GHOST FACE

GHOST FACE
11. 5 OUT


__ADS_3

Di lain tempat.


Gadis yang terlentang di atas meja saat ini semakin kuat mencengkram kuat kedua sisi meja dengan tangannya begitu Alfred melesakkan jari-jarinya dalam labirin gadis itu. Bagian tubuh atas yang sudah tidak mengenakan apapun, rok mini berbahan jeans yang tersingkap dengan CD sudah melorot hingga mata kaki. Ia menyerukan nama Alfred saat lelaki itu semakin brutal mempermainkan bagian intimnya. Gadis itu ingin lebih. Rasanya belum puas jika Alfred tidak menggunakan kejantanannya itu.


Dengan senang hati Alfred mengabulkan keinginan sang gadis.


Alfred Barclay



Alfred Barclay bukanlah tipe lelaki yang lebih dulu mengajak lawan jenisnya berhubungan intim. Sebaliknya, para perempuan lah yang datang menyerahkan tubuh mereka. Laki-laki mana yang tidak menolak jika para kaum hawa menyerahkan diri secara cuma-cuma? Alfred memang laki-laki brengsek. Baginya, s*x juga merupakan kebutuhan. Hanya saja dia tidak terlalu menonjolkan keinginan itu. Lelaki seperti Alfred yang tidak banyak bicara membuat dirinya susah ditebak orang lain. Bahkan para sahabatnya hanya tahu dia sosok yang pendiam. Kehidupannya yang terlalu tertutup membuat dirinya sungguh misterius.


"Dari mana saja?" Stanley bertanya pada Alfred yang baru duduk di bangkunya.


"Toilet."


"Kau bukannya habis melakukan sesuatu dengan Jannice? Si pemilik big b**bs itu. Aku sempat melihat kalian masuk ke gudang." Stanley mengedipkan sebelah matanya nakal.


Mana bisa Alfred mengelak kalau Stanley berkata benar. Hanya seringaian tipis sebagai jawaban yang diberikan lelaki berkulit pucat itu.


"Selamat siang!"


Hingga kemudian Prof. Jones memasuki ruangan. Hari ini Prof. Jones akan mengumumkan hasil ujian kemarin. Dan untuk yang ke sekian kalinya, nilai yang tertinggi di kelas masih ditempati Adam Brown. Pria berwajah dungu yang posisi duduknya terkucilkan di belakang sana.


"Ck! Dia lagi," gumam Stanley dengan nada meremahkan.


Dan yang lainnya mulai berkasak-kusuk tidak benar tentang Adam.


Jessica yang duduk di depan Stanley lantas menoleh. "Kalian sangat berlebihan. Padahal ini bukan yang pertama kalinya. Jangan bilang kalian juga tidak tahu kalau si freak itu selalu mendapat beasiswa?"


"Bagaimanana kau tahu?" Tiba-tiba saja Evelyn tertarik dengan obrolan mereka di sebelahnya.


"Hanya mendengar gosip."

__ADS_1


Sudah berbulan-bulan satu ruangan bersama Adam. Baru kali ini Evelyn mengamatinya. Dia tahu laki-laki itu sering di bully habis-habisan. Dan saat itu Evelyn tidak terlalu peduli walau pelakunya Kennard beserta kawan-kawannya sendiri.


"Kerja bagus, Mr. Brown." Puji Prof. Jones. Satu-satunya orang yang mengakui prestasi cemerlang Adam di ruangan tersebut.


Sementara yang lainnya tidak ingin peduli pada Adam yang bagi mereka tidaklah penting. Jika saja Adam tidak memiliki IQ melebihi kapasitas manusia biasa, mereka hanya terus menganggapnya seperti tidak pernah ada.


Adam Brown



Adam Brown merupakan satu-satunya mahasiswa yang dikucilkan di kampus. Dia selalu di bully karena mereka menganggapnya seperti virus yang akan menularkan penyakit apabila didekati. Berawal dari Adam yang mendadak kejang-kejang di ruang kelas hingga mulutnya berbusa. Dia lebih sering menunduk ketika diajak bicara, seperti takut menatap mata lawan bicaranya. Cara bicaranya juga gagap. Selalu menyendiri. Penampilannya tampak sangat jadul. Baju hem berlengan panjang yang sering dimasukkan ke dalam celana. Ditambah seluruh kancing di pasangi hingga di bagian leher. Benar-benar culun. Hingga siapapun yang melihat Adam melintas, mereka akan melempari botol jika kebetulan ada di tangan atau di sekitar mereka.


