
Devano yang tadi siang bertemu dengan jeni teringat oleh gadis manis bekuncir kuda yang mengobati sikunya , ya Devano teringat dengan Davikah. Devano melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 21.00 WIB, Devano berinisiatif untuk melewati ulang jalan yang dia lalui waktu dengan Davikah, bergegas dia mengambil kunci motornya.
Devano sedang menyusuri jalan mengingat-ingat kembali jalan menuju rumah Davikah. Dari yang tersesat, salah jalan, dan salah komplek perumahan. Salahnya waktu itu pikiran Devano lagi kacau dia hanya mengikuti arahan Davikah dan tidak menghafalkan nama jalannya. waktu itu setelah pulang mengantarkan Davikah, Devano pun pulang dengan mengendarai motornya sangat pelan dia hanya mengikuti lajunya motor...
Dan hingga akhirnya Devano tiba di depan pagar rumah Davikah. Devano hanya tertegun dan memandangi rumah itu. "Akhirnya, ketemu juga". syukurnya dalam hati. Rasa senang yang menyelimuti hatinya seperti dapat memecahkan peta harta karun. Lalu dia melihat jam tangannya , ternyata angka menunjukan 00:05 , ya dua jam lebih Devano mutar mutar jalan untuk menemukan rumah Davikah. Dan "Bruuuueeeeeemmmm" Devano menancap gas motornya dan meninggalkan rumah Davikah.
Dari dalam kamarnya Davikah mendengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya.
"suara motor siapa malam malam begini di depan rumah". karena penasaran Davikah melihat keluar dari balik jendelanya, namun saat dilihatnya motor itu sudah melaju dengan cepat. "sepertinya gue pernah lihat motor itu" tanyanya dalam hati. Setelah itu Davikah teringat dengan Devano, ya motor tadi seperti milik Devano suaranya pun juga.
"mana mungkin dia datang kemari, apalagi ini udah tengah malam" Celetuk Davikah.
Entah kenapa malam ini Davikah tidak bisa tidur, rasanya ingin cepat-cepat pagi dan pergi ke sekolah. Di hatinya seperti ada yang mengatakan bahwa besok dia akan bertemu seseorang dan akan terjadi sesuatu.
Esok paginya...
"ma , Vika berangkat ya" Davikah berpamitan menemui mamanya di kamar yang sedang merapikan tempat tidurnya.
"udah selesai sarapannya vik" mama memastikan anak gadis satu-satunya itu sudah sarapan.
"udah"
"taksi online-nya udah dipesan ?"
"udah. nih sudah on the way ke sini" lalu mama mencium pipi anaknya itu seperti rutinitas setiap paginya.
"Daaahhh..." namun belum sempat Davikah keluar rumah terdengar suara motor di depan rumahnya. sontak Davikah dan mamanya kaget, segera keduanya keluar rumah untuk melihat siapa yang ada di luar.
"halo vika, halo tante". Devano menyapa Davikah dan mamanya.
"halo" sapa balik mama Davikah dengan ramah.
"Devan, ngapain pagi pagi kesini" Davikah terkejud kenapa pagi-pagi Devano ada di depan rumahnya.
"tadi kebetulan lewat sini dan ingat kamu akhirnya berhenti dulu di sini".
"emmh.eemm... jadi Vika, ngga di kenalin nih sama mama". mama yang ngga mau jadi nyamuk akhirnya bersuara.
"oh iya , ma ini Devan temannya Vika"
"saya Devan tante" Devano memperkenalkan namanya.
"mamanya Vika". mama menyambut perkenalan Devano."ya udah, vik mama masuk ya" imbuh mama, karena sadar kehadirannya akan membuat canggung kedua remaja yang ada di depan rumah itu.
"So, ngga pergi ke sekolah" tanya Davikah.
"ya pergilah , nih udah pake seragam".
"terus".
"mau sekalian berangkat bareng sama gue ?" Devano menawarkan diri untuk mengantar Davikah ke sekolah.
"sorry ngga bisa, gue udah pesen taksi online nih udah dekat taksinya" Davikah memperlihatkan layar smartphone milikinya.
"kan bisa di cancel"
"ya jangan dong kasian, masa pagi pagi udah mutus rejeki orang"
" ya udah , bearti lain waktu bisa dong"
"not promise"
"kalo gitu mana sini hp lo" Devano meminta Handphone davikah.
"buat apa"
"udah sini". Devano mengetik angka lalu menelfon nomor itu. "nah kalo gini kan enak, gue udah punya nomor lo". imbuh Devano sembari mengembalikan handphone Davikah.
__ADS_1
"Idih apaan , maksa". celetuk Davikah.
