GODAAN SANG MANTAN PACAR

GODAAN SANG MANTAN PACAR
Awal Baru


__ADS_3

Sebuah taksi berhenti di area pemakaman, langkah kakinya terasa berat, dia membawa dua karangan bunga yang sudah dipelukannya dengan erat.


Dua batu nisan terpampang jelas dipelupuk matanya, ada rasa sesal dan sesak dalam dada, rasa sakit yang disimpan selama lima tahun itu tertumpah begitu saja diatas batu-batu nisan tersebut.


"Aku pulang Pah, Lana. Maaf membuat kalian menungguku terlalu lama. Maaf karena aku telah banyak menyusahkan kalian, aku berjanji akan menjaga dan merawat mama menggantikan kalian." Deraian air mata berjatuhan membasahi wajah nan cantik jelita. Mengingat semua kejadian lima tahun lalu meninggalkan luka yang teramat dalam.


Setelah menaruh karangan bunga, dia pun pergi meninggalkan area pemakaman. Taksi kembali melanjutkan perjalanan pada sebuah rumah sakit. Dia membawa satu karangan bunga lili putih juga sekotak makanan kesukaan. Wanita paruh baya itu berbaring lemah dengan selang infus di lengan dan hidungnya. Alat bantu yang membuatnya bertahan untuk hidup.


Wanita nan cantik jelita tadi meletakan bunga lili putih kesayangan menggantikan bunga yang sudah layu di atas meja pasien.


"Ma, aku sudah pulang, aku sudah sehat. Semua ini berkat Lana yang sangat menyanyangi-ku. Sekarang giliran aku yang menjaga dan merawat-mu," ucap wanita nan cantik jelita itu sambil mengusap lembut pipi wanita kesayangannya yang sudah terlihat keriput.


Ceklek. Pintu di buka, Seorang pria berkacamata menghampiri wanita nan cantik jelita tadi.


"Kau sudah datang, Nis? Bagaimana perjalanan-mu?" menepuk perlahan pundak wanita tadi.


"Uhm, lumayan melelahkan Adam, tapi aku sudah bertemu papa dan Lana sebelum kesini!" sambil tangan mungilnya memijat perlahan lengan wanita kesayangannya.


"Sebaiknya kau pulang dan istirahat, dua hari lagi kau kan sudah mulai bekerja dan maaf jika tempat tinggal yang kupilihkan tidak sesuai dengan keinginan-mu. Aku harap kau tak keberatan!" tambah lelaki yang bernama Adam tadi.


"Terima kasih sudah membantuku mencarikan pekerjaan dan tempat tinggal buatku, Dam!"


"Jangan bicara seperti itu Nis, selama ini paman dan bibi sudah banyak membantuku. Kalau bukan mereka yang membantu, mungkin aku masih bergelandangan di jalan!" ucap Adam menatap Nisa  yang sedang mengkhawatirkan kondisi ibunya.


"Bagaimana dengan kondisi terakhir mamaku, Dam? Apa yang dokter katakan?"


"Bibi memerlukan transplantasi jantung dan yang paling penting biaya untuk operasi juga pemulihannya membutuhkan biaya yang tak sedikit," jelas Adam.

__ADS_1


"Uhm, aku faham!"


Ya ... inilah awal yang baru untuk seorang Faranisa Aznii setelah orangtuanya bangkrut. Ayah dan adiknya, Lana meninggal karena kecelakaan dan jantung Lana didonorkan kepadanya. Sedangkan dirinya terpaksa memulihkan diri di negeri orang dengan sia-sia ekonomi terakhir mereka.


Ibunya memiliki riwayat yang sama seperti Nisa, terpaksa hanya bisa mengandalkan peralatan bantu untuk mendominasi tubuhnya tiga tahun belakangan ini. Kali ini Nisa harus berjuang mengandalkan diri sendiri dan kemampuannya yang tak seberapa untuk mencari biaya perawatan, operasi ibunya juga dirinya sendiri.


Nisa berjalan keluar rumah sakit berbarengan dengan satu mobil yang diparkir dengan tergesa, terlihat salah seorang membuka pintu penumpang dan memapah seseorang yang terluka. Mereka hanya terhalang satu orang sehingga tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.


"Nis, aku akan mengantarkanmu,"  Adam berlari menyusul Nisa.


"Kau pasti lelah seharian bekerja, Dam. Apa masih ada waktu untuk mengantarkan-ku?" Nisa merasa sungkan karena selama dia tak ada, Adam-lah yang menjaga ibunya.


