
Sesungguhnya para siswa lebih bahagia saat menerima pembelajaran daripada mengerjakan soal. Itulah yang terjadi di kelas 2-E.
Meskipun kelas menjadi bising dengan suara protes siswanya yang disampaikan lewat nada pelan, jika dalam jumlah besar, tetap saja dapat menimbulkan kebisingan. Namun Allen Max tidak menghiraukannya.
Jika sebelumnya Allen Max tidak peduli dengan siswanya yang saling menyontek saat mengerjakan soal. Singkatnya tutup mata dan tidur di kursi meja guru.
Kali ini Allen Max berjalan berkeliling mengawasi siswanya yang tengah terdiam menatap halaman buku mereka. Meski dibolak balik bagaimanapun tetap tidak bisa juga mereka mencari hubungan antara contoh dan soal yang ada di buku. Sesekali mereka saling berkomunikasi lewat bahasa isyarat.
Hanya Elio Ludovic yang terlihat tenang duduk dibangkunya. Setelah waktu habis beriringan dengan suara bel pulang, Elio Ludovic siswa yang paling terakhir mengumpulkan buku latihannya.
Allen Max tetap duduk di mejanya memeriksa semua pekerjaan siswanya. Meski tidak ada siswa yang menjawab satu soal pun dengan baik dan benar, ia tetap memeriksanya dengan serius satu kata pun yang ditulis siswanya. Meski yang mereka tulis adalah soal. Itu karena Layar sistem pelit tidak sabaran yang kejamnya melebihi film ratapan anak tiri terus mengawasinya.
“Ini?” gumam Allen Max. Ia menyadari meskipun jawaban yang ditulis salah. Tetapi semuanya menuliskan hal yang sama. Termasuk titik dan koma, meskipun tanda titik dan koma itu adalah coretan yang tidak sengaja. Tetapi mereka menulisnya dengan presisi yang sama.
Hanya Elio Ludovic, yang memiliki jawaban yang berbeda. Ya meskipun juga tidak ada jawabannya yang benar. Tetapi setidaknya lebih baik. Artinya ia orang yang idealis dan berprinsip.
“Lalu apa? Empati? Misi apa itu?” protes Allen Max. ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya mengenai misinya kali ini. Layar sistem tidak bisa tidak mengganggunya.
[Misi Anda: Empati]
“Kau ingin aku melakukan apa? Siaal!! itu bukan salahku? Memangnya mengapa jika mereka semua tidak bisa lulus ujian?” pekik Allen Max.
“Maka kau akan tinggal bersama mereka, tetap belajar di sekolah saat liburan semester nanti! Mereka harus mengulang kembali ujian,” kata Zoe Charlotte tiba- tiba muncul dari balik pintu.
Ia tidak sengaja mendengar teriakan Allen Max.
“Apa?!” Allen Max tidak percaya dengan pekerjaannya yang tidak akan ada habisnya. “Empati itu lebih tepat ditujukan kepadaku,” keluhnya kemudian.
“Kau! Mengapa kau membawa orangmu ikut datang ke D
Desa ini? Kau ingin membuat posko keributan di sini?” hardik Zoe Charlotte.
Allen Max melihat bosan ke arah Zoe Charlotte yang selalu saja takut dirinya akan membuat keributan di Desanya yang tenang dan damai. “Dia tidak akan membuat keributan, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya berbicara,” jawab Allen Max santai.
***
Sementara itu tak jauh dari gedung sekolah, ada Guido Alberti sedang berdiri menatap seekor sapi yang juga sedang menatapnya. Singkatnya mereka saling tatap- menatap. Bukan karena cinta pada pandangan pertama, lebih tepatnya kesal pada pandangan pertama.
“Guido, kau tidak perlu adu kekuatan dengannya. Mereka hanya sapi!” kata Elio Lucco sembari menunjukkan jalan yang bisa mereka lewati, “Kita lewat dari sebelah sini saja!”
__ADS_1
Elio mulai berjalan di pinggir tebing.
“Aku sedang berbicara dengannya,” kilah Guido.
“Apa?”
Klenteng! Klenteng! Para sapi dengan sebuah lonceng di leher mereka secara teratur berjalan ke pinggir jalan melewati semak- semak.
