
Apakah kamu menyukai suatu hal?
Semacam hobi?
Lalu, kamu anggap apa itu?
Sebagai hiburan?
Sekedar mengisi waktu luang?
Atau mungkin.... mimpi?
Ya. Mimpi.
Seperti yang tengah dilakukan gadis cilik berambut pendek ini. Terus menggores ujung pensil kayu di atas buku gambar bersampul biru. Duduk di bangku kelas mengabaikan kebisingan sekitar. Mata hitam obsidiannya hanya tertuju pada garis-garis tipis yang membentuk sebuah pola.
Jarinya begitu lihai memainkan pensil. Sesekali meraih penghapus untuk merapikannya. Tanpa disadari salah seorang teman melihat kebiasaannya.
"Wah! Kamu lagi gambar apaan tuh Din?"
Dina sedikit terjengat, tapi ia menoleh dengan semangat. Sudut bibirnya tertarik, menampilkan gigi putih yang berderet. Senyum lebar yang biasa Dina tunjukkan ketika seseorang tertarik dengan gambarnya.
"Hihihi rahasia.." ucap Dina sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ih! Pake rahasia rahasian segala! Eh tapi, kamu kok kalo gambar kayak gampang banget sih? Aku juga pengen kayak kamu!"
"Makanya sering-sering menggambar! Nanti lama-lama juga bisa kok!"
"Huft! Mau aku sering menggambar juga paling hasilnya jelek. Daripada buang waktu mending belajar biar pinter!"
Dina terkikik geli mendengarnya lalu berkata, "Yee.. coba aja belum udah bilang jelek."
"Kenyataan itu..."
"Hehehe... Terserah deh!"
__ADS_1
Melihat tingkah temannya yang kini berjalan ke arah kerumunan Dina terkekeh pelan. Ia pun melanjutkan aktivitasnya dengan menambah garis-garis lain.
Lama-lama goresan itu menjadi tebal dan terbentuk jelas sebuah tokoh kartun. Dari postur tubuh masih terlihat kaku, wajahnya pun belum terlalu mirip, untuk kostum tidak diberi detail apapun. Meskipun sedikit kecewa karena belum mirip dengan tokoh sebenarnya, Dina tetap senang mengingat belum ada teman sekelas yang dapat menggambar sebaik dirinya.
Bukan bermaksud sombong namun memang dalam bidang menggambar Dina yang paling unggul. Karena itu Dina mencoba meningkatkan kemampuannya agar bisa menggambar jauh lebih baik lagi kemudian karyanya akan diakui oleh semua orang.
Impiannya adalah bisa menciptakan tokoh animasi yang keren.
Bayangan yang menyenangkan.
Ketika bel pulang berbunyi. Semua penghuni kelas yang tadi berkumpul dimana-mana membubarkan diri seketika. Menuju ke meja masing-masing dan segera mengemas barang kemudian berlomba-lomba melewati pintu. Tak peduli ada yang terdesak maupun tersenggol yang penting segera keluar dari sekolah untuk melakukan hal-hal yang telah mereka rencanakan, seperti itulah anak SD.
Sementara Dina terlihat santai berkemas dan tak ingin terdorong atau terinjak di sana. Apa bagusnya keramaian? Itu hanya akan menguras energi, bagi Dina. Saat dirasa sudah cukup sepi Dina menggendong tas dan membawa buku gambar di tangannya kemudian pulang dengan damai.
Dina memacu sepeda dengan cepat agar bisa sesegera mungkin menunjukkan karyanya. Sejauh ini gambar terbagus diantara banyak gambar buatannya adalah yang tengah ia pegang. Dan ini kali pertama Dina akan menunjukkannya kepada Bapak dan Ibu. Entah bagaimana respon mereka, apakah ia akan dipuji?
Memikirkan itu Dina jadi tersipu malu. Ada semburat merah muda menghiasi kedua pipi chubby-nya. Dengan semangat 45 Dina menambah kecepatan agar segera sampai di rumah.
10 menit berlalu.
"Kalau tidak bisa bayar utang ya jangan utang! Jadi kita yang rugi! Udah dikasih pinjaman, bisa diangsur masih aja nunggak!" bentak dua orang pria berbadan besar yang terlihat marah.
"M-maaf Pak! Ta-tapi sekarang kami me-memang belum punya uang." Bahkan tubuh Ibu bergetar saat bicara.
"Alasan! Kemarin-kemarin juga bilangnya begitu! Emang kalian aja kan yang tidak mau angsur! Kalo tidak bisa melunasi kenapa utang?! Miskin ya miskin aja! Jangan utang terus tidak dilunasi!"
Dina tersentak kaget. Sedari tadi air matanya mengalir tanpa henti. Dua orang itu terlihat sangat galak. Ketakutan yang menyebar ke seluruh tubuh Dina membuatnya terus berdiri kaku di ambang pintu.
"Bu-bukan begitu Pak! Se-secepatnya kami akan b-bayar."
"Halah! Secepatnya... Secepatnya... Begini saja! Lusa kami akan datang lagi! Dan saat itu sudah harus lunas! Mengerti?!"
Ibu mengangguk di tengah-tengah isakan. Dua pria itu berbalik membuat Dina kaget dan menjatuhkan buku gambarnya. Mereka berjalan ke arah Dina, tampak tangan itu mencoba menggapainya.
"Minggir!!"
__ADS_1
Dina terdorong keluar dan terjatuh. Mereka lewat begitu saja dan tanpa peduli menginjak gambar Dina yang berada di tempatnya berdiri tadi.
Kertas putih yang berisi sebuah karya kini menjadi kertas lusuh kotor dengan jejak kaki besar. Hati Dina sakit melihatnya. Namun sekarang yang lebih penting adalah keadaan Bapak dan Ibu. Lantas Dina bangun dan menghampiri mereka.
Ibu sedang memapah Bapak untuk membantunya duduk di kursi. Segera Dina mengambil obat untuk luka lalu memberikannya kepada Ibu.
Jejak air mata Ibu masih sangat jelas begitu pula dengan luka Bapak. Terkadang Ibu sesenggukan di tengah-tengah mengoles obat. Dina semakin menangis. Menangis dalam diam. Menundukkan kepala memandang air mata jatuh menyentuh tangan yang meremas rok merah.
Selesai mengobati Ibu meminta Bapak untuk beristirahat di kamar. Ibu berniat memapah namun ditolak halus oleh Bapak, ia ingin Ibu menenangkan putrinya yang mungkin syok dengan kejadian tadi. Dengan langkah sempoyongan Bapak pergi ke kamar, menyisakan Dina dan Ibu yang duduk di kursi kayu. Ibu mengusap kedua pipinya kemudian menggeser duduk lebih dekat dengan Dina.
"Dina..." panggil Ibu dengan suara serak namun tetap terasa lembut.
Cepat-cepat Dina mengusap pipi dan matanya lalu mendongak menatap Ibu.
"Dina jangan takut. Ibu dan Bapak pasti bisa melunasi utang itu. Jadi Dina tidak akan lihat kejadian seperti ini lagi," kalimat Ibu diakhiri dengan senyum hangat yang menenangkan Dina.
"N-nanti kalau mereka datang lagi gimana?"
"Ya... Ibu beri uang ke mereka buat lunasi utang. Terus mereka tidak akan datang lagi."
Dina menyelami mata yang mirip dengannya. Berharap tak ada kebohongan di sana.
"Dina. Kalau Dina sudah besar Dina harus jadi orang sukses ya! Untuk sekarang belajar dulu yang rajin. Kalau Dina pintar Dina bisa jadi orang sukses dan hidup Dina akan enak. Dina juga bisa bantu Bapak dan Ibu nantinya. Mau kan?"
Dina langsung mengangguk. Demi membantu Bapak dan Ibu ia harus sukses. Kalimat Ibu tertanam di hati Dina. Ia bertekad mulai sekarang Dina akan fokus belajar dan menjadi orang hebat agar orang-orang seperti mereka tidak bisa menginjak-injak keluarganya. Senyum terbit di wajah Ibu melihat Dina sudah tidak takut lagi.
"Ibu masuk dulu ya. Ibu mau merawat Bapak, kasihan wajah Bapak hahaha.." ujar Ibu dengan tawa ringan.
Dina ikut tertawa kecil. Setelah punggung Ibu menghilang, Dina berdiri dan berjalan ke arah pintu. Membungkuk pelan dan memungut kertas gambarnya. Ia menatap kertas lusuh itu dengan sendu. Dina menghela nafas panjang.
Sekali tarik, ia robek gambarnya hingga lepas dari buku kemudian meremasnya menjadi gumpalan. Rasa benci dan dendam merasuki hati dan pikiran.
Saat itu juga, Dina singkirkan mimpi kecilnya. Untuk menggapai mimpi besar yang dapat mengubah segalanya. Mulai sekarang ia akan terus melangkah.
Namun, di masa depan apakah akan tetap seperti itu?
__ADS_1