GHOST FACE

GHOST FACE
Penghuni Rumah Kos


__ADS_3

    Pernah singgah di Yogyakarta. Pasti tahu rumah-rumah disekitar kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) banyak yang dijadikan tempat kos mahasiswa.


 ***


Tahun 1997


    Aku mencari rumah kos yang menurutku lebih layak untuk ditempati. Rumah kos yang lama adalah rumah yang


dikontrak bersama, ditempati mahasiswi dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan hanya aku sendirian yang kuliah di UNY. Teman kos rata-rata memakai cadar, minimal memakai gamis lebar karena rumah kos ini selain dijadikan tempat tinggal juga kami jadikan tempat pengajian. Ada jadwal rutin mengaji di kos ini, dan kami mengundang ustadz, pengajian ini juga diikuti oleh mahasiswi kampus lain.


    Aku berdua dengan mahasiswi UGM jurusan Bahasa arab menempati satu kamar. Bagianku dekat pintu, dan kasur aku letakkan disitu. Malam pertama tidur di rumah kontrak ini aku sangat pulas, bahkan untuk hari-hari berikutnya, aku selalu mengantuk dan pulas ditempat tidurku.


    Kami memang jarang ngobrol, karena masing-masing sibuk dengan urusan kampus, anak UGM gitu loh, belajar terus, rada beda dengan anak UNY calon guru, santai dikit. Entah siapa yang memulai pembicaraan, temanku menyatakan keherannya, kenapa aku bisa begitu pulas, padahal setiap akhwat yang tidur dikamar ini (tempatku meletakkan Kasur) tidak ada yang betah, makanya dia selalu menempati kamar ini sendiri.


“Memangnya kenapa?” tanyaku sedikit ingin tahu.


“Semua yang tidur disitu selalu diganggu, tidak bisa tidur pulas, kamu kok bisa tidur pulas, jangan-jangan kamu


temennya ya..?” jawab dia, sambal tertawa lebar.


“Lah, aku tidak tahu. Memangnya diganggu apa?” tanyaku penasaran.


“Nih, waktu pertama menempati rumah ini, malamnya kita diganggu. Bentuknya kelabang gede banget. Terus kita bacain Al-Qur’an terus. Kita ngajiin nih rumah, lhamdulillah ga ada gangguan lagi. Tapi yang


tidur disitu ga ada yang betah, selalu diganggu, mimpi buruk terus. Makanya saya


sendiri terus di kamar ini”, jelasnya panjang lebar.


Sambil mendengarkan penjelasannya, mata batinku tanpa terkontrol melihat langsung seekor kelabang besar berjalan merayap keluar dari kamar dan mengintari ruangan tempat kami biasa mengaji. Huft, ternyata memang dari tempatku biasa tidur.


***


    Malam sangat gelap, hitam pekat, ada tangan yang memegang tanganku erat, menarikku dengan paksa. Aku dipaksa masuk ke dalam gua tepi laut. Ini, aku tahu tempat ini, tidak asing. Aku sering dipaksa ke sini, diminta bergabung dengan mereka.


    Tangan itu melepasku. Gelap. Tiba-tiba kegelapan itu hilang. Terlihatlah wajah-wajah mereka tersenyum, bahkan ada yang tertawa. Wajah yang sangat buruk. Berekor dan bertanduk. SETAN. Mereka setan. Jin bertanduk.


“Ikut kami…”, kata salah satu dari mereka, mungkin pemimpinnya. Duduk jongkok diujung batu karang yang lancinp. Matanya merah membara. Nafasnya terengah-engah putus asa.


“Kamu harus ke sini, ke gua ini..bersama kami”, katanya lagi menatapku tajam.


“Aku tidak mau…”, jawabku kesal. Aku selalu dipaksa ke tempat ini, dipaksa harus masuk ke dalamnya. Kesal karena selalu bertemu dengan mereka.


“Aku tidak mau..”, jawabku lagi. Dan aku terbangun dengan kekesalan yang masih memuncak. Kenapa mimpi ini


berulang-ulang dengan tempat dan makhluk yang sama dari SMP sampai kuliah.

__ADS_1


***


 MENERIMA KOST KHUSUS PUTRI


          Akhirnya rumah kos ini ada kamar kosong. Kenapa?


Ternyata harga kamar kos dinaikkan. Hamper semua anak kos keluar dengan sukarela.


Alhamdulillah, bisikku dalam hati.


          Kamarku tepat disamping ibu kos. Ada bapak kos juga, entahlah. Katanya mereka belum nikah, kumpul kebo entah mungkin sudah nikah siri. Aku sudah tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan tempat kos yang lebih dekat kampus.


          Makin hari, kamar kos makin penuh, dari sunyi menjadi ramai, maklum mahasiswa baru memilih mendapat kos dulu, masalah tidak betah bisa pindah nanti. Aku sangat betah berdiam di kamar, sendiri itu lebih menyenangkan daripada harus kumpul dengan mereka ngobrol tidak jelas. Karena mahasiswa semester 6, dan lebih dulu masuk, aku termasuk senior di tempat kos ini.


          Tidak punya teman dan tidak disukai. Itu aku. Karena terlalu acuh dengan semua dan berbeda dengan mereka yang hobinya jalan-jalan, ngerumpi sampai malam, salon, makan-makan menghabiskan uang orangtua. Tidak semua, ada beberapa yang super irit, masak sendiri, memperbanyak tabungan.


          Kehidupanku sangat teratur. Bangun rutin jam 03.00, sholat tahajud, sholat subuh, mandi, sarapan, belajar atau berangkat kuliah. Jika tidak ada kegiatan, aku menghabiskannya dengan tidur di kamar.


