GODAAN SANG MANTAN PACAR

GODAAN SANG MANTAN PACAR
Pria Menyebalkan


__ADS_3

"Kau benar—benar gila, Leon! Sudah beruntung dia tidak mati!" celetuk Niko.


Bugh! Satu tinju besar tepat mendarat di perut Niko.


"Berani kau bilang mati sekali lagi, aku pastikan akan membunuhmu lebih dulu," dengus Leon. Menarik kerah bajunya.


"Agh, kau memang teman gila. Sekalinya gila mencari wanita itu … sekarang kauuuu—," Niko memutarkan bola matanya menatap wajah Leon. Dia, tahu selama ini Leon hanya gila kerja dan mencari wanitanya.


"DAMM!! Jangan bilang dia wanita yang kau cari selama ini. Dimana kau temukan dia?"


Niko mengabaikan rasa sakit diperutnya malah penasaran dengan sosok Nisa yang masih terbaring lemah di bangsal belum sadarkan diri.


"Dia sendiri yang mendatangiku," Leon berkata penuh percaya diri.


"Hah, Kau pikir aku percaya dengan kata—katamu. Kau pasti sedang bercanda" Niko memutar kedua bola matanya. Tidak mempercayai ucapan Leon.


"Sungguh! Yaa, meskipun sebenarnya aku menggunakan sedikit trik dan jebakan!” cetus Leon tanpa ragu.


“Menjebak?" Niko menggelengakan kepalanya saat mendengar perkataan Leon yang membuatnya bengek.


"Uhm, aku membiarkan dia disisiku!"


"Membiarkannya disisimu, ungkapan apa itu? Kau benar-benar gila, kau langsung ....” Niko tak melanjutkan bicaranya hanya melakukan pantomin kedua telapak tangannya di satukan dan di hentak-hentakan.


"Kira—kira seperti itu—lah ...."


“Kau benar—benar sinting dan gila, Leon. Pantas saja dia sampai shock seperti ini.”


Niko berkomentar, sementara Bisma pura-pura tak mendengar pembicaraan mereka. Mengalihkan pandangannya kesegala ruangan.


Nisa mulai menggeliat. Meski Leon sedang mengobrol. Pandangan matanya tak lepas dari Nisa. Dia pun segera menghampiri.


"Dimana yang sakit?" Leon duduk dipinggir bangsal. Leon menatap Faranisa Aznii dengan cemas.


Nisa sendiri tak kuasa menutupi rasa kebenciannya pada laki—laki dihadapannya. Dia tetap diam. Nisa menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, turun dari bangsal.


"Nisa, kau mau kemana?" Leon meraih tangannya. Namun, gadis itu menepis. Keluar dari ruangan tanpa menoleh.


"Dia menolak—mu? Setelah kau? Benar—benar gadis yang luar biasa, " ledek Niko.


"Diam, jangan banyak bicara!" Leon mengejar Nisa, namun dia sudah tak menemukannya di lorong maupun halaman rumah sakit.


"Cepat sekali, kemana dia lari?" Leon celingak celinguk melihat sekitar, hasilnya tetap nihil. Nisa sebenarnya belum pergi, dia hanya bersembunyi. Bersembunyi dari segala yang membuatnya sesak.


Butiran bening kembali meleleh dipipi Nisa. Dia masih belum menerima kehadiran laki—laki yang menurutnya asing. Dia masih belum menerima mahkota kehormatannya di renggut secara paksa.


"Aku sangat membencimu!" teriak Nisa di hatinya yang penuh dengan luka.

__ADS_1


***


Nisa membuka pintu rumahnya. Berjalan gontai masuk ke kamar mandi. Ia membiarkan tubuhnya tersiram dengan air yang mengalir diatas kepalanya.


Rasanya tak akan pernah cukup. Walaupun dirinya berkali-kali mandi. Dia tetap saja menatap tubuh kotornya di cermin penuh dengan tanda yang di tinggalkan oleh Leon.


"Arrrggghhhh!!! Aku benci, aku benci diriku sendiri!!!" teriakan pilu Nisa menggema di kamar kecilnya merutuki semua kelemahannya.


***


Nisa meraih ponselnya yang terus bordering, setelah dia merasakan sedikit tenang dan bisa mengontrol emosinya.


“Ra—Raka ...,” suara Nisa bergetar dengan isak tangisnya yang tertahan.


“Ada apa Nis? Kau kenapa? Kau menangis?” suara dari seberang sana terdengar penuh dengan khawatir.


“Rakaa ....” dan yang terdengar kemudian hanya jerit tangis yang bergema di telepon Raka.


“Dimana kamu sekarang? Katakan padaku, Nis?” Raka berteriak dengan keras dengan kepanikan dalam dadanya yang terus bergetar ketika mendengar tangisan Nisa.


Gadis itu tak menjawab, hanya terus terisak. Bel rumahnya berbunyi tanpa henti. Nisa berjalan pelan membuka pintu sambil mengusap air matanya.


Seseorang laki—laki langsung memeluk tubuh Nisa dengan erat. Nisa menyadari sosok di hadapannya. Matanya kembali berlinang saat melihat sosok dalam pelukannya.


"Aku sudah bilang jangan perg. Aku sudah bilang, kau harus boleh pergi bersamaku. Kenapa kau ingkari, uhm ...." suara nan lembut menyayat hati Nisa. Laki—laki tadi terus mengusap punggung Nisa, menenangkannya seperti anak kecil.


Satu jam berlalu


"Kau sudah tenang?"


"Uhm, terima kasih Raka, bagaimana kau bisa berada disini?" Nisa menatap lelaki berkacamata di hadapannya yang tak sedikit pun mengurangi ketampanannya.


"Kau bertanya? Atau pura-pura bodoh. Apa aku akan sanggup berada di sana tanpa kehadiran dirimu?” ucapnya terdengar menuntut.


Degh! Dada Nisa tersentak lagi. Dia merasa bersalah dengan laki—laki dihadapannya kini.


"Ada apa, katakan padaku? Dan kenapa kau tinggal di tempat seperti ini? Bahkan kau melarikan diri dariku."


Nisa terdiam, dia bahkan tak bisa membuka suaranya. Lehernya terasa tercekik oleh semua yang di ungkapkan Raka.


"Nis, kau baik-baik saja?" tatapan Raka jelas mengetahui wanita di hadapannya sedang mengalami goncangan yang dalam.


"Baiklah, kalau kau belum mau bicara. Aku pulang dulu!" Raka beranjak dari duduknya di lantai.


"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir" Nisa mencoba menarik senyum di wajahnya agar laki—laki dihadapannya tak perlu merasa khawatir.


Raka hanya menghela nafas panjang. Dia tak ingin memaksa lagi. Dia tahu, saat ini gadis itu masih belum mau bercerita padanya.

__ADS_1


"Kemarilah antar aku turun ke bawah!" Raka mengulurkan tangannya, Nisa berdiri dan meraih tangan Raka mengikutinya turun.


"Aku jemput besok ya!"


"Uhm, hati-hati di jalan!" Satu kecupan dari Raka mendarat di kening Nisa. Nisa melambaikan tangan dan tersenyum.


Dukk! Nisa terkejut.


"Kau melarikan diri dari—ku selama ini hanya untuk bersama pria bodoh itu, hah? Kau bahkan tersenyum seperti orang bodoh padanya. Benar—benar menyebalkan."


Tangan Nisa sudah di cengkram erat oleh Leon. Kedua matanya seakan tercungkil keluar ketika menyaksikan pertunjukan yang membuat matanya sakit. Leon memicingkan matanya penuh emosi.


"Akh, sakit! Lepas! Itu bukan urusan—mu . jangan ikut campur!" Nisa mendelik.


"Bukan urusanku? Kau lupa? Kau milikku sekarang! Apa aku perlu mengulangi semuanya agar kau bisa mengingatku lagi." Leon mencengkram mulut Nisa dengan kasar.


"Kau gila, lepas. Lepas!" Nisa mencoba melepaskan cengkraman kasarnya yang membuat Nisa tercekik.


"Tuan, jaga emosi anda. Jangan sampai melukai Nona Nisa yang akan membuat anda menyesal seumur hidup!" Bisma melihat emosi tuannya sudah hampir hilang kendali, berusaha menyelamatkan Nisa.


"Arrrggghhh!!" Tubuh Nisa di hempaskan, Nisa menghirup dalam—dalam udara yang hilang beberapa saat darinya karena ulah gila Leon.


Pria ini benar--benar gila. Dia seperti monster. Huh, aku sungguh bodoh, jika memang dulu aku pernah mengenalnya.


Nisa menatap Leon penuh kebencian yang dalam.


"Pindahkan semua barangnya, sekarang, Bisma. Aku tidak mau dia tinggal di tempat seperti ini!" Perintah Leon.


Nisa bangkit saat mendengar ucapannya, meski tubuhnya masih terasa sakit dan remuk,"Tidak. Aku tidak mau!" Nisa menolak. Dia tidak mau pergi kemanapun, apalagi harus berurusan dengan laki—laki yang membuatnya sakit.


Leon sangat kesal. Marah. Dia tak ingin sekali lagi kehilangan Nisa. Leon menarik paksa tangan Nisa dan melemparkannya ke dalam mobil. Beberapa pengawal lain sibuk menaiki anak tangga kearah kamar Nisa.


Hanya berdua saja di dalam rumah. Apa saja yang kau lakukan dengan laki—laki tadi, Aznii? Aku cemas mencarimu, kau malah enak—enakan dengan dia. Huh.


Dua jam sebelumnya


"Bisma dimana dia tinggal?" Leon bertanya saat dia tak menenukan Nisa di seluruh rumah sakit dan sekitarnya. Leon bahkan mencari dan memerintahkan Bisma agar para pengawalnya ikut mencari dulu di sekitar rumah sakit.


"Saya akan bawa anda ketempat—nya." Setelah tuannya yakin Nisa sudah tidak ada di rumah sakit.


Leon memerintah Niko memindahkan kamar rawat yang sempat Leon kunjungi setelah kepergian Nisa. Kamar ibunya Nisa.


"Bawa beberapa orang untuk ikut. Aku akan membawanya pulang!" perintah Leon lagi.


Dia sudah bertekad, tidak akan membuat Nisa jauh lagi dari pandanganya.


Bisma melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediaman Nisa. Sampai di tempat lokasi yang di luar dugaan. Leon miris melihat lingkungan tempat tinggal gadis itu. Sangat berbeda dengan lima tahun lalu dia mengunjunginya.

__ADS_1


Namun, saat Leon terbang dengan lamunan menyedihkan tentang Nisa. Dia melihat Nisa membukakan pintu untuk seorang pria. Pria tadi, memeluk Nisa dengan erat dan dia masuk. Menutup pintu rumah Nisa dengan rapat.


__ADS_2