
Leon tersentak dan melemparkan dompetnya kepada Bisma yang masih melonggo melihat aksi Tuannya. Saat dia berbalik badan, Nisa sudah tidak ada. Dia sudah menghilang dari pandangannya.
Argghhh. Sial.
Leon meremas wajahnya dengan kasar. Dia sudah bertekad tidak akan kehilangan sosok wanita yang selalu dicarinya malah berbanding terbalik dengan keinginan-nya.
"Kau sudah melihatnya bukan, cari semua informasi secepatnya. Aku mau tahu semua tentang-nya dengan jelas!" Leon memberikan perintah pada Bisma masih dengan tatapan kemarahan.
Benar wanita itu. Wanita yang selama lima tahun ini dicari Tuan, ternyata dia sudah banyak berubah penampilannya jauh lebih cantik dan dewasa.
Leon melihat lagi makanan yang diinjaknya tadi, walaupun secara samar Leon tahu makanan tadi adalah makanan kesukaan Nisa.
Huh, harusnya aku tak berbuat sejauh ini.
Leon sudah tidak fokus, dia membatalkan pertemuan-nya. Dia merasa tubuhnya tiba-tiba tidak enak jadi memerintahkan Bisma mengantarnya pulang. Dia turun di sebuah panthouse dua lantai, miliknya dan bergegas masuk mengunci kamarnya.
BRUKK. Leon menyandarkan tubuhnya dipintu. Wajahnya memerah, jantung berdebar ribuan kali saat pertemuan-nya tadi dengan Nisa. Di pelupuk mata Leon, dia masih dapat melihat wajah cantik Nisa.
Dia sudah banyak berubah, sangat cantik. Dan tubuh mungil dengan dadanya yang berisi membuatku candu. Bahkan hanya dengan menggunakan kaos ketat dan celana jeans saja sudah bisa membuatnya menonjol dengan sempurna.
Arghh. Aku hampir gila, siapa yang merubahnya sampai secantik itu atau jangan-jangan dia sudah menikah? Hahh!! Aku bahkan tidak perduli jika dia sudah menikah, aku akan tetap mengikatnya.
Leon mengepal geram kedua tangannya ketika memikirkan Nisa sudah menikah.
***
Di tempat lain,
Nisa yang merutuki kesal pertemuan-nya dengan laki-laki yang menurut-nya gila.
Bisa-bisa dia mencengkram tanganku dengan kasar, bilang mengenalku. Dasar pria kaya gila. Amit-amit deh ketemu lagi, hiihhh, jangan sampai. Nisa bergidik ketika membayangkan pertemuan-nya dengan laki-laki tadi.
Hurff. Harusnya aku bisa makan enak. Sia-sia sudah Aldo membelikan-ku makanan.
Gerutu Nisa yang masih membayangkan makanan yang dibelikan Aldo.
Nisa membuka lemari pendinginnya, melihat bahan makanan yang akan dibuatnya dengan cepat karena perutnya langsung terasa lapar.
Huh, emosiku langsung terkuras karena bertengkar dengan pria tadi.
SREK. SREK. SREK. Tangan Nisa mengiris tomat, namun terhenti sesaat dengan mengingat peristiwa tadi. Nisa berusaha mengingat wajah pria yang tampak tidak asing.
Hah, aku bahkan tak bisa mengingat dengan jelas, ini efek samping dari obat yang kuminum selama lima tahun ini.
Nisa masih bersyukur karena dia tidak melupakan orangtuanya. Amnesia lakunar dan jantung bawaan lemah adalah vonis yang diberikan dokter untuk dirinya. Dia dengan terpaksa menerima donor jantung dari adiknya, Lana. Ibunya bahkan berkorban untuk dirinya, lebih memilih keselamatan putri satu-satunya yang tersisa.
Huh, semangat Nis, sekarang saatnya kamu yang membalas budi. Sembuhkan mama lalu kau bisa memikirkan tentang masa depanmu.
Pukul enam pagi Nisa sudah terbangun dan menyiapkan sarapan. Setelah membuat sarapan Nisa meninggalkannya untuk mandi, berganti baju dan berdandan.
Nisa menggunakan rok span hitam di atas lutut dengan kemeja berwana lemon berenda sangat pas ditubuh mungil dan dua benda berisi milik Nisa. Di tambah heels juga rambutnya yang ditata bergelombang membuat Nisa cantik dan mempesona.
