
Mentari bersinar. Burung berkicau riang. Bunga bermekaran dan rerumputan hijau sungguh sejuk dipandang. Langit terlihat cerah dengan sedikit awan terlukis di sana. Semua itu cukup untuk menggambarkan betapa indahnya suasana pagi. Namun hanya beberapa orang saja yang bangun dan menikmati itu. Sementara yang lain masih tak ingin melepas kehangatan selimut.
Sedangkan di sebuah rumah kontrakan kecil sederhana dengan sedikit benda yang tertata, menambah kesan minimalis bagi siapa saja yang berkunjung. Rumah itu terdiri dari kamar tidur, kamar mandi, dan untuk dapur, ruang makan, juga ruang tamu menjadi satu ruangan. Walau tiga tempat itu menjadi satu tetapi ruangannya tidak terlihat sempit justru cenderung lebar karena tidak banyak benda di sana.
Klek!
Pintu kamar terbuka menampilkan Dina yang sudah mengenakan seragam khas sekolahnya.
Kemeja putih dengan rompi abu-abu dibalut oleh almamater hitam senada dengan rok, sepatu, dan ikat pinggang. Tak lupa dasi merah yang mengalung di kerahnya dan kaos kaki putih yang menyelimuti hingga di bawah lutut. Rambut panjangnya tergerai seperti biasa dengan anak rambut dan poni yang membingkai wajah bulatnya.
Dina berjalan ke meja makan kemudian duduk untuk menikmati sarapan yang ia buat. Sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Sebagai pelajar yang tinggal di kontrakan sudah pasti ia perlu berhemat tapi bukan berarti tak menghiraukan segala kebutuhannya. Bagi Dina, hemat itu ketika kau bisa membedakan keinginan dan kebutuhanmu lalu memprioritaskan hal yang dibutuhkan dan penting tentu saja.
Lagipula Dina juga tak enak hati dengan keluarga di desa yang sudah memberi uang bulanan untuk bertahan hidup di kota demi pendidikan. Jadi saat ini mereka sedang berjuang bersama, jangan disia-siakan dengan kesenangan sementara. Itu yang tertanam di kepala Dina.
Setelah menghabiskan sarapan, Dina berangkat sekolah setelah mengunci pintu rumahnya.
Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku rok, Dina melangkah dengan santai. Jarak dari rumah ke sekolah Dina memang dekat maka dari itu ia selalu jalan kaki. Hari masih pagi, hanya segelintir orang yang melintas.
"Dina!" sapa wanita paruh baya yang tengah menyapu di depan tokonya.
Dina tersenyum membalas keramahan wanita itu dan menganggukkan kepalanya sekali. Itulah respon yang ia berikan jika ada warga yang menyapa.
Toko demi toko ia lewati sambil mengamatinya meskipun kebanyakan belum buka. Di sini hanya toko sayur dan buah saja yang rajin mengingat bahan tersebut selalu menjadi incaran kaum wanita terutama ibu rumah tangga. Ini bukan kota besar jadi wajar jika ada beberapa hal yang mungkin mengingatkan kita tentang kehidupan desa.
Oh! Ada satu toko yang belum disebut. Toko buku. Biasanya saat Dina berangkat toko itu sudah buka lalu ia akan berhenti dan melihat sebentar beberapa buku yang dipajang dari etalase, seperti saat ini. Matanya bergulir menatap satu per satu buku di sana. Entah kenapa ia sangat suka melihat buku di sini. Hingga pandangannya jatuh pada sebuah brosur yang tertempel di balik etalase.
'Lomba membuat komik,' baca Dina dalam hati.
Di bawah judul terdapat beberapa contoh buku komik dengan tampilan yang menarik. Dina melihatnya. Matanya terbuka lebar dengan alis terangkat dan senyum kecil terbit di sana. Tanpa sadar ia mendekat dan menyentuh etalase yang menjadi sekat di antara Dina dan brosur. Namun tiba-tiba ia menggeleng pelan sambil memejamkan mata dan reflek menjauh kemudian Dina pergi melanjutkan perjalanan.
'Tidak! Kau harus fokus pada tujuanmu Dina!' batinnya sambil menatap lurus ke depan.
Dina mempercepat langkah agar segera sampai di sekolah dan mengalihkan pikirannya.
