Gairah Remaja Jaman Now

Gairah Remaja Jaman Now
Episode 06 -Memaafkan-


__ADS_3

Sebenarnya pulang sekolah tadi Devano ingin mengajak Mega jalan-jalan untuk menghibur. Karena tidak enak masih memakai seragam sekolah Devano putuskan untuk membeli baju ganti terlebih dahulu.


Setelah dari mall Devano mengajak Mega ke tepian pantai. Sejak di perjalanan tadi Mega hanya diam dan termenung. Kedua anak manusia itu sama sama menatap lautan.


"harusnya lo seneng, ngga sedih kaya gini" Devano memulai perbincangan dan Mega hanya tersenyum simpul sembari memandang ke arah Devano.


"ya gitu, lo harus senyum capek capek gue bawa lo kesini malah wajah kusut yang gue lihat" Devano memberi candaan.


"bisa aja lo" Mega menyikut Devano yang berada di sampingnya.


"kalo memang terlalu berat, dan masih sesak sini senderan di bahu gue" Devano menawarkan bahunya, lalu Mega menyenderkan kepalanya di bahu Devano.


"thanks, lagi lagi lo menghibur gue. maaf ya , semua ini terjadi karena ulah gue. kita berdua tidak akan kehilangan Tirta jika gue tidak egois"


air mata mengalir lagi di pipi Mega, karena tidak tega melihat Mega yang terus berlarut dalam kesedihannya Devano memutuskan untuk memeluk Mega. Di dekapan nya Mega yang masih terisak menangis.


"harusnya Lo seneng kalo Tirta marah melihat kita berdua, itu tandanya Tirta cemburu. dan Lo tau cemburu itu datangnya dari mana? dari rasa sayang dan dari rasa takut kehilangan". mendengar kalimat yang di utarakan Devano membuat Mega mendongakan wajahnya yang tadinya tengelam di dekapan Devano. sontak Devano pun menatap wajah Mega yang penuh dengan air mata itu. Entah mengapa tangan Mega menggapai pipi Devano dan mengelus pipi laki laki menawan itu dan mengucap "kenapa gue tidak bisa mencintai lo seperti gue mencintai tirta" Mega menatap dalam dalam wajah Devano . Dan kemudian karena hasrat laki lakinya Devano pun mencium Mega ******* bibir gadis yang ada di dekapannya itu. Mega pun membalas ******* Devano hingga kedua tangannya merangkul leher Devano. Setelah beberapa detik keduanya saling melepas ciuman Mega berbicara pelan dan mendesah "lakukanlah, gue ngga papa". seakan mendapat lampu hijau dari Mega untuk terus melakukan hal yang lebih lagi, Devano akhirnya membopong Mega ke arah kamar penginapan yang sudah di pesan Devano tadi setibanya di sana. Di tidurkan nya Mega di rajang tempat tidur lalu Devano menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Mega dan dilumatnya kembali bibir manis itu. Setelah puas dengan bibir Mega , ciuman Devano tertuju pada leher jenjang milik Mega hal itu membuat Mega terengah-engah dan mendesah "eenghhh..." namun air mata keluar di tepi kedua matanya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, hatinya yang begitu sesak dan fikiran yang kacau membuat Mega ingin melakukan hal bodoh untuk menghukum dirinya sendiri seharusnya hal seperti ini belum waktunya untuk mereka lakukan bukan.


Devano yang sedang menikmati tubuh indah ciptaan Tuhan itu seketika melihat wajah Davikah di fikirannya. "vika" tanyanya dalam hati. Kemudian Devano melihat wajah Mega, dia melihat air mata keluar di tepian mata Mega membuat Devano sadar dari nafsunya dan berhenti melakukan ciumannya.


" kita ngga bisa lakuin ini, ini belum waktunya untuk kita. Hati dan fikiran lo juga lagi kacau, gue tau ini pelampiasan lo doang lo menghukum diri lo sendiri". Mega hanya diam menatap Devano karena apa yang di katakan laki laki itu memang benar.


"ya udah Lo istirahat disini. gue booking kamar satu lagi" Devano mengusap lembut kening Mega lalu meninggalkannya.


Devano yang sudah ada di kamarnya tidur terlentang sambil bergumam "ada apa dengan gue, kenapa wajah Vika terus terlintas di mata gue" lalu Devano berbicara dalam hati "cewek ini bener bener menghantui gue". Kemudian Devano pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dari angin laut yang lengket di tubuhnya. Air shower yang mengucur membasahi ujung rambut hingga ujung kaki laki laki yang berjulukan dewa langit itu membuat segar kembali badan dan fikirannya. "apa yang sudah aku lakukan pada Mega. kenapa aku menuruti keinginannya. Bodoh sekali lo jadi cowok memanfaatkan seorang gadis yang lagi patah hati" Hati nurani seorang Devano berbicara . Ya laki laki itu masih terdiam di bawah air shower yang menyusuri tubuhnya sambil tangannya mengepal kedinding kaca.