"bodo amat, ya udah gue duluan" dan "ddreuuummm" Devano sudah melaju dengan cepat. Sesaat kemudian taksi online Davikah datang. Di dalam taksi sembari menunggu sampai disekolah, Davikah melihat nomor telfon Devano yang ada di panggilan keluar handphone miliknya. Ragu ragu Davikah ingin menyimpan nomor itu, namun akhirnya di simpan juga.
Sampainya di sekolah...
"makasih pak" tidak lupa Davikah mengucap terimakasih pada pak sopir online itu. Saat mau melangkahkan kakinya Davikah melihat keributan, ya itu adalah Tirta dan Megha
"Tirta dengerin gue dulu, lo nggak boleh egois lo harus dengerin penjelasan gue" suara Mega terdengar bergetar.
"apa yang perlu lo jelasin, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri". kalimat yang terucap dari mulut Tirta terdengar sangat sinis membuat Mega sedikit takut. dengan mata Mega yang berkaca-kaca dan suara bergetar Mega pun membalas kalimat Tirta.
"terus gimana dengan yang mata gue lihat. dimana mana lu dan teman lu si Devan dikelilingi cewek-cewek". Mega membuat bungkam Tirta. Kemudian Mega melanjutkan uneg uneg yang ada di hatinya. "hati gue sakit Tir, gue merasa sebagai pacar yang ngga Lo anggep" Mega menunjuk dadanya. "gue takut Lo ngeduain gue" imbuh Mega dengan air mata yang terjatuh di pipinya.
"kenyataannya siapa yang mendua? Lo kan" jawab Tirta dengan sorot mata yang tajam namun dalam hatinya tidak sanggup melihat Mega menangis rasanya dia ingin memeluk cewek yang ada di depannya itu.
"ok fine, itu memang salah gue salah banget tapi apa Lo ngga pernah merasa bersalah sama gue". Mega sudah ngga sanggup adu mulut dengan Tirta karena banyak murid murid yang melihat mereka, akhirnya Mega memutuskan meninggalkan Tirta dan masuk taksi. Mega sudah sejak padi datang ke sekolah Tirta , dia menunggu Tirta. Namun konflik yang terjadi tetap belum selesai, Tirta masih dalam api cemburunya susah untuk memaafkan Mega.
Murid-murid akhirnya bubar setelah melihat pertengkaran Tirta dan Mega. Sebaliknya dengan Davikah,dia tertegun setelah apa yang di lihatnya tadi. "apa Devan yang disebut cewek tadi adalah Devano si dewa Langit" Mega bertanya tanya dalam hati. "siapa cewek tadi ? apa pacarnya Tirta, tapi kenapa berantem? apa mereka baru putus? aahh... kenapa aku mikirin mereka" Davikah nyeloteh sendiri lalu dia bergegas masuk sekolahnya karena sejak dia turun dari taksi Davikah masih terpaku di tempat. Di perjalanan menuju kelas, dari kejauhan Davikah melihat Tirta sedang bersama seorang murid perempuan. Tirta mengelus ngelus pipi cewek itu dan akhirnya mengecup pipi cewek itu, entah apa yang mereka obrolkan tapi yang terlihat jelas di mata Davikah cewek itu terlihat sangat sumringah setelah di cium Tirta. Dan pada akhirnya mereka berpelukan. Membuat Davikah langsung berpaling muka dia tidak ingin melihat adegan yang lebih jauh lagi. "Apaan sih, mesra mesraan disekolah, baru aja berantem sama cewek di depan gerbang sekolah sekarang udah mesra mesraan sama cewe lain. dasar". gerutu Davikah. "cewek di depan tadi juga bilang kalau di mana ada Tirta dan Devan pasti di kelilingi cewek cewek. ouuhh ternyata..." suara yang ada di dalam hati Davikah diapun memanggut manggutkan kepalanya.
"vik, pagi pagi udah bengong aja lo" sapa Jeni yang berjalan kearah nya
"dari mana aja lo" tanya pada sahabatnya itu yang sekarang jarang sekali melihat batang hidungnya.
"gue baru dateng" jawab Jeni dengan semangat paginya.
"jadi tadi lo ngga ngelihat apa yang terjadi di depan gerbang".
"emang ada apa" tanya Jeni yang memang tidak tau apa apa yang udah terjadi
"sepupu Lo tuh, pagi pagi udah buat drama sama cewenya di depan gerbang"
"serius lo, ceweknya yang mana?" Jeni sangat penasaran dengan cerita Davikah.
"ya gue juga baru liat, keknya beda sekolah deh sama kita" terang Davikah.
"apa jangan jangan cewek yang waktu itu sama Devan ya, yang nyari temannya itu".Jeni mencoba merangkai apa yang terjadi.
