
Pagi hari yang cerah. Saatnya membuka mata dan kembali ke alam nyata. Umumnya orang-orang akan mulai dengan merapikan tempat tidur dan mandi. Seperti yang dilakukan Arka tadi. Ia sudah siap dengan seragam sekolah. Ini adalah hari kedua bagi Arka sebagai murid baru.
Ia berdiri di depan cermin dengan penuh percaya diri. Arka menyisir rambut hitamnya dengan rapi. Label good boy tentu sudah terpampang di mukanya. Lalu ia menarik sudut bibirnya.
"Keep smile!" gumamnya seperti biasa.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Arka meraih tas lalu menuruni tangga.
Makanan dengan asap yang mengepul sudah tersaji di atas meja. Arka menarik kursi lalu memerhatikan hidangan di depannya. Nasi, sayur, buah, lauk pauk, dan susu. Menu yang lengkap, tapi orang yang memakan tak selengkap dengan makanannya.
Ada empat buah kursi namun hanya terisi satu. Pemandangan yang selalu dilihat Arka di setiap pagi.
Itu sudah biasa, semua sibuk dengan pekerjaan. Ayah mengurus perusahaan, Ibu mengurus bisnis butik, dan Kakak yang membantu Ayah. Tersisa dirinya yang masih sekolah. Ibu akan menyiapkan makanan untuknya sebelum Arka bangun kemudian pergi berbisnis. Hatinya terasa kosong melihat meja yang sepi. Segera ia tepis semua hal itu dan mulai sarapan.
Sendok dan garpu berdenting sangat jelas. Bagaikan irama yang mengiringi setiap suapan. Lagu yang selalu menemani kesendirian Arka di meja ini.
Usai sarapan, Arka berjalan ke garasi setelah mengambil kunci motor di rak kecil di samping sofa. Kemudian ia berangkat menaiki kuda besinya ke sekolah.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di sekolah. Arka memarkirkan motor gedenya dengan rapi. Melepas helm dan meletakkannya di spion. Mencabut kunci kemudian berjalan menuju kelas.
Tiba di kelas, Arka meletakkan tasnya di kursi. Ketika akan duduk.
"Arka!"
Kegiatannya terhenti saat suara membuat ia membalik badan. Murid bergender perempuan itu sudah berdiri di depan Arka.
"Boleh minta tolong ajarin aku matematika?" Tatapan penuh harap terpancar jelas.
Seperti biasa Arka tersenyum dan mengiyakan permintaannya.
Perempuan yang ber-name tag Ceri itu segera mengambil buku dan menunjukkan pada Arka soal yang ia kurang paham. Arka menjelaskan dengan kalimat sederhana dan sedikit perumpamaan agar cepat dipahami.
"Wah.. ternyata gitu! Sekarang aku paham! Terima kasih Arka!" ucap Ceri lalu kembali ke wilayahnya.
Arka kembali duduk dengan tenang.
"Arka! Bisa ajarin aku materi ini gak?" kini berganti murid laki-laki yang bertanya.
Arka memerhatikan kumpulan angka dan garis yang terpampang kemudian menjelaskan pada Bara.
Tak berhenti sampai situ. Orang-orang silih berganti bertanya pada Arka. Ia pun menerangkan satu demi satu hingga tak menyadari Dina sudah duduk di kursinya.
Masih banyak yang bertanya, namun mereka berhenti ketika guru datang. Entah sejak kapan bel berbunyi, mereka terlalu fokus belajar. Arka senang ia bisa mengajari teman-teman. Masih dengan senyum terlukis, matanya jatuh pada sebuah punggung di depannya.
'Oh iya lupa!'
Arka teringat kembali urusannya dengan Dina.
'Padahal aku udah nyusun kata-kata semaleman,' batinnya.
Arka tak melebih-lebihkan. Semalaman ia memang memikirkan cara berbicara dengan Dina tanpa menimbulkan konflik. Ia juga sengaja berangkat lebih pagi agar bisa segera bertemu dan menyelesaikan misi. Tapi apa boleh buat, sepertinya Arka harus menunda lagi niat yang tertanam. Arka berpikir sampai-sampai ia melamun dan sialnya diketahui oleh Pak Huda yang sudah kembali mengajar.
"Kamu! Maju, kerjakan soal ini!" ucap Pak Huda dengan tegas.
Arka tersadar lalu mengendalikan dirinya. Seperti yang diperintahkan, Arka maju dan mengambil spidol kemudian menorehkan tinta di papan putih.
Selesai. Semua terkejut melihat Arka yang juga bisa menjawab soal kimia dengan lancar.
"Ya, benar. Tapi lain kali jangan melamun di pelajaran saya!" kata Pak Huda selepas mengoreksi jawaban.
"Baik Pak!"
