Gairah Remaja Jaman Now

Gairah Remaja Jaman Now
Episode 3 - Dewa Langit Di Langit Sore -


__ADS_3

Matahari yang semakin condong kebarat sekitar pukul 4 sore membuat udara semilir semakin pas dan enak untuk di nikmati oleh Devano dan Davikah yang berboncengan naik motor berdua menyusuri jalan menuju rumah Davikah. Namun dua remaja yang sedang berada di atas motor itu sama sama diam, Devano pun sangat pelan mengendarai motornya. Mungkin dia takut kalau cewek yang di boncengnya akan khawatir dengan kecepatan tinggi. Namun berbeda dengan apa yang di pikir Devano justru Davikah nyeloteh di balik punggungnya.


"gue heran, motor lo kan jenis motor yang di design untuk ngebut ya tapi kenapa jalannya pelan banget?"


"gue bisa ngebut, tapi gue takut ntar emak emak di belakang gue ngomel ngomel" canda Devano mengatai Davikah seperti emak emak.


"Enak aja emak emak, gue ini masi pelajar usia 17 tahun tauk." Tanpa Davikah kasih tahu pun Devano tau dia masi sekolah kan apa lagi sekarang masih pakai seragam sekolah. Kemudian Davikah melanjudkan omelannya.


"terus tadi, waktu kecelakaan lo kan juga ngga ngebut tapi pelan mengambang di tengah jalan. Lo bilang Lo ngelamun. ooohh jangan jangan lo baru putus ya". celetuk Davikah. Namun Devano tidak menangapi kalimat yang di lontarkan Davikah. Hari ini yang di alami Devano sangat melelahkan, sangat menguras energi hati maupun pikiran.


"Ok gua ngebut. Pegangan yang benar" ujar Devano seakan menjawab tantangan Davikah. Dan.....


"bbrruuuueeeemmmmm....." motor itu melaju dengan cepat. Davikah pun dengan erat menarik jaket Devano.


Sampainya di depan rumah Davikah.


"thank, gue masuk ya" tak lupa Davikah mengucap terimakasih karena sudah di anterin pulang sembari mau masuk pager rumahnya.


"eh tunggu dulu donk, kita kan belum kenalan"


seketika Devano menghentikan langkah Davikah. Lalu Devano mengulurkan tangannya dan menyebut namanya.


"gue Devano"


"Davikah" jawab Davikah sambil menjabat tangan Devano.


"panggilannya Vika kan"


"Iyah" jawab Davikah singkat


"Lo boleh manggil gue Devan tapi kebanyakan orang manggil gue Dewa langit. tapi terserah Lo deh mau manggil gue nama yang mana" begitulah sisi seorang Devano yang selalu membanggakan paras tampan nya.


"pppbbeeeffffttt... Masi ada aja cowok narsis kaya Lo" ..Davikah menertawakan Devano yang menyebut dirinya sendiri adalah dewa langit.


"ngga percaya ya udah" gerutu Devano sambil memakai helmnya lalu menghidupkan mesin motornya dan menancapkan gas sambil melambaikan tangan tanda dia berpamitan.


"Dasar cowok aneh, narsis" umpat Davikah dalam hatinya lalu membuka pintu pagar dan masuk rumahnya.


"Ma Vika pulang" Davikah memberi salam kepada mamanya


" Sore banget kamu pulangnya vik?" tanya mamanya yang duduk di sofa tamu sambil menata bunga di vas.


"iya". jawab Davikah lesu


"mama tadi denger suara motor loh di depan. motor siapa ??" tanya mama penasaran karena mendengar suara motor dari ruang tamu.


"ojek online" celetuk Davikah namun dalam hatinya berkata "duh ngapain aku bohong". Tapi ngga mungkin juga kan bilang kalau yang mengantarnya adalah korban kecelakaan.


"kamu ngga pulang bareng sama Jeni?"

__ADS_1


"Jeni kan jemput bunda Ana di bandara ma" terang Davikah.