"ciri cirinya gimana" tanya lagi Jeni dengan penuh penasaran
"rambut lurus tergerai, make tas selempang warna ping, cantik dan feminim" Davikah mencoba menggambarkan ciri ciri Megha
"tepat, itu cewek yang waktu itu sama Devano" Jeni dengan cepat menjawab.
"keknya sepupu lo benar benar ada masalah dalam hubungan percintaan deh Jen". Davikah menganalisa sikap Tirta yang aneh, gimana ngga aneh, habis berantem sama cewe, terus bermesraan dengan cewek lainnya.
"maksud Lo" Jeni bingung dengan ucapan Davikah.
"ngga lupain aja". Davikah mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"yaah gue bakal ketinggalan berita dong, abis ini gue juga masih ada lomba cerdas cermat lagi"
"lagi ??" Davikah heran dengan temannya itu, begitu pintar dan semangatnya kalau soal pelajaran.
"iya abis ini gue berangkat, ya udah gue ke pak Herman ya. And kalo Lo dapet berita lagi jangan lupa kasih tau gue. daaahh".
Konflik antara Devano Tirta dan Mega yang sedikit demi sedikit dipecahkan oleh Davikah. "kenapa semua ini seakan seperti tali yang saling mengikat, pertama gue ketemu sama Devan, lalu Tirta pindah sekolah ketempat ini dan dengan kebetulan ternyata Tirta sepupunya Jeni. Lalu Megha,...". hati dan pikiran Davikah yang sedang merangkai apa yang telah terjadi. sekarang adalah jam istirahat, tapi Davikah tidak ingin pergi ke kantin.Gadis itu menghabiskan waktu istirahat nya untuk memainkan smartphone di kelas. Lalu Tirta menghampiri Davikah yang memang Tirta lagi mencari Davikah .
"ngga ke kantin" tanya Tirta mengagetkan Davikah yang terlihat fokus dengan smartphone nya.
"ah ,kak Tirta. lagi ngga mood aja ke kantin, kenapa ada apa kak Tirta kesini" tanya Davikah pada Tirta yang tiba tiba ada di kelasnya.
"gue dapet amanah dari Tante ana, selagi Jeni sibuk dengan urusan OSIS dan lomba cerdas cermat nya jadi gue yang gantiin Jeni untuk pergi dan pulang sekolah bareng Lo".
"haaah" Davikah terheran, sampai mulutnya menganga. "apa apaan ini, kenapa jadi begini" suara hati seorang Davikah kenapa sangat kebetulan begini.
"jadi nanti jangan pesen taksi online , tunggu gue ok". Tirta mengusap usap kepala Davikah yang kebetulan Davikah duduk di bangkunya dan Tirta posisi berdiri menyenderkan bokong nya di meja .
__ADS_1
"tapi kan.." belum sempat selesai sudah di putus dengan Tirta
"Lo ngga mau bikin Tante ana kecewa kan". Sembari bilang kalimat tersebut Tirta berlalu meninggalkan Davikah yang masih ngga percaya dengan sikap perhatiannya tante Ana pada dirinya. Dari dulu tante Ana memang super baik sayang dan perhatian banget sama Davikah. Ya sifatnya itu tentu menurun ke anaknya jeni.
Sedangkan yang terjadi pada Mega, gadis itu benar benar tidak tau harus berbuat apa lagi. Tirta masih belum mau memaafkan dia, seharunya tadi Mega udah minta maaf dan menyelesaikan masalahnya dengan Tirta. Tapi ntah kenapa bicara dengan orang yang masih terbakar amarah sangatlah susah justru semakin sengit dan memanas. Mega yang duduk di kantin hanya mangaduk es jeruknya dengan sedotan. Terlihat tatapan kosong di mata gadis itu.
"tadi gue denger lo terlambat dan kena hukuman ,bukan tipe Lo banget bisa terlambat" tanya Devano sembari duduk di sebelah Mega.
"tadi pagi gue ke sekolahnya Tirta dulu makanya gue terlambat" jawab Mega dengan lesu.
"dia masih marah sama lo". Devano mencoba membaca raut wajah Mega yang lesu. dan Mega hanya menganggukkan kepala yang tandanya pernyataan Devano memang benar.
"semua butuh waktu, nanti kita coba lagi bicara dengan Tirta" Devano mencoba menenangkan Mega.
"Devan boleh gue minta tolong". tiba tiba saja Mega mempunyai keinginan.
"boleh, apa?"
"bawa aku pergi kemana kamu mau" entah apa yang ada di fikiran gadis itu, dengan wajah lesunya Mega memohon pada Devano . Seperti yang sudah bisa di lihat oleh mata seorang Devano gadis di depan nya itu lagi patah hati dan pasti dadanya sangat sesak. Dia tau apa yang harus dia lakukan untuk Mega.
"iya, nanti pulang bareng aku aja" Devano mengabulkan permohonan Mega.
Alarm tanda pulang sekolah berbunyi murid murid bergegas meninggalkan kelas masing-masing.
"nanti aku bilang ke bunda Ana, supaya kak Tirta ngga usah repot repot nebengin aku" topik yang dibahas Davikah di dalam mobil expander warna hitam itu.
"bisa ngga sebut nama aja, ngga usah pake sebutan kak formal amat" gerutu Tirta yang tidak mau di senior kan.
"iya iya" dengan nada manjanya Davikah mengabulkan gerutuan Tirta.
"temenin gue ke toko buku ya, banyak yang musti gue beli buat bahan pelajaran di kelas"
"apa" jawab Davikah kebingungan. "ini sih namanya maksa ngga pake tanya dulu" gerutu Davikah dalam hati.
Setelah sampai di toko buku di dalam sebuah mall Tirta sibuk mencari buku kurikulum yang di butuhkan. Davikah yang tidak mau mengikuti Tirta terus akhirnya memutuskan untuk mencari novel untuk dia baca.
"baca apa" tanya Tirta yang mengagetkan Davikah.
"oh, novel. udah ketemu buku buku nya ?"
"nih udah." setelah itu Tirta ke kasir untuk membayar buku buku yang dia beli, Davikah memilih menunggu Tirta di luar toko. Dari kejauhan Davikah melihat Devano dengan cewek tadi pagi yang berantem sama Tirta. "jadi bener Devan, Tirta dan cewek itu ada hubungan. apa mungkin love triangle".
"makan dulu yuk" ajak Tirta yang telah selesai membayar bukunya.
"makan di tempat lain aja , jangan di sini plis" Davikah tidak ingin Tirta melihat Devan dengan Mega di tempat ini. Davikah tidak mau terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Davikah pun berbicara dalam hati. "kalo ketemu pasti akan melukai hati masing masing. dan lagi pasti cewek itu ngira gue gebetan nya Tirta tambah rumit lagi pasti masalahnya. Ogah banget gue kebawa kemasalah mereka".
"iya iya" Tirta mengabulkan permohonan DavikXdah sambil mengusap usap lagi kepala Davikah karena Davikah terlihat menggemaskan di mata Tirta.
"tapi gue ke toilet dulu ya"
"jangan lama lama, gue tunggu di sana" Davikah menunjuk ke arah suatu tempat kemudian Davikah berjalan meninggalkan Tirta. Bergegas Tirta pergi ke toilet ingin segera membuang air kecil yang sudah di tahannya sejak tadi.
Setelah dari toilet akhirnya Tirta pun melihat apa yang di lihat oleh Davikah. Dan Tirta putuskan untuk menghampiri Devano dan Mega.
" waaoo bertemu dengan pasangan yang serasi" itu Tirta menyapa atau menyindir.
"Tirta" Mega tidak percaya dia bertemu Tirta di sini.
"yang tadi pagi dateng ke sekolah gue, nangis nangis minta maaf dan yang katanya menyesali perbuatannya jadi ini kebenarannya" Tirta menatap wajah Mega dengan tajam.
"maksud Lo apa" timpal Devano yang tidak mau tinggal diam melihat Mega semakin tertindas.
" sshheeett Lo diem dulu sebentar". Tirta memberi isyarat bahwa biarkan Mega yang berbicara.
"gue harus bagaimana Tirta, gue udah minta maaf, bahkan dengan tulus. gue udah mengakui gue salah, gue udah kasih penjelasan atas perbautan gue. apa hukuman ini belum juga selesai, apa rasa bersalah dan dan sesak di dada ini tidak boleh hilang. Lo mau apa lagi Tirta. Apa lo mau gue berlutut disini di hadapan Lo, gue lakuin" Mega menangis sejadinya dia tidak tau lagi harus melakukan apa agar Tirta memaafkannya dan kembali kepadanya.
Devano dan Tirta diam terpaku melihat Mega yang begitu emosional mengutarakan hatinya dan pada akhirnya Tirta pergi meninggalkan Devano dan Mega.
__ADS_1
Curiga Tirta tak kunjung kembali Davikah putuskan mencari Tirta dan apa yang di takutkan terjadi. Tirta yang bertemu Devano dan Mega akhirnya terjadi drama lagi. Davikah putuskan untuk tidak menghampiri mereka bertiga, Davikah tidak ingin terseret ke masalah mereka...
***