"Tidak apa-apa, Nis. Kau juga pasti belum makan, kita mampir makan sekalian ya." Nisa tak bisa menolak lagi menerima ajakan dari Adam.


"Aku ambil motor-ku sebentar. Kau tunggu disini ya, Nis!" lanjut Adam meninggalkan Nisa berjalan kearah parkiran.


"Cih ... aku bilang, aku baik-baik saja. Kau sampai repot membawaku kerumah sakit!" Gerutu seorang pria yang lengannya sudah di balut perban.


"Kau masih saja memakai alasan kakekku, Bisma. Dia itu sudah meninggal, sudahlah, aku bukan anak kecil lagi!"


"Ta-pi, Tuan Leon, ini adalah amanat beliau yang harus saya jaga." Bisma masih bersikeras.


"Sssttt, sudah ambilkan mobil! Mau sampai kapan aku berdiri seperti ini," delik Leon memberi perintah.


"Ba-baik, saya ambil sekarang, mohon tunggu sebentar, Tuan!" Bisma berlari meninggal tuannya mengambil mobil. Mata Leon berkeliling sesaat, matanya menangkap sosok yang dia kenali. Namun, dia segera meremas wajahnya sendiri dengan kasar.


Ughh. Aku masih juga belum bisa melupakan dia padahal sudah lima tahun berlalu. Rasanya itu tidak mungkin dia, aku sering salah mengenali orang. Dasar sial, semua karena ulah Marko mengajakku minum malam ini.

__ADS_1


Leon melihat sosok wanita tadi di bonceng naik motor bebek butut.


"Maaf ya, Nis. Aku hanya bisa mengantarmu pakai motor jelek begini," ucap Adam disela perjalanan mereka.


"Nggak apa-apa, Dam. Kalau kamu nggak kasih aku tebengan malam ini, aku akan keluar uang lagi buat bayar taksi," kekeh Nisa. Adam hanya tersenyum mendengar celotehannya.


Motor bebek Adam berhenti di salah satu warung tenda pecel ayam, "Nah Nis, ini termasuk pecel ayam favorit di wilayah ini, aku jamin sekali coba bikin nagih!" Adam mempromosikan jajanan pecel ayam dengan penuh semangat.


"Wah ...  aku makan banyak loh, Dam, kalau bikin nagih aku bisa makan dua atau tiga porsi sekaligus," sahut Nisa sambil tersenyum.


"Boleh, boleh, kamu mau makan tiga porsi-pun, malam ini spesial, aku traktir!" Adam yang tak bisa menghindari pesona dari wajah cantik Nisa.


"Oke, satu porsi aku bungkus ya, buat cadangan kalau nanti malam aku kelaparan soalnya aku belum punya stok apa-apa di rumah, barang-barang pun belum ada yang ku bongkar!" Nisa melepas rasa sungkannya sambil tertawa bersama di meja makan pecel ayam.


***


"Anda ada janji makan malam dengan nona Wina, Tuan" Bisma mengingatkan Tuannya.


"Dia lagi! Hurf, sungguh tidak pernah menyerah!" Leon langsung kesal ketika Bisma menyebutkan nama Wina.


"Setidaknya dia salah satu kandidat yang cocok untuk, Tuan," tambah Bisma lagi.


"Aku sudah bilang, apapun kau boleh atur, tapi untuk urusan kandidat apa dia cocok denganku atau tidak, aku yang sendiri yang menentukan. Itu perjanjian-ku dengan almarhum kedua orangtua dan kakek-ku!"


"Saya mengerti, Tuan. Tapi tidak salah jika anda mencobanya dengan nona Wina. Dia sangat cantik, anggun dan juga seorang model" Bisma masih saja berkhotbah mempromosikan Wina.


"Kalau begitu kau saja yang menggantikan aku menemui dia, kau juga harusnya sudah punya calon kandidat, kan?" cibir Leon tak mau kalah jika berdebat soal kandidat.

__ADS_1


Gluk. Bisma harus menelan pil pahit ketika dia terus membujuk tuannya untuk menerima acara kencan buta yang sudah dirancangnya, tapi tuannya langsung menolak mentah-mentah.


Ah, Tuan sampai kapan anda akan menutup diri anda. Setelah kepulangan anda lima tahun lalu, sikap anda telah banyak berubah


__ADS_2