
Hari Senin, merupakan hari yang paling dibenci banyak pelajar. Hari yang menandakan awal dari segala kesibukan. Apalagi jika itu bertepatan dengan ulangan dan deadline tugas yang menggunung. Bagaimana perasaanmu? Mungkin kalian akan mengeluh seperti yang dilakukan warga kelas XI - B pagi ini.
"Ser! Sejarah udah belum?" tanya Rendi sambil membawa buku tulis.
"Huh! Diem! Aku lagi ngehafal rumus reaksi nih!" ucap Sera dengan dahi berkerut.
"Iya, tapi pinjem buku sejarah lu dulu! Mau gue salin nih." Rendi tetap bersikeras meminjam buku Sera.
Dengan kesal Sera mengambil buku dari laci dan memberikannya pada Rendi agar tidak mengganggunya lagi.
"Nah.." Rendi menerima dengan senang hati.
"Ren! Emang kamu udah belajar?" tanya Calista yang duduk di belakang Sera.
"Belum."
"Ha?! Terus kenapa lu sante bambang! Ulangannya jam pertama lho! Yakin gak mau ngehafal sesuatu?" sahut Gibran yang duduk di depan Rendi.
"Gak usah dihafal! Tulis di meja kan bisa!"
"He bro! Lu lupa ya? Nanti yang ngawasin ulangan kita tuh Bu Lili! Pasti tempat duduknya bakal diacak!"
"Oh! Iya ya.. kalo gitu chat kelas sebelah, siapa tahu ada bocoran," ujar Rendi sambil mengeluarkan HP dari saku celana.
"Kelas XI - C kemarin gak jadi ulangan. Soalnya Pak Huda sakit, jadi ditunda. Makanya sekarang yang gantiin Bu Lili. Yang pertama kali ulangan jadi kelas kita deh!" jelas Calista.
"Yah! Gilak ini mah!"
"Hii...! Kalian kalo gak belajar ya jangan berisik! Ganggu tahu gak!" seru Sera marah.
"Sorry sorry," ucap Rendi sekenanya.
Keributan kecil tak hanya terjadi diantara empat orang itu tapi juga siswa lain yang tampak sibuk. Entah itu kesana kemari untuk menyalin PR, mengerjakan tugas, atau mayoritas yang lebih memilih belajar untuk ulangan fisika di jam pertama yang akan dimulai lima menit lagi.
Di tengah kesibukan mereka hanya ada satu orang yang duduk tenang sambil menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangan di atas meja. Mencoba meredam keberisikkan. Bangkunya berada di dekat jendela baris kedua dari belakang dan baris keempat dari pintu kelas. Dina tampak sedang tidur jika dilihat dari posisinya. Meskipun matanya terpejam tapi ia tidak benar-benar tidur hanya saja Dina lelah melihat teman sekelasnya hinggap kesana sini sejak tadi pagi.
Mengganggu pandangan.
Ditambah dengan suara debat kecil-kecilan terutama suara dari mereka yang tengah menghafal. Benar-benar mengganggu ketenangan.
Tet...
Tet...
Ceklek!
Tepat saat bel masuk berbunyi, pintu dibuka dan menampilkan Bu Lili yang sudah siap dengan setumpuk kertas di tangannya.
'Cepet banget!' batin semua siswa kecuali Dina yang baru mengangkat kepala.
Bu Lili tersenyum melihat seisi kelas yang tampak bersiap-siap.
"Ulangan kan?" tanyanya berbasa-basi.
'Tidak!' Ingin sekali mereka berkata begitu.
"Ya..." Namun realita tak sesuai ekspektasi.
Bu Lili meletakkan kertas-kertas itu di meja guru dan mengambil sebagian untuk dibagikan. Sementara semuanya menyiapkan alat tulis seperti kertas, pulpen, pensil, penghapus, dan stipo.
"Untuk kali ini tempat duduknya, laki-laki di depan kemudian baru perempuan di belakangnya. Supaya tidak bingung, urutannya sesuai absen dari kanan absen terkecil dan seterusnya," ucap Bu Lili sambil menghitung kertas untuk bangku baris pertama.
Mendengar itu semua langsung memposisikan diri tanpa diperintah dua kali. Terlihat sepertinya kaum lelaki tidak menguntungkan di posisi ini, wajah mereka pun terlihat lesu termasuk Rendi yang sudah pucat. Dan untuk perempuan walau berada di belakang, mereka tetap tak berniat untuk mencontek mengingat menakutkannya guru yang sekarang duduk di kursinya.
