GHOST FACE

GHOST FACE
Arwah Di Sekolah


__ADS_3

Pertama menginjakkan kaki di sekolah ini, hanya sekolah berbentuk letter L. Sekolah yang dikelilingi sawah, dan aku rasa tanahnya pun bekas rawa.


Hawa magis begitu kuat, bayang-bayang berkelebatan, seakan menyambutku. Sekolah yang sangat kotor, tempat yang paling disukai mereka, makhluk tak berjasad.


Sore ini aku menyelesaikan pekerjaanku mengoreksi tugas siswa. Jam ditangan sudah menunjukkan angka 5 sore. Hanya aku sendirian di kantor guru, penjaga sekolah pulang lebih awal dan akan balik lagi jam setengah enam. Sayup kudengar suara perempuan mengkidungkan tembang sunda. "Jangan menggangguku...., aku hanya kerja," kataku dalam hati.


Braakk......suara pintu ditutup keras. Aku berhenti sejenak dari pekerjaanku. Sepi....


Braakk......kedua kali suara pintu ditutup dengan keras. Tak ada angin yang bertiup kencang, kutengokkan kepalaku ke arah belakang, memastikan datangnya suara. Hening.


"Jangan menggangu,"suara kukeraskan.


Tak lama penjaga sekolah datang. "Maaf bu..., saya baru datang, ibu sendirian saja dari tadi?", tanyanya.


"Iya,"jawabku. Perlahan aku bangkit menuju toilet, memastikan apakah pintu toilet terbuka atau tertutup karena dua kali suara pintu dibanting berasal dari toilet. Tertutup rapat. Masih belum percaya dengan pandangan mataku, kupastikan dengan memegang gagang pintu. Benar, terutup.


Untuk meyakinkan hati, kubuka pintu toilet.


Sesosok tubuh menyandar di dinding toilet, seorang wanita tua diam tak bergerak. Rambut tak bersisir menjuntai panjang, berkebaya dan berkain. Kucoba menenangkan diri. Tiba-tiba nenek itu mengangkat kepalanya, menatapku sambil menyeringai. Degub jantungku semakin kencang, kakiku tidak dapat digerakkan. Diam terpaku dipintu toilet.


"Bu...Ibu...,"tepukan dibahuku mengagetkanku. "Ibu kenapa..., kenapa bengong dipintu...?" pertanyaan penjaga sekolah mengembalikan aliran darahku untuk sadar.


"Tidak apa-apa, saya pulang duluan ya...,"jawabku buru-buru membereskan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam tas. Maghrib menjelang, suara kidung itu masih terdengar jelas mengiringi langkahku meninggalkan sekolah.



Foto: yukepo.com


***


"Siswa kita kemarin kecelakaan..," salah satu teman guru memecah keheningan pagi sepi di kantor guru. "Siapa bu...?" tanya guru yang lain.


"Siswi ips, haduuuhh...mana kepalanya pecah. Mengerikan..., kabarnya dia masih hidup waktu terjadi kecelakaan, tapi baru bangkit dari jatuh, tiba-tiba truk pasir dan angkot menabraknya." jelasnya.


"Tolooong buu...ada yang kesurupan....", seorang siswa setengah berlari masuk ke dalam kantor. Dibelakangnya dua siswa menggotong tubuh seorang siswi yang menjerit-jerit dan melolong-lolong, dengan omongan yang tidak jelas.


"Baringkan saja disitu!," kata guru BP.


Aku dan guru BP mendekati siswi tersebut. Tiba-tiba dia menjerit sambil memegang kepalanya, "Sakiit...sakiiit buuu,,,buuu...kepala saya sakit sekali...banyak darah buu.." sambil menangis siswi itu terus memegang kepalanya.


"Namamu siapa?", tanyaku


"Ira buu,,", jawabnya, terhenyak kami berdua. Ira adalah siswi yang mengalami kecelakaan kemarin dan meninggal ditempat.


Tak percaya, aku bertanya lagi. "Kepalamu sakit kenapa...?"


"Diinjak truk tanah buu....sakiiii..t truk tanah dan angkot buu..mereka jahat buu, mereka tabrak saya ...saya salah apa buu, kenapa saya ditabrak..."dia menjawab dengan air mata tak berhenti mengalir.


"Lebih baik kita panggil guru agama aja," kataku. "Ngeri, kalau begini mah,"..bergidik bulu kudukku.


Tak lama guru agamapun datang.Setelah diminumkan air doa, siswi yang kesurupan inipun tidak lagi menangis.


"Ini yang merasukinya bukan Ira, ini kuntilanak penunggu rumah kosong depan kecelakaan kemarin terjadi,"kata guru agama memberikan penjelasan.


Kamipun lega. Semoga kau tenang di alam sana ya nak, doaku dalam hati.


***


Kesurupan terjadi lagi, hampir setiap hari siswi sekolah ini selalu kesurupan. Pernah, karena terlalu banyak yang kesurupan, akhirnya siswa dipulangkan lebih awal.


"Saya ga ada tempat tinggal buu...", kata siswi ini sambil menangis terisak, "Kenapa?...", tanyaku


"Lemarinya dibuang," jawabnya


"Beli aja lagi, lemari baru..,"jawabku enteng


"Rumah saya dilemari bu,, saya tinggalnya di lemari...yang punya rumah kemarin buang lemarinya, makanya saya nempati badan anak ini,"katanya sambil menangis sesugukkan.


Aku hanya bisa terdiam, berarti aku bukan berbicara dengan orang tapi dengan makhluk lain.


"Yaudah, sekolah ini kan luas, kamu tinggal disini aja, kasian badan orang kamu tempati," ujarku.


"Terima kasih buu..,"jawabnya. Perlahan badannya melemah, dan matanya terpejam. Pelan kutanya, "Neng, udah mendingan..?". Dia hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


***


Pagi masih berkabut, bel sekolah berbunyi,,aku bergegas menuju kelas, hampir aku menabraknya, sesosok tubuh berdiri didepan kelas, menatap siswa yang berdatangan sambil tersenyum.


"Liat bocah sekolah neng?", tanyaku.


Dia mengangguk sambil tersenyum. Wajah pucatnya terlihat bahagia.


Rumah barunya, Sekolah.


***


"Ini bukan sekolah, ini rumah kami", jelas seorang lelaki mengenakan baju dan ikat kepala sunda. Tatapannya kosong menatap tiga ruang kelas didepanku, berjejer berwarna hijau.


"Kau bisa melihatnya", ujarnya lagi


Tiga ruang kelas itu berubah menjadi rumah panggung bercat putih. Seekor kuda putih terikat disebuah tonggak kayu.


"Jangan kotori rumah kami," suaranya terdengar pilu.


Kelas ini memang siswanya kurang menjaga kebersihan. Tahun lalu waktu masih mengajar di tiga ruang kelas ini, aku selalu mengajak siswa membersihkan lingkungan kelas dan kelas harus selalu bersih, tapi tahun ini sampah dibiarkan didalam kelas, apalagi di luar kelas. Siswa selalu membuang sampah lewat jendela.


"Kami tidak menggangu, tapi tolong bersihkan rumah kami,"katanya lagi.


"Mari kita kedalam,"ajaknya sambil berjalan menuju rumah panggung itu. Aku mengekor langkahnya dari belakang.


Perlahan kunaiki anak tangga yang terbuat dari kayu, sangat licin dan mengkilap, pertanda empunya rumah sangat menjaga kebersihan. Dia mengajakku menyusuri teras, mengelilingi rumahnya. Di beberapa ruangan terlihat anak perempuan dan wanita berpakaian hanya dengan melilitkan kain sampai dada. Mereka sedang asik bersenda gurau dan sepertinya tidak menyadari kehadiranku.


Lelaki itu menghentikan langkahnya didepan pintu berukir bunga. Perlahan dia mendorong pintu, seakan tidak ingin mengganggu penghuni kamar itu.  Ruangan sangan luas berdinding dan berlantai kayu sangat artistik. Semua dinding berwarna putih. Gorden jendela terlihat sangat lembut bernuasa putih, angin membuatnya terbang memasuki ruang kamar yang ditata zaman Belanda kuno. Seorang wanita berdiri disamping jendela, berbaju noni Belanda dengan gaun berwarna putih. Rambutnya dibiarkan terurai bebas melewati punggungnya. Wajahnya tidak terlihat seperti noni Belanda. Apakah dia seorang Nyai (sebutan untuk wanita yang dipelihara pria Belanda) ?