Nisa meneguk susu coklat dan roti isi coklat yang sudah dibuatnya. Segera turun karena Adam akan menjemputnya. Tempat kerja yang dicarikan Adam satu arah hanya beda beberapa gedung. Adam melonggo melihat penampilan Nisa. Dua hari ini, Adam hanya melihat dandan kasual Nisa saja.
"Hurff, pagi yang sangat panas!" Adam berkomentar segera memalingkan wajah dan mengusap dadanya.
Untung saja Sarah tak kalah panas darimu, Nis. Batin Adam.
"Apa sih, Dam?"
"Tidak. Ayo, kita berangkat nanti terlambat!" Adam melirik dari kaca spion saat Nisa duduk di belakang.
"Pegangan ya, Nis. Jangan sampai kamu jatuh, dan ini ...," Adam membuka jaketnya menutupi rok Nisa yang terangkat melebihi batas keimanan mata laki-laki.
"Terima kasih, Dam!" Nisa segera menutupi dan menaruh tasnya di atas jaket Adam.
"Nis, aku bilang dulu nih," ucap Adam sudah menjalankan motornya.
"Kenapa, Dam?"
__ADS_1
"Maaf aku mau ingkar, nanti sore aku nggak bisa jemput kamu, ya!"
"Oh, itu ... santai saja, Dam. Harusnya kamu juga nggak usah antar jemput seperti ini, aku bisa berangkat sendiri," ucap Nisa.
"Nggak Nis, aku kan udah janji buat jagain kamu sama bibi, selama ada aku sebisa mungkin kamu sama bibi akan aku jaga!"
"Huh, Dam. Awas ... nanti Sarah salah faham melihatnya. Aku nggak mau loh jadi penyebab rusaknya hubungan kamu sama Sarah!"
"Nggak Nis, Sarah ngertiin aku kok. Yang jelas aku baru bisa tenang kalau sudah melihat bibi sembuh dan kamu hidup bahagia," tambah Adam. Nisa sudah tak bisa membujuk lagi kemauan Adam untuk menjaga keluarganya.
"Ingat ya, Nis ... langsung pulang jangan keluyuran sepulang kerja. Aku ada acara yang harus dilakukan bersama dengan Sarah, tapi besok aku akan antar dan jemput kamu, mengerti!"
"Beres, bos!"
Pesan Adam sebelum dia pergi meninggalkan Nisa seperti seorang kakak laki-laki yang perhatian kepada adiknya. Nisa melangkah masuk pada sebuah gedung dengan nama PRAWIRA COMPANY. Semua mata langsung tertuju pada penampilan Nisa yang sangat cantik dan memikat para kaum Adam.
Nisa menghampiri meja resepsionis, "Selamat pagi, saya, Nisa. Saya ada janji dengan Ibu Wanda, lantai berapa saya bisa bertemu dengan-nya?" sapa Nisa sopan dan tersenyum.
"Selamat pagi juga, saya cek di daftar sebentar ya!" Resepsionis segera mengecek daftar janji tamu.
"Bisa ke lantai tiga puluh bagian personalia, lift sebelah kiri, anda bisa kenakan tanda pengenal tamu sementara sebelum mendapatkan tanda pengenal untuk akses masuk ke dalam gedung!" Nisa menerima id tamu dan segera mengalungkan dilehernya.
"Terima kasih!"
***
Tok. Tok. Tok. Bisma masuk ke ruang kerja Leon. Dia terlihat sibuk dengan beberapa berkas dan matanya sudah serius dengan ketikan data ditangannya, padahal hari masih sangat pagi untuk mengerjakan aktifitas tadi.
"Ini data yang Anda minta, Tuan." Leon menghentikan pekerjaan, menatap Bisma dan sebuah amplop coklat ditangannya.
Bisma memberikan amplop coklat tadi, "Terima kasih, keluarlah!" Bisma menganguk dan keluar.
Leon membuka perlahan amplop coklat tadi dan melihat isi informasi yang dia perintahkan. Dia membaca informasi bahwa setelah kebangkrutan perusahaan keluarga Nisa, ayah dan adik Nisa meninggalkan. Lalu ibu Nisa terbaring di rumah sakit. Nisa ada di salah satu negara dan melakukan banyak pekerjaan. Dan Nisa baru berada tiga hari dikota ini.
Mata Leon membulat tak percaya saat dia melihat perusahaan yang sedang menerima Nisa bekerja, dan status lajangnya Nisa membuat hati Leon lega.
Ternyata mau lari sejauh manapun kau tetap akan kembali kepadaku.
Leon menyimpan kembali berkas tadi dan beranjak dari tempat duduknya. Dia sedikit gelisah hingga mondar mandir di dalam ruangan.
Apa yang harus kulakukan? Apa aku langsung menyapa dan meminta maaf padanya? Atau ... aargghh, harusnya kemarin aku tidak memberikan kesan seperti itu padanya. Bodoh sekali kau, Leon.
Leon merutuki kebodohannya kemarin. Pintu di buka Bisma.
"Bagaimana? Apa kau sudah melihatnya?" Leon menghampiri Bisma dan penasaran.
"Wanda sedang mewawancarainya di ruangan, kemungkinan besar dia akan mengantikan posisi Renita yang resign sebagai sekretaris Arlan!" Mata Leon membulat lebar.
"Arlan? Pria brengsek yang selalu membawa banyak wanita ke ruangan dan memuaskan nafsunya. Tidak, aku tidak setuju, tukar dengan Jenita, biarkan dia disini!" perintah Leon.
"Baik, Tuan. Saya akan ke ruangan Wanda dan berbicara dengannya!"
"Cepat sana pergi, kalau dia sudah menerimanya, mutasi segera ke tempatku!" Leon mendorong tidak sabaran tubuh Bisma keluar ruangannya.
Ya ampun ... Tuan, anda kebakaran jenggot sendiri padahal hasilnya belum diputuskan.
Di ruangan Wanda,
"Bagaimana apa kau sudah membaca kontrak kerja dan menerimanya?" ucap Wanda melihat wajah Nisa menimbang-nimbang pekerjaannya.
Seorang sekretaris pribadi? Aku bahkan tidak mengerti bagaimana cara bekerjanya. Apa aku tolak saja ya? Adam mencarikan-ku pekerjaan yang tak sesuai, namun aku sangat membutuhkan uang untuk membiayai pengobatan mama.
"Bagaimana Nis?" ucap Wanda membuyarkan lamunan Nisa.
Wanda tahu kalau Nisa akan menolaknya. Namun, dia harus segera mencarikan pengganti Renita sebagai sekretaris Arlan kalau tidak Arlan akan terus membuat keributan.
"Ah, itu ... sepertinya saya meno--,"
Suara pintu di ketuk. Wanda langsung berdiri ketika melihat Bisma sudah berdiri dihadapannya. Bisma tidak mungkin datang begitu saja keruangan Wanda jika bukan karena hal mendesak.
__ADS_1
"Se-selamat pagi Pak Bisma, ada yang bisa saya bantu?"
Wanda segera menghampiri ketika Bisma memberikan kode untuknya. Bisma membisikkan sesuatu di telinga Wanda dan membuat Wanda melirik Nisa ketika mendengar perintah yang keluar dari mulut Bisma.
"Ba-baik Pak!" Bisma sudah keluar dari ruangan Wanda.
"Maaf sedikit tergantung ya, Nis!"
"Oh, tidak apa-apa, Bu!"
"Jadi bagaimana keputusan-nya?" Wanda mengulangi lagi pertanyaannya.
"Maaf Bu, sepertinya pekerjaan ini tidak cocok untuk saya. Apa Ibu tidak bisa mencarikan saya satu posisi yang tepat, misalnya staff admin atau mungkin cleaning service?" Nisa tidak ingin terikat pada satu pekerjaan, karena dia ingin mencari pekerjaan lain untuk menutupi biaya pengobatan ibunya.
GLUK. Wanda menelan ludahnya sendiri, apalagi dia tadi sudah dapat ultimatum. Nisa harus bisa di terima bekerja. Kalau tidak, posisinya sekarang menjadi taruhan terbesar. Wanda akan langsung dipecat Bisma kalau sampai Nisa menolak tawaran pekerjaannya.
"Kau yakin menolaknya? Isi kontrak tadi hanya formalitas karena saya di minta secara resmi oleh pimpinan, dan beliau akan membayar gaji kamu tiga kali lipat. Bagaimana, Nis?" tawar Wanda menggoyahkan hati Nisa yang memang sedang sangat membutuhkan uang.
Tiga kali lipat gaji? Apa tidak salah? Nominalnya sangat besar, aku bahkan bisa menabung lebih cepat untuk biaya operasi mama.
"Ibu yakin? Saya hanya bekerja sebagai seorang sekretaris. Saya tidak akan melakukan hal yang aneh kan?" Nisa menatap wajah Wanda yang terlihat gelisah. Dia tak mungkin saja menyetujui hal yang menurutnya sedikit mencurigakan apalagi setelah kedatangan orang yang dipanggil pak Bisma tadi.