Sedangkan di tempat lain Davikah tiduran sambil memeluk boneka kelinci, matanya menatap langit-langit atap kamar. Gadis itu memikirkan kembali yang terjadi tadi siang. Dengan jelas Davikah melihat Tirta yang diam menyetir mobilnya dengan sorotan mata yang penuh dengan kecemburuan. Saat itu Davikah pun tidak berani berbicara sedikitpun apalagi mengorek apa yang sudah terjadi di mall tadi siang. Sampai di depan rumah pun Tirta tidak membukakan pintu mobil untuknya membuat Davikah agak kecewa."Kenapa gue harus kecewa ?" gumamnya. "nggak mungkin kan gue mulai suka sama Tirta". imbuhnya dalam hati. Akhir akhir ini Davikah sering bersama dengan Tirta itu juga karena Jeni yang mengajak Tirta untuk gabung. Di kantin, di perpustakaan atau bahkan pada jam istirahat saat kumpul bareng di taman sekolah. Sikap Tirta yang tidak banyak bicara membuat Davikah tanpa sadar terpesona. Siapa yang tidak terpana kepada Tirta tentu kaum hawa jika melihat pria menawan sedikit saja pasti langsung suka. Namun Davikah yang terpana selalu dipatahkan dengan sikap Tirta yang selalu menggandeng cewek lain ketika tidak bersama dengan Jeni dan dirinya. Tirta selama ini bersikap baik kepada Davikah, namun tidak pernah menunjukkan rasa suka dan tertarik kepada Davikah. Gadis itu mulai memahami perasaannya, Davikah ingin lebih dekat lagi dengan Tirta. Meskipun dia tahu Tirta sering menggandeng perempuan lain dan selalu kecewa setiap malihat hal itu.


hari ini pagi ini, Tirta sudah ada di depan rumah Davikah. Amanah Tante Ana telah dijalankan Tirta dengan baik. Di perjalanan Davikah melirik Tirta, gadis situ seakan ingin bertanya kepada Tirta. Dengan keberaniannya Davikah pun bertanya namun sebelum bertanya Davikah basa-basi terlebih dahulu.


"Sampai kapan mau nebengin gue terus?" davikah melirik dengan nada meledek ke arah Tirta.


"sampai gue sendiri yang udah nggak mau nebengin lo" jawab Tirta sambil fokus menyetir.


"tapi bukan karena terpaksa kan" tanya Davikah lagi.

__ADS_1


"enggak gue seneng aja ngelakuinnya" jawab Tirta singkat.


"apa dengan menggandeng cewek yang berbeda beda setiap minggunya merupakan hal yang senang lo lakuin". Tanya lagi Davikah mencoba memancing Tirta agar lebih terbuka kepada nya.


"itu bukan gue yang mau mereka sendiri yang nyamperin gue". Penjelasan Tirta tersebut membuat Davikah berbicara dalam hati "halah, itu cuma alasan Lo doang, sebenernya mereka tuh pelampiasan lo kan".


"gue lihat lo beberapa hari yang lalu berantem sama cewek di depan sekolah". ungkap Davikah.


"terus" timpal Tirta.


"terus gue lihat lagi lo berantem sama cewek yang sama di mall". "Deeggh" Tirta kaget ternyata Davikah menyadari itu dan kemudian memberi alasan lagi.


"mungkin cewek yang lagi mohon ke gue untuk jadi pacarnya"


"bukan, kata kata yang keluar dari ucapannya adalah minta maaf bukan kata kata nembak". Davikah mencoba memancing lagi. Namun Tirta hanya diam dia tidak mau menjawab kemudian Davikah melanjudkan lagi


"kalau seseorang sudah minta maaf dengan tulus kita sebagai manusia harus memaafkan bukan. Aku bukannya sok tau tapi ketika aku melihat cewek itu meminta maaf sampai berani datang dan menemui mu itu tandanya dia benar benar niat untuk minta maaf. sebagai sesama cewek aku ngerasain ketulusan itu". Terang Davikah dengan mata yang berbinar binar.


"iya , aku akan maafkan dia" jawab Tirta sambil melihat Davikah dan memberikan senyuman lebarnya.


"terus masih belom mau cerita tentang cewek itu" Davikah mencoba mengorek lagi. Toh mood Tirta sekarang lagi bagus juga tadi pria menawan itu mengiyakan kata katanya. Jadi Davikah memberanikan diri untuk sedikit ingin tau lagi.


"bagian dari masa lalu gue dulu, tapi ya udah kan aku udah maafin dia terus mau apa lagi memaafkan bukan berati kembali ke masa lalu kan. kalau masa depan lebih indah kenapa harus melihat ke belakang" pungkas Tirta sambil melirik Davikah dan lagi lagi memberikan senyuman mematikannya membuat pipi Davikah merona. Entah kenapa cewek ini selalu terbawa perasaan dan tidak bisa menutupi rasa berdebar di dadanya sehingga membuat pipinya memerah.


Ditempat lain Devano yang sedang belajar di perpustakaan laki laki yang berjulukan dewa langit itu seakan fokus belajar dan ingin lulus dengan nilai baik dan tentunya di temani sama Mega. Mereka berdua tetap berteman baik walau apa yang telah terjadi pada mereka di malam itu. Saat itu sekitar pukul 9 pagi Devano mengetuk kamar Mega namun tidak ada jawaban sesaat kemudian smartphone nya berbunyi tanda ada pesan masuk "gue pulang duluan, anggep semalem tidak ada yang terjadi. gue harap kita masih berteman baik" . Begitulah kira kira pesan dari Mega. Kedua anak manusia itu sepertinya sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bahkan di sekolah gosip yang tersebar Devano dan Mega berpacaran bahkan ada juga yang bergosip bahwa mereka teman tapi mesra. Dan tentu saja kata kata pedas juga terlontar kalau Mega adalah perusak hubungan persahabatan Devano dan Tirta yang membuat Mega selalu bersedih namun Devano selalu memberi penjelasan tidak usah dengarkan kata teman temannya itu. Karena haripun berlalu dengan cepat Mega tak ingin lagi memikirkan sesuatu yang ada hubungannya dengan Tirta. sepertinya gadis ini ingin move on dan ingin menjalani hari harinya dengan baik.


"mata gue udah sempet nih liatin angka muluk, gue butuh cuci mata" sambil menutup bukunya Devano menggerutu pelan karena sadar dia ada di dalam perpustakaan yang di mana tidak boleh berisik.


"katanya mau lulus dengan nilai baik baru baca buku beberapa menit aja uda sepet matanya" ledek Mega pada Devano yang sedang menggerutu seperti anak kecil.


"gue cabut duluan deh kalo Lo masih mau di sini" segera Devano membereskan bukunya dan meletakan kembali pada tempatnya. Saat Devano menghadap rak buku dan meletakan bukunya ada seseorang yang menariknya dari belakang dan memojokannya pada rak buku yang lain. Ternyata orang itu adalah gadis cantik dengan dada yang berisi sehingga kancing atas yang kedua tidak bisa untuk di kaitkan , mata Devano pun reflek melihat ke arah dua gundukan kenyal yang tertutup kemeja putih milik gadis cantik itu. "waow" dalam hati Devano mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna itu.


"gue udah tungguin Lo sejak tadi agar jauh jauh dari cewek sok suci itu" pungkas gadis itu sambil menekankan dadanya ke tubuh Devano dan mendekatkan pandangannya ke wajah dewa langit itu.


"what up girl? " Devano pun menyambut ke centilan gadis itu.

__ADS_1


"sepertinya dewa langit ini sudah tobat ya" gadis itu berbisik pelan di telinga Devano dan merangkulkan tangannya ke leher sang dewa langit itu sehingga Devano bisa mencium wangi parfum yang melekat pada gadis seksi yang sedang menggodanya. Lalu kedua tangan Devano mencengkeram pinggul gadis cantik itu dan berkata dengan lembut dan pelan.


"ngga etis kita seperti ini di tempat seperti ini"


"ok , gue ngerti " lalu gadis itu mencium pipi Devano dan meninggalkan dewa langitnya yang masih nyensender di rak buku dan berlalu sambil melirik Mega seakan memberi isyarat bahwa gadis itu membenci Mega . Sedangkan Mega hanya diam hal seperti itu sudah sering di lihat olehnya.


"gue denger sebentar lagi ada pertandingan basket ya sebelum ujian kelulusan" Mega bertanya pada Devano yang sedang melahab kentang goreng di sebuah food court.


"yup" jawab Devano singkat.


"kira kira Lo menang ngga nih" Mega meledek temannya itu. Karena dia tau Devano sibuk main dengan para cewek dan sedikit latihan basketnya. Sejak Tirta pindah sekolah Devano memang tidak sesering dulu latihan basket saat masih bareng sama Tirta bahkan Devano sering kena tegur pelatih.


"mau taruhan" Devano menantang keraguan Mega.


"ngapain, gue juga males kali nonton Lo. gue yakin Lo kalah, akhir akhir ini Lo kan jarang latian. Pemalas". Lagi lagi Mega meledek temannya itu.


"yakin ngga mau nonton? nyesel Lo nanti ngga ngeliat Tirta".


"tanding dengan sekolahnya Tirta?" tanya Mega dengan penuh semangat. Devano menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Tirta ikut main?" Mega bertanya lagi .


"harusnya sih ikut , kan dia jago main basket. ngga mungkin juga pelatih di sana ngga liat bakatnya" terang Devano.


"kapan tandingnya"


"Sabtu depan jam 4 sore" jawab Devano sambil melihat Mega yang wajahnya penuh dengan kebimbangan. Mungkin gadis itu ingin datang melihat pertandingan dan sekaligus bisa melihat Tirta. Tapi Mega juga bimbang dia tidak ingin hatinya bergejolak lagi ketika melihat Tirta . Sudah lama ini hatinya di tata kembali dan ingin move on tapi tidak bisa di pungkiri juga bahwa hatinya juga rindu ingin melihat Tirta.


"sepertinya ada yang berubah fikiran" lontaran kalimat Devano membangunkan Mega dari kebimbangannya.


" gue mau memastikan aja kalau Lo bakal kalah" kalimat candaan itu membuat Devano langsung menyahut


"dewa langit ngga akan kalah". sambil melahap potongan kentang goreng terakhirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2