GODAAN SANG MANTAN PACAR

GODAAN SANG MANTAN PACAR
HAK BERBICARA


__ADS_3

"Aku tidak mau disini, sudah aku katakan aku ingin pulang. Itu saja. Antarkan aku pulang sekarang. Aku tidak mau disini!" tak perlu waktu lama untuk Nisa menjawab pertanyaan Leon. Dia makin kesal melihat tingkah Leon yang seenaknya.


Prang! Leon menendang beberapa vas yang tak jauh dari jangkauannya. Dia tidak akan melampiaskan kekesalannya pada Nisa lagi. Dia hanya tetap ingin gadis itu bersama dengannya, meski cara yang dilakukannya nanti terlihat menakutkan dimata Nisa.


"Kau gila. Apa begitu caramu berbicara baik-baik dengan seseorang. Aku hanya meminta apa yang kuanggap hal yang tidak sulit kau kabulkan." detik itu juga Nisa sudah bertekad akan melawannya. Dia tidak mau lagi diperlakukan seperti tadi siang.


Nisa merasa punya hak berbicara. Tidak ingin dikendalikan seperti boneka.


Grep! Leon mencengkram kasar mulut Nisa, "Coba saja kau pergi darisini atau kau berani saja menghilang dari pandangan mataku, jangan salahkan aku bersikap tak baik juga pada ibumu!" ancam Leon.


"Arg, arg, shh-sa-kit. Aw!" Nisa meringis, rahangnya terasa akan remuk. Cengkraman Leon dipipinya membuat Nisa meringis.

__ADS_1


"Kau tahu, aku juga punya batas kesabaran. Sekali lagi kau pergi, aku pastikan, kau tidak akan pernah melihat ibumu!“ mata Nisa membulat dengan lebar saat mendengar ancaman dari Leon, dia tidak menyangka kalau ibunya akan dijadikan sebagai ancaman.


" Ti-tidak, tolong jangan lakukan apapun dengan mamaku. Aku mohon, jangan lakukan apapun!" pinta Nisa.


Leon membuang cengkramannya hingga membuat Nisa tersungkur di lantai.


"Tetap disini, jangan membantah perintahku dan patuhi semua aturanku. Jangan protes dan lakukan tanpa banyak tanya!" Leon berkata sambil jongkok, menarik wajah Nisa lalu dia tepis dan Leon meninggalkan Nisa yang kembali tak bisa mencegah lelehan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya.


Nisa memukuli dadanya dengan kasar. Terasa sangat sesak dan membuatnya makin susah bernafas hingga dia kembali tak sadarkan diri dengan tangisannya.


***

__ADS_1


Hidung Nisa mencium aroma yang menenangkan. Entah itu aroma parfum atau aroma therapi di ruangan itu, tapi itu benar-benar membuat perasaan Nisa tenang dan lebih baik.


Nisa membuka matanya, mengamati sekeliling kembali.


"Sshh-," saat dia menggerakkan lengannya terasa sedikit nyeri. Dia menoleh ternyata lengannya sudah terpasang dengan cairan infus.


Ah, aku lupa, sepertinya semalam aku tidak sadarkan diri lagi. Dadaku sesak lagi, hem.


"Kau sudah sadar? Benar-benar membuatku gila saja. Aku hampir mati karena panik. Jawab dengan jujur. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu, Aznii. Kenapa kau masih saja pingsan seperti dulu? Apa yang kau sembunyikan padaku? Mungkin dulu aku tidak memiliki kuasa apapun untuk mencari tahu segalanya. Sekarang, kalau kamu tidak mau berkata dengan jujur soal kondisimu, aku pastikan dapat mengorek dengan jelas semua informasi yang kau tutupi. Jadi lebih baik sebelum aku membongkar semua, bicaralah padaku dengan jujur!"


Hujanan pertanyaan dari mulut Leon membuat Nisa mati kutu. Ada yang masih belum dapat dia mengerti tentang laki-laki dihadapannya, tetapi Nisa merasakan laki-laki itu mengetahui segala hal tentang dirinya. Masa lalunya dan mungkin saja itu sesuatu yang Nisa lupakan selama ini...

__ADS_1


-tbc-


__ADS_2