__ADS_1
Dina mendapat meja tengah agak depan. Itu juga tempat yang kurang menguntungkan karena mudah dilihat. Tapi Dina tidak peduli, dimana pun ia duduk itu tidak akan berpengaruh terhadapnya. Dina sudah belajar dan menyiapkan diri dengan baik kemarin jadi sekarang walau ia berada tepat di depan guru tidak menjadi masalah baginya.
"Silahkan dikerjakan! Waktu kalian 45 menit."
'Hah?!'
Wajah kaget terpasang jelas pada mereka minus Dina.
45 menit untuk mengerjakan 20 soal uraian. Itu tidak cukup untuk berpikir. Kecuali jika terbiasa mengerjakan mungkin sudah hafal di luar kepala. Yang bisa dilakukan adalah mengatur strategi dengan baik agar tidak kekurangan waktu. Tapi itu juga hanya berlaku pada pihak yang setidaknya tahu sedikit tentang materi.
Rendi sedari tadi melihat satu per satu soal di depannya. Semakin turun pandangannya semakin memelas wajahnya.
'Gak ada yang gue paham! Sumpah!' batin Rendi frustasi.
Rendi melirik ke sekeliling. Semua sudah mulai mengerjakan dan ada yang masih berpikir. Ya, paling tidak mereka mengerti dan dapat mengira-ngira jawaban. Sedangkan ia? Mengarang saja tidak bisa. Tidak ada ingatan apapun di setiap katanya, mengarang pun juga harus ada sangkut pautnya dengan materi. Tidak mungkin kan ia akan menjawab soal gerak melingkar dengan rumus luas lingkaran biasa. Apalagi ini Bu Lili, bisa habis ia.
Di tempat lain, Dina sudah menyelesaikan beberapa soal. Sesuai pemikiran dan tebakkan, soal yang keluar sebagian besar sama dengan yang ia pelajari. Sebuah keuntungan tentunya. Tangannya tak berhenti mencorat-coret kertas, hanya saat membaca soal saja ia berhenti sejenak. Matanya benar-benar tertuju pada dua kertas itu dan pikirannya juga sangat fokus karena kelas begitu hening.
Namun itu tak bertahan lama saat Rendi yang duduk di sebelah kiri depannya mulai bergerak gelisah. Dina melirik Rendi yang terlihat mencondongkan badan ke kanan sepertinya ia ingin mencontek jawaban orang di depannya.
Bisa dikatakan Rendi terlalu nekat. Mencontek dengan cara seperti itu, sangat terang-terangan. Jika Bu Lili melihat-
Klak!
Semua mata tertuju pada sumber suara. Bu Lili baru saja melemparkan pulpen hingga mengenai kepala salah satu siswa. Dan orang yang sangat tidak beruntung itu adalah....
"Tomi!" seru Bu Lili.
Bukan hanya Tomi, yang lain pun ikut tegang mendengarnya. Dina bisa melihat Bu Lili menghampiri Tomi yang duduk di depannya. Ia pikir Rendi yang akan mendapat masalah. Tidak tahu apa yang dilakukan Tomi yang jelas membuat Rendi cukup beruntung, menurut Dina.
Bu Lili mengambil selembar kertas yang lusuh dari tangan Tomi yang berkeringat dingin sejak tadi.
'Contekkan? Besar juga nyalinya,' batin Dina.
"Kamu pikir jika Saya mengawasi kalian sambil mengerjakan tugas, kamu bisa mencontek tanpa ketahuan?!" ucap Bu Lili dengan tegas sambil menunjukkan contekkannya.
Dina melanjutkan pekerjaannya. Tak perlu menyimak hal di depannya secara keseluruhan, lagipula waktu terus berjalan dan itu bukan urusannya.
Lain dengan Rendi yang masih terpaku di tempat. Jika berada di posisi Tomi entah bagaimana nasibnya. Rendi terus menengok ke arah Tomi, hingga sebuah kertas mendarat di mejanya. Buru-buru ia tutupi benda itu dengan tangan. Rendi melirik ke arah datangnya kertas. Gibran. Tersangka itu memberi kode untuk segera menulis selama Bu Lili sibuk. Rendi yang dapat menangkap maksud tersebut langsung membuka perlahan dan menyalin isinya secepat kilat. Beruntung Bu Lili menghadap Tomi dan membelakanginya.
"Sudah tahu apa konsekuensinya?!"
Bu Lili meraih lembar jawab Tomi lalu merobeknya menjadi potongan kecil. Peraturan tersirat dari Bu Lili adalah tidak ada yang namanya kesempatan kedua, baik kesalahan sengaja maupun tidak sengaja tetap akan kena sanksi.