"Tentu saja tidak Nis, pimpinan kami tidak seperti itu ... yang kami tahu dia adalah sosok tegas dan dingin, bahkan selamat lima tahun terakhir saya bekerja disini, saya bahkan belum pernah melihat dia bersama dengan wanita. Malah saya sempat berpikir, kalau dia tidak menyukai wanita. Tidak ada yang berani mendekati dia, Nis ... hmmm ... baginya pekerjaan nomor satu." Wanda menatap sesaat wajah Nisa yang sedang menyimak ceritanya.
"Jika kamu sampai bekerja dengan dia, yang perlu saya tekankan disini adalah kamu harus bersedia dua puluh empat jam, beliau akan sangat banyak kegiatan di luar kantor, berpergian, meeting dan pertempuran yang kadang mendadak. Jika beliau sudah menjadi atasan-mu, kau tak bisa menolak-nya," lanjut Wanda bercerita tentang kepribadian pimpinannya.
"Dua puluh empat jam? Tidak istirahat? Tidak ada ruang pribadi?" Nisa cukup shock mendengar penjelasan atasannya yang bekerja sangat workaholic.
"Saya rasa jika kamu sudah bersama dengan beliau, kamu bisa bernegosiasi langsung. Beliau bukan orang yang tak berperasaan pada karyawan-nya!" Nisa tampak berfikir.
Bekerja dua puluh empat jam dengan gaji tiga kali lipat. Aku akan lebih cepat menabung untuk biaya operasi mama. Well, tidak salahnya aku mencoba, aku rasa tidak buruk.
"Dimana aku harus tanda tangan?" Akhirnya Nisa memutuskan untuk menerima pekerjaan itu.
Huhh, akhirnya dia menerima juga. Aku rasa Jenita tidak akan menolak jika dia di pindahkan bersama pak Arlan, apalagi dia selalu mengeluh dengan ritme kerja pak Leon yang workaholic.
"Di sebelah sini, Nis!" Wanda memberitahu Nisa tempat untuk membubuhkan tanda tangan.
Huh, selamat, selamat. Terima kasih, Nis, kau telah menyelamatkan pekerjaan-ku.
"Jadi kapan saya bisa memulai pekerjaan saya, Bu?" tanya Nisa setelah membubuhkan tanda tangannya.
"Saya akan antarkan kamu langsung ke ruang pimpinan ya, Nis!"
"Baik, Bu!" Wanda berjalan lebih dulu membuka pintu sebelum mereka berjalan berdampingan bersama.
BUGH. Saat mereka berbelok di lorong koridor Nisa tak sengaja bertabrakan dengan seseorang membuat tasnya jatuh tepat di dekat kaki orang tadi.
Ya ampun, Pak Arlan. Pekik Wanda panik.
Arlan langsung memicingkan matanya pada Wanda, "Siapa dia?"
"Sekretaris baru Pak Leon, Pak!"
Arlan pria tampan bertubuh tinggi dan atletis itu menatap Nisa yang baru saja berdiri setelah memungut tasnya. Tatapan mata Arlan seperti singa buas, menatap tubuh mungil dan berisi milik Nisa dari ujung rambut hingga kaki membuatnya tak kuasa menelan ludah.
"Bagaimana dengan Jenita?" tanya Arlan kemudian.
"Maaf Pak, saya lupa memberitahu, mulai hari Jenita dipindahkan ke ruangan, Bapak!" Mendengar nama Jenita, Arlan seketika membayangkan tubuh molek dan tinggi Jenita yang tidak kalah menggodanya.
"Uhm, baiklah. Kalau begitu saya pamit. Saya sudah lapar ingin menyantap sarapan pagi," ucap Arlan. Namun, tatapan matanya melihat Nisa dengan buas seakan mau menerkamnya.
"Baik, Pak!" sahut Wanda sambil membungkukkan badan memberi hormat sebelum Arlan benar-benar menghilang dari hadapan mereka. Bahkan Arlan sempat beberapa kali menoleh ke belakang menatap Nisa.
Hmm, sepertinya aku dapat mangsa baru.
Nisa sempat bergidik melihat tatapan menjijikkan yang terus di tujukan untuknya.
Hiiihh, apa jadinya kalau aku jadi sekretarisnya.
__ADS_1
Wanda menyadari, "Aku hanya memberitahu, kalau bisa kamu jauhi dia, jangan berurusan dengan laki-laki mata keranjang dan terlena menjadi pemuas hasratnya saja, ya Nis."
Huh, untung saja pak Bisma tadi datang tepat waktu, kalau tidak aku sudah menyuruh Nisa untuk menanda tangani kontrak kerja bersama pak Arlan.