GODAAN SANG MANTAN PACAR

GODAAN SANG MANTAN PACAR
Kau Adalah Milikku


__ADS_3

Leon terus saja bersiul dan berseri setelah dia lebih dulu rapih memakai pakaiannya. Bisma masuk ke ruangan tuannya setelah dua jam. Dia menunggu di depan pintu sambil membawa masuk satu paper bag.


"Kau membeli ukuran yang kuminta kan?" Leon berkata dengan wajahnya yang terus tersenyum saat menerima isi paper bag yang diberikan Bisma.


"Sesuai yang Tuan minta dan Tuan meminta-ku untuk membelikan gaun tertutup pada bagian leher." Leon melirik Bisma.


"Kosongkan jadwal-ku hari ini, aku tidak ingin di ganggu!” perintah Leon lagi lalu dia menekan tombol rahasia sambil terus senyam senyum sendiri.


Hah, tadi pagi kebakaran jenggot. Sekarang senyum-senyum sendiri. Benar-benar sulit di tebak.


Bisma menggeleng sambil melihat kondisi ruangan berantakan dengan pakaian Leon yang tercecer di lantai.


Ahh, pantas saja.


Bisma memahami kegilaan tuannya.


Pintu terbuka, Nisa langsung bersembunyi di belakang tubuh Leon dengan selimut membungkus tubuh polosnya. Malu. Leon memberikan baju gantinya dan membawa Nisa keluar dari ruangan yang ditutupi tadi oleh Leon.


Haduh ... Nisa, baru beberapa jam saja kau sudah membuat ulah. Sekarang, bagaimananya caranya kamu bisa pergi darinya.


Nisa merutuki kesialannya hari ini. Leon menarik pinggang Nisa hingga dia bebas memeluk pinggangnya dari belakang.


Hih, apa sih peluk—peluk segala, bikin risih saja.


"Dia itu Bisma, orang kepercayaanku. Mulai hari ini, kapan pun kau membutuhkan sesuatu, kau bisa langsung katakan padanya!" Leon bergelayut manja di pundak Nisa.


"Ah, iya ... Pak Bisma, halo, saya Nisa!" Nisa mengulurkan tangannya. Canggung untuk berkenalan, Bisma baru saja akan mengulurkan tangannya.


"Ehem!" kode keras dari tuannya agar Bisma menarik tangannya kembali.


"Saya, Bisma asisten pribadi Tuan Leon, Nona Nisa tak perlu sungkan, panggil saja Bisma!"


Asisten pribadi katanya, lalu aku apa? Kenapa dia masih membutuhkan seorang sekretaris kalau sudah ada asisten pribadinya.


"Apa yang kau lamun kan? Dan sejak kapan kau merubah nama panggilan-mu?" Leon menarik hidung Nisa yang terlihat melamun. Nisa menautkan alisnya.


Bagaimana dia bisa tahu?


Leon meraih gelas air yang ada di atas mejanya, "Minumlah, kau pasti haus. Makanannya berapa lama lagi, Bisma?" setelah memberikan gelas, dia mendelikkan matanya pada Bisma.


Belum sempat Bisma menjawab suara ketukan langsung membuyarkan pembicaraan mereka. Bisma membukakan pintu, seorang kurir pengantar makanan sudah berada di ambang pintu. Dia membawa masuk beberapa paper bag makanan yang sudah di pesannya dan meletakkannya di meja.


"Ini pesanan anda, Tuan!"

__ADS_1


"Berikan kunci mobil-ku dan kau bisa pulang untuk istirahat!" Bisma hampir tidak percaya, Tuannya yang setiap hari bekerja tanpa henti kini menyuruhnya untuk pulang.


"Pu-pulang?"


"Uhm, tinggalkan kuncinya di meja kerjaku!" perintahnya lagi.


"Baik, Tuan!" Bisma mendekati meja Tuannya dan menaruh salah satu kunci mobil miliknya.


"Kemarilah!' Leon menarik tangan Nisa yang masih ling-lung. Dia membawanya kembali di sofa yang membawa pengalaman buruk bagi Nisa.


"Besok akan aku ganti, duduklah!" Leon menyadari ke-enggan-an dari wajah Nisa.


"Maaf, Tuan Leon, saya harus mulai bekerja dari mana?" Nisa tak ingin basa-basi agar hari ini dapat segera berlalu.


Leon melipat kedua tangannya di dada memicingkan matanya dengan tajam pada Nisa, "Kalau kau tidak duduk, aku akan melakukannya lagi, disini!" ancam Leon. Nisa tersentak langsung melompat duduk di sampingnya.


Ck, ck, ck. Apa aku harus terus mengancamnya baru dia menurut.


