Garis Takdir Hidupku

Garis Takdir Hidupku
Bertemu kembali


__ADS_3

Di pagi yang sejuk aku berjalan setelah dari apotek kearah supermarket untuk membeli keperluan dengan uang tips semalam saat mengantarkan minuman.


"Sisa 310 ribu syukurlah masih sisa banyak," ucapku berjalan kearah rak makanan siap saji dan membeli buah sedikit.Hari sudah menunjukkan pukul 11.03 siang matahari sudah mulai terik hingga beberapa kali aku menyeka keringat di keningku saat berjalan menuju kontrakan aku tak sengaja melihat ibu hamil yang meminta-minta di depan restoran mungkin ibu itu lapar gegas ku hampiri ibu itu.


"Bu ibu kenapa minta-minta disini?" tanya ku sembari menarik tangannya duduk di kursi taman terlihat ibu itu sesekali menyeka air matanya.


"Ibu kenapa?" tanyaku sekali lagi


"Saya lapar dek mau makan tapi ga punya uang mana saya lagi mengandung," ucapnya kembali menangis


"Ya sudah ibu jangan nangis," ucapku menghapus air matanya pelan


"Ibu mau ikut saya ke kontrakan," ajak ku lalu di beranjak sembari menarik tangannya pelan.


"Makasih ya dek semoga Tuhan membalas kebaikan adek,"


"Sama-sama buk," jawabku tersenyum lalu kami berjalan menuju kontrakan


"Adek siapa namanya?"


"Lodiya Delborad buk panggil aja Loly,"


"Oh Loly kenalkan ibuk Seila,"


"Loly panggil mbak aja ya buk soalnya mbak ini masih muda," ucapku terkekeh


"Ah iya dek gapapa,"


"Loh nak ini siapa?" tanya Bu Lorisa


"Kenalin Ma ini mbak Seila," jawabku terlihat Mama melihat mbak Seila sambil tersenyum


"Ma boleh ga mbak Seila tinggal disini aja tadi Loly lihat mbak Seila minta-minta di depan restoran kasihan ma mana mbak Seila lagi hamil," bisik ku pelan


"Oh nak Seila kenalkan ibu mama nya Loly," ucap Mama sembari menarik tangan mbak Seila pelan masuk kedalam


"Nak Seila mandi dulu ya terus makan," ucap Mama lalu memberikan dasternya


"Ya sudah ibu saya permisi mandi," ucapnya sambil memintaku mengantarnya ke kamar mandi.Kini kami semua makan siang dengan menu seadanya sambil bercanda.


"Nak Seila jangan panggil saya ibu lagi ya," ucap Mama


"Maaf tapi saya harus panggil apa Bu kalau bukan ibu," jawab mbak Seila menunduk sedih


"Panggil mama aja ya kamu udah saya anggap seperti anak sendiri," ucap Mama melirik kearahku


"Iya mbak Loly bahagia banget kalau mbak mau jadi mbaknya aku," ucapku memeluknya


"Makasih ya ma dek udah mau nerima mbak disini maaf kalau mbak merepotkan,"


"Ga mbak malah Loly seneng ada mbak disini jadi kalau Loly kerja kan mama ga sendiri,"


"Iya mama kadang bosan sendiri dirumah,"


"Oh iya mbak ayahnya anak mbak kemana?" ucapku melirik kearahnya terlihat mbak Seila menangis aku langsung memeluknya mungkin ini lah alasan mbak Seila minta-minta.


"Maaf ya mbak Loly ga maksud buat mbak sedih,"


"Gapapa Ly sebenarnya mbak diperkosa,"


"Ha gimana bisa mbak terus dimana kejadian itu?"


"Sekitar enam bulan yang lalu dek sewaktu mbak pulang kerja,"


"Yang sabar mbak pasti mbak kuat buktinya sampai sekarang mbak masih sehat,"


"Iya nak yang sabar Tuhan tidak mungkin menguji manusia diluar batas kemampuannya,"

__ADS_1


"Iya ma dek pasti aku kuat setidaknya untuk anak ku,"


"Terus orang tua Kakak dimana?"