"Salin jawaban yang tepat dari soal ulangan ini lima kali! Besok pagi harus sudah ada di meja saya."
"Y-ya Bu!" ucap Tomi masih menunduk.
"Satu lagi! Karena ulangan ini bukan dari Saya, sekarang kamu ambil lembar jawab dan kerjakan dari awal!" tambahnya.
Sedikit lega mendengarnya. Biasanya Bu Lili akan langsung menyuruh ulangan susulan. Tomi bergegas mengambil lembar jawab baru kemudian mengerjakan kembali soal-soal itu. Tepat saat Bu Lili beranjak, Rendi dengan cepat menyembunyikan kertas contekkan ke dalam saku.
'Huuh... Hampir aja!' batinnya.
Walaupun masih banyak soal yang belum dijawab paling tidak halaman miliknya tak sepolos tadi.
Waktu terus berjalan. Di detik-detik terakhir, banyak yang mulai panik. Tapi pada akhirnya selesai atau tidak mereka tetap harus mengumpulkan jawaban.
Tampang penat, lelah, lesu, maupun lega terpancar di wajah masing-masing saat kembali ke tempat duduk.
"Baik. Masih ada satu jam pelajaran, kita lanjut ke materi selanjutnya."
'Lah?!'
__ADS_1
Bu Lili? Mengajar? Selain kimia ia memang juga ahli dalam fisika tapi para siswa sudah tertekan dengan atmosfer yang tegang ini.
'Waktu, berjalanlah dengan cepat!' batin mereka.
****
Saat istirahat.
"Akhirnya istirahat juga!" ujar Rendi sambil meregangkan otot-ototnya.
"Jangan seneng dulu bang! Lu masih punya utang nyalin PR sejarah!" sahut Gibran berniat menghancurkan mood Rendi.
"Diem! Seharusnya tadi gue lanjut nyalin sejarahnya Sera aja."
Karena Rendi tidak menyelesaikan tugas sejarah, ia dihukum oleh Pak Dirga.
"Loh! Emang tadi ulangan fisika kamu bisa jawab?" tanya Sera.
"Enggak."
"Berarti? Kamu kosongin semua?" sahut Calista.
"Gue kasih dia contekkan," ujar Gibran sambil melirik pada Rendi.
"Ngapain lirik-lirik? Bukan gue yang minta tapi lu yang kasih!"
"Heleh! Lu juga tetep nyalin kan?"
"Udah! Gara-gara kalian berisik juga buat aku cuma bisa jawab berapa soal tadi," sela Sera menahan kesal.
"Sudah.. yang lalu biarlah berlalu." Calista mencoba menenangkan.
"Tapi aku pengen banget dapet nilai 100!"
"Buset! Nih anak gila kalik ya? Harapan lu ketinggian julehah!" Rendi meremehkan kemampuan Sera.
"Emang kenapa?! Aku cuma pengen ngalahin dia!"
"Dia? Dia siapa?" tanya Rendi sekaligus mewakili Gibran dan Calista.
Sera hanya diam, tak ingin menjawab.
"Apa mungkin.... Dina?" tanya Calista dengan nada pelan.
"Bener juga. Disini yang paling pinter itu kan Si Dina," ujar Gibran sambil memegang dagu.
"Bener Ser lu mau ngalahin Dina?" tanya Rendi.
"Kenapa?! Ngeremehin aku?! Jangan kira cuma dia doang yang nilainya bagus! Aku juga bisa!"
"Ppfft... Hahahaha!!"
Sera semakin kesal karena ditertawakan. Ingin sekali menghajar lelaki itu jika tidak ingat mereka adalah teman.
"Sudah sudah..." Calista menyela.
Ketika tawa Rendi mereda baru ia berkata, "Ok ok! Terserah lu Ser!"
"Kantin kuy!" ajak Gibran yang sudah menahan lapar.
"Kuy!" Rendi berjalan terlebih dahulu ke kantin disusul Gibran, Sera, dan Calista.
Seperginya mereka, tidak ada yang sadar Dina mendengar obrolan itu. Jika namanya sudah disebut, pendengaran Dina menjadi sensitif dan tajam. Jadi walau tidak dekat, kalau masih satu ruangan Dina bisa menangkap dengan baik. Lalu ia akan berpura-pura tuli agar mereka berpikir demikian. Itulah yang ia lakukan tadi.
__ADS_1
'Ngalahin? Tidak mungkin,' pikirnya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.