Arka kembali ke bangkunya. Ia juga bisa menangkap tatapan kagum di wajah teman-teman. Senang rasanya. Arka berusaha untuk tidak senyum-senyum sendiri. Jika ada yang tahu bukankah ia akan dianggap aneh?
Seharian itu Arka aktif menjawab pertanyaan dari guru dan mendapat nilai tertinggi dari soal-soal harian. Satu kelas pun semakin gencar bertanya dan meminta pencerahannya. Hal-hal semacam itu tak luput dari pandangan Rendi dkk.
"Sekarang kelas kita jadi semangat belajar ya?" Gibran.
"Ya, itu bagus!" ucap Sera dengan sewot.
"Hey Ser! Kayaknya lu punya saingan baru tuh!" ujar Rendi menggoda Sera.
"Berisik!"
"Menurutku, Arka tidak hanya pintar tapi juga cerdas. Dia bisa jawab soal yang sulit dan nilainya selalu jauh di atas kita." Calista menyuarakan pendapatnya.
"Betul! Gue juga akui kemampuan Arka. Bahkan bisa ngalahin Dina, hebat tuh anak!" Gibran mengangguk kecil dan melipat tangan di depan.
"Iya sih... Dina aja bisa dikalahin." Rendi mendongak dan memandang langit-langit.
"Tetep aja! Aku cuma mau bersaing dengan Dina! Titik!" ujar Sera bersungut-sungut.
"Ya ya ya... Terserah lu aja.." Rendi mengangkat tangan tak ingin membuat masalah.
"Bran! Cari minum yuk!"
"Kalo ditraktir, gue berangkat." Gibran mencoba memanfaatkan ajakan Rendi.
__ADS_1
"Bangk*! Ya udah cepet! Keburu gue berubah pikiran."
"Oke siap!"
Keduanya keluar dari kelas.
"Ser?" panggil Calista.
"Ha?"
"Keliatannya kamu kok pengen banget lawan Dina. Emang kamu gak suka sama dia?"
Sera terkejut tiba-tiba Calista menyinggung hal itu. "Enggak, gak gitu kok!"
"Terus kenapa?" Calista memiringkan kepala.
Sadarkah kau Calista? Gayamu terlihat kekanak-kanakan saat ini.
"Ya... Gak kenapa-kenapa!" Sera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mereka terdiam. Merasa atmosfer yang memberat Sera memilih pamit ke kamar mandi. Calista tidak banyak berkomentar lalu membuka buku.
Di kamar mandi, Sera menghadap cermin yang memantulkan bayangannya. Ia bisa melihat dirinya sendiri di sana. Kelopak matanya sedikit menyipit, alisnya agak menukik, kemudian tangannya memegang sisi wastafel.
Tatapan Sera tampak serius lalu ia berkata, "Aku akan terus berusaha keras agar bisa menyainginya!"
****
Di kantin.
Arka menjejakkan kaki di sana. Tujuannya bukan untuk makan tapi mencari seseorang. Ya, masalahnya dengan Dina belum selesai tapi yang dicari menghilang entah kemana. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri, tak lupa bola mata yang terus bergerak.
'Dia...'
Yang ia temukan bukan Dina melainkan Rendi dan Gibran. Arka menghampiri mereka yang tengah meminum minuman.
"Rendi!"
Perhatian teralih pada Arka.
"Ya? Kenapa Ka?"
Arka agak ragu bertanya, tapi ia tetap melanjutkan niatnya. "Dina kemana ya?"
"Ha?! Dina?" Rendi mengangkat alis.
Arka mengangguk.
"Kalo ada gak mungkin dia nyari ke sini Udin!" sewot Gibran.
"Hehehe lupa-lupa, sorry." Rendi mengeluarkan cengirannya.
"Tidak apa-apa. Kalau gitu aku duluan ya!" pamit Arka.
Belum sempat beranjak Rendi kembali berseru, "Eh tunggu Ka!"
"Ya?"
"Dina marah sama kamu ya?"
"Ha? Marah?" Arka tidak mengerti maksud Rendi.
'Dina marah? Jangan-jangan dia marah karena kemarin,' pikirnya.
"Eh? Dia gak marah ya? Kirain."
'Maksudnya gimana sih?'
Gibran mencoba meluruskan, "Dia tuh gak paham maksud lu bang!"
Gibran beralih pada Arka.
"Jadi gini, Rendi tuh ngiranya kamu berantem sama Dina. Soalnya nilai kamu lebih bagus dari dia, padahal Dina itu selalu punya nilai tertinggi di kelas. Tapi gara-gara kamu dia jadi nomer dua deh. Jadi mungkin dia marah sama kamu. Gitu!" Penjelasan Gibran disimak baik oleh Arka.
Badan Arka menegang. Kaget dengan fakta itu.
'Kayaknya harus cepet-cepet dilurusin nih!'
"Kalau gitu, aku duluan ya!"
"Ya!" seru Rendi dan Gibran.
Arka pergi dari kantin, berjalan sambil berpikir. Tangan kanannya ia taruh di dagu sedangkan yang kiri berada di siku kanan. Ia mendongak selama melangkah.
'Semoga aja dia gak dendam sama aku.'
Arka tidak ingin memiliki masalah. Yang ia inginkan adalah kehidupan sekolah yang tenang. Dan ia belum bisa tenang jika belum bicara dengan Dina. Saat akan melewati kamar mandi, Arka melihat orang yang familiar.
__ADS_1
'Itu kan temennya Rendi!'
Arka mendekati Sera yang baru saja keluar dari kamar mandi perempuan. Jangan salah paham, kamar mandi perempuan dan laki-laki memang berdampingan.
"Hei!"
Mereka berhadapan.
"Kamu Sera kan?"
"Iya. Ada apa ya?" Dalam hati Sera menebak-nebak.
"Um... Kamu tahu Dina dimana?"
Sera sedikit tersentak, matanya ke arah lain.
"Kenapa kamu tanya aku?" Sera berusaha bersikap biasa.
Arka mengusap tengkuknya sambil melebarkan senyum.
"Gak apa-apa sih. Cuma kebetulan ketemu kamu jadi sekalian nanya."
Diam-diam Sera mengembuskan nafas.
"Mungkin dia di perpus."
"Ooh.. perpusnya dimana ya?"
"Itu di sana!" Sera menunjuk pintu yang tak jauh dari kamar mandi.
"Yang itu? Oke, terima kasih." Arka menuju pintu yang ditunjuk Sera tadi.
Sera masih diam di tempat.
"Arka sama Dina?" gumamnya.
Perpustakaan yang luas, dikelilingi rak buku yang menjulang tinggi membuat Arka kesulitan mencari Dina. Untungnya rak itu tidak membentuk labirin jika iya Arka sudah tersesat sejak awal.
Hanya sedikit orang yang berkunjung jadi Arka tak perlu berdesakkan agar bisa ke sana sini. Sampai di deretan meja dan kursi Arka bisa melihat Dina yang tengah membaca buku.
Dina membalikkan halaman dan kembali membaca. Konsentrasinya hanya pada barisan kalimat dan untaian kata-kata.
"Dina!"
Dina menarik leher untuk melihat siapa yang memanggil namanya. Meskipun dalam hati Dina bertanya-tanya tapi wajahnya tidak menampilkan apapun.
Arka tampak gugup melihatnya. Ia menggaruk dahi yang tidak gatal.
"Em... Aku minta maaf!" Arka memejamkan mata dengan telapak tangan menyatu ke depan.
"Minta maaf?"
Mata itu terbuka diikuti mulutnya. "Iya! Kemarin waktu di kantin aku salah paham sama kamu. Jadi aku minta maaf."
'Oh, yang waktu itu.'
"Ya, tidak apa-apa."
Sebenarnya Dina tidak tersinggung tapi karena Arka bersikeras ia terima saja maafnya agar cepat selesai. Arka masih berdiri di sana. Sepertinya pemikiran Dina bahwa Arka akan segera pergi terlalu cepat. Dina menunggu kelanjutannya.
"Itu... Soal nilaiku itu..."
Dina menyimak membiarkan Arka selesai dengan ucapannya.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau nilaimu selalu jadi yang tertinggi. Aku tidak bermaksud untuk bersaing atau menjatuhkanmu. Jadi... jangan salah paham ya?"
Dina menarik salah satu sudut bibir, mengulas senyum miring. Lirikan Dina membuat Arka semakin cemas.
"Tidak bermaksud untuk bersaing atau menjatuhkan?" Dina mengulang kata-kata itu.
Kemudian menarik tubuhnya untuk berdiri lalu menuju ke arah Arka. Sekarang jarak mereka adalah dua langkah. Dina memasukkan kedua tangan ke dalam saku roknya.
Sedikit menyipitkan mata lalu berkata, "Sebenarnya aku tidak marah karena nilaimu atau yang di kantin waktu itu."
Kelegaan menyelimuti perasaan Arka.
"Tapi!"
Dina menggantungkan kalimatnya. Jantung Arka berdetak kencang, perasaannya tidak enak.
"Persaingan yang sesungguhnya baru akan dimulai."
Glek!
Arka meneguk ludah susah payah. Dina dengan evil smirk -menurut Arka- tampak menyeramkan. Otaknya blank seketika. Tidak dapat berpikir, sampai-sampai ia melamun dan tak menyadari Dina sudah pergi.
Misinya untuk meluruskan kesalahpahaman pada Dina berhasil, tapi tujuannya untuk sekolah dengan tenang gagal total. Mungkin mulai besok Arka harus mempersiapkan diri. Dilihat dari tingkah laku Dina, ia tidak boleh meremehkannya.
__ADS_1
Tak pernah terpikir oleh Arka memiliki saingan orang seperti Dina.
Entah ini berkah atau musibah.