
Mereka berjalan hingga ujung koridor berhenti di sebuah ruangan paling besar.
Tok tok tok.
Wanda membuka pintu, Bisma langsung menghampiri, “Mana kontraknya?"
Wanda memberikan kontrak yang sudah di tanda tangani oleh Nisa pada Bisma, Bisma meletakkannya di meja.
"Ayo kita keluar!" Bisma memberi kode pada Wanda untuk meninggalkan Nisa di ruangan.
"Nis, saya tinggal. Kalau ada kesulitan dan kamu ada pertanyaan bisa cari di ruangan saya!" ucap Wanda sebelum dia benar-benar pergi.
"Baik, Bu. Terima kasih banyak!"
Pintu di tutup dan ceklek. Nisa mendengar dan membalikan badan saat terdengar suara pintu di kunci otomatis.
Nisa mencoba membukanya, tapi tetap tidak bisa.
Ah, terkunci.
Bugh! Saat Nisa berbalik dia menabrak tubuh seseorang, Nisa menarik wajahnya melihat orang yang sudah dia tabrak.
Brukk! Nisa memundurkan tubuhnya hingga terbentur pintu. Orang dihadapan Nisa menatap tajam dan kesal. Dia menatap Nisa dari rambut dan ujung kaki.
Benar—benar menyebalkan. Memakai baju seperti itu dan berdandan, mau merayu siapa dia?
Lho, ini kan pria kaya gila yang kurang ajar kemarin, sedang apa dia disini?
Sontak mata Nisa membulat lebar saat dia ingat ruangan yang dia datangi bersama Wanda adalah ruangan pimpinan.
Argghhh. Aku tidak mau.
Nisa panik segera berbalik badan mencoba membuka pintu.
"Bu Wanda tolong, saya mau keluar dari sini. Saya tidak jadi menerima pekerjaan-nya!" teriak Nisa dengan tubuh bergetar ketakutan saat orang itu berusaha mendekati-nya.
"Apa kau bilang? Tidak ingin menerima pekerjaan ini, apa maksud-mu? Hah?"
Nisa di tarik kasar dan tubuhnya di hempaskan di sofa membuat rok span yang di pakainya terangkat keatas melebihi batas keimanan laki-laki sampai kain berenda berwana merah jambu terpampang nyata di pelupuk matanya.
Ah, sial. Apa dia sedang menggoda-ku. Aku begitu merindukan-nya selama ini, inikah balasannya?
Pria itu masih kesal karena menganggap Nisa pura-pura lupa pada dirinya.
"Katakan, siapa aku? Apa kau benar-benar tidak ingat siapa aku?"
Pria tadi sudah melompat ke sofa menghimpit tubuh Nisa dengan kedua kakinya dan kedua tangan Nisa di cengkramamnya dengan erat keatas.
"Arghh, sakit. Lepas. Aku bilang, aku tidak mengenalmu!" Nisa terus menggerakkan tubuhnya, tanpa sadar Nisa menggesek bagian benda tumpul miliknya.
__ADS_1
Hah, aku sudah tidak tahan lagi.
Pria tadi berulang kali menahan hasrat yang dia pendam selama lima tahun karena kehilangan Nisa.
"Diam! Kalau kau terus bergerak, jangan salahkan aku bersikap kasar terhadap-mu," delikan darinya membuat Nisa makin berontak keras.
Ah, sial.
Brakk srekk srekk! Pria tadi melepaskan cengkraman tangannya pada Nisa. Nisa berusaha melawan sekuat tenaga memukuli dadanya.
Namun, pria tadi sudah hilang kesadaran karena kerinduannya yang mendalam. Tak perduli dengan pukulan yang di berikan Nisa. Bahkan dia merasa tertantang untuk menaklukkan dengan merobek kemeja Nisa.
Pria tadi seperti kerasukan saat dia melihat kedua milik Nisa yang menantang membuatnya makin gila.
"Uhm, ah!"
Pria tadi mengeluarkannya. Mengesap salah satu dan tangan satunya bermain remas dengan aktif membuat Nisa kaget.
"Akh, jangan!" suara Nisa sudah berubah ******* di telinganya, membuatnya semakin menggebu dan bergantian mengesapnya.
Tubuh mungil Nisa tak kuasa melawan permainan buas di kedua miliknya.
"Akhh, aku mohon ja—jangan!" isak Nisa mulai memelas. Tubuhnya bergetar ketakutan. Ini kali dia merasakan pengalaman pertama.
"Jangan di tahan, keluarkan sayang, aku sangat merindukanmu!" bisiknya dengan hembusan panasnya yang sudah sangat terbakar.
Siapa laki-laki ini? Kenapa aku tak bisa mengingat dirinya.
Pria tadi kini mulai turun kedaerah intim milik Nisa, dia membukanya lebar dan merobek kain berenda milik Nisa yang sudah basah.
Kau boleh tak mengenaliku, tapi tubuhmu ini adalah bukti.
Pria tadi membuang kain pengahalang tadi ke lantai. Kini matanya beralih melihat sesuatu yang merona. Pria tadi sudah melepaskan semua yang dia pakai ke lantai. Dia sudah polos di hadapan Nisa.
"Ja—jangan. Jangan lakukan itu, aku mohon!" Nisa merasa terjepit. Dia tak mengira interview kerjanya akan berakhir dengan hal yang tak terduga.
