Goresan Mimpi

Goresan Mimpi
06. Menggambar


__ADS_3

"Haaaaahhhhhh......."


Di pojok kelas, helaan nafas lelah begitu terdengar. Ini sudah ke sekian kalinya. Satu minggu berlalu dan selama itu pula Arka seperti dihajar habis-habisan.


Dina benar-benar mengangkat bendera perang. Tak hanya ia, seisi kelas pun ikut gempar melihat metamorfosis perempuan itu. Bukan secara fisik atau pribadi melainkan secara akademis dan prestasi. Jika selama ini Dina hanya terlihat diam dan beraksi di balik layar, kini tidak lagi. Sekarang Dina menjadi murid yang aktif. Segala pemikiran yang dulu dipendam kini keluar tanpa sungkan. Mulai dari mengerjakan soal di depan, menjawab pertanyaan, hingga presentasi.


Untuk nilainya tak perlu ditanyakan lagi. Baik ulangan dadakan, harian, kuis dan tugas lainnya nyaris mendapat 100. Arka merasa sangat tersudut. Ia yang dulu selalu menjadi nomor satu harus puas dengan posisi kedua. Tak pernah terlintas di benaknya mendapat lawan sekuat ini.


Tapi...


Brak!


'Tidak! Aku tidak boleh kalah darinya!!' batinnya dengan semangat yang membara.


Gebrakkan meja itu membuat beberapa pasang mata menoleh. Arka langsung memasang cengiran bermaksud menunjukkan apa yang dilakukannya tidak sengaja. Mereka kembali ke aktivitas semula.


Ini sudah pergantian jam tandanya pelajaran terakhir akan segera dimulai. Arka berniat kali ini akan lebih baik dari Dina. Dilihat dari mata pelajaran Arka bisa saja lebih unggul kali ini karena ia memiliki kemampuan yang cukup bagus. Walaupun Arka tidak tahu Dina juga bisa atau tidak tapi ia yakin akan menang.


"Selamat sore!" Bu Nana tiba di kelas.


"Sore Bu!"


Bu Nana berdiri di depan kelas seperti yang biasa dilakukan saat ia akan memberi tugas.


"Ada yang tahu Bu guru akan kasih tugas apa hari ini?"


Mayoritas menggeleng kepala.


"Tidak tahu Bu."


Arka tidak bersuara, tapi sebenarnya ia sedang gemas sendiri menunggu tugas agar bisa segera mengalahkan Dina. Ia begitu yakin tentang itu.


"Tidak ada yang tahu? Oke, kalau begitu."


'Cepatlah Bu!' Arka menanti-nanti.


"Tugas hari ini adalah..... Menggambar!"


'Yes!'


Semangat Arka semakin menjadi.


"Tapi kali ini kita akan menggambar karakter atau tokoh buatan sendiri!" tambah Bu Nana.


'APA?!'


Hilang sudah rasa percaya dirinya. Arka memang memiliki skill menggambar yang baik tapi ia tidak se-ahli itu apalagi membuat tokoh sendiri. Terhempas sudah niatnya.


"Buatan sendiri Bu?" tanya salah satu siswa.


"Yap!"

__ADS_1


"Berarti tidak boleh meniru tokoh yang sudah ada?"


Bu Nana menggeleng dengan mata terpejam. "Tidak boleh!"


"Yaah... Susah dong!"


"Aku gak pinter gambar!"


"Aduh! Lupa bawa buku gambar!"


"Yah! Pensilku pas banget ngilangnya!"


"Gue gak punya penghapus."


Dan masih banyak keluh kesah lain yang keluar.


"Hari ini harus sudah selesai karena akan langsung saya nilai."


Murid-murid ber-sweatdrop ria mendengarnya. Hendak protes namun Bu Nana sudah menyipitkan mata, tanda tak menerima gugatan dalam bentuk apapun. Hanya bisa pasrah dan melakukan sebisanya daripada kena marah.


Bu Nana mendudukki kursi guru untuk menanti hasil kerja muridnya.


Buku gambar, pensil, pewarna, penggaris, penghapus, dan sebagainya adalah benda yang dibutuhkan masing-masing. Tapi karena kelas punya prinsip tak tertulis seperti 'satu untuk semua' jadilah mereka saling meminjam. Tidak semua, tapi mayoritas.


Arka membawa lengkap peralatan gambar. Tidak ada yang khusus, semua alat gambar yang umum dipakai bagi kaum pelajar. Bersedekap dan menatap langit-langit. Arka memutar otak. Berusaha mencari ide yang dapat menyelamatkan nilai dan harga dirinya.


Tapi tetap saja, blank. Tidak mungkin ia akan menggambar pemandangan gunung atau pantai, sangat tidak elit lagipula itu keluar dari tema yang diberikan. Arka berpikir bagaimana cara menggambar sebuah tokoh kartun. Lalu ia ingat dengan artikel yang pernah dibaca. Hal yang diperlukan dalam membuat tokoh adalah menentukan ciri umum dan khusus yang dimilikinya. Masalahnya Arka tidak memiliki gambaran apapun. Ia juga tidak paham mengenai hubungan antara sikap dengan penampilan.