Leon membuka satu demi satu makanan yang sudah di pesannya. Nisa melihat dengan jelas makanan yang sudah tersedia di atas meja. Nisa memberanikan diri menatap wajah Leon, "Bagaimana Tuan bisa tahu makanan kesukaan saya? Setahu saya, saya belum pernah memberitahu apapun soal makanan kesukaan saya!" Nisa masih berbicara dengan formal terhadap Leon. Dia kembali menatap wajah Nisa, polos tanpa kebohongan.


Apa dia benar-benar lupa dengan ku?


"Kita bicara setelah makan, ayo buka mulut-mu!" Leon mengambil salah satu makanan, mendekatkan ke mulut Nisa. Nisa mau mengambil sendok yang di pegang Leon, tapi dia menggeleng, terpaksa Nisa membuka mulutnya.


"Terserah!"


Leon beranjak dari sofa dan berkacak pinggang mondar mandir di ruangan. Terkadang meremas wajah dengan kasar. Nisa hanya bisa melirik tak perduli dan melanjutkan makannya.


Nisa mencari keberadaan bunyi ponselnya, dia melihat tasnya masih tergolek di lantai. Mata Leon spontan melirik setiap gerak gerik Nisa. Nisa meraih tasnya dan melihat nomor yang muncul pada layar ponselnya.


Ah, Raka ... dia pasti cemas mencariku.


"Maaf, Tuan saya angkat telpon dulu," ucap Nisa yang membawa ponselnya agak menjauh sambil menempelkan ponselnya di daun telinga. Leon mendekat dan menguping pembicaraan Nisa di telpon.


“Kemana saja, kau mengabaikan telpon-ku?” suara penuh khawatir dari ujung telpon.


Nisa menghela nafasnya saat Raka memburunya dengan pertanyaan kekecewaan.


“Maaf, aku harus pulang. Mama—ku sekarang membutuhkan—ku.” Nisa mencoba mengatur suaranya, seolah sedang membujuknya.


“Kau kan bisa bilang, aku pasti menemani-mu!”


“Terima kasih, tapi biarkan kali ini aku berjuang sendiri.”

__ADS_1


“Tapi Nis, aku nggak suka kamu pergi tanpa memberitahuku dulu.”


“Iya, maaf. Aku tutup dulu ya.”


“Tunggu Nis, aku belum selesai bica-ra ...,” Telpon di putus Nisa dengan cepat. Nisa tidak ingin dia bertengkar kalau terus melanjutkan pembicaraan.


Bugh! Saat berbalik Leon sudah berdiri dihadapanya.


"Aw!" pekik Nisa. Leon memicing tajam padanya.


"Siapa dia?" dengus Leon terdengar kesal. Dia mendengar dengan jelas suara di telpon tadi seorang pria.


Nisa memilih tak menjawab hanya memalingkan wajah dan melewatinya. Nisa masih merasa sakit hati dan benci pada perlakuan Leon beberapa jam lalu. Walaupun mereka sekarang dalam ruangan yang sama, di hati Nisa, dia benar—benar membenci pria dihadapannya.


"Kau belum menjawab pertanyaan-ku, siapa dia?” Leon mencengkram tangan Nisa dengan erat.


"Le-pas! Tanganku sakit!' hardik Nisa dengan tatapan penuh kebencian.


Apa itu? Dia membenciku?


Leon melepaskan cengkramannya, "Jadi hari ini saya belum memiliki tugas kan? Kalau begitu saya mau pulang dan istirahat!" Nisa meraih tas dan akan pergi.


Brukk! Nisa di dorong kasar lagi oleh Leon hingga tubuhnya terhempas kembali ke sofa. Tatapan Leon penuh kemarahan dan dia mulai melepaskan kembali ikat pinggangnya, mata Nisa membulat lebar.


"Tidak, jangan lakukan lagi!' Nisa bergidik dan terus menghindar.


"Aku bertanya siapa dia? Apa kau tuli!!" Leon berteriak, suaranya menggema di ruangan.


"Te-teman-ku, dia temanku!" Nisa menutup kedua telinganya dan terisak.


"Kau tidak berbohong? Katakan!!" Teriak Leon makin keras.


Ya ampun, apa sih maunya orang ini, kasar dan mau menang sendiri. Sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang aku katakan teman pun , dia masih tak percaya.


"Dengar, mulai hari ini kau adalah milik—ku , jangan berfikir untuk kabur dari sisiku lagi, paham!!" Eratan gigi Leon terdengar dengan jelas di telinga Nisa. Tubuh Nisa bergetar, dia bahkan tak berani menatap wajah pria yang sedang mengancamnya.


Mama, apa salahku. Siapa dia? Kenapa aku tidak bisa mengingat sedikit pun tentangnya!


"JAWAB!!!' Leon kembali berteriak dengan keras ketika Nisa masih saja diam, tak bergeming.


"I-iya!” tangis Nisa pecah seketika, ketakutan.


Benar begini, kau adalah milik—ku . Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sekali pun sekarang kau sedang berpura-pura tak mengingatku.

__ADS_1


__ADS_2