
Arka bergegas ke kelas. Wajahnya terlihat serius bahkan tak menghiraukan beberapa pasang mata yang memerhatikannya. Wajar, mereka masih asing dengan Arka. Sudah hal biasa jika orang-orang terus melihatnya kemudian berbisik membicarakannya.
Brak!
Seseorang menabrak Arka dari belakang. Beruntung hanya tersenggol dan ia bisa menjaga keseimbangan.
"Aduh..." Rintihan itu membuat Arka berbalik.
Ia mendapati lelaki berkacamata dengan buku berserakan terduduk di lantai.
"Maaf," ucap Arka sambil membantu memberesi buku.
"Tidak, aku yang harusnya minta maaf. Maafkan aku," ujar lelaki itu saat Arka menariknya untuk berdiri.
Arka tersenyum seperti biasa, "Tidak apa-apa. Kalau begitu aku duluan ya!"
Tanpa menunggu balasan Arka sudah mengambil langkah lebar.
Sampai di pintu kelas, Arka masuk. Ia berhenti di depan pintu, menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Nihil. Bangkunya juga kosong.
'Dimana dia?'
Arka mendekat pada salah satu perempuan yang duduk di baris paling depan.
"Maaf, apa kau tahu dimana Dina?"
Perempuan itu menggeleng, "Aku tidak tahu."
"Ya sudah, terima kasih."
Arka menggaruk belakang kepalanya. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Istirahat hampir habis, tidak mungkin ia mencari di luar kelas lagi pula Arka belum terlalu kenal lingkungan sekolah barunya. Maka dari itu, Arka memutuskan menunggu Dina hingga bel masuk.
3 menit...
2 menit...
1 menit...
Mata Arka terus menatap jam dinding tanpa beralih. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja sejak ia duduk.
Tet...
Tet...
'Akhirnya!'
Arka melihat ke arah pintu kelas, tempat dimana akan dilewati semua murid yang datang dari 'peristirahatan' mereka. Satu per satu masuk termasuk Rendi dan kawan-kawan.
"Yah... Matematika!" ujar Rendi dengan lesu.
"Emang kenapa? Ketemu sama ibu sendiri kok lemes sih!" Gibran menggoda Rendi yang ada di depannya.
"Sorry, ibu gue di rumah lagi nunggu anak kesayangannya pulang tau!"
"Anak model kaya lu gini gak mungkin dikangenin.."
"Tau ah! Males ngomong sama lu!"
__ADS_1
"Kalian diem sehari gak bisa ya?!" sahut Sera dengan alis menukik.
"Jangankan sehari, sejam diem aja udah gak betah!" jawab Rendi sambil duduk.
"Kali ini nih anak bener!" kata Gibran menyetujui.
Adu mulut pun terjadi dan terus berlanjut.
Arka mengabaikan obrolan empat serangkai yang bisa didengar satu kelas itu dan tetap fokus pada pintu.
Siluet tubuh khas seorang gadis terlihat di dinding kemudian muncul orang yang dicarinya. Punggung Arka lurus seketika saat Dina masuk namun kembali bungkuk ketika seorang guru berada tak jauh di belakang Dina.
Jadilah Arka mengurungkan niatnya sementara, mungkin hingga saat pulang sekolah.
Setelah menyapa, Bu Era meletakkan kantong plastik hitam di meja. Benda itu menjadi tanda tanya besar, semua mulai menebak apa isinya. Jika memang barang pribadi tidak mungkin diletakkan di sana pasti di bawah meja atau di tempat lain.
"Eh! Bu guru bawa apa ya?"
"Gak tahu! Tapi perasaanku gak enak."
"Sama, aku juga."
Arka mendengarnya, tak hanya orang di sampingnya tapi terlihat seisi kelas juga saling berbisik. Melihatnya Arka jadi ikut menebak apa isinya. Tak sengaja ia juga menatap Dina yang tampak tenang dan tidak bersuara. Ada dua hal yang Arka duga, pertama mungkin Dina sudah tahu apa isi kantong itu, kedua Dina memang tidak peduli. Dan Arka menjatuhkan pilihannya pada yang kedua mengingat perkataan Calista bahwa Dina orang yang tertutup.
Suara-suara itu menghilang begitu Bu Eri berdiri menghadap semua murid.
"Materi bab tiga sudah selesai kan?"
