
"kkkrriiiinnngg....". Jam istirahatpun bunyi.
Di kantin sudah ramai dengan anak anak yang memesan snak dan minuman. Siswa siswi duduk bergerombol dengan teman dekatnya masing masing. Davikah lebih dulu sampai di kantin karena kelasnya yang dekat dengan kantin. Selagi menunggu Jeni datang ke kantin di sedotnya es jeruk yang ada di gelas plastik yang sudah di pesannya tadi. Davikah dan Jeni tidak satu angkatan , Jeni kelas XI sedangkan Davikah kelas X.
Dari tempat duduknya Davikah samar samar mendengar anak-anak lain sedang bergosip
"Gila cakep bener" ucap salah satu siswa
"Anak kelas XII" sahut siswa yang lain
"keren banget kek oppa oppa Korea" ujar yang lainnya.
Tak lama kemudian Jeni datang.
"Tebak gue punya berita apa?"
"mana gue tau"
"masa berita seheboh ini lo ngga denger sih"
"Berita apa sih?" tanya Davikah heran. memangnya berita apa sampai membuat seisi sekolah heboh.
"Lo ngga tau ada murid baru pindah"
"ooh... gue kira berita penting".
"Pentinglah, karena murid baru itu sepupu gue".
"seriusan?," Davikah baru tau kalau Jeni punya sepupu. Selama kenal Jeni rasanya Davikah tidak pernah melihat bahkan mendengar tentang sepupu Jeni itu.
"Yup, sebenernya gue juga baru tau. Tau sendiri kan sodara bunda tuh banyak banget dan tempatnya jauh jauhan. Cuman kemarin malem sodaranya bunda dateng kerumah sama anaknya itu"
"terus"
"beliau nitip anaknya ke gue, bilang suruh belajar yang bener jangan pacaran mulu biar lulus dengan nilai baik katanya" jelas Jeni
"Terus kenapa sepupu Lo pindah sekolah kalo udah kelas XII" Tanya Davikah penasaran.
"Ya mana gue tau, mungkin bandel pacaran mulu terus di pindahin deh kesini sama nyokabnya". jawab Jeni asal. "Udah ah mana mie ayam nya udah laper nih" gerutu jeni karena udah kelaparan.
"yaa iya gue pesenin". jawab Davikah lalu ke tempat pemesanan. Setelah selesai pesan Davikah balik ke meja tadi dan masih terus tanya tentang sepupu Jeni.
"Jadi sepupu lo itu cowok apa cewek?"
"Cowok" jawab Jeni sambil meminum es jeruknya "tapi sumpah ya dia cakep banget, andai bukan sepupu gue udah gue deketin tuh si Tirta" lanjut Jeni memuji sepupunya itu.
"jadi namanya Tirta" Davikah memastikan karena Jeni menyebut namanya sepupunya Tirta.
"Iya"
"oh, jadi tadi pagi siswa baru yang beli minum di STAN mba Kiki itu sepupu mbak Jeni " sahut mbak Kiki mendengar obrolan Davikah dan Jeni sembari mbak Kiki pemilik STAN mie ayam di kantin sekolah meletakan pesanan Davikah .
"Iya mungkin mbak" jawab Jeni ragu, kan Jeni ngga tau kalau Tirta tadi pagi kesini beli minum.
"ganteng, bagus anak e" suara medhog khas Jawa milik mbak Kiki. "Anak anak pada heboh memuji muji kegantengan sepupu e mbak Jeni" imbuh mbak Kiki dengan logat jawanya.
"ee..eehhmmm" Jeni hanya tersenyum. Lalu mbak Kiki kembali ke STAN mie ayam nya.
"sekeren apa sih sampai pada heboh" celetuk Davikah.
"ntar deh pulang sekolah gue kenalin, oh ya bahas pulang sekolah gue ngga bisa bareng lagi sama lo gue masih ada rapat OSIS belom kelar rapat tadi pagi"
"kebiasaan deh, lo itu siswi apa pegawai kantor sih rapat mulu perasaan" gerutu Davikah sebel pada sahabatnya itu karena akhir akhir ini Jeni sibuk banget dengan urusan OSISnya.
"Lo pengen tau rasanya ntar deh gue ajuin Lo jadi kadidat ketua OSIS gantiin gue" timpal Jeni menakuti sahabatnya itu, dia tau Davikah ngga suka hal hal ribet kek gitu.
"big No ,! Thanks " jawab Davikah cepat.
Di tempat lain di sekolahnya Devano...
"Jadi gimana Tante, ?? boleh ya Devan minta alamat Tante plis. Devan mau minta maaf ke Tirta". Devano masih berusaha mencari cari alamat Tirta dengan memepet terus ibunya Tirta.
" ya udah, karena kamu selalu nelfon tante. dan tante juga udah ngga tega sama kamu nanti alamat sekolahnya Tirta Tante kirim pesan aja."
"makasih Tan"
"selesaikan masalah kalian. Jangan berantem tante juga sedih lihat Tirta ngga ada temennya apalagi Tirta lebih sering di rumah ".
"iya tante Devan janji Devan akan perbaiki semuanya. Makasih ya tan". "tuuutthhh".
Devano menutup sambungan telfon itu.
"Gue harus kasih tau Megha kalo gue udah dapet alamat sekolahnya Tirta" Devano sudah tidak sabar rasanya ingin segera ketemu Tirta dan ngasih tau Megha kalau dia sudah tau di mana sekolah Tirta berada.
Lalu Devano mencari Megha ke kelasnya tapi tidak ada. "Megha di mana ya" tanya Devano ke salah satu murid cewek yang ada di kelas itu
__ADS_1
"oh sekarang jadwalnya Megha jaga UKS" jawab murid itu.
"thanks ya" jawab Devano sambil memainkan mata genit dan wajah karismatiknya yang membuat murid murid cewek di kelas Megha mengagumi. "aaaarrrrrgggggg, keren" sahut para cewek cewek sambil menatap kepergian sang dewa langit mereka.
Saat Devano membuka pintu UKS Megha segera bangun dari bangkunya bergegas ke arah pintu berjaga siapa tau ada yang luka.
"Devan, kenapa ada yang luka ?" tanya Megha mastikan sebagaimana mestinya seorang anggota PMR.
"ngga, gue kesini nyari Lo" jawab Devano sambil duduk di kasur UKS.
"ada apa"
"gue udah tau sekolahnya Tirta dimana"
"serius" terlihat secercah kebahagian di wajah Megha yang bisa di lihat oleh Devano.
"nanti pulang sekolah gue mau kesana, mau ikut?"
"mau" Megha menjawab dengan cepat.
"aku tau dan aku merasakan, cinta kamu adalah Tirta. Aku pastikan cinta kamu yang pergi dengan membawa separuh hati mu kembali dan menyatukan hatimu lagi. Tirta tunggu aku datang". Suara hati seorang Devano yang berjanji akan menyatukan Tirta dan Megha kembali karena kesalahannya.
Waktu menunjukan pukul 14.00 WIB waktunya anak sekolah menengah atas pulang...
Di koridor sekolahnya Davikah menunggu Jeni yang katanya mau mengenalkan dirinya dengan sepupunya .
"mana sih Jeni" gerutu Davikah yang ingin segera pulang karena otaknya sedang capek habis kuis matematika dan ingin segera istirahat. "kenapa sih jam terakhir harus matematika, bikin lesu aja" tambah gerutuan Davikah.
"vik" sapa Jeni
"Jen".
"Tirta kenalin, ini Vika yang gue ceritain tadi" Jeni memperkenalkan kedua anak manusia itu.
"Lo cerita apa ke sepupu lo tentang gue" bisik Davikah ditelinga Jeni.
"udah diem" jawab Jeni sambil menggumam.
" hai gue Tirta" Tirta mengulurkan tangannya.
"Vika, Davikah " Davikahpun menyalami tangan Tirta yang di ulurkan ke arahnya.
"vik, lo pulang bareng Tirta ya. Tirta tinggal sekomplek sama gue". Ya walaupun rumah Davikah dan Jeni beda komplek tapi searah dan ngga begitu jauh jarak waktunya kira kira 10 menitan.
"udah ngga papa kan juga searah, nih saran gue ya uang saku Lo buat ongkos taksi online simpen buat jajan biar irit dan anggep aja Tirta pengganti gue selama gue ngga bisa bareng sama lo"
"ngga ngga , gue ngga mau ngerepotin". Davikah tetap bersikokoh tidak mau pulang bareng Tirta.
"ngga papa . Jeni sepupu gue. Temen Jeni temen gue juga. Tadi Jeni juga udah cerita kalo ada rapat OSIS dia minta untuk sekalian nganterin lo pulang" Tirta mencoba memberi penjelasan ke Davikah agar Davikah mau pulang bareng dengannya.
"Tuh.. Tirta nya aja ngga papa koq, sana gih pulang..ya udah ya gue mau segera rapat nih daaahh"
"apaan sih Jeni" gerutu Davikah
"ayo mau pulang ngga" ajak Tirta menuju parkiran sekolah.Tanpa sepatah katapun Davikah akhirnya mengikuti Tirta menuju mobil expander hitam di parkiran sekolah.
"masuklah" Tirta membukakan pintu mobil untuk Davikah
"makasih" sambil malu malu dan sedikit menundukan kepalanya, Davikah masuk mobil itu.
Di dalam mobil di perjalanan pulang Davikah terdiam, masih tepukau dengan sikap sopannya Tirta ke dia "pake di bukain pintu segala lagi". Davikah mengagumi dalam hatinya. Dua remaja yang ada di dalam mobil xpander itu sama sama diam. Tirtapun fokus mengendarai mobilnya.
"makasih ya kak udah mau ngasih tumpangan buat pulang" Davikah mencoba memecahkan keheningan.
"iya sama sama" . jawab Tirta singkat.
"emm, kak Tirta kenapa pindah" tanya Davikah lagi
"pengen ganti suasana sekolah aja. siapa tau dengan pindah sekolah gue jadi lebih giat belajar dan lulus dengan nilai bagus". jelas bukan itu alasan utama Tirta pindah.
"ouuhhh.."
"terus lo sama Jeni temenan udah lama"
"iya".
"seberapa lama ?"
"sejak SD , sejak papaku meninggal Jeni yang selalu ada buat menghibur aku, memberikan support sistem". Davikah menceritakan betapa besar peran Jeni untuk dia ketika kehilangan papanya
"sori gue ngga tau" Tirta sedikit tidak enak karena mengingatkan Davikah pada papanya yang sudah meninggal.
"its ok"
Di waktu yang sama Devano dan Megha sampai di depan gerbang sekolah Tirta. Namun sayangnya sekolah sudah agak sepi tinggal beberapa murid yang masih tinggal. Jeni yang berada di parkiran sekolah melihat sosok murid yang tidak asing di matanya berada di depan gerbang sekolahnya dengan seragam sekolah yang berbeda dengan seragamnya. Ya seragam sekolah Jeni hari ini memakai batik dan rok abu abu sedangkan Devano dan Megha memakai seragam pada umumnya anak SMA. kemudian Jeni memutuskan menghampiri murid itu.
__ADS_1
"ehem... excuse me" Jeni berdehem sembari menghampiri Devano dan menatap Devano dengan seksama ingin memastikan bahwa wajah yang dia lihat itu benar wajah orang yang yang dia lihat dua minggu lalu. Ya orang yang mengendarai motornya ngambang di tengah jalan.
"eh lo kan yang waktu itu kan, temannya vika" Ternyata Devano juga masih ingat dengan Jeni dan Devanopun masih ingat dengan nama Vika.
"ternyata bener ini Lo". timpal Jeni sambil menunjuk Devano.
"iya, Vika mana" Devano menanyakan Davikah karena yang dia lihat hanya Jeni.
"Vika udah pulang duluan. oh jangan jangan Lo kesini mau nyari Vika ya?" Jeni memicingkan satu matanya tandanya dia curiga.
"ya elah mana gue tau Lo sama Vika sekolah di sini. gue kesini nyari temen gue".
"temen lo? jam pulang sekolah udah lewat satu jam lalu mungkin temen lo juga udah pulang. di sini cuma tinggal beberapa murid aja itu semua juga anggota OSIS"
"ohh gitu ya. yaahh". terlihat raut wajah Devano agak kecewa.
"emang siapa nama temen lo. siapa tau gue kenal dan bisa bantu". Jeni iba melihat kekecewaan di raut wajah Devano.
"ngga usah , makasih . kapan kapan gue sini lagi". Devano tidak mau menyebut nama Tirta dia tidak mau mempekeruh masalahnya dengan Tirta. lebih baik dia sendiri yang bertemu dengan Tirta tanpa perantara orang lain.
"emmm... ya udah". Jeni pun tidak mau memaksa Devano.
Megha yang masih fokus mencari Tirta sesekali melihat Devano dengan Jeni yang akrab padahal ini di tempat lain. Meghapun tidak heran kalau Devano mudah banget akrab dengan cewek dimana ada Devano pasti ada cewek yang menghampiri. "dasar devan..." umpat Megha dalam hati melihat Devano dan Jeni yang akrab. "apa mungkin di sini Tirta sudah punya cewek, apa mungkin Tirta seperti Devan yang di manapun berada pasti ada cewek di sekelilingnya" . Fikiran seorang Megha yang selalu menyakiti hatinya.
"yaudah, kalo gitu gue cabut ya" Devano berpamitan kepada Jeni karena orang yang di cari tidak ada.
"ya udah gue juga mau balik kedalam ambil mobil terus pulang" sembari balik ke parkiran Jeni mencuri pandang melihat Megha yang fokus mencari seseorang.
"Tirta udah pulang" Devano memberi tau Megha bahwa usaha mereka kali ini nihil.
"kata cewek tadi"
"iya, kita terlambat satu jam. mereka sudah pulang dari satu jam lalu."
"ya udah ngga papa, tadi juga kita kan masih nyari nyari jalan". Megha mencoba memahami keadaan walaupun dia juga kecewa karena tidak bertemu Tirta.
"ya udah ayo pulang"
"iya"
Sedangkan dari tempat parkir, Jeni masih mengawasi Devano dan Megha. Setelah memastikan Devano dan Megha pergi berboncengan naik motor Jeni pun langsung masuk mobilnya dan pulang. Diperjalanan pulang Jeni masih penasaran siapa teman yang di cari Devano. "terus siapa cewek cantik dan seksi tadi ?? apa mungkin ceweknye devan" .
Malam harinya sekita pukul 19.00 Davikah yang sedang bersenandung kecil di meja belajarnya sambil memainkan smartphone scrolling sosial media miliknya.
"jegrek" suara pintu kamar Davikah terbuka tentu saja itu adalah Jeni.
"Vik, tebak tadi siang gue ketemu siapa" Jeni yang baru saja datang di kamar Davikah tidak sabar ingin segera cerita apa yang dia lihat tadi siang
"ketemu jisoo black pink ?" jawab Davikah asal.
"lebih dari jisoo black ping"
" all artis YG entertainment".
"iihh apaan sih" Jeni mulai sebel sama jawaban temannya itu.
"ya terus apaan, katanya lebih dari jisoo". Davikah menertawakan Jeni yang sebel terhadap jawabannya."hahaha jangan manyun gitu dong, emang ketemu siapa sih".
"serius ni.., tadi siang pas gue mau pulang abis rapat OSIS . gue ketemu Devan"
"wait, Devan ? Devano ?" Davikah memastikan.
"yup".
"ngapain dia kesekolah kita. haaa jangan jangan dia mau nuntut kita lagi?" Davikah mencoba menyambungkan kejadian kecelakaan itu.
"bukan. katanya dia nyari temennya, tapi ni ya dia ngga sendiri. Dia sama cewek"
"sama cewek ?? pacarnya mungkin"
"keknya bukan deh. soalnya cewek itu juga lagi nyari. malah cewek itu lebih fokus dan antusias nyarinya kalaupun itu ceweknya pasti udah di kenalin juga kan ke gue".
"terus kenapa Lo ngga nanya siapa nama temennya Devan. siapa tau kan Lo bisa bantu"
"gue udah nawarin diri tapi dia ngga mau ngasih tau namanya".
"kenapa juga dia mempersulit diri sih. jaman sekarang kan udah canggih, ada nomor telfon, ada berbagai macam sosmed. ya kali masih nyari nyari di tempat lokasi. kan bisa tuh langsung kirim pesan lewat jaringan internet".
" ya tadi gue mikirnya juga gitu. tapi feeling gue nih ya. mungkin temannya itu lagi menon aktif kan semua sosial medianya. jadi susah untuk di hubungi".
"bisa jadi sih dan satu lagi pasti ada konflik di antara Devan , cewek itu dan sama teman yang lagi di carinya itu".
Mendadak Davikah dan Jeni menjadi detektif yang menganalisa masalah Devano.
***
__ADS_1