berkali kali dia melihat Tirta mencium cewek tapi entah kenapa kali ini hati nya sangat sakit. Bahkan Davikah sudah kalah setelah mengatakan dirinya menyukai Tirta kepada Mega. Begitulah perempuan hatinya akan terasa sangat sakit jika yang di anggap saingannya mendapatkan sesuatu terlebih dahulu.
"hiks,"Davikah menangis, menundukan kepalanya sambil berbicara dalam hati meratapi kesedihannya"bodoh sekali lo vik, Tirta mana mungkin suka sama lo". Setelah beberapa saat dia merasakan bahwa tubuhnya tak lagi di hantam air hujan gadis itu mendongak ke atas ada payung yang melindungi badannya. Lalu menoleh ke kanan.
"Devan".
"air mata lo nggak akan bisa ngalahin hujan". celetuk Devano memberikan candaan.
"siapa yang nangis sok tahu".
"ya udah ayo berteduh".
Devano mengajak Davikah ke tempat kedai ice cream yang berada tidak jauh dari lapangan basket tadi . Cukup jalan kaki 5 menitan sudah sampai.
"gue baru kehujanan Lo malah ngasih gue ice cream Lo mau gue kena flu". protes Davikah karena tidak habis fikir dengan fikiran seorang Devano.
"ini bukan masalah ice cream nya tapi coklat nya, gue pesenin Lo khusus coklat yang katanya bisa bikin suasana hati jadi enak".Davikah hanya diam tidak percaya dengan kalimat yang di lontarkan Devano "dih, pasti dia sering kesini dan gombalin cewek cewek dengan kalimat yang sama". suara hati seorang Davikah. Lalu Davikah memakan sesendok ice cream itu ternyata rasanya tidak eneg dan lumer di mulut dan tidak ada dinginnya sama sekali ketika sudah masuk tenggorokan. Di sendok nya lagi ice cream itu malah kenikmatan nya semakin bertambah. Devano hanya diam melihat Davikah menyuap ice cream itu sendok demi sendok. Karena sadar dirinya menjadi pusat perhatian untuk Devano , Davikah pun bersuara.
"jangan liatin gue kaya gitu dong".
"kenapa "
"malu tau , gue ngerasa kek anak kecil"
"hahahah. gimana udah enakan hatinya" tanya Devano.
"apa sih, hati gue nggak kenapa kenapa. sok tau deh lo" Davikah mencoba mengelak atas apa yang terjadi dengan hati nya.
"jujur aja, lo patah hati kan liat Tirta sama Mega. Mata lo nggak bisa bohongin gue vik, asal lo tau waktu pagi pagi gue udah ada di depan rumah lo itu gue sengaja ke rumah lo karena gue pengen lihat lo. Dan hari-hari berikutnya pun gue datang lagi tapi gue lihat lo udah sama Tirta, akhirnya gue putusin untuk tidak lagi terlihat di depan mata lo karena gue nggak mau kesalahan gue dulu terulang lagi. Gue ngga mau gangguin cewek yang udah dekat sama sahabat gue dan selama lo berada di dekat Tirta gue bisa liat ada Tirta di mata lo". Apa yang di ungkapkan Devano memang benar Davikah sudah jatuh cinta sama Tirta.
"jangan jangan suara motor yang gue denger tengah malem itu motor elo". Davikah mencoba merangkai cerita Devano dan dia tidak menyangka bahwa orang yang sangat narsis di mata dia itu mengikuti nya.
"em" jawab Devano melihat Davikah sambil menopang dagunya.
"gila, ngapain tengah malem ada di depan rumah gue. hii" mengingat hal itu membuat Davikah merinding karena ngga ada takut takutnya itu cowok berkeliaran tengah malam.
"gue nyari rumah lo, gue lupa jalan menuju rumah lo. Setelah ketemu ya gue cabut lah terus mau ngapain tengah malem di depan rumah orang".
"udah narsis,ngga waras pula" celetuk Davikah heran dengan kelakuan Devano.
__ADS_1
"gimana masih belom baikan suasana hati Lo" Devano tidak menanggapi celetukan Davikah. Laki laki itu malah bertanya lagi Tentang suasana hati Davikah mencoba mencari jawaban dari Davikah bahwa coklat dan ice cream adalah kombinasi yang tepat untuk di makan oleh seseorang yang lagi patah hati.