'Tokoh. Sikap. Penampilan.' Arka kembali pada kertas putih itu.


"Ah! Aku tahu!" gumamnya sambil meraih pensil.


Kertas polos tidak bertahan lama saat pensil menorehnya. Terkadang Arka berhenti untuk berpikir sambil mengangkat jari yang bergerak membentuk garis ilusi.


'Aku harus bisa!' Arka menyemangati diri sendiri.


"Tidak masalah bagaimana hasilnya yang penting aku akan melakukan yang terbaik!" seru Arka.


"Sepertinya ini kurang ke sini."


"Ini kok jadi begitu sih!"


"Ini malah kurang tebel."


"Matanya susah banget!"


Satu jam lebih mereka habiskan. Sudah ada beberapa yang maju untuk menyerahkan tugas. Hal itu membuat yang lain mempercepat gerakan tangan. Waktu terus berjalan. Barulah di detik-detik terakhir Arka dan sekitar lima orang murid mengumpulkan.


Dalam hati Arka berharap tidak ada yang tahu gambarannya.


"Oke! Semua sudah mengumpulkan. Bu guru akan sedikit membahas tentang pembuatan karakter atau tokoh."

__ADS_1


Mulailah Bu Nana menjelaskan tentang pengertian, dasar-dasar, dan teknik menggambar secara sekilas. Arka tidak terlalu mendengar karena ia sudah malas pada hal-hal yang telah menimpanya.


"Nah! Tadi Bu guru lihat kalian sudah menyelesaikan tugas dengan baik walaupun masih ada kekurangan. Tapi ada juga yang gambarnya sudah bagus dan saya sangat mengapresiasi itu." Bu Nana bertepuk tangan diikuti yang lain.


"Ini gambarnya." Bu Nana memperlihatkan sebuah gambar berisi seorang perempuan memakai seragam sekolah yang terlihat cantik.


Semua berdecak kagum dengan mata berbinar melihatnya.


"Waw! Bagus banget!"


"Woahh..!"


"Gilak! Keren banget!"


"Iiihh.. cantik!"


"Cute deh!"


"Andai yang gambar aku.."


"Mantap!"


Posenya sederhana dan tidak rumit namun karena diolah dengan baik dan sangat detail hasilnya menjadi sangat bagus seperti ilustrasi tokoh novel. Bahkan Arka tertarik untuk melihatnya. Hebat. Dalam hati Arka memuji siapapun yang menggambarnya.


"Dan ini dibuat oleh..." Bu Nana melihat nama yang tertera di balik kertas.


"Dina!"


Semua mata tertuju pada Dina. Arka pun sampai melotot di belakangnya. Suara tepuk tangan kembali menghiasi ruangan tapi yang ini lebih keras.


Dina menatap ke sekeliling. Semua memberi tepuk tangan dengan wajah tersenyum. Berbeda dengan Dina yang justru memasang tampang layaknya orang bingung. Sesaat pikirannya kosong. Lantas Dina menoleh menghadap jendela.


Arka terkejut. Dari samping ia melihat senyum kecil terbit di bibir Dina. Arka bisa melihat jelas ekspresi Dina meskipun tidak keseluruhan, cukup untuk menyimpulkan bahwa Dina sedang senang.


'Dia juga bisa gitu ya?' Sebelumnya Arka sudah memberi cap pada Dina si wajah dingin.


Siapa sangka sekarang wajah triplek itu bisa ada lengkungan bulat sabit. Sungguh tak terduga. Arka tiba-tiba teringat sesuatu.


'Tapi dia kalau dipuji biasanya gak kayak gitu!'


Lamunan Arka buyar ketika Ken membagikan buku gambarnya. Langsung saja ia masukkan ke dalam tas lalu bersiap menunggu aba-aba pulang.


****


Langit berwarna jingga. Burung-burung kembali ke sarang mereka. Banyak orang berlalu lalang. Namun tak terlalu memadati jalan karena ini sudah lewat waktu pulang kerja dan hari belum malam.


Sebuah kursi panjang di taman kota tengah duduk seorang Dina yang memandangi sepatunya. Ia tersenyum mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Senyum itu semakin mengulas lebar hingga membuat Dina tertawa kecil. Kemudian kepalanya menengadah menatap senja. Cahaya orange memantul di wajah menyamarkan rona garis tipis yang muncul.


"Seperti ini rasanya...."


Masih dengan pipi yang tertarik dan gigi yang terpampang Dina melangkah ringan dengan tangan yang mengayun.

__ADS_1


Tawa gembira mengiringi perjalanannya sampai di tempat ia tinggal.


__ADS_2