
Aku pindah dari tempat kerja, sekolah yang lama tidak membuatku nyaman. Kutinggalkan semua cerita arwah, hantu dan semua penghuni sekolah lama, memasuki dunia baru, teman baru, lingkungan baru yang mungkin bisa membuatku lebih nyaman.
Hari pertama.
Ruang laboratorium ini sudah 3 tahun tidak ditempati, sejak kematian salah seorang petugas laboratorium. Perlahan anak kunci kumasukkan ke lubang kunci. Bau apek ruangan yang tidak dibuka selama 3 tahun menyergapku. Semua jendela kubuka untuk menyegarkan kembali ruangan yang harus kutempati sebagai ruang kerjaku.
Lantai sangat kotor. Aku berjalan menuju dua ruangan didepanku. sebelah kanan akan kugunakan sebagai ruang kerjaku sebagai kepala laboratorium, dan sebelah kiri akan kugunakan sebagai ruang penyimpanan alat dan bahan.
Kreekk...pintu terbuka perlahan. Ruangan sangat gelap. Meraba-raba aku mencari tombol saklar untuk menyalakan lampu. Tanganku meraba-raba dan seperti ada yang menyentuh punggung tanganku, sangat dingin, dengan cepat aku menarik tanganku. Huft,, apa tadi?,,
Kembali kucari tombol lampu, akhirnya ketemu juga, lampu menyala redup. Ruangan dipenuhi rak-rak dan lemari penyimpanan alat dan bahan praktik. Hanya beberapa rak dan lemari yang terisi.
Aku berjalan ke ruangan sebelahnya. Ruangan ini memiliki jendela menghadap koridor, lumayan menerangi tanpa harus menyalakan lampu. Meja dan kursi tempatku bekerja sudah ada. kuletakkan tasku dimeja. Mengambil sapu dan kemoceng membersihkan ruang kerjaku dulu.
Setengah jam lebih aku membersihkan ruangan ini, penat mulai menyerang. Kusandarkan badanku dikursi, daan meluruskan kakiku, mataku kupejamkan. Tiba-tiba angin dingin menerpa pipiku. Kubuka mataku. Dan...didepan sebuah wajah yang sangat pucat, menyeringai...matanya bulat melotot menatapku. Jarak wajah kami sangat dekat. Jantungku terasa terhenti. Aku hanya bisa tepaku menatapnya tanpa suara. Dan dia pun menghilang.
Hari kedua.
Masih sangat pagi, sekolah masih sepi terdengar suara sapu penjaga sekolah membersihkan lapangan sekolah. Seskali terdengan suara gerobak sampah didoronng.
Kreekkk...kudorong pelan ruang kerjaku. Bau pengap masih terasa. Kusimpan tasku dimeja, menyalakan ac dan mulai menulis agenda kerja yang akan kulakukan hari ini.
Pukul 06.45. Mulai terdengar suara ramai anak sekolah melewati ruang lab.
Aku melanjutkan pekerjaanku membereskan administrasi laboratorium yang terbelengkalai selama tiga tahun. Untungnya alat dan bahan masih sangat sedikit. Kalau sudah banyak bisa sangat melelahkan.
Kembali....angin dingin menerpa wajahku, bulu kudukku berdiri. Dan...
Wajah pucat berwarna putih kembali berada tepat di depan wajahku. Menyeringai....menatapku tajam.
"Siapa kamu..?", tanyaku
"Aku tidak bermaksud mengganggu...aku hanya bekerja disini,"tambahku lagi..
Tanpa menjawab, dia menghilang, dengan suara tawa yang mengikik, menghilang disudut lab.
__ADS_1
Aku masih terpaku, siapa dia, mengapa dia menampakkan wajahnya kepadaku?
---
Suara ramai sekali di ruangan ini, aku tidak merasa asing dengan ruangan ini. Ini ruanganku, tempat kerjaku yang baru, hanya penuh dengan rak buku, bukan alat dan bahan laboratorium. Kulihat anak-anak sekolah membaca buku duduk santai di lantai. Beberapa guru duduk bergerombol di pojok, sepertinya tempat ini perpustakaan.
