Great Teacher System

Great Teacher System
kepah


__ADS_3

🐼🐼hello selamat membaca...


jangan lupa dukungannya like dan komen.


favorite jika suka


_________


Allen Max tersenyum melihat para siswanya yang sudah bekerja bakti. “Hidup ini memang tidak adil, kalian belum tahu?” tanya Allen Max, “apa yang kalian alami saat ini, sudah lebih dahulu dialami oleh teman kalian.”


Ketujuh siswi itu berhenti menangis, “Pauline?” tebak Natasha yang masih sesenggukan


“Hmm, bukan kah kalian mengambil tugas yang telah dikerjakan teman kalian?” Allen Max mengingatkan.


“Kami tidak mengambil, lagipula dia kan tidak dirugikan. Apa salahnya kami meng-copy tugasnya?”


“Benar, dia saja yang berlebihan melaporkannya kepada Pak Binary. Jadinya kami mendapat nilai D.”


“Dia mau cari muka,”


Allen Max memukulkan sepotong ranting ke kepala ketujuh siswi itu. “Kalian sangat rajin membersihkan kandang sapi, mengapa kalian malas mengerjakan tugas?”


“Itu karena Pak guru memaksa kami melakukannya?”


“Pak guru menindas kami,”


“Jika sudah tahu seperti apa itu kena tindas, belajarlah untuk tidak menindas orang lain. Padahal kalian sangat pintar, kalian bisa mengerjakan tugas sekolah tanpa harus menguras keringat seperti ini,”


“Pak guru! Kami tidak menindas, kami hanya_”


“Pak guru bilang kami sangat pintar?” ucap mereka serentak memotong perkataan temannya.


Allen Max mengangguk tanpa ragu. “Ya aku bisa melihatnya dari tugas fisika yang kalian kerjakan,” katanya meyakinkan.


“Pak guru jangan bercanda, jawaban kami tidak ada yang benar.”


“Iya, Pak guru melawak!”


Allen Max mendekat dan berbisik, “ini rahasia, sebenarnya kalian lebih pintar dari teman yang kalian tindas. Seharusnya kalian tidak menindasnya.”


“Pak guru melawak lagi, dia selalu mendapat nilai tertinggi di kelas.”


“Itu karena dia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar,” jawab Allen Max dengan nada menakuti seperti sedang melihat penampakan makhluk halus.


Ketujuh siswi itu merinding mendengar penuturan Allