
Semua masih sibuk membicarakan murid baru. Seketika itu menjadi trending topik kelas ini. Kadang Dina heran dengan orang-orang. Jika menyangkut orang lain sepertinya apapun bisa dibahas seolah-olah ada banyak hal perlu dikupas. Tapi ini orang baru. Kenal saja belum, apa yang bisa dibahas? Melihatnya saja juga belum pernah.
Sudahlah. Tidak ada yang bisa menyalahkan pendapat orang. Karena itu dari diri masing-masing. Sesuka mereka ingin melakukan apa dan sesuka ia ingin bertindak bagaimana.
Tet...
Tet...
Bunyi yang dinanti telah terdengar. Langsung duduk di tempat masing-masing dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kelas ini mereka mengharapkan kehadiran Bu Lili selaku wali kelas XI-B. Mungkin itu jugalah yang menjadi alasan Bu Lili menukar jamnya dengan jam bahasa Inggris daripada mapel lain.
Kelas menjadi sepi ketika Bu Lili masuk. Seorang diri? Apakah Ken hanya mendapat kabar burung? Bu Lili berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi!"
"Pagi Bu!"
Tok
Tok
Tok
Seorang laki-laki dengan seragam khas sekolah ini masuk setelah mengetuk pintu. Sadar atau tidak semua pasang mata tertuju ke arahnya.
"Maaf Bu, Saya mengikat tali sepatu dulu tadi."
Lelaki itu bisa di bilang tidak tampan. Tapi ia memiliki wajah manis dan penampilan keren, bahkan beberapa perempuan langsung kagum melihatnya. Keren, manis, dan berkumis tipis pula. Paket lengkap.
"Ya, tidak apa-apa. Semua, kenalkan, kita punya murid baru di sini. Silahkan perkenalkan diri."
Lelaki itu menghadap seisi kelas yang melihatnya dengan beragam ekspresi.
"Hai! Perkenalkan namaku Arka Pramudya. Aku pindahan dari kota sebelah. Salam kenal." Tangannya melambai dan menunjukkan senyum lebar hingga matanya menyipit.
Senyum yang dapat membius siapa saja yang melihatnya. Ya, tentu kalimat itu hanya ada di pikiran pecinta lelaki manis. Maka tidak berlaku pada Dina.
"Iih... Manis bangeett!"
"Senyumnya itu loh..."
"Andai jadi pacar gue!"
"Terus gebetan lo gimana?"
"Eh iya ya! Kalo gitu jadi cadangan aja deh.."
"Serakah banget sih mbak!"
Dina dapat mendengar bisik-bisik kagum yang ditujukan pada Arka. Namun ia hanya menatap datar ke depan sambil menopang kepala dengan tangan di pipi kirinya.
"Baik Arka, silahkan duduk!"
Arka mengedarkan mata, mencari kursi yang akan menjadi tempat duduknya. Di sana. Tepat di pojok belakang kelas di dekat jendela. Ia berjalan dengan santai melewati setiap murid termasuk Dina yang duduk tepat di depannya.
Dina bisa mendengar suara kursi bergeser di belakangnya. Ternyata Arka duduk di sana. Mata Dina tetap lurus ke depan tak berniat menengok ke belakang atau menyapa.
****
Ketika istirahat tiba, sebagian besar siswa akan pergi ke kantin untuk mengisi energi begitu pula dengan Dina. Karena tak membawa bekal kali ini Dina akan makan makanan kantin.
Berjalan dengan cepat sebelum dipadati murid dari berbagai kelas. Dan benar, hampir semua tempat penuh. Sepertinya Dina kalah cepat. Salahkan Pak Dirga yang tak kunjung selesai bercerita hingga muridnya terlambat istirahat.
Dina memilih untuk mengantre dahulu. Masalah duduk dimana itu mudah, tak perlu dipusingkan. Antrean layaknya ular itu tak menjadi hambatan bagi mereka yang lapar. Berdesakan-desakan juga menjadi hal untuk menguji kesabaran. Cukup memakan waktu hingga tiba gilirannya.
"Silahkan!" ucap penjaga kantin sambil memberikan sepaket makan siang.
__ADS_1
Dina menerima sambil mengulas senyum kecil. Selesai dengan makanan sekarang ia harus mencari tempat duduk. Dina mengedarkan pandangan sambil berjalan perlahan.
'Itu dia!'
Sebuah meja kosong menarik perhatian Dina untuk mendekat dan duduk di sana. Saat ia menarik sebuah kursi tiba-tiba terdengar juga suara derit di seberang.
"Oh! Hai!"
Dina melihat Arka yang juga terkejut lantas menyapa dengan senyum lebar persis saat perkenalan tadi.
"Tidak apa-apa kan aku duduk di sini?" tanyanya sambil meletakkan nampan.
"Tidak apa-apa." Dina duduk di hadapan Arka dan mulai mengambil sendok.
Menu hari ini adalah sop ayam, nasi, tempe, dan tahu. Untuk minuman Dina memesan air putih yang ternyata sama seperti Arka. Ia menyuap sedikit sop ke mulutnya, mengecap rasa dari kaldu ayam. Enak. Sama seperti rasa pada umumnya.
Dina melanjutkan makan ditemani nasi dan lauk yang semakin menambah cita rasa di lidah. Sementara Arka makan sambil sesekali melirik gadis di depannya. Ia merasa tidak asing dengan Dina.
"Um... Apa kita pernah bertemu?" tanya Arka dengan hati-hati.
Dina berhenti menyendok nasi dan segera menelan makanannya, ia terlalu fokus hingga melupakan Arka.
"Ya. Kita sekelas."
Arka berpikir sejenak. Mengingat-ingat wajah teman kelas barunya.
"Ooh.. kau yang duduk di depanku itu ya?" Arka mencoba memastikan ingatannya.
"Ya." Dina berkata santai tapi singkat yang justru disalahpahami oleh Arka.
"Maaf. Aku tidak bermaksud tidak mau mengenalmu. Aku tidak pandai mengingat jadi aku ragu kalau kita pernah bertemu, makanya aku bertanya padamu untuk memastikan agar aku tidak salah paham," jelas Arka masih dengan dua sudut bibir yang tertarik.
'Kau baru saja salah paham padaku,' batin Dina.
Tentu ia tak kan berkata itu, "Ya, tidak apa-apa."
"Haii!! Boleh gabung?"
Keduanya menoleh dan mendapati Rendi dan kawan-kawan berdiri di samping meja. Rendi menatap mereka bergantian dengan wajah cerianya, Gibran memandang Rendi dengan mengernyit dahi seakan-akan menilai tingkahnya memalukan, Sera tampak memandang ke arah lain, dan Calista tersenyum sopan.
"Tentu saja!" jawab Arka riang.
Rendi lalu Gibran duduk di sebelah Arka sedangkan Calista lalu Sera duduk di sebelah Dina.
"Hehe, terima kasih! Hanya ini bangku yang tersisa. Beruntung teman kelas yang duduk jadi mudah gabung deh!" ucap Rendi.
Walau baru kali ini makan bersama Dina dan Arka, Rendi tidak merasa sungkan sama sekali. Berbeda dengan Sera yang diam. Calista yang berada di tengah hanya pasrah dan membiarkan para lelaki memecah suasana.
"Haha, iya sangat ramai di sini," sahut Arka.
"Ngomong-ngomong namaku Rendi, salam kenal ya!"
Arka mengangguk sambil menerima uluran tangan Rendi. "Iya! Salam kenal juga!"
"Bran! Lu kok diem aja sih? Canggung ya??"
"Bukannya elu? Biasanya juga pake lu gue kenapa jadi aku kamu tadi?"
"Ya... biar gak sok akrab aja."
"Kan emang biasanya lu tuh sok akrab."
"Berisik banget sih lu?!"
"Tadi diem ditanyain sekarang ngomong dikomentarin! Mau lu apa sih bang?"
__ADS_1
"Hahahaha!! Kalian deket banget ya," sahut Arka sambil tertawa.
"Ya... Mau gimana lagi dianya yang dekat-dekat gue." Rendi berkata seolah-olah ia keberatan.
"Siapa yang deketin lu bang! Yang ada lu yang nempelin gue melulu!"
Dina menggeser kursi dan mengangkat nampannya.
"Duluan," ucap Dina lalu pergi.
"Ya!" balas semuanya kecuali Sera.
Rendi menegakkan badan dengan mata yang melihat jauh. Kemudian ia sedikit mendekat pada Arka.
"Ka! Kamu kenal Dina?"
Arka sempat bingung dengan nama Dina namun mengingat ia tadi bersama gadis itu Arka paham siapa yang dimaksud.
Ia menjawab, "Kan kita temen sekelas."
Rendi tampak meragukan kalimat Arka.
"Udah? Itu doang?"
"Iya.. emang kenapa?"
"Gak pa pa sih, heran aja liat kalian berdua."
Arka juga heran dengan pertanyaan Rendi. Tak ingin ada kesalahpahaman ia menjelaskan.
"Kami gak ada apa-apa, cuma kebetulan aja nemu kursi yang sama."
Rendi menyimak lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Ooohh.. kirain kalian temen lama," ucap Rendi setelah membuka mata.
"Memang kenapa?" Arka merasa ada yang mengganjal.
"Ya... sebelumnya kami belum pernah liat dia deket sama orang."
"Bukan liat! Tapi emang dia gak pernah deket sama orang," koreksi Sera.
"Akhirnya ngomong juga nih anak," sahut Gibran dengan tatapan mengejek.
Sera mendengus samar dan membuang muka.
"Apa ada sesuatu?" Walau ia orang baru, tapi Arka paham apa yang dibicarakan.
"Gak tahu juga sih..."
"Dina itu orangnya tertutup. Jarang banget ngobrol sama orang. Kalau ngomong juga seperlunya. Nah! Terus tadi kami liat kamu ngomong sama Dina jadi Rendi tanya begitu," jelas Calista.
Arka mendengar baik-baik. Ia jadi terpikir percakapan tadi dengan Dina.
'Berarti tadi aku salah paham dong! Wah gawat! Kalo dia tersinggung beneran gimana?!' Arka berpikir keras sambil memijit pelipisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Calista yang sadar dengan perubahan sikap Arka.
Arka sedikit tersentak lantas ia langsung tersenyum dengan alis terangkat.
"Um? Tidak! Tidak apa-apa."
Calista hanya ber-oh ria lalu kembali menyantap makanan.
Mereka berempat makan diiringi dengan ocehan Rendi yang kadang ditanggapi Gibran. Sementara Arka diam tak menyimak obrolan mereka. Pikiran yang berkecamuk membuat dirinya melamun.
__ADS_1
'Lebih baik aku meluruskannya dulu.'
Arka berdiri kemudian pamit kepada mereka berempat.