“Kau sudah bisa lewat,” Guido mempersilahkan Elio melewati jalan yang dibangun untuk kelancaran hidup masyarakat.
Dia benaran berbicara dengan sapi? Batin Elio penuh tanya heran tidak percaya.
Akhirnya mereka berdua berjalan di jalan yang benar dan lurus.
“Apa yang kau katakan kepada sapi itu?” tanya Elio.
Guido berhenti melangkah. “Kau percaya aku bisa berbicara dengan sapi?”
“Apa?”
Guido tersenyum meledek kepolosan Elio, dan melanjutkan perjalanannya. Yang bisa diartikan ternyata Kau tidak sepintar yang kubayangkan, bagaimana Kau yang tidak sepintar itu akan membantuku lulus sekolah. Aku jadi ragu untuk mengharapkanmu bisa membantuku.
Apa? Apa dia baru saja meledekku? gerutu batin Elio tidak terima sebenarnya.
Mereka sedang menuju rumah Elio Lucco. Guido Albert akan tinggal di rumah Elio Lucco untuk sementara.
***
Layar sistem dengan sedikit menggunakan kekerasan mendorong Allen Max pergi ke suatu tempat. Sementara Allen Max mulai berpikir untuk menghancurkan Layar Hologram yang selalu mengusiknya.
Allen Max telah sampai di ladang yang berlumpur karena hujan semalaman, “Hoi Layar gila! Apa Kau ingin Aku memakan ini bayam?” tanyanya.
[Misi Anda : Empati]
“Apa hubungannya bayam dengan empati?”
“Kamu sedang apa berdiri di sana?” terdengar tiba- tiba seseorang berteriak di belakang Allan Max. “Apakah seorang pembeli bayam?”tanyanya lagi.
“Membeli Bayam?” Allen Max mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Oh Tuan ingin membeli bayam?” tanya lelaki asing itu sekali lagi tanpa kenal lelah.
“Apa?” desis Allen Max
Mengapa Aku harus membeli bayam? Tunggu apakah misi kali ini adalah berempati dengan petani bayam? Membeli bayamnya? Okay! Allen Max bermonolog dalam hati.
“Aku akan membeli Bayam sebanyak $2,5.” kata Allen Max sembari memberikan dua lembar uang dan sebuah koin. ia menghabiskan sisa poinnya.
Pria asing memberikan satu ikat kecil sayur bayam, yang jika ditimbang beratnya sekitar 375 gram, kepada Allen Max.
Apa? hanya ini? Mengapa ia menjualnya dengan harga mahal? Allen Max ingin protes, namun ia urungkan mengingat misinya adalah empati.
“Terima Kasih,” ucap Allen Max dan beranjak pergi.
Setelah mereka berjalan cukup jauh dari pria asing penjual bayam, Allen Max melirik ke arah Layar sistem. Mengapa belum terlihat tulisan misi selesai?
“Hoi Layar jelek! Bukankah aku sudah berempati dengan membeli bayam dari petani itu?” protes Allen Max.
[Something went wrong!
Failed to connect to server
(Try again)]
“Ada apa denganya?” gumam Allen Max sedikit menggunakan akalnya untuk berpikir. “Apakah dia menggunakan jaringan internet?”
Allen Max memutuskan untuk pergi meninggalkan Layar sistem.
Niatnya ingin lekas pulang, tetap Allen Max malah tersesat semakin masuk kedalam hutan di lembah bukit.
Apa aku kembali saja ke Layar jelek itu? Pikir Allen Max.
Niatnya ingin kembali ke tempat Layar sistem berada juga tidak kesampaian, ia malah semakin tersesat dan kehilangan arah. Tak tahu arah jalan pulang.
Sementara hari mulai gelap.
Setelah lelah berjalan, akhirnya Allen Max mendapat titik terang. Seberkas cahaya lampu menarik perhatiannya. Ia berjalan mendekati cahaya lampu yang tampak menonjol di antara pepohonan rindang.
Cahaya lampu yang terlihat terang benderang itu menuntun Allen Max ke sebuah rumah. Rumah panggung yang sederhana yang terbuat dari susunan kayu. Jendelanya memancarkan berkas cahaya.
__ADS_1
“Sir Max?” seseorang menyapanya.