"oh jadi bunda ana sudah pulang dari Banjarmasin"


"iya, ya udah Vika ke kamar mau mandi capek" Davikah memasang wajah lesu dan manja ke mamanya.


"iya iya, sana"


Tapi mama masih saja penasaran dengan suara motor tadi. Apa ada ojek online yang pakai motor dengan suara seperti itu.


"kenapa tadi ngga aku liat aja daripada penasaran" . Gumam mama yang masih penasaran.


Rumah Davikah adalah jenis rumah yang minimalis berada di perumahan yang tidak termasuk perumahan elit. Meskipun begitu rumah ber cat dasar putih itu nampak rapi dengan banyak jenis tamanan di depannya, dan di dalam barang barang dan furnitur yang tertata rapi di setiap sudutnya membuat rumah itu semakin nyaman, ya Davikah hidup hanya dengan mama nya. Papanya Davikah meninggal waktu kelas 6 SD dan saat itu Jeni lah yang selalu ada dan menghibur Davikah saat terpuruk kehilangan papanya. Di sini peran Jeni untuk Davikah sangatlah penting.


Sementara di tempat lain di waktu yang sama, Devano memasuki kamarnya segera melepas jaket nya dan menanggalkannya di gantungan baju lalu merebahkan badannya di ranjang dengan posisi terlentang serta menutup mata sambil menarik narik pangkal hidung tepatnya di antara kedua alisnya. Lengkap sudah hari ini, hatinya, fikirannya, tenangganya bahkan fisiknya sekarang sakit semua. Lepas masalahnya di sekolah malah jatuh dari motor ketika pulang sekolah. Seketika Devano ingat dengan luka lengannya, dia memandangi plester yang bergambarkan bulan bintang itu dan teringat dengan raut wajah Davikah yang ada sedikit kekhawatiran saat mengobati lukanya serta sedikit helaian rambut terlepas dari kuncir kudanya yang terurai tertiup angin mengurai di wajahnya semakin membuat **** wajah Davikah. Itu menurut pandangan seorang Devano yang sedikit mesum sewajarnya remaja . Memang kebiasaan sehari hari Davikah adalah kuncir kuda dan berponi bila diurai panjang rambut Davikah kira kira sebahu serta mempunyai kulit putih dan mata bulat besar atau sebutan lainnya mata belok.


"Devan Devan kenapa setiap luka , lo selalu terpana dengan gadis yang mengobati luka lo" gumam Devan sembari menutup matanya lagi.


Dua minggu sudah terlewati, hari hari pun berjalan seperti biasanya. Akan tetapi Megha masih tenggelam dalam kesedihan karena kehilangan Tirta dan masih merasa bersalah. Sebenarnya Tirta adalah pacar pertama Megha sekaligus cinta pertamanya, namun karena mendengar informasi yang kurang baik tentang Tirta Megha menjadi ragu. Apalagi Tirta adalah teman Devano di mana dia terkenal akan play boy nya. Dimanapun Devano dan Tirta berada selalu di dekati gadis cantik. Membuat Megha cemburu dan takut jika Tirta mendua tapi kenyataannya siapa yang menduakan. Untuk cerita kenapa Devano dan Megha bisa berhubungan itu karena saat Devano cidera kakinya waktu main bola di jam olahraga Devano pergi ke UKS dan di sana jadwal Megha yang jaga. Jadi yang mengobati dan merawat kaki Devano itu adalah Megha. Saat itu Devano heran kenapa bisa ada cewek yang sikapnya biasa aja terhadapnya malah fokus merawat kakinya dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut gadis itu. Biasanya kalau ada cewek yang dekat dengannya curi curi pandang dan ada aja bahan untuk bisa ngobrol dengan dia. Namun saat itu Megha pun tau Devano adalah temannya Tirta tapi Devano tidak tau Megha adalah kekasih Tirta yang baru jadian 3 hari lamanya . Jadi mungkin saja Megha menjaga pandangannya karena dia sudah punya pacar. Tetapi sejak saat itu Devano selalu mencari cari Megha, mencoba menghubungi Megha lewat sosmed dan nomor pribadi hingga akhirnya membuat Megha sedikit demi sedikit merespon Devano. Dan pada akhirnya Devano mengajak ketemu Megha di lorong WC di jam pulang sekolah dan tentu saja kalian tau apa yang terjadi.