Aku berjalan berkeliling, mereka seperti tidak melihat kehadiranku. Kuhampiri guru-guru yang duduk bergerombol di meja pustakawan. Semakin jelas wajah-wajah mereka, beberapa dari mereka adalah rekan kerjaku.
Wajah itu....terpaku aku menatapnya. Dia tertawa begitu bahagia. Candaan mereka terdengar sangat akrab.
Wajah yang dua hari ini selalu muncul dihadapanku. Tidak terlihat pucat, wajahnya terlihat sangat segar. Cantik.
Mereka memanggilnya Miss Rani. Parasnya ayu tinggi semampai, berkulit kuning langsat, matanya bulat, dan bercahaya menandakan kecerdasan yang terpendam. Miss Rani menjabat sebagai kepala laboratorium. Dikarenakan ruangan lab juga digunakan sebagai ruang perpustakaan, Miss Rani memegang dua jabatan sekaligus. Miss Rani sangat pandai bergaul, temannya sangat banyak, dan karena sikapnya yang manis, dia sangat disukai semua orang disekolah ini.
--
Istirahat kedua penat mulai menyerang. Beberapa guru terlihat mengobrol dengan santai di ruang guru. Terlintas terdengan mereka menyebutkan satu nama " Miss Rani". Penasaran aku mendekat,
"Siapa itu Miss Rani," tanyaku.
"Guru sini bu, hanya sudah meninggal, orangnya disukai disekolah ini," jawab salah satu guru.
"Sakit...sakit kanker,"guru itu menjelaskan lagi.
Sakit kanker, wajah itu yang selalu menggangguku. Tiba-tiba satu guru menyodorkan Hpnya, "Ini bu Miss Rani,"
Satu wajah tidak asing terpampang dimataku. Wajah yang selalu menggangguku di laboratorium. Tidak pucat.
"Ada apa denganmu, mengapa kau menampakkan wajahmu padaku?"bisik tanyaku dalam hati.
Aku simpan sendiri kejadian yang aku alami di laboratorium.
--
Pagi masih sunyi. sampai di laboratorium aku menuju kran wastafel. Membuka kran dan mencuci tangan setelah menyiapkan alat dan bahan untuk praktik siswa. Tiba-tiba dingin menyerang kudukku. Sesosok tubuh berdiri dibelakangku. Melangkah perlahan, menghampiriku. Tepat dibelakangku dia terdiam terpaku.
__ADS_1
"Ada apa?", tanyaku. "Apakah kau masih penasaran?", tanyaku lagi.
Dia mengangguk. "Seseorang belum meminta maaf padaku...", jawabnya. Suaranya terdengar pilu. "Aku mati dengan fitnah yang masih melekat padaku, dia..belum meminta maaf padaku...",suaranya meninggi dan menghilang bersamaan dengan wujudnya.
--
Dan aku mulai sibuk mencari tahu, siapa-siapa yang pernah dekat dengan Miss Rani, siapa yang pernah membuatkan sedih dan merasa difitnah sebelum meninggal.
Menyedihkan.
Meninggal tanpa permohonan maaf dari orang yang disayang, sahabat yang selalu dibantu kesusahannya.
Sahabat yang tanpa belas kasih mengatakan bahwa selama Miss Rani sakit dia yang mengurus, tapi Miss Rani tidak pernah berterima kasih.
Sebelum meninggal kata-kata itu yang terdengar olehnya. Orang yang tidak tahu berterima kasih dan telah menyusahkan orang lain selama sakitnya.
Hanya beberapa orang terdekat yang tahu kisah sebenarnya. Dan mereka bungkam.
Malas berdebat katanya.
Hatiku merasakan sakit dan sedih tiba-tiba.
Dan Miss Rani masih terkadang muncul sekedar melihatku bekerja.
--
Percaya kepada seseorang memang diperlukan, namun terlalu percaya tanpa waspada adalah tindakan bodoh. Meskipun orang itu sahabat dan saudara sendiri. Sisakan 10% rasa tidak percaya pada hatimu. Jika suatu saat nanti dia mengkhianatimu, sakit yang kau rasa tidak terlalu dalam.
__ADS_1