*


Mendapati Kantin yang terlihat penuh. Namun Evelyn berhasil menemukan tempat duduk yang kebetulan ditempati Adam seorang.


Apakah tidak masalah jika dia bergabung dengan meja terkucil itu?


"Hai. Boleh aku bergabung? Sepertinya semua tempat penuh...,"


Apa yang menjadi kegiatan Adam mulai menarik perhatian Evelyn hingga tidak sadar dia termenung cukup lama.


'Norak sih. Tapi kelihatan rapi juga.Dan..., culun?'


Terlalu asyik dengan pemikirannya hingga tidak sadar lelaki itu memergoki tatapannya. Bahkan ponselnya yang sejak tadi berdering juga diabaikan.


"Permisi..." Adam berkata takut-takut. Bermaksud menyadarkan Evelyn yang masih mengkhayal. Dengan sedikit keberanian Adam melambai-lambaikan tangannya pelan di depan wajah Evelyn.


Lantas Evelyn tersentak kaget. "Maaf," katanya tiba-tiba salah tingkah.


"Pop-pon-ponselmu..., Ber-berbunyi," Adam tergagap. Dia memang seperti itu kadang-kadang.


Evelyn segera mengangkat mengangkat panggilannya dan memberitahu si penelpon bahwa dia akan ke lahan parkiran setelah selesai menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih tempat duduknya." Evelyn bertingkah seolah mereka sudah akrab. Gadis itu merupakan satu-satunya yang mengajak Adam berinteraksi dengan sangat baik.


Lima menit setelah kepergian Evelyn. Adam ikut beranjak. Namun dia dikejutkan oleh kehadiran Kennard bersama gengnya yang tiba-tiba menghadangnya. Seketika seisi Kantin menjadi hening dan bersorak-sorak. Seakan-akan menunggu hiburan yang akan ditunjukkan Kennard seperti biasanya.


"Sepertinya ada yang sengaja mencari masalah." Christian terdengar memanas-manaskan situasi di belakang sana.


Kennard terkekeh sinis. "Tolong bilang jika kau sudah bosan hidup. Maka aku dengan senang hati mengirimmu ke neraka."


Selain gemetaran, Adam tidak berani bergeming, membuat Kennard menarik kasar kerah bajunya—lagi— sampai hidung mereka nyaris bersentuhan.


"Jika kudapati kau menatapnya seperti itu lagi, aku bersumpah akan mencongkel biji matamu sampai keluar untuk kujadikan koleksi di rumahku." Kennard bahkan memperagakan bagaimana dua jarinya menuju arah mata Adam yang terhalangi kaca matanya sampai dia memekik ketakutan.


Tubuhnya hampir terpelentang ketika Kennard dengan sengaja menabrak bahunya agar menyingkir. Dan yang lainnya dengan iseng berbuat hal yang sama, kecuali Alfred.


Evelyn menghampiri ketiga gadis yang menunggu di laham parkiran kampus. Meskipun dia masih kesal terhadap Casey, tapi mereka tetap pulang bersamaan.


"Di mana yang lainnya?" tanya Evelyn.


"Tadi mereka menyusulmu ke Kantin. Tidak ketemu ya?" Itu Sunny yang menyahut barusan.


Sunny Russel



Evelyn menggeleng.


“Itu mereka.” Jessica memberitahukan.


Jessica Robert


Kennard menyadari Evelyn yang masih menjaga jarak darinya. Lelaki itu lalu membawa gadisnya menjauh beberapa meter, dan mengatakan pada yang lainnya bahwa mereka akan menyusul di belakang.


"Oke. Sudah cukup. Jangan menyiksaku lagi, Eve...," Begitu memohonnya Kennard dengan mata sendu agar mereka bisa baikan lagi. "Aku benar-benar menyesal. Eve... Hei. Please, give me a chance."

__ADS_1


Pada akhirnya Evelyn mau memberinya kesempatan, dengan alasan dia masih menginginkan laki-laki dalam hidupnya.


"Good girl." Kennard menyelipkan helai rambut gadisnya ke belakang telinga, lalu memberi kecupan di bibir. "Aku tidak akan lebih berhati-hati lagi."[]


__ADS_2