Aku masih terdiam menunggu. Lelaki itu berjalan menghampiri wanita itu, berjalan sangat perlahan seakan tidak ingin menggangu ketenangan ruangan.


"Nyai...kami sudah sampai,"katanya


Wanita itu menolehkan kepalanya, menatap lelaki itu yang berdiri dengan kepala menatap lantai dan badan sedikit membungkuk. "Kau membawanya..?", tanyanya. Lelaki itu mengangkuk.


Tiba-tiba wanita itu menolehkan wajahnya kearahku. Tajam, dingin menusuk, seakan ada kemarahan yang ingin dia tumpahkan kepadaku. Dia seperti ingin mencabikku.


Aku balas menatapnya. Perlahan matanya berubah bersahabat, dia menatapku lembut.


"Tolonglah kami, tolong sampaikan ke siswamu, ke seluruh orang yang ada di sekolah ini untuk tidak mengotori rumah kami, kami sangat terganggu," suaranya terdengar serak.


"Jangan salahkan kami, jika kami meminta tumbal dari siswa sekolah ini, untuk menemani kami disini....". tambahnya lagi dengan suara melengking tinggi dan tawa yang terdengar semakin menjauuhhh.....


Bayangan mereka menghilang, rumah, kuda, berubah menjadi ruang kelas kembali. Pandanganku masih gelap, perlahan terdengar suara-suara memanggilku, semakin dekat, dan semakin jelas.



Foto: okezone lifestyle


***


"Assalamualaikum,..." seorang siswa perempuan berdiri di pintu ruang kerjaku.


"Waalaikum salam, Jawabku. "Ada apa ?", tanyaku.


"Buu...kelas bau bangkai...."katanya.


"Sudah dibersihkan, sampai kita beli parfum ruangan, tapi bau bangkainya tidak hilang juga, sudah dua hari ini bu", jelasnya.


"Minta tolong ke mamang (panggilan untuk penjaga di sekolah kami) untuk mengecek, mungkin ada tikus mati di atap, dibelakang kelas, atau mungkin bau sampah kantin," jawabku.


"Baik bu, saya cari mamang dulu," jawabnya.


Setelah siswa itu pergi. Sesosok tubuh terlihat berdiri di depan pintu. Sesosok gadis bertelanjang kaki, mengenakan baju putih yang sudah berubah warna kecoklatan. Bau bangkai begitu menyengat. Terbelalak mataku, melihat seluruh tubuh dan wajahnya penuh dengan luka membusuk. Kulitnya sudah menghitam.


"Kamu siapa?" tanyaku.


"Aku hanya lewat depan kelas anak yang tadi ke sini, itu jalan kami, tiap pergi dan pulang kami melewati kelas itu. Kami tidak mengganggu," jelasnya, sambil menunduk. Mungkin malu karena wajahnya penuh dengan luka. Rambut hitamnya dibiarkan menutupi sebagian wajahnya.


Bau semakin menyengat. Tetesan darah mulai terlihat.


"Kamu mati kenapa?," tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kecelakaan...., aku mati kecelakaan, lukaku tidak disembuhkan..., luka ini dibiarkan membusuk...", terdengar suaranya terisak.


Pertanyaan memenuhi benakku, kecelakaan apa yang sampai membuat luka seperti borok diseluruh badan dan wajah. Dia membalikkan badannya, seperti mau pergi,


"Tunggu dulu..., kamu bisa kan tidak melewati kelas lagi, bisa mencari jalan lain?", tanyaku.


Dia tidak menjawab, dan menghilang. Meninggalkan bau busuk bangkai yang perlahan menghilang.


---


"Bagaimana....ada pertanyaan tidak?", tanyaku kepada siswa selesai menjelaskan materi.


"Belum Bu...., " jawab seorang siswa.


"Oke, ibu ulangi lagi," jawabku sambil melangkah ke arah white board.


Tiba-tiba bau bangkai tercium lagi, sangat menyengat. anak-anak langsung menutup hidungnya dengan tangan. "Tuuh kan bu, bau bangkai kelasnya,,,"kata seorang siswa.


Hoeeekkk.....,seorang siswi terlihat mual, dan berlari keluar kelas. Meludah tiada henti.


