GHOST FACE

GHOST FACE
20. Revealed


__ADS_3

Dari kecil Justin Wheeler hidup di tengah-tengah pertengkaran kedua orang tuanya hingga berakhir dengan perceraian. Dari saat itulah dirinya merasa terlantarkan. Ibunya pergi dan sekalipun tidak pernah kembali menjenguk keadaannya, meninggalkannya bersama sang Ayah. Mirisnya lagi, Ayahnya malah mengedepankan urusan pekerjaan dan tidak pernah membagikan waktu pada putra semata wayangnya yang masih berumur 10th. Justin merasa hidup sendiri di dunia yang luas ini.


Suatu ketika, Ayahnya tertangkap basah karena kasus penggelapan uang di Perusahaan yang bukan miliknya, tentu saja. Lalu dia memilih bunuh diri dari pada hidup di balik jeruji besi. Teman-teman di Sekolah Justin mengolok-olok dirinya. Menghina Ayahnya dan keluarganya. Justin diam, hanya tangannya yang mengepal sebagai tempat pelampiasan amarahnya karena tidak bisa melakukan apa-apa.


Saat beranjak di usia 15 tahun, sepupunya Evelyn Wheeler datang bersama orang tuanya. Mereka sepakat mengadopsi Justin dan tinggal bersama. Justin pun mendapat satu orang teman, di saat semua orang tidak peduli padanya, hanya gadis itu yang mau mengajaknya bicara hingga dia merasa tidak sendirian lagi.


Hari itu Justin menemukan Evelyn menangis di taman belakang rumah. Dengan berjongkok di balik pohon sebagai tempat sandaran punggungnya.


"Hei, What's wrong?"


"Hiks! Justin... Berjanjilah untuk tidak memberitahu hal ini pada Ibu dan Ayah," Evelyn terlihat sesegukan.


Justin pun berjanji. Sambil menangis, Evelyn bercerita pada sepupunya bahwa dia dilecehkan teman kelasnya yang suka membully ketika Evelyn pulang Sekolah. Justin mulai tidak suka melihat Evelyn menangis, apalagi sampai sesegukan begini.


"Jangan menangis. Aku berjanji orang-orang itu tidak akan berani mengganggumu lagi."


Gadis itu menyeka air matanya lalu menatap Justin. "Kau janji?" tanyanya dengan suara serak.


Justin tampak tersenyum, dan senyumnya itu sangat menenangkan jiwa. "Aku janji."


Tanpa menunggu hari esok, saat itu juga Justin mendatangi kediaman si lelaki yang dia ketahui bernama Steven.


"Hai, kau, si anak yang Ayahnya tukang koruptor itu, kan?" ledek Steven yang umurnya dua tahun lebih tua dari Evelyn, dia tertawa mengejek.


Justin merasa anak laki-laki ini akan sangat merugikan banyak orang jika dia beranjak dewasa nanti. Di usia begini saja dia berani mengatai orang.

__ADS_1


"Omong-omong, ada apa kau kemari?" tanyanya. "Oh, masalah Evelyn?" Dia pura-pura terkejut seolah-olah baru tahu. "Aku suka sepupumu yang cantik itu. Tapi dia sok polos. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tantangnya.


"Apa hal yang paling kau takuti?" Justin bertanya tanpa ekspresi. Dia kesal dan marah, tapi tidak menunjukkannya.


Reaksi Steven berubah bingung namun dia menyeringai sinis kemudian, "Kau dan keluargamu memang aneh. Pergilah. Aku tidak ada waktu untuk meladeni orang-orang seperti kalian." Dia berbalik hendak memasuki rumah, namun dia berhenti untuk berhadapan dengan Justin yang masih menatapnya dengan tatapan terkesan misterius, tapi sekalipun Steven tidak takut. "Kalau kau sangat ingin tahu. Aku tidak pernah takut pada apapun." Ekspresi meledek itu benar-benar minta ditinju. Steven pun berbalik meninggalkan Justin.


Justin memungut batu yang ukurannya pas dalam genggaman lalu melangkah cepat menuju anak laki-laki yang masih berjalan angkuh di pekarangan rumahnya. Begitu jarak mereka tinggal selangkah, dia langsung menghantam kepala belakangnya dengan batu itu sampai Steven menjerit dan tergolek di rerumputan. Dia menggeliat kesakitan sambil memegang kepalanya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


"**** you! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!" Dia menggeram sampai urat lehernya menonjol, sama sekali tidak menyangka. Wajahnya menunjukkan keterkejutan serta kengerian.


Justin berdiri di atasnya, masih dengan wajah dingin. Dia bicara dengan suara yang sangat tenang, "Harusnya kau bilang kau takut padaku. Sekarang mari buat kesepakatan." Dia berjongkok agar bisa berhadapan dengan wajah Steven yang seketika ingin menjauh karena dia kira Justin akan menghantamnya lagi dengan batu itu. "Jika kau mengganggunya lagi, kau akan menerima lebih dari ini. Dan jika kau buka mulut untuk kejadian hari ini..." Justin menjeda lalu secara perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga Steven yang mendadak merinding. "Kusarankan untuk tutup mulut."


Saking fokusnya Steven pada ketakutannya sendiri, dia sempat lupa pada lukanya yang kehabisan banyak darah, sampai Justin pergi dia baru sadari hal itu. Namun yang dia rasakan pusing dan kehilangan kesadaran.


Di Sekolah dan di manapun, Steven jika berpapasan dengan Justin, dia takkan berani menatapnya terlalu lama dan akan berpura-pura tidak melihatnya. Karena sekarang Justin orang yang paling dia takuti. Masalah luka di kepalanya itu, dia terpaksa berbohong pada orang tuanya bahwa itu perbuatannya sendiri. Dia juga tidak berani melirik Evelyn lagi. Gadis itu jelas bingung dengan perubahan sikap Steven.


Keduanya sedang berjalan berdampingan di trotoar.


"Steven? Kau belum dengar kabar kalau itu perbuatannya sendiri?"


Helaan nafas Evelyn terdengar legah, "Baguslah kalau itu benar. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan itu."


Justin menatapnya dengan menyunggingkan senyuman singkat, "Apa dia masih mengganggumu?"


Evelyn menggeleng, "Dia bahkan tidak pernah melirikku lagi. Memangnya kau bilang apa padanya?"

__ADS_1


"Pembicaraan sesama laki-laki. Kau takkan mengerti." Justin pura-pura bersikap seolah itu bukan masalah serius agar Evelyn tidak penasaran. "Jika ada yang mengganggumu lagi bilang padaku."


Gadis itu mengangguk tersenyum.


Evelyn menganggap Justin tidak lebih dari sanak saudara, berbeda dengan Justin yang menginginkan gadis itu lebih. Dia mulai tidak suka dengan orang tua Evelyn yang sering sekali mengganggu kebersamaan mereka. Terbiasa melakukan sesuatu di luar batas manusia normal yang menurutnya bukanlah masalah, tapi bagi orang lain itu hal yang tidak waras. Maka Justin melakukan sesuatu untuk menyingkirkan siapapun yang mengusik kebersamaannya dengan Evelyn, termasuk kedua orang tua gadis itu. Dia menyabotase mesin mobil kedua orang tua Evelyn yang akan bepergian sehingga menyebabkan kecelakaan maut di jalan raya serta ikut memakan banyak jiwa pengendara lainnya.


Kehilangan kedua orang tuanya mengubah sikap Evelyn, bahkan kepekaannya terhadap Justin berkurang pesat yang mulanya sangat perhatian sekarang biasa saja. Sikap Evelyn yang seperti sekarang membuat Justin geram bukan main namun dia tidak menunjukkan itu. Psikopat memang pandai menyembunyikan ekspresi dan reaksi yang sebenarnya, bukan?


Justin semakin gusar ketika mengetahui Evelyn memiliki seorang pacar dan teman-temannya yang dia bilang sudah dianggap seperti keluarga, Justin tidak suka ada orang lain dalam kehidupan mereka.


Untuk bisa memiliki gadis itu dan mengembalikan perhatiannya, Justin melakukan sesuatu dengan caranya. Diam-diam menyelinap masuk ke kamar sepupunya agar dapat menyetubuhi, masuk melalui pintu biasa karena Justin memiliki kunci cadangan, setiap malam dia melakukan itu dengan mahir tanpa ketahuan.


Saking terobsesinya Justin dalam menginginkan gadis itu, dia mengawasi gerak-geriknya setiap waku bagaikan bayangan. Hanya saja Evelyn tidak menyadari keberadaannya. Bahkan Justin sering berkeliaran di kampus mereka, kemudian para pelajar lainnya akan mengira Justin salah satu dari mereka. Dia juga menulis sticky note untuk Evelyn dan menyelipkan di mana Evelyn bisa menemukan benda itu. Seperti loker dan bukunya. Apapun bisa dilakukan Justin jika dia benar-benar menginginkan itu karena dia psikopat yang cerdik.


"Sesuatu akan terjadi jika kau pergi ke sana!"


Psikopat lebih banyak tahu seolah bisa menebak takdir. Evelyn bilang kekhawatiran Justin terlalu berlebihan. Namun ucapan laki-laki itu sungguhan terjadi hingga membuat Eva mengalami trauma mental yang cukup parah.


Misteri tentang orang yang ditabrak Jessica malam itu juga berawal karena Justin. Tidak suka sikap Evelyn yang membantah hingga dia mengikuti mereka ke sebuah Kelab, menyamar sebagai pria misterius yang pernah menabrak Evelyn saat di Toilet wanita.


Dia juga membunuh seorang pria mabuk yang sempat mendekati Jessica. Dan saat mereka pulang, Jessica tidak tahu bahwa pria yang sedang chatting-an dengannya adalah Justin karena ponsel dan mayat pria kenalannya itu ada bersamanya.


Justin berdiri di pinggir jalan dalam semak-semak menunggu mobil mereka lewat. Begitu mobil hampir dekat, dia langsung melempar tubuh tak bernyawa itu seolah mereka telah menabraknya. Jessica takkan bisa mengenalnya karena wajahnya yang sengaja dibuat hancur.


Dari kejauhan, Justin memperhatikan ketegangan di setiap wajah mereka. Dan memotret aksi bakar membakar malam itu.

__ADS_1


Justin menyamar sebagai Ghost Face untuk meneror mereka dan membunuh dengan cara gila. Menyingkirkan semua orang yang ada di sekitar Evelyn, karena Justin ingin hanya ada dirinya saja dalam kehidupan gadis tu.[]


__ADS_2