***


          Pagi masih teramat dingin. Tiba-tiba suasana berubah sangat ramai di kamar kos bagian belakang. Satu kamar terkunci rapat. Terdengar suara menjerit dan suara pintu digaruk dari dalam.


          “Aku tidak mau ikuuuuut….pergi kalian…pergiii…”. Suara itu berulang dan berulang. Semua anak kos berkumpul didepan kamar, ada yang menangis, ada yang meringkuk ketakutan.


          “Ada apa?”, tanyaku.


          “ Kenapa pintunya terkunci?”, tanyaku lagi.


          “Dia selalu begitu mba, dia tahu kalau ada yang mau ngajak dia pergi, dia langsung kunci pintunya,” jawab anak Rani, yang menempati tepat dikamar Yeni.


        Tidak lama, suara didalam kamar hening. Kami terdiam semua. Menunggu. Tidak lama pintu terbuka.


Yeni menangis sesugukkan.


          “Mba..saya tidak mau ikut mereka..”dengan wajah pucat ketakutan dia menatapku.


        Yeni pun bercerita, ibunya seorang dukun. Sejak kecil dia mempunyai teman yang tidak terlihat. Dia selalu diajak bermain ke alam lain. Salah satu dari mereka akan memasuki tubuhnya. Bayangan hitam yang mendekat, dan akan membuatnya tidak sadarkan diri. Kesurupan.


          “Dulu saya suka bermain bersama mereka mba, saya akan biarkan mereka memasuki tubuh saya. Tapi sekarang saya tidak mau. Sangat melelahkan mba,” kata Yeni, lemas.


          “Ibu saya menitipkan saya ke mereka, salah satu dari mereka harimau mba, dia akan sangat marah kalau saya menolak pergi. Harimau inilah yang membuat kamar saya berantakan setiap saya tidak mau


pergi”, jelasnya lagi.


            Kami semua mendengarka penjelasannya dalam diam. Beberapa anak kos yang lain tambah meringkuk ketakutan. Malamnya mereka tidur dalam satu kamar. Hanya aku sendiri yang didalam kamar. Pulas.

__ADS_1


***


          Pukul 15.00. Waktunya mandi. Mumpung anak kos yang lain masih santai. Biar tidak antri.


          Kamar mandi letakknya dibawah tempat jemuran baju. Tangga menuju tempat jemuran terbuat dari besi yang sangat licin jika musim hujan tiba. Pernah terjatuh di tangga, dengan luka lebam. Jika malam cerah, puncak merapi akan terlihat memerah, sangat indah.


          Tiba-tiba, Sani mendekatiku. “Mba, sebentar,” katanya. Kuhentikan langkahku.


            “Mba, tadi jam 03.00 pagi mandi ya?”, tanyanya.


          “Enggak, memang kenapa?”, tanyaku balik.


          “Tadi pagi, ada yang ke kamar mandi, pas di dalam kedengaran kamar mandi yang ditengah suara jebar-jebur orang mandi, pas dicek, kamar mandi tengah gelap ga ada siapa-siapa. Kirain mba yang


di kamar mandi,”jelasnya.


          “Engga, mba pagi ga mandi jam tiga,”jawabku santai. Melanjutkan langkahku untuk merasakan segarnya air.


            Keluar dari kamar mandi, tiba-tiba di ruang dapur terlihat sesosok wanita sangat tua berbaju  lusuh, berambut panjang kusut berdiri memunggungiku dan seorang pria berambut gimbal acak-acakan dekil, berkulit hitam pekat sangat kotor duduk di bawah tangga. Gendruwo. Nenek tua itu mambalikkan badannya, wajah keriput dengan mata tajam menatapku tidak suka. Gendruwo dibawah tangga juga menatapku marah dengan mata memerah saga.


            “Jangan ganggu kami,”bisikku mendesis.


            "Pergilah dari sini, sebelum kalian dipaksa pergi!" balasku menatap tajam ke arah mereka berdua.


***


          Ketenangan sudah berubah menjadi ketakutan, setiap malam anak-anak kos tidur bertumpuk dalam satu kamar bergiliran, berpindah kamar setiap malam. Hanya aku yang tetap pulas tertidur di kamarku, tanpa diganggu ketakutan yang melanda rumah kos.


          Cuaca semakin dingin, lantai rumah kos mulai berlumut dan lembab, cacing mulai bermunculan dari dalam ubin. Setiap hari kerjaan kami menaburkan detergen atau garam untuk membunuh cacing-cacing yang sepertinya tidak pernah habis.


***


          Perlahan menuruni anak tangga, dan terkejut dengan kehadiran bapak kos yang tiba-tiba sudah ada didepan kamar mandi. Bapak kos kami masih muda hanya rambutnya sudah berkurang, sedikit botak. Dia tidak setiap hari berada di kos, hanya tertentu saja, jika ibu kos menelpon menyuruhnya balik ke rumah kos.


          “Tumben Mas, sudah ada di sini,”tanyaku.


          “Ini, disuruh balik, mau bawa orang pinter ke kosan, mau dihilangin yang bikin anak kos pada ketakutan,” jawabnya.


          “Yang dibawah tangga, sama dapur ya Mas?”,tanyaku lagi.


          “Iya, kok tahu?”. Matanya menunjukkan kekagetan.


          “Bisa lihat aja”, jawabku santai.


***

__ADS_1


        Dan rumah kos ini tetap dengan ketakutannya sendiri, sampai aku wisuda dan dinyatakan lulus dari UNY.


__ADS_2