Baunya dari sebelah kiriku. Kutolehkan kepalaku ke kiri. Wajah gadis penuh luka itu menyeringai.


"Jangan lewat sini lagi...," desisku, "Pergilah...kami tidak mengganggumu, jadi jangan mengganggu kami," bisikku tajam. Perlahan bau bangkai menghilang. Dia menepatinya, tidak pernah lagi melewati kelas kami.



Foto: Kapanlagi Plus


***


Malam ini ekskul kami kemping di sekolah. Setelah satu tahun tidak diperbolehkan menggunakan sekolah sebagai tempat berkemah untuk kegiatan ekskul. Larangan ini dikarenakan banyaknya siswa yang kesurupan, waktu pelantikan salah satu ekskul. Mengerikan. Hampir semua peserta pelantikan kesurupan. Pintu pembatas terbuka.


Ini semua bermula dari salah seorang pelatih yang menantang seluruh penghuni sekolah. Dia memanggil semua arwah di sekolah untuk mengadu kekuatan dengannya.


Mengamuk....ya....semua arwah penguhi sekolah marah. Marahh dengan keangkuhan seorang manusia. Berawal dari satu peserta yang kesurupan, dilanjutkan peserta berikutnya...berikutnyaaa...dan hampir semua kesurupan. Pintu penutup antara sekolah dan cigentis terbuka....semua arwah berdatangan masuk ke sekolah dengan bebas, menguji keangkuhan pelatih tersebut.


Tumbal....mereka meminta tumbal...tumbal manusia...


Keadaan semakin mencekam, jerit tangis bersahut-sahutan tak henti. Akhirnya dipanggillah seorang kyai untuk mengobati peserta yang kesurupan. Mereda. Dan sekolah terkunci untuk kegiatan malam.


----


Api mulai membakar kayu yang sore tadi kami kumpulkan. Gemeretak suara kayu terbakar, diiringi angin dingin yang mulai menusuk badan. Kami duduk melingkari api. Beberapa senior duduk agak jauh sambil membakar ayam untuk persiapan makan malam.


Seksi acara mulai menyiapkan peralatan untuk malam keakraban. Acara pun dimulai. Suasana menjadi ceria. Cerita seram tahun lalu tidak terjadi.


Pukul 23.00.


Angin malam semakin menusuk. Bulu kudukku berdiri, angin terasa sangat dingin ditengkuk kepalaku. Seperti ada yang memperhatikan kami. Mataku nanar menatap. Kepala tanpa tubuh melayang diam di lorong antara toilet dan perpustakaan. Kepala seorang lelaki, berambut sebahu. Menatap ke arah kami. Sadar ada yang melihatnya, dia melayang, menghilang ke arah perpustakaan.


Aku diam tak bersuara, membiarkan yang lain melanjutkan keceriaannya. Angin semakin dingin menusuk. Pukul 23.30, kami masuk tenda masing-masing.


----


Pukul 01.00


Krraaakk.....brraaakkk...


Suara jendela terbuka dan tertutup. Senior masih seperti tidak ada rasa takut, malah menonton film horor.


"Suara apa tadi...?", tanya salah seorang senior.


"Suara jendela, paling kena angin, ga terkunci," jawab senior bermata sipit.


Kembali terdengar suara kursi dan meja digeser, berpindah-pindah tempat. Volume film dikecilkan. Hening. tidak ada suara apapun.


"Memangnya ada yang tidur di kelas?", terdengar salah seorang senior kembali bertanya.


"Tidak ada, tadi sudah dicek, tidur didalam tenda semua,"jawab senior yang menjadi ketua panitia.


Kembali mereka menonton. Suara kursi dan meja yang digeser kembali terdengar. Penasaran. Salah seorang senior membuka pintu kelas darimana suara itu terdengar. Gelap, hanya temaran dari lampu sorot halaman sekolah, posisi meja dan kursi seperti semula. Pintu kembali ditutup. Para Senior terdiam, langsung mematikan film yang mereka tonton, dan kembali ke tenda masing-masing.


Malam berlalu dalam kesunyian sekolah yang mencekam, sesekali terdengar suara langkah kaki terseret-seret, mengelilingi area perkemahan.

__ADS_1


***


__ADS_2