
Dalam penglihatan orang aku terlihat normal dan wajar. Sebenarnya tidak. Aku bukan anak yang normal-normal saja. Masa kecilku biasa seperti anak-anak yang lain bermain dan bercanda. Aku mempunyai ruang sendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Setiap pulang sekolah, aku lebih suka berada di kamarku yang sangat sempit berukuran 2 x 2,5 m, karena aku bisa bercerita dengan sahabat tidak terlihat, hanya aku yang bisa mendengar suaranya. Aku tidak pernah melihat wujudnya aku hanya mendengar suaranya menimpali semua pertanyaanku semua perkataanku.
Temanku itu seumuran denganku, kata bapak jika aku ingin melihatnya sebelum tidur aku harus membayangkannya atau meminta dia datang dalam mimpiku dan jika aku sudah bertemu dengannya aku harus meminta tolong atau meminta apapun kepadanya.
Sebelum tidur aku mengharapkannya datang dalam mimpi, dalam mimpiku aku bertemu gadis sama sepertiku sangat mirip dan kami memakai baju yang sama kami bagaikan pinang dibelah dua sangat kembar sangat persis dan aku merasa dia adalah diriku aku hanya meminta tolong kepadanya untuk membantu saat ulangan dan benar setiap ulangan selalu ada bisikan-bisikan yang memberi aku jawaban dari soal yang diberikan oleh guru bukan berarti aku atau tidak jujur ya, bagiku Aku hanya ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh bapakku adalah benar. Setelahnya Aku tidak pernah lagi meminta tolong kepadanya untuk membantuku saat ulangan sampai aku SMA, tetapi dia selalu datang saat aku ulangan dan selalu memberiku petunjuk saat aku tersesat diperjalanan ataupun jika aku mendapatkan masalah.
Aku tinggal di kampung dimana setiap remaja tergabung dalam organisasi remaja masjid. Malam itu kami mengadakan rapat dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam tidak ada yang mengantarkanku pulang sementara untuk rumahku harus melewati tanah kuburan yang lumayan panjang. Bersama temanku hanya berdua dari kejauhan setelah keluar dari pintu gerbang masjid beberapa meter darinya kami melihat sesosok manusia sedang berjalan menuju ke arah kami dan dia berada di depan kompleks kuburan dengan bayangan yang gelap karena sangat malam dan temanku berkata,
“Udah jangan takut, ada orang di situ kamu akan ada yang menemani”.
Rumah temanku sebelum kuburan dan dia akan belok kanan menuju rumahnya sementara aku harus lurus dan melewat kompleks tanah perkuburan menuju rumahku.
“Iya ada orang, aku tidak takut”, jawabku
Temanku berbelok ke rumahnya, dan aku melanjutkan langkahku. Sesampainya ditempat orang yang tadi kami melihatnya, aku tidak siapapun. Di situ terdapat batu hitam yang sangat besar dan sampai sekarang masih tetap ada. Letak batu hitam itu tepat di depan pintu masuk kompleks tanah kuburan.
Karena sendiri aku hanya berkata dalam hati. “Tidak ada siapa-siapa lalu siapa tadi yang berjalan ke arah kami”, bisikku dalam hati.
Dan anehnya tidak lama berselang, ada orang mengendarai sepeda di sampingku dia bertanya “Mau ke mana Mbak ?”
__ADS_1
“Aku mau pulang”, jawabku.
“Sendiri?”, tanyanya lagi.
“Iya tadi ada teman, cuma dia sudah pulang, tadi juga ada orang cuma nggak kelihatan”, jawabku.
“aku temani ya,” katanya.
Sambil jalan aku bertanya dia dari mana dan mau kemana. Dia juga mau pulang ke rumahnya. Aku benar-benar tidak berfikir ada orang pulang jam 12 malam.
Sesampainya di depan rumah, aku mengucapkan terimakasih dan saat aku menengok dan ingin melihat melihatnya, tidak ada siapapun di situ harusnya dia terus berjalan lurus melewati rumah. Dengan terburu-buru aku masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamar. mungkin mereka memang dikirim untuk menemani ku pulang ke rumah.
Setiap malam aku tidak pernah absen sholat tahajud. Aku suka membawa air dalam ember untuk wudhu di dalam kamar agar aku bisa tetap sholat tahajud. Aku takut hantu. Setiap mau wudhu bulu kudukku selalu berdiri, seperti banyak bayangan yang mengikutiku, dari yang perempuan, sampai yang lelaki. Aku hanya anak kecil yang ingin sholat tahajud. Karena jika tidak sholat tahajud aku akan sangat merasa sedih.
Malam itu sangat dingin, aku lupa membawa air ke dalam kamar. Pintu kamar sudah kukunci rapat. Aku terbaring dan terlelap dalam peraduanku yang hanya muat satu badan. Samar aku mendengar suara lelaki memanggilku,
“Bangun…sholat!”, katanya.
Setengah terpejam, aku melihat bayangan hitam lelaki setinggi bapakku dan suaranya juga suara bapak.
__ADS_1
“Iya…”, jawabku.
Ternyata aku tertidur lagi dan terbangun saat subuh menjelang dengan pintu kamar masih terkunci rapat.
“Siapa yang masuk ke kamar?, jika bapak, kenapa pintu masih terkunci rapat?”, tanyaku dalam hati.
Pagi saat mau ke sekolah, aku tanyakan ke bapak.
“Semalam bapak masuk ke kamarku ya?”
“Engga…”, jawab bapak. “Lagian ngapain ke kamarmu?” tanyanya lagi.
“Ada yang bangunin aku, suara dan badannya kayak bapak,” jawabku.
“Penunggu kamar kali”, jawab bapak lagi.
Terdiam aku teringat saat baru menempati rumah, mama memanggil saudaranya yang katanya bisa melihat makhluk halus. Dia berkeliling sekitar rumah sambil membawa mangkung berisi air dan bunga. Dia menemukan beberapa kamar berpenghuni makhluk halus. Aneh juga melihatnya seperti merangkul orang, berbicara sendiri, mengajak keluar satu persatu dari kamar. Dia hanya berpesan jika ada yang sholat, berarti mereka. Tidak mengganggu, hanya numpang sholat. Adik terkecilku pernah melihat seorang perempuan sholat mengenakan mukena dan karena dia mengira itu aku, dia lanjutkan tidurnya, setelah perempuan itu selesai sholat, adik turun dari ranjang dan melihatku di dapur.
“Terus…, tadi yang sholat di kamar siapa?”, tanyanya dengan wajah pucat.
__ADS_1