Pria tadi menarik tubuh Nisa yang sudah setengah polos di pundaknya. Dia berjalan kearah rak buku dan menekan tombol rahasia di sampingnya.
Tubuh Nisa di hempaskan pada ranjang yang tersedia di balik rak buku tadi. Ruang rahasia untuk pria tadi beristirahat. Dia semakin buas dan merobek sisa rok span yang masih melekat di pinggang Nisa.
"Tu-tuan, aku mohon, ja-ja ... ump."
Sesuatu yang keras merobek bagian intim milik Nisa. Sangat sakit dan perih. Nisa meraung. Menangis sejadinya saat merasakan bagian intinya dirobek. Bagian yang selama ini Nisa jaga, begitu saja terenggut dengan mudah oleh pria yang tak dikenal Nisa.
"Lemaskan tubuhmu sayang, jangan menangis, sebentar lagi pasti tidak akan sakit!"
Pria tadi berusaha mendorong dan menghujamkan miliknya berkali-kali karena dia merasa kesulitan untuk memasukinya, hingga. Brek brek brek! Dia berhasil setelah menghentakkannya dengan kasar di sertai sesuatu yang hangat keluar dari bagian intim Nisa. Dia meliriknya, warna merah mengalir di seprei putih miliknya.
Rupanya dia masih suci, akulah yang pertama baginya.
__ADS_1
Senyuman kepuasan terlihat di wajahnya yang sudah berhasil menerobos kepemilikan yang dijaga Nisa. Nisa mencengkram kedua tangan pria tadi saat merintih kesakitan. Memohon untuk di lepaskan. Namun, pria tadi tetap melancarkan aksinya hingga dirinya mencapai puncak yang di pendamnya selama ini.
Tubuh pria tadi roboh menghimpit tubuh Nisa. Nafas menderu dan hawa panas masih sangat terasa. Sedangkan Nisa terus memukuli tubuhnya dan menangis sejadinya.
Pria tadi memeluk dan mengecup kening Nisa yang masih basah kuyup bermandikan keringat.
"Apa salahku. Kenapa kau melakukan ini, Hu hu hu ...," Nisa masih menangis dipelukannya.
"Maaf sayang, aku membuatku takut," ucapnya. Namun, di telinga Nisa, dia bahkan tidak mengerti kenapa pria itu melakukan hal bejat pada dirinya.
"Tolong, aku tidak mau bekerja disini. Aku mau berhenti, aku tidak mau disini!" rengek Nisa.
Huh, kau fikir aku akan melepaskan-mu begitu saja. Aku sengaja mengikatmu agar kau tak berani lagi kabur dariku.
"Boleh, asalkan kau bayar denda finalty pemberhentian kerjamu sebesar lima puluh milyar!" pria tadsi berbicara tanpa beban ketika menyebutkan jumlah yang sangat sangat besar untuk Nisa.
Lima puluh milyar? Aku mencari uang muka lima ratus juta untuk biaya pengobatan dan operasi mama saja masih menabung, ini aku harus membayar denda finalty.
Nisa terdiam, pria tadi tersenyum penuh kemenangan.
Aku pastikan akan terus mengikat-mu sampai kau kembali seperti dulu, menjadi kekasih kesayanganku, Az.
"Kalau kau tidak punya uang, lebih baik kau turuti saja semua perintahku. Mungkin jika hatiku sedang tidak buruk, aku bersedia melepaskan-mu tanpa syarat!"
Nisa menarik wajahnya memberanikan diri melihat wajah laki-laki yang sudah merenggut kehormatannya.
"Aku tidak akan berbohong. Sungguh!" dia berusaha meyakinkan Nisa.
Huh, melepaskan—mu lagi? Jangan harap. Apa aku sudah gila. Kau pergi lima tahun dan melupakan—ku dengan seenaknya. Ini baru permulaan hukuman dariku, Az.
Nisa melepaskan pelukannya menarik selimut di pinggir ranjang, menutupi tubuhnya.
"Tepati janjimu, Tuan. Aku harap kau tidak berbohong!" Nisa sudah pasrah dengan kehilangan miliknya yang paling berharga. Dia menutup matanya, menguburnya dalam-dalam.
Jangan nangis, Nis. Demi mama, apapun harus kau lakukan supaya mama bisa segera sembuh. Meskipun harga dirimu diinjak-injak seperti ini.
Apa kau begitu tertekan denganku, Az? Apa yang sebenarnya terjadi dengan—mu ? Kau bahkan menganggap—ku seperti orang asing.
Perih dan pedih batin Leon saat menatap wanita yang dicintai dan dicarinya melupakan begitu saja.
"Ingat nama—ku, Leon Prawira!” Leon menarik tangan Nisa saat dia beranjak dari ranjangnya.
"Keluarkan aku, aku tidak mau disini!"
Rasanya Nisa jijik terhadap dirinya sendiri. Dia bahkan sudah tak memiliki apapun yang berharga untuk dia berikan pada orang yang akan dicintainya kelak.
"Kemarilah, kita bersihkan diri dulu, nanti aku akan menyuruh Bisma membelikan—mu baju baru!" Nisa lupa kalau bajunya sudah hancur dan di robek oleh prisa dihadapannya.
"Tidak, aku janji tidak akan melakukannya lagi, percaya—lah padaku, uhm...," Leon mengulurkan tangannya saat melihat wajahnya meragu. Nisa pun terpaksa menurut.
__ADS_1