GODAAN SANG MANTAN PACAR

GODAAN SANG MANTAN PACAR
BELAHAN JIWAKU


__ADS_3

"Ti-tidak, Maafkan aku, aku tidak mau pergi dari sini, aku mohon," Nisa berkata, mendorong tubuh Leon saat dia masuk kedalam mobil.


"Kau gila? Membiarkan kau disini, itu sama dengan halnya aku membiarkan akses laki-laki lain untuk merebutmu. Kamu adalah milikku, hanya untuk diriku, tidak boleh ada yang menyentuhmu selain diriku. Aku sudah kehilanganmu satu kali, tidak mungkin aku bodoh untuk kedua kalinya kehilangan dirimu lagi."


Sampai saat ini Nisa belum mengerti maksud dari semua ucapan Leon. Baginya perasannya terhadap laki-laki dihadapnya masih abu-abu.


Bagaimana ini, kalau besok pagi Raka menjemputku dan tidak melihatku. Dia pasti akan mencemaskan aku lagi. Aku nggak boleh bikin Raka cemas terus. Selama lima tahun ini, kalau dia nggak membantuku, kesulitan disana nggak mungkin begitu mudah aku atasi.


"Nisa, Kau dengar ucapanku kan?" Leon dengan jelas memergoki Nisa melamun. Dia benar-benar nggak menyangka, tatapan Nisa saat ini sangat sulit diartikan.

__ADS_1


Dulu, bahkan sebelum mereka mengenal dan sama-sama menjalin hubungan, tatapan seperti itu sekalipun Leon tidak pernah melihatnya.


"Aku tidak mengerti dan nggak mau dengar. Aku cuma mau kembali ke rumahku dan beristirahat, itu saja. Aku tidak suka ikut denganmu." bentak Nisa kali ini dia berhasil melepaskan cengkraman tangannya, tetapi laju mobil Leon tidak bisa mengubahnya.


Leon meraup wajahnya dengan kasar. Ingin sekali dia mengatakan semua kerinduannya yang terpendam. padahal dia membayangkan pertemuannya tidak seperti ini. Dia membayangkan semua indah seperti masa dimana mereka dulu pernah berpacaran.


Nisa meliriknya, entah kenapa wajah frustasi Leon membuat hatinya terusik. Tapi tetap saja Nisa masih belum dapat menginginkan apapun tentang dia dan Leon.


Nisa tidak ingin meraihnya, tetapi dia sangat takut dengan kemarahan Leon. Dia takut kejadian tadi siang terulang lagi. Seluruh tubuhnya juga disekitar area miliknya, Nisa masih nggak nyaman. Masih terasa sakit.

__ADS_1


"Apa perlu aku menarik tanganmu keluar? Hah!" sepertinya Leon mulai geram karena respon dari Nisa selalu saja menghindarinya. Perlahan, Nisa meraihnya. Dia hanya menghindari amukan kemarahannya.


"Bisma, mulai hari ini, aku hanya perlu mendengar semua hal tentangnya sempurna. Aku tidak ingin dia mengeluh kekurangan sedikitpun. Kau mengerti?" tegas Leon saat memberikan ultimatum perintahnya pada Bisma.


"Baik Tuan, saya akan laksanakan sesuai perintah. Apa Tuan mau mandi dulu sebelum makan malam?" yang ada setelah mendengar kata makan malam dari Bisma, Leon melirik Nisa penuh arti.


Ya, aku sangat ingin makan malam dengan puas. selama ini aku sudah berpuasa selama lima tahun. Tanpa ada kamu, hidupku benar-benar tidak berarti sayang. Aku berjanji akan segera membuat ingatan pulih. Aku ingin memeluk dan menciummu dengan bebas seperti dulu, Azni. Hanya kamu satu-satunya belahan jiwaku.


"Aku akan mandi dulu, Bisma. Badanku harus segera segar," tetap dengan tatapannya pada Nisa. Gadis itu sedang berkeliling dengan matanya. Memindai dan seolah sedang menghafal seluruh ruangan.

__ADS_1


"Kamu belum makan kan, Nis? Nanti kita makan malam bersama ya?" Tiba-tiba tangannya menyentuh pipi Nisa. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya yang dalam...


__ADS_2