Butuh sekitar 15 menit Dina tiba di sekolah. Untuk saat ini ia tak ingin langsung ke kelas. Pasti di sana akan ramai seperti kemarin. Tahu kenapa? Karena ada tugas kimia yang harus dikumpulkan dan hal sial lainnya adalah Bu Lili bertukar jam pelajaran dengan mapel bahasa Inggris. Katanya ia akan ada urusan nanti siang maka dari jam kimia ditukar menjadi jam pertama. Bagaimana Dina tahu? Tadi pagi setelah bangun Dina mengecek pesan grup kelas dan tak lama kemudian Bu Lili memberitahu itu di grup.
Saat itu banyak yang masih offline jadi belum ada respon. Mungkin ketika mereka sudah membaca satu kelas pasti akan heboh lalu mengeluh di grup kelas yang satunya dan berlanjut di kelas sesungguhnya. Dina sudah mengantisipasi jika ratusan pesan akan masuk jadi ia sudah mematikan data seluler agar tidak ada notifikasi.
Sekarang tempat tujuannya adalah perpustakaan. Tempat yang selalu dipenuhi ketenangan. Sekalian ia membaca buku kimia mungkin. Inilah yang namanya sambil menyelam minum air. Sambil sembunyi bisa belajar. Ya kan?
Di depan pintu perpus, Dina mendorong dan masuk. Hampir tidak ada orang di sini. Hanya ada petugas perpustakaan dan beberapa siswa yang mayoritas kakak kelas. Rak bertuliskan 'Kimia' menjadi sasaran Dina. Mengambil judul yang sesuai dengan materinya lalu duduk di bangku kosong.
Ia membuka lembar demi lembar. Ketemu. Bahan sudah ada sekarang tinggal 'mengolah' agar bisa 'dimakan' dengan mudah. Dina mengeluarkan pulpen dan notebook dari tas.
Bruk!
Suara buku yang diletakkan tepat di sampingnya. Dina tidak menoleh dan tetap fokus dengan huruf-huruf di depannya. Ia juga tidak ingin tahu siapa yang duduk di sampingnya, asalkan tidak menggangu itu sudah cukup bagi Dina. Lalu ia menulis serangkaian reaksi kimia yang akan dipahami. Saat menulis Dina merasa orang di sisi kanannya sedang melihat ke arahnya. Tanpa menghentikan tangan Dina melirik orang itu.
'Ooh.. Dia ternyata.'
Itu Sera. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke kiri melirik tulisan Dina. Mungkin Sera penasaran dengan cara belajarnya. Dina tidak masalah dengan itu, tapi ia tidak suka tingkah Sera. Membuatnya risih dan kesal. Ingin sekali ia mengusir Sera tapi Dina tahu itu hanya akan menjadi masalah.
__ADS_1
Sesuatu tidak akan menjadi masalah jika tidak dipermasalahkan.
Dina berusaha mengabaikan Sera berharap ia segera pergi dengan sendirinya. Sekali lagi realita tak sesuai ekspektasi. Terlepas sadar atau tidak, Sera semakin mendekat dan melihat lebih terang-terangan. Genggaman pulpen Dina menguat. Ini sangat menggangu. Wajahnya tertekuk. Dina menutup buku dengan keras. Ia sengaja membuat suara untuk sedikit menunjukkan kekesalannya. Dengan tergesa Sera menjauh dan berpura-pura membaca buku.
Dina beranjak mengembalikan buku di raknya dan memilih pergi ke kelas. Lagipula ia sudah mencatat beberapa rumus jadi bisa dipelajari di kelas.
Menenangkan diri dengan pemikiran positif memang sering berhasil.
Di kelas.
Masih ramai. Seperti perkiraan, semua sibuk mengerjakan tugas.
Dina duduk dengan tenang. Kembali mengeluarkan pulpen dan notebook. Jarinya bergerak membentuk pola. Mencoba berkonsentrasi di tengah suara yang menusuk telinga. Tangan kiri digunakan untuk menopang kepala, sesekali tangan kanan memainkan pulpen ketika sedang berpikir.
'Hm.. jadi begitu.'
Berpikir menuaikan pemahaman, Dina menulis hasil kesimpulannya. Tapi mendadak ia berhenti. Lagi-lagi ada yang menatapnya.
'Pasti dia lagi!'
Dan benar. Sera berdiri di samping belakangnya sambil menengok pekerjaan Dina. Hancur sudah moodnya pagi ini. Dina menghela nafas dan memasukkan alat tulisnya ke laci secara asal bahkan terkesan melempar. Saat itu juga Sera menjauh.
