
Murray berjalan mengelilingi lorong dan ruangan, dan juga pekarangan sekolah. Hari itu adalah hari ia bertugas sebagai guru patroli. Tidak ada yang boleh terlewati oleh Murray jika dia sudah bertugas.
Uap nikotin terbang keluar melewati lubang angin berbentuk persegi yang menempel tinggi di dinding kamar mandi yang menghadap ke halaman belakang sekolah.
Murray yang melewatinya, mengetahui dengan pasti dan yakin ada beberapa siswa yang sedang merokok di dalam kamar mandi.
Ia berjalan dengan tenang seperti seolah tidak mencium sesuatu. Ia tidak ingin mencari masalah dengan siswa berandalan dari kelas 2-E. Bisa keluar dengan selamat setelah selesai mengajar di kelas itu, dia sudah sangat bersyukur.
Lebih baik memilih murid yang tidak menimbulkan kerugian fisik untuk dikembalikan ke jalan yang benar. Begitu lah pikir Murray. Ia memilih mengabaikan murid yang tidak menghormati gurunya.
Ditengah perjalanannya, ia melihat Allen Max duduk dengan tenang di atas atap kandang rusa.
“Apa yang dilakukannya di atas sana?” gumam Murray. Dia berpikir Allen Max bukan manusia yang normal karena makan di lingkungan yang bau. Bukan kah kandang rusa itu tercium bau kotoran?
Murray berbelok menuju kandang rusa, “Mr. Max apa yang sedang Anda lakukan di atas sana?” tanya setelah berdiri di depan kandang.
Allen yang baru saja menghisap rokoknya, menghembuskan asap dari mulutnya dan menoleh ke bawah. “Berpikir,” jawabnya singkat dan memakan es mambonya.
Dia merokok di lingkungan sekolah? Batin Murray.
“Mr. Max, sekolah adalah kawasan tanpa rokok. Anda bisa terkena sanksi pidana kurungan penjara,” kata Murray mengingatkan. Sebagai guru baru mungkin saja Allen Max tidak mengetahuinya.
Allen Max menghisap sisa puntung rokoknya sekali lagi sebelum membuang dan menginjak ujung batang rokok itu, “Begitu.”
Kalau begitu harus cari tempat lain untuk berpikir, pikir Allen Max sembari berdiri dan melompat turun dari kandang rusa. Ia sedang memikirkan bagaimana cara membuat jebakan untuk orang yang menginginkan kematian Chad, ia menamakannya sebagai X.
“Mr. Max, Anda ingin pergi kemana?” tanya Murray mencoba menghentikan langkah Allen Max yang tanpa permisi berlalu darinya.
“Keluar, ini adalah jam kosongku. Tidak boleh?” Allen Max sedikit terusik karena ia selalu tidak bisa menggunakan waktu istirahatnya dengan baik dan benar. Ia pikir dengan berada di atas atap kandang rusa, tidak akan ada lagi orang yang mengusiknya.
__ADS_1
“Itu, murid kelas 2-E membolos tidak masuk kelas, dan merokok di toilet lantai satu ujung selatan,” tutur Murray memberikan informasi.
“Lalu?”
“Anda adalah guru kelas mereka, sudah menjadi kewajiban Anda untuk melarang pelajar seperti mereka merokok.”
“Apa? lagi?! Mereka merokok dengan tenang tanpa membuat keributan, apakah aku harus?”
Murray mengangguk, “Ya, harus,” jawabnya singkat.
Allen Max mendengus kesal, kapan waktu istirahatnya berfungsi sebagaimana mestinya?
Dia melihat sekeliling, tidak ada keberadaan Layar Sistem. Artinya dia bebas mangkir dari tanggung jawabnya sebagai guru. Tidak ada lagi yang akan memukulnya.
“Aku pergi!” Allen Max mengangkat tangan kananya dan melambai mengabaikan arahan Murray untuknya. Ia melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah.
Namun belum sempat kaki kirinya menginjak tanah di luar gerbang sekolah, sebuah benda pipih sekeras batu menghantam kepalanya. Layar sistem telah kembali.
Ah Aku meninggalkan jammer di atas atap. Batinnya kesal kepada Murray.
“Baiklah aku mengerti, berapa poin kali ini?” tanya Allen Max seolah sudah mengerti apa misinya kali ini.
[20]
“Hanya 20? Kau ingin balas dendam kepadaku?!”
Allen Max tetap pergi menyelesaikan tugasnya meskipun hanya mendapatkan bayaran yang murah.
Brak!! Allan Max menendang pintu toilet yang terkunci dari dalam. Sontak beberapa siswa berandalan kelas 2-E terkejut batin. Mereka ingin menghajar siapa yang berani mencoba mengganggu ketenangan mereka.
__ADS_1
Nyali mereka menciut begitu melihat Allan Max yang berdiri di ambang pintu. Lekas mereka membuang puntung rokok mereka ke sembarangan arah.
Allen Max tidak begitu memperdulikan kelimat muridnya yang berdiri terdiam. Ia lebih memilih memperhatikan pintu WC.
“Hoi kalian! Kalian harus membersihkan pintu ini!”
“Apakah Pak guru mau menghukum Kami?”
“Sir Max,” ralat Allen Max tidak pernah bosan. “Bukan, karena Aku ingin buang kotoran di bilik ini!” tegas Allen Max
“Mengapa kami harus membersihkan pintu itu?!”
“Benar, kami tidak mau,”
Allen Max merenggangkan otot- ototnya dan menatap tajam kearah murid- muridnya. “Dinding bilik jadi mengandung racun karena kalian,” katanya.
Karena takut akan dihajar kembali oleh Allen Max, kelima murid itu dengan patuh menyikat semua permukaan di ruangan toilet dengan diterjen.
“Bersihkan semuanya hingga bersih!” seru Allen Max memandori para muridnya.
“Mengapa Sir Max tidak pergi ke toilet guru saja?”
“WC nya pumpat,” jawab Allen Max ala kadarnya. “Kalian ini, terlalu banyak protes! Aku harus menjaga kesehatanku dengan baik. Toilet ini penuh dengan racun rokok kalian, bagaimana kalau tidak sengaja aku menyentuhnya dan keracunan?!”
“Itu bagus,” gumam salah satu murid dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar.
“Kalian ini! Kalau mau merokok lakukan lah dengan benar! Jangan mengganggu kenyamanan orang lain,”
“Sir Max, Seharusnya melarang kami merokok! Bukannya menyuruh kami merokok dengan benar,” gerutu salah satu murid sembari menyikat urinoir.
__ADS_1
Allen Max berdecak, “Tidak perlu dilarang, nanti juga kalian akan berhenti merokok dengan sendirinya kalau sudah mati.”
Kelima murid itu tersedak mendengar perkataan Allen Max, sulit dipercaya guru seperti apa yang meraka temui.