"Ibu dan ayah udah meninggal dek itulah kenapa mbak harus kerja,"


"Mbak punya rumah sendiri pastinya kan terus kenapa mbak bisa disana tadi?"


"Rumah mbak dijual sama paman mbak dek jadinya mbak ngontrak pas tetangga tau mbak hamil mereka ngusir mbak,"


"Udah nak ada mama sama Loly sekarang Seila anaknya mama,"


"Makasih ya ma dek,"


Pukul 20.00 malam aku berangkat ke club malam tempat ku mencari pundi-pundi uang.


"Semoga hari ini banyak yang ngasih aku tips,uangnya bisa modal lahiran mbak Seila sama uang obat Mama bulan depan," batinku sebelum melangkah masuk.Tiba-tiba aku melihat perempuan yang menangis sambil berlutut di kaki seorang pria dimana harga diri perempuan itu sampai sebegitunya memohon agar dicintai.Detik berikutnya pria itu melangkah cepat sontak saja perempuan itu terseret dan menjadi pusat perhatian semua tamu yang hadir gegas aku berlari dan menghampirinya membantunya berdiri.


"Mbak ga papa?"


"Lepas! jangan pegang-pegang saya dasar pelayan ga tau diri!"


"Pergi!" lanjutnya.Sontak aku berdiri karena dibentaknya bukannya ber terimakasih aku malah dapat caci-maki udahlah orang miskin memang tak seharusnya berada didekat orang kaya.


"Cih menjijikkan," ucap pria itu menarik tanganku menjauhi kerumunan aku yang terkejut hanya bisa diam.


"Kenapa pria ini menarik ku siapa dia," batinku bingung karena sedari tadi aku terus saja menunduk


"Eh suara ini bukannya ini suara tuan yang bantu aku hari itu?" Lirihku pelan


"Dave daaaaaaave tunggu jangan pergi," teriak wanita yang memaki ku tadi.Namum tuan ini terus saja menarik tanganku menuju mobilnya dan pergi menjauhi club malam masih saja perempuan itu berlari mengejar mobil yang semakin jauh.


"Eh maaf tuan kemana anda membawa saya,saya harus bekerja tuan tolong berhentikan mobilnya," ucapku menggoyang lengannya pelan


"Diamm!" aku terkejut mendengar teriakannya langsung diam dan menunduk sambil menangis pelan.


"Maaf maaf kan aku,aku tak bermaksud membetakmu," ucapnya melirik ku dan kembali fokus menatap jalanan


"Diamlah kita akan segera sampai," dan benar mobilnya berhenti di depan bangunan empat lantai mewah.


"Ayo turun,"


"Eh saya mau dibawa kemana tuan tolong jangan apa-apakan saya," dia hanya diam menarik kembali tanganku menuju bangunan mewah itu.Disana banyak orang kurang lebih 15 pelayan dan juga yang berjaga didepan pintu menyambut kedatangan kami ah ralat bukan kami lebih tepatnya tuannya.


"Bibi ratih bantu nona kalian siap-siap," ucapnya melepaskan tanganku


"Ayo mari nona," ucap ibu paru baya yang memakai pakaian pelayan yang peling berbeda menurutku ibu ini mungkin ketuanya.


"Eh bi saya mau di bawa kemana,"


"Tenang nona,nona hanya perlu mengikuti perintah tuan muda,"


"Eh bi saya ga kenal siapa tuan kalian jadi tolong saya mau kembali saya harus kerja," ucapku lirih menahan tangis karena suara bariton itu kembali terdengar di depan pintu


"Bi tinggalkan kami berdua kembali jika aku memanggil,"


"Iya tuan muda saya permisi," melihat punggung ibu paru baya semakin hilang dibalik pintu aku langsung bergidik ngeri.


"Menurutlah kucing kecil jangan melawan," ucapnya mendekat dan mengelus kepala ku lembut


"Tuan saya mohon saya harus kembali bekerja saya harus mencari uang untuk mbak dan juga mama saya," ucapku menangis


"Sudah diam jangan menangis masalah mbak dan mama kamu biar Reiyhan yang ngurus kamu tenang aja," ucapnya duduk di sisi ranjang


"Maksud anda apa ya tuan saya ga ngerti," ucapku pernah tanya


"Sini duduklah," ajaknya menepuk kasur di sampingnya

__ADS_1


"Makasih tuan tapi saya berdiri saja,"


"Jadi begini papi saya sedang sakit dan dia meminta saya untuk menikah_"


"Lalu hubungannya dengan saya apa ya tuan?"


"Saya belum selesai bicara,"


"Ah iya tuan maaf,"


"Nah jadi saya ingin meminta kamu jadi istri saya nanti saya akan memberikan tempat tinggal yang layak untuk keluarga kamu dan menanggung segala kebutuhan Mama dan mbak kamu juga biaya pengobatan sampai Mama kamu sembuh jadi kamu tidak usah kembali lagi bekerja di club malam itu.Jadilah istri yang baik dan penurut itu saja sudah cukup,"


"Kenapa harus saya tuan?"


"Saya ingin kamu,"


"Maaf tuan tapi saya ga bisa maaf,"


"Kenapa kamu tidak bisa coba pikirkan lah lagi dimana kamu akan dapat uang untuk pengobatan mama kamu lahiran mbak kamu dan juga bayar uang kontrakan," jelasnya panjang lebar seolah tahu semua masalah hidupku tapi emang benar.


"Apa aku terima ya tapi kan aku belum mengenalnya," batinku


"Saya beri waktu seminggu untuk kamu berpikir,"


"Hm iya tuan saya akan pikirkan,"


"Ya sudah ayo saya akan antar kamu pulang,"


"Hari ini boleh gagal membawa kucing keciku ini ke rumah papi,tapi tidak untuk lain kali,"batin Dave


Sentengah jam diperjalanan akhirnya sampai di depan kontrakan rasanya seperti mimpi pria sesempurna dirinya ingin aku menjadi istrinya.


"Terimakasih banyak tuan anda sudah mengantar saya,"


"Ini ambillah," ucapnya menyodorkan paper bag yang entah apa isinya


"Apa ini tuan?" tanya ku bingung


"Ponsel pakai itu disana sudah ada nomor ponselku dan ingat jangan pergi bekerja ke club malam lagi mengerti," ucapnya sebelum berlalu menggunakan Lamborghini berwarna hitamnya.Saat sampai di dalam kontrakan aku dikejutkan dengan semua barang-barang baru.


"Loh mbak ini semua dapat dari mana?"


"Oh ini kata bapak tadi pacar kamu yang antar,"


"Emang benar pacar kamu yang belikan ini semua Ly dan juga perlengkapan dapur sudah sampai bulan depan juga ponsel dan baju baru," aku mengerti pasti ini tuan itu yang memberikannya


"Ah iya ma,"


"Kenapa ga kasih tau mama kalau kamu udah punya pacar dan mau menikah?"


"Ha darimana mama tau," batinku


"Iya dek kok ga cerita-cerita dan ya satu lagi mbak juga ga perlu lagi pusing ngumpulin uang untuk melahirkan dek pacarnya kamu udah siapin semuanya,"


"Ah iya ma kak syukur kalau gitu ya udah Loly mau mandi," ucapku berlalu setelah selesai aku mengambil ponsel dan berniat menghubungi tuan itu yang entah aku lupa siapa namanya belum sempat mencari kontak nya ternyata ada yang menelpon dengan nama suamiku yang tampan.


"Ha apa-apaan tuan ini seenaknya saja suami-suami bahkan aku belum berniat mau menikah atau tidak dengannya," batinku lalu mengangkat telpon darinya


"Halo,"


"Kenapa lama sekali dari mana saja kamu?"


"Ah iya tuan maaf aku tidak dari mana-mana," jawabku


"Oh ya sudah besok saya jemput kamu untuk ketemu papi nanti akan saya kirim baju untuk kamu,"


"Loh loh tuan saya kan belum jawab main ngajak ketemu papi tuan aja," jawabku jengkel

__ADS_1


"Aku udah tau jawabannya jadi sekarang tidurlah jangan sampai kamu kurang tidur selamat malam," ucapnya mematikan sambungan telepon sebelum aku menjawabnya.Memang benar aku akan menerima tawarannya ya sudah tidur semoga ini bukan mimpi.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 🥰


__ADS_2