'Hah! Menyebalkan!!'
Jika memang ingin belajar bersama, Dina tidak keberatan. Sera bisa mengatakannya dan ia akan mengiyakan selama tidak sibuk. Kita tak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan.
Dina menghela nafas berusaha meredam emosi. Hanya masalah kecil.
"Guys! Nilai ulangan fisika kita kemarin sudah keluar," ucap Ken selaku ketua kelas XI-B memberitahu.
"Aduh nilaiku berapa ya?"
"Tahu ah! Positif remidi."
"Bodo amat! Gue gak suka fisika."
Seperti itulah tanggapan mereka. Kemudian Ken membagikan lembaran jawaban sesuai dengan nama yang tertera. Mulai dari absen satu, delapan, Calista, Dina, Gibran, dan seterusnya.
"Sera," gumamnya sambil menyerahkan lembar milik Sera.
"Eh eh! Ken!" Si empunya nama berbalik.
"Apa?"
"Um... Nilai Dina berapa?" tanya Sera dengan nada pelan.
Ken mengangkat bahu dan berkata, "Tak tahu! Aku tidak melihat nilai dari tadi."
"Oh.. ya udah."
Ken bisa melihat wajah yang tersirat kekecewaan. Tapi ia tidak berpikir banyak karena bukan urusannya lalu kembali pada kegiatannya.
__ADS_1
Diam-diam Sera menatap Dina yang juga sedang melihat hasil ulangan. Ini kesempatan baginya. Sera berjalan ke belakang lewat jalur tengah kemudian berbelok untuk ke jalur dimana bangku Dina bisa dilewati di sana. Sepertinya daripada nilainya sendiri Sera lebih penasaran dengan nilai Dina.
"Ngapain tuh anak?" tanya Rendi melihat gelagat Sera di belakang.
"Mungkin mau lihat nilainya Dina," duga Calista.
"Kok lu tahu?" Gibran bersuara.
"Kalian gak denger? Tadi dia nanyain Ken tentang nilainya Dina. Tapi Ken gak tahu."
"Masa sih? Kapan ngomongnya? Kok gue gak liat!"
"Lu liatnya sambil merem ya jelas gak liatlah!" sahut Gibran asal.
"Eh! Lu juga gak liatkan Bambang?!"
"Liat kok! Ini sekarang gue liat elu."
"Tau ah! Jadi sebel gue punya temen kayak lu."
Calista hanya memutar bola mata tanpa ingin menjadi penengah.
Abaikan Rendi dan Gibran. Kembali ke topik. Sera berjalan perlahan dan berhenti persis di posisi seperti saat tadi. Ia berjinjit sedikit karena terhalang oleh punggung Dina. Masih belum terlihat. Kali ini ia berjinjit lebih tinggi dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"92."
'Eh?!'
Hampir saja Sera jatuh tersungkur jika saja tangannya tidak menggapai meja Dina. Mata mereka bertemu. Sera membenarkan berdirinya menghadap Dina yang masih menatap.
"92."
Sera mengangkat alis mendengarnya.
"Nilaiku 92," ulang Dina untuk ketiga kalinya.
"Hah?" Ternyata Sera masih loading.
"Kau ingin tahu nilaiku kan?"
Connected. Sera baru sadar aksinya diketahui oleh Dina. Rasanya malu sekali. Meskipun tidak ada yang memerhatikan mereka, tetap saja lebih memalukan ketahuan oleh pihaknya langsung daripada orang lain.
"Aa... S-selamat! Nilaimu bagus!" Dan tanpa berkata lagi Sera langsung pergi ke tempat duduknya.
'Kukira dia akan kesal dan memusuhiku. Tapi begini lebih baik,' batin Dina.
"Oh ya Guys! Aku dengar kabar dari kantor guru nanti kelas ini akan ada murid baru."
'Murid pindahan?'
Pengumuman Ken menarik perhatian seluruh kelas. Penasaran dan banyak pertanyaan di kepala mereka. Tak bisa menunggu nanti, mereka pun bertanya pada Ken. Dan semakin menjadilah keributan kelas.
__ADS_1
'Terserah. Itu tidak akan memengaruhi apapun,' pikir Dina.
Namun, ada kalanya apa yang kita prediksi tidak sesuai dengan masa depan.