"eemm, udah. thanks ya" jawab Davikah sambil memakan ice cream itu sendok demi sendok. Hatinya memang sudah tidak sesak lagi apa ice cream coklat benar benar mujarab untuk seseorang yang lagi patah hati. Entahlah...
"nak Devan ini handuknya" suara ibu Ema pemilik kedai ice cream
"makasih ya Bu".
"tumben nak Devan kesini sama seorang gadis"
"dia tadi nangis di pinggir jalan Bu, mangkanya aku ajak kesini biar berhenti nangis". celetuk Devano.
"apaan sih" Davikah protes dengan suara pelan karena malu dengan bu Ema.
"selama Devano sering kesini baru kali ini bawa cewek, cantik pula" puji Bu Ema pada Davikah. Dengan malu malu Davikah bilang terimakasih. Lalu bu Ema masuk lagi kedalam kedai miliknya.
"sini kepala Lo gue keringin rambut lo". Perintah Devano lalu dewa langit itu mengusap usap rambut Davikah dengan lembut. Dalam hati Davikah berbicara "mana mungkin baru gue yang di ajak kesini pertama kali".
"kalo Lo sering kesini, bearti Lo suka makan ice cream dong"
"kenapa emangnya?"
"emm ngga kenapa kenapa". Davikah berbicara lagi dalam hati "dari dewa langit sekarang menjadi ice cream boy"...
Sedangkan di tempat lain di dalam mobil milik Tirta..
"sori, selama ini gue terlalu sibuk dengan kemarahan gue sampai berkali kali buat Lo nangis" Tirta meminta maaf namun dirinya tidak menatap Mega laki laki itu menatap depan kaca mobilnya.
"hey. I love you. kemarahan lo itu kalah besarnya sama rasa cinta gue ke elo Tirta" suara lembut dan manja itulah yang selalu di rindukan oleh Tirta. Kemudian Tirta menatap gadis yang sedang basah kuyup berada di samping nya itu.
"pake jaket ini, aku ngga mau kamu sakit".Tirta mengenakan jaketnya pada Mega yang di ambil dari jok belakang. Lalu kedua remaja itu saling berpelukan melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Tirta mengusap lembut pipi gadis itu dan akhirnya mencium lagi bibir manis milik Mega. Kini ciuman ini benar benar memanas karena kerinduan selama ini yang mereka berdua rasakan.
"I love you" ucap Mega dengan mata yang berkaca kaca, kini mata gadis itu terlihat bahagia. Seseorang yang selama ini di rindukan telah kembali kepadanya
"I love you too" Tirta terus mencium gadis itu mengoyak isi dalam mulut Mega. setelah puas dengan bibir dan mulut Mega , Tirta melanjudkan ciumannya ke leher Mega mengecup menggigit memberikan stempel pada leher jenjang itu.
"aahh Tirta, aaahh aaahh" mendengar ******* dan suara mendayu dayu dari Mega membuat Tirta semakin menjadi jadi untuk melanjudkan aksinya. Sedangkan Gadis itu hanya bisa terengah engah dan memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang di ciptakan oleh Tirta di tubuhnya.
Hujan yang belum juga reda seakan merestui apa yang dua remaja itu perbuat di dalam mobil hitam itu. Baju atasan Mega yang basah dan tidak beraturan pada tempatnya membuat Mega terlihat seksi dan mengairahkan di mata Tirta.
"eeehh aahh Tirta berhenti" pinta Mega agar Tirta berhenti mengoyak ngoyak asetnya. Mendengar permintaan Mega, Tirta pun menghentikan kesibukannya.
"maaf" permintaan maaf Tirta pada Mega karena telah begitu beraninya mengoyak ngoyak aset gadis itu. Lalu di genggam nya tangan gadis itu dan di usap usap lembut pipi pipinya Tirta pun berkata.
"aku merindukanmu Mega, aku sadar selama ini aku terlalu egois memikirkan amarahku saja. maafkan aku dan jadilah gadis ku satu satu nya". Mendengar pernyataan itu mata Mega berkaca kaca tidak menyangka kalau Tirta yang selama ini begitu emosi dan marah sekarang sudah ada di pelukannya lagi.
"kamu tau betapa aku mencintaimu, aku pun begitu merindukanmu sayang". Pernyataan tersebut membuat hati Tirta tersentuh atas rasa yang di miliki Mega untuknya.
"kita pulang ya". Tirta mengajak Mega pulang.
"iya"
***
__ADS_1