"Megh". Panggil Devano, dia melihat Megha yang melamun di bangku taman sekolah segera menghampiri Megha.


"Ah, ya Devan ada apa ???" sontak Megha terbangun dari lamunannya.


"Nanti kalau gue dapet informasi di mana Tirta pindah gue kasih tau lo ya".


"thanks" sahut Mega dengan senyum manisnya.


Hari berganti malam...


Di kamar di atas ranjang Davikah dan Jeni sendang berbaring terlentang karena mereka sedang memakai masker wajah sambil mendengarkan lagu dengan earphone. Seketika Jeni teringat sesuatu...


"Vik" Panggil Jeni


"heeemmmpp". jawab Davikah.


Lalu Jeni bangun dan membuka masker tisu di wajahnya itu.


"Lo bilang Minggu lalu Lo di anterin pulang sama cowo itu, terus Lo ngga dapet nomor telponnya apa sosmednya gitu" tanya Jeni memastikan. Karena dua Minggu ini Jeni di tugaskan untuk ikut study tour dan masih harus ikut lomba cerdas cermat. sehingga sedikit waktu untuk Jeni ketemu dengan Davikah , Tau deh siswa teladan ketua OSIS lagi.


"ngga, lagian gue juga ngga minat buat apa punya nomor telponnya". Terang Davikah.


"cowok seganteng itu lo bilang untuk apa, emang bener lo itu ngga waras vik" ujar Jeni heran. Sahabatnya itu menyia nyiakan momen penting dalam hidupnya. Padahal di anterin kenapa ngga sekalian minta nomornya gitu.


"Ganteng boleh, tapi narsisnya kebangetan. masa dia nyebut dirinya dewa langit udah kaya web series Asia aja". Davikah masih kesal kalau mengingat hal itu.


"eh tapi bener, dia itu visualnya udah kaya oppa oppa Korea tau". kalimat Jeni menambah rasa kesal pada Davikah sampai sampai Davikah melotot tidak percaya dengan pujian yang di berikan Jeni pada Devano. Biasa ya Jeni ini remaja yang demam Kdrama.


"ah udah aah Jen, noh udah malem pulang gih ntar di cariin bunda loh". Devikah mencoba mengalihkan topik.

__ADS_1


"mana mungkin bunda nyariin. pasti bunda udah tau kalau anak gadisnya yang cantik ini ada di sini" Sangking seringnya Jeni menginap di rumah Davikah.


Jam dinding di kamar Davikah sudah menunjukan pukul 11 malam dan Jeni pun sudah pulang...


"Kalau di inget inget kembali Devan memang keren sih. Tapi ntah kenapa feeling gue saat itu Devan lagi ada masalah, ntah itu putus sama pacarnya, ato ngga ketauan bolos sekolah lalu dapet hukuman atau yang lebih parahnya lagi dia ketauan ngerokok di sekolah lalu di skors... ahh bodo amatlah ngapain gue mikirin dia. Tapi kemaren gue ngga ngencium bau asap rokok sih di badannya" Davikah mencoba menerka nerka sendiri apa yang sedang di alami Devano sehingga cowok itu terlihat banyak fikiran. "Dasar dewa langit yang terjatuh di sore hari". celetuk Davikah dalam hati. Ntah kenapa kata kata dewa langit itu terngiang ngiang di kepalanya. Dan akhirnya Davikah tertidur sambil memeluk boneka kelinci yang ukurannya pas buat di peluk, boneka kelinci itu kado pemberian papanya di ulang tahunnya yang ke 12 tahun sebelum papanya meninggal. karena Davikah adalah salah satu anak manusia yang menyukai binatang terutama Kelinci jadi papanya memberikan kado boneka kelinci itu. Tidak lama kemudian mamanya masuk kamar untuk melihat Putri semata wayangnya sudah tidur atau belum, setelah memastikan kalau Davikah tidur lalu mama menyelimuti Davikah dan terakhir memberikan ciuman selamat malam untuk anak gadisnya itu.


***


Rutinitas pagipun di mulai, Davikah yang sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya merias diri di depan meja riasnya sambil menyisir rambut lurusnya lalu kemudian di ikatnya rambut itu.


"Vika ayo sarapan " panggil mamanya dari ruang makan.


"iya ma". segera Davikah mengambil HP dan tas kuningnya itu lalu di selempangkannya di bahunya.


Sampainya di meja makan Davikah langsung melahap sandwich buatan mamanya. Saat lagi makan HP di saku kemeja sekolahnya bunyi "ngunghh" ternyata pesan suara dari Jeni.


"Vik gue udah di sekolah jadi ngga bisa kerumah lo. Jam setengah 7 nanti gue ada rapat OSIS." Ya hal seperti itu sudah biasa untuk Davikah dan biasanya rapat OSIS di agendakan dua kali dalam satu Minggu. Segera Davikah memesan taksi online.


"Jeni ngga bisa jemput kamu ?" tanya mama


"Iyah" jawab Davikah


"mau mama anterin?" mama menawarkan diri untuk mengantarkan anak gadisnya ke sekolah.


"Ngga usah ma, nih Vika Uda pesen taksi online" Vika menunjukan aplikasi taksi online di smartphone nya itu.


"oh ya udah" kemudian mama membereskan piring di meja lalu mencuci piring piring itu.


Setelah menyelesaikan sarapannya Davikah melihat jam di HP nya. "Udah hampir jam 7 , kenapa taksinya belom datang datang juga sih". Gerutu Davikah karena sudah mulai panik takut terlambat. Sesaat kemudian "thooddd thoodd" bunyi klakson taksi.


"ma taksinya udah datang, Vika berangkat ya". Davikah berpamitan lalu mencium pipi mama yang tangannya sedang sibuk mencuci piring.


"Hati hati sayang, have nice day" mama selalu mengucap kalimat itu ketika Davikah berpamitan.


Sesampainya Davikah di depan pagar senyum ramah dan tutur kata yang sopan menyapa "mbak Davikah" tanya sopir memastikan bahwa davikah adalah penumpangnya.


"iya, kenapa lama banget pak" sahut Davikah kembali bertanya sembari masuk taksi itu.


"maaf mbak, tadi agak macet" jawab pak sopir lagi sambil menyetir.


Sembari menatap keluar jendela taksinya Davikah melintasi jalan yang dua minggu lalu terjadi insiden kecelakaan itu lalu mengingatkannya pada Devano."ciiih... Dewa langit" . Umpatnya dalam hati.


Tidak lama kemudian taksinya berhenti "Udah sampai mbak" Ujar sopir taksi itu.


"oh, saya bayar lewat transaksi online ya pak coba bapak cek dulu"


"iya mbak sudah masuk" setelah sopir taksi itu mengecek transaksinya. "oh ya mbak, kasih bintang 5 ya" pinta sopir taksi itu.


"ngga mau ah, bapak tadi datangnya lama" Davikah menggoda sopir taksi itu sehingga terlihat kecewa di raut wajahnya , namun segera itu Davikah menimpal lagi " Candaa deh pak,.. nih udah aku kasih bintang 5" Davikah menunjukan aplikasi taksi onlinenya. Kemudian terlihat senyum sumringah di wajah sopir itu. "terimakasih ya mbak"dengan penuh senyum lebar di wajah sopir itu.

__ADS_1


"iya sama sama bapak" jawab Davikah dengan senyum juga.


__ADS_2