"Sudah!" jawab semua serentak.
"Berarti hari ini kita ulangan."
"HAH?!"
Sontak rasa panik melanda mereka. Bu Eri mengeluarkan isi kantong plastik hitam yang ternyata setumpuk kertas fotokopian soal. Tak tinggal diam semua mengeluarkan jurus negosiasi mereka pada Bu Eri yang tentunya tidak dapat mengubah apapun.
Selamat ulangan dadakan, kawan-kawan!
***
Kelas sudah usai. Waktunya mengemas barang dan bersiap untuk pulang. Arka masih memikirkan bagaimana cara berbicara dengan Dina yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Karena keinginan lebih besar daripada kebingungannya Arka mulai mengangkat suara.
"Di-"
"Guys! Hasil ulangan matematika kita udah keluar nih!" seru Ken sambil membawa kertas ulangan.
"Kata Bu Era, nilai tertinggi ada di kelas kita," lanjut Ken yang mengundang penasaran.
"Wow! Beneran?"
"Siapa yang dapet nilai tertinggi?"
"Iya nih, siapa?"
"Emang nilainya berapa?"
__ADS_1
Arka berusaha menyimak. Wajahnya tampak bersemangat. Menanti kalimat yang diucapkan Ken.
"Nilainya 97,5 dan itu diraih oleh...." Ken sengaja membuat suasana mendebarkan.
Ditambah backsound dari beberapa murid laki-laki yang memukul meja membentuk sebuah irama.
"Ssstt!!" Murid perempuan memasang raut tidak menyenangkan.
"Oleh...."
"Cepetan!" seru para gadis.
"Arka!" ucap Ken sambil menunjukkan tangannya ke arah Arka.
Arka tersenyum lebar. Sangat lebar. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Tepuk tangan pun terdengar sebagai tanda apresiasi atas pencapaian Arka. Bisa ditarik kesimpulan bahwa Arka memang murid yang pintar terbukti walau masih baru tapi sudah menjadi nomor satu.
"Selamat Arka!!"
"Selamat ya!"
"Selamat ya Ka!"
"Kamu hebat Ka!"
"Kapan-kapan ajari aku dong..."
Itulah sebagian tanggapan teman sekelas. Arka merapatkan kedua telapak tangan dan mengucap banyak terima kasih.
Selesai Ken membagikan kertas ulangan, semua murid keluar kelas untuk pulang ke rumah.
Arka tak henti-hentinya tersenyum bahkan ia tak takut giginya mengering. Puas melihat nilai yang tertera, ia masukkan kertas itu ke dalam tas. Arka menutup resleting tas, tiba-tiba ia teringat.
Ia mendongak lalu bernapas lega karena Dina masih duduk di sana. Arka berdiri dan mendekati Dina yang menunduk.
"Di-"
Ucapan Arka lagi-lagi terpotong. Dina mendadak berdiri, membuatnya bingung dan diam di tempat.
"Minggir!" seru Dina dengan nada dingin tanpa melihat maupun menoleh.
Arka terkejut hingga bahunya terangkat sebentar. Sontak ia bergeser ke samping untuk memberi jalan. Dina lewat begitu saja dan pergi dengan tergesa-gesa.
'Kenapa dengannya?'
Arka hanya melihat kepergian Dina hingga menghilang di balik pintu.
Karena misinya gagal, Arka memilih pulang dan memikirkannya di rumah. Besok ia harus meluruskannya agar otaknya bisa tenang.
****
Di sebuah rumah kecil nan sederhana, terdapat banyak kursi yang berjajar rapi. Tiang-tiang terpasang untuk menghindari tamu dari panas Sang surya walau hari sudah sore. Suasana khidmat tercipta dengan baik.
Dalam rumah itu ada sebuah keluarga yang berkumpul. Tak terelakkan perasaan yang hinggap di hati mereka. Menyebar hingga ke seluruh syaraf. Memberi rangsangan yang memompa perasaan. Terus menerus air itu jatuh membasahi kain. Luruh begitu saja tanpa ada yang menghambat.
Rekaman memori terputar, menampilkan setiap kejadian. Ada sebagian rasa tak terima dengan takdir yang tercipta. Namun apa daya, hanya bisa merelakan dan berharap yang terbaik untuk dia.
Selamat jalan.
__ADS_1