Gairah Remaja Jaman Now

Gairah Remaja Jaman Now
Episode 2 - Broken Friendship -


__ADS_3

Sementara di kantin anak anak heboh melihat perkelahian antara dua sahabat itu. Mereka tidak pernah menduga Devano dan Tirta yang seakan akan seperti anak kembar itu bisa berkelahi karena cewek. Bukankah seharusnya mereka tidak perlu memperebutkan seorang cewe, mereka tinggal tunjuk cewek yang seperti apa yang mereka mau. Tapi itulah yang namanya hati manusia Tuhan lah yang maha membolak balikan hati hambanya, tidak ada yang tau dengan siapa kita akan jatuh cinta. manusia hanya bisa merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.


Devano yang masih tidak percaya dengan perkelahian itu dan masih duduk di bangku kantin mendengar beberapa siswa siswi membicarakan mereka ( Devano, Tirta dan Megha) .


" seetthh tadi Tirta manggil nama siapa ?"


"Megha, anak kelas X angkatan tahun ini"


"Hebat bener Megha ini bisa buat dua dewa langit kita berkelahi"


"duh apa cantiknya Megha sih ? cuma modal ramah sama rambut lurus yang selalu tergerai itu"


"semoga saja mereka kembali akur ya"


dan bla.....bla.....bla.....lainnya yang terdengar di telinga Devano. Namun ada satu kalimat murid yang terdengar di telinga Devano bahwa Tirta masuk ruang guru meminta surat pindah sekolah. Bergegas Devano menuju ruang guru dan bertepatan Tirta keluar dari pintu ruangan tersebut.


"Dasar lo banci ! masalah begini aja lo lari haa" . Umpat Devano pada Tirta


"Devan, lo sendiri kan yang bilang Megha itu beda dia ngga di buat buat dan apa adanya. Itu tandanya lo juga jatuh cinta padanya. Tapi bedanya gue menyadari itu dan lo ngga"


Tirta menunjuk dada Devano lalu pergi.


" Fine !!! kita lihat siapa yang sebenarnya benar benar jatuh cinta, lo atau gue. Sejauh kemanapun lo pergi jika lo memang cinta sama Megha lo ngga akan bisa lupain dia". Dada Devano memanas hingga dia bicara dengan nada tinggi ke arah Tirta yang berlalu membelakanginya. Sampai sampai Bu Rahma ikut keluar karena ada teriakan di luar ruangannya.


" Ada apa ini Devan ? kenapa teriak teriak ?".


"oh maaf Bu, hehehe" . sambil mengusap ngusap kepala belakangnya dan tersenyum lebar. sementara Bu Rahma hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.


" Saya permisi ya Bu" . Ucap Devano.


Sebenarnya Devano kesal Tirta tidak mau mendengarkannya dan memilih pergi. Dia sangat merasa kehilangan sahabatnya , Devano paham apa maksud Tirta secara tidak langsung Tirta menitipkan Megha pada nya. Tapi jika bisa memilih Devano pasti ingin Tirta tetap satu sekolah dengannya dan tidak mengenal Megha lagi. Devano paham dengan perasaannya, dia menyukai Megha iya hanya sebatas suka tapi tidak sampai jatuh cinta. Devano yakin pasti suatu saat dia akan jatuh cinta pada gadis yang yang benar benar membuat hatinya bergetar dan berdetak kencang.


Di perjalanan pulang sekolah , Devano mengendarai motornya dengan sangat pelan. Padahal motor Devano adalah jenis motor yang di design untuk ngebut tapi ntah kenapa remaja satu ini seperti memikirkan sesuatu. Ya tentu saja tragedi satu hari ini memenuhi isi kepala Devano , mulai dari dia nembak cewek yang ternyata cewe itu adalah gebetan ah salah tapi sudah resmi menjadi pacar Tirta bahkan dia menyiumnya di depan Tirta. "ah bodoh sekali gue". gumam nya dalam hati. Dan belum lagi dia harus berkelahi dengan Tirta sahabatnya bahkan Tirta pun sampai pindah sekolah. Dia benar benar kehilangan temannya. Tidak ada lagi teman main basket, tidak ada lagi teman main footsal tidak ada lagi teman buat bahas gadis gadis cantik, tidak ada lagi teman main Game bareng. Karena mereka berdua adalah sama sama anak tunggal pasti saling melengkapi . Ah... benar benar satu hari yang melelahkan...


Sementara dari arah yang berlawanan ada mobil Honda jazz kuning di dalamnya ada dua cewek pelajar . Keduanya panik karena motor yang ada di depannya mengambang di tengah tengah jalan.


"eh itu motor kenapa ngambang di tengah jalan sih" gerutu salah satu pelajar yang menyetir Honda Jazz kuning tersebut.


"kita sesuai jalur kita aja Jen, pelan-pelan , pelan-pelan"


" Duh ngga bisa itu motor semakin ke arah kita"


dan...

__ADS_1


"Braaaakkkk...." Jeni dengan sigap menginjak rem agar yang terjadi tidak lebih parah lagi.


"Aaaarrrrrgggggg....."


dengan bersamaan dua pelajar cewek itu teriak , yang satu menutup matanya yang satunya lagi yang menyetir memeluk setir mobilnya dan kakinya yang masih menginjak rem.


"Mati tu cowok" Jeni dengan panik melontarkan kalimat yang menakutkan bagi teman sebelahnya...


"haaa apa iya....!!" teman sebelahnya makin panik mendengar kata kata Jeni.


Jeni melihat temannya masih menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya itu. Jeni sangat paham bahwa teman yang ada di sebelah nya itu tidak bisa melihat kekerasan apa lagi melihat darah . Ya dia adalah Vika , nama lengkap nya Davikah Putri Ayu. Dia adalah tokoh utama di cerita ini, Vika berteman baik dengan Jeni sejak SD. Orang tua mereka juga saling kenal malah sudah menganggap seperti keluarga sendiri. Sejak kecil karena Davikah adalah anak yang takut dengan darah maka dia tidak mau bermain yang kasar yang menyebabkan luka. Sejak bersekolah dasar dan mengenal Jeni dan mulai masuk SMP sampai SMA sekarang Vika selalu nebeng atau lebih tepatnya selalu ikut Jeni kalau pergi ke sekolah. Masalah lainnya Vika tidak bisa nyetir mobil sendiri maka dari itu Vika selalu nempel pada Jeni. Untunglah itu tidak masalah untuk Jeni . Jeni memang benar benar teman yang super baik untuk Vika yang terlalu takut dengan hal hal seperti luka.


Kembali pada kepanikan Vika dan Jeni


"Harusnya ngga mati dong kita kan sama sama pelan" Jeni mencoba menenangkan pikirannya.


"Vika buka dong mata lo, kita keluar lihat kondisi orangnya. Jangan sampai orangnya marah marah lalu nuntut kita" . gerutu Jeni pada Vika


"Ah iya ayo Jen" Jawab Vika setelah membuka mata dan tangannya.


"maaf mas maaf, mas ngga papa kan" Tanya Jeni.


Lalu orang yang terjatuh dengan sepeda motornya tadi membuka helmnya


"Ngga papa koq, mungkin hanya lecet di bagian siku. lagian gue juga yang salah nyetir sambil ngelamun" ucap Devano menenangkan kepanikan Jeni.


"Apa perlu kita bawa mas ke rumah sakit" tanya Davikah memastikan tidak ada darah yang keluar dari tubuh laki laki itu.


"ngga perlu nanti gue obatin sendiri di rumah" jawab Devano enteng.


Tiba tiba saja HP yang berada di saku kemeja Jeni berdering ada panggilan dari mamanya, sontak Jeni segera mengangkat panggilan itu.


"halo... ya bund ?" Jeni memanggil mamanya dengan sebutan bunda.


" Jen kamu koq belum dateng juga, bunda udah satu jam lebih nungguin kamu di bandara loh".


Bundanya Jeni baru pulang dari Banjarmasin menengok keluarganya yang ada di sana. karena Jeni masih ada sekolah dan Jeni adalah ketua OSIS jadi dia lebih mengutamakan sekolahnya ketimbang ambil libur buat ikut bundanya ke Banjarmasin.


"Ah iya bund maaf , ini ada masalah sedikit. sebentar lagi Jeni nyampe. sabar ya" karena Jeni udah janji sama bundanya untuk jemput saat pulang maka Jeni harus jemput dong. toh Devano juga bilang dia ngga papa juga ngga perlu di bawa ke rumah sakit.


"udah ya bund Jeni tutup dulu telfonnya" di putusnya sambungan telfon itu.


"Bunda udah nungguin ya Jen" tanya Davikah karena dia tau bundanya Jeni pulang dari luar kota dan karena sudah kenal sangat lama Davikah pun memanggil mamanya Jeni dengan sebutan bunda juga.

__ADS_1


" Iya nih , Vik lo gue tinggal ngga papa kan. Mending lo ngga usah ikut, takutnya lo keceplosan bilang soal kecelakaan ini. lo kan gk bisa bo'ong, gue pesenin taksi online deh "


terang Jeni, karena dia tau sahabatnya ini tidak suka memberi alasan bohong dan bundanya yang suka panik berlebihan.


" udah ngga perlu, nanti gue pesen sendiri. buruan gih nanti bunda kelamaan nunggu loh, soal mas ini biar gue yang urusin" terang Davikah


"ya udah gue pergi ya" Jeni berpamitan dan meminta maaf pada Devano "sekali lagi maaf ya mas" Jeni meminta maaf sambil menyatukan tangan di depan badannya.


"tenang aja . lagian gue juga ngga papa" jawab Devano


Setelah Jeni pergi meninggalkan Davikah dan Devano untuk menjemput bundanya, Davikah segera mengubek ubek tas selempangnya yang berwarna kuning menggantung di samping pinggulnya dan akhirnya barang yang dia cari ketemu yaitu plester luka dengan motif bulan bintang. Devano hanya melihat apa yang di lakukan Davikah , sambil duduk di pinggiran jalan untung saja ada pohon rindang bisa untuk berteduh.


"buka jaket mas. biar saya lihat siku mas yang luka" perintah Davikah dan Devano pun hanya menurut saja.


" oh mas masi pelajar" Davikah melihat seragam yang di pakai Devano adalah seragam sekolah .


"iya memangnya kenapa ? kamu sama temen kamu juga masih pelajar kan. oh ya jangan panggil gue mas. Gue bukan mas mas pedagang bakso jangan terlalu formal formal amat kita seumuran" protes Devano karena sejak tadi Jeni dan Davikah manggil dia dengan sebutan Mas. Namun Davikah tidak merespon gerutuan Devano , dia fokus membersihkan siku Devano yang sedikit lecet dengan tisu basahnya lalu menutup dengan plester luka. Setelah selesai apa yang dilakukan Davikah kemudian Devano mengenakan jaketnya lagi.


"Lo beneran ngga papa kan?. kalo begitu gue udah boleh ninggalin Lo kan?" tanya Davikah memastikan dengan bahasa seumuran mengabulkan gerutuan Devano.


"Lo mau ninggalin gue dengan jalan kaki ??? " pertanyaan konyol Devano .


"ngga lah gue mau pesen taksi online" sambil mengambil HP yang ada di dalam tas slempangnya.


"boleh gue anter lo pulang ?"


"haa ?? ngapain" tanya Davikah kaget masa orang yang baru mengalami kecelakaan mau mengantarnya pulang.


"nganterin lo pulang" tegas Devano


" No , Thanks". Dengan cepat Davikah menjawab.


"gini, anggep aja rasa terimakasih gue karena Lo udah ngobatin luka gue dan Lo udah tanggung jawab, tenang aja gue beneran ngga papa dan masi oke kalo masalah nyetir motor, dan motor gue masi bisa jalan koq gue jamin ngga akan mogok" . Terang Devano


Davikah berpikir untuk kedua kalinya, ada untungnya juga ada yang nganterin, jam jam segini kan taksi online susah apa lagi ini jalur yang sepi pasti taksi online pada jauh dari lokasi ini.


"ok, tapi beneran kan lo ngga papa, nanti kalo di tengah perjalanan terjadi sesuatu Lo gue salahin ya".


Sedangkan di tempat lain yang terjadi pada Megha...


Di kamarnya Megha terngiang ngiang dengan kalimat yang di lontarkanTirta tadi siang pada nya


"aku suka sifat lembut kamu, aku juga suka jiwa penyayang kamu. Tapi yang ngga aku suka dari kamu, kamu udah mempermainkan dua orang teman".

__ADS_1


Ya, Megha memang salah, bahkan sangat salah. Dia telah hadir di antara Devano dan Tirta, ia juga telah memotong tali persahabatan mereka. "Besok gue musti minta maaf ke Devan" bicaranya dalam hati. Sesekali Megha melihat smartphone nya siapa tau Tirta membalas chat nya namun nihil tak ada satupun pesan yang di balas Tirta. Lagi lagi Megha melinangkan air matanya menyesali apa yang telah dia perbuat. Sebenarnya Megha sedikit meragukan Tirta saat mereka masih menjalin hubungan. Ya seperti yang kita tahu Tirta tidak suka mengumbar hubungannya seperti Devano. Itulah sebabnya sedikit keraguan terpendam di hati Megha, gadis itu selalu over thinking terhadap Tirta . Dia pikir Tirta memiliki banyak cewek mangkanya hubungan mereka di tutupi. Namun kenyataannya tidak kan? cuma Megha cewek satu satu nya yang di miliki Tirta. Bahkan rasa cinta yang begitu besar di mata Tirta bisa di lihat oleh Megha siang kemarin saat Tirta begitu marahnya ke Megha. Kini menyesalpun tidak ada gunanya, Tirta pun sudah pindah sekolah tidak tau dia pindah kemana. Rasanya Megha ingin mencari Tirta dan minta maaf dengan tulus jika tidak rasa bersalah yang memenuhi dadanya tidak akan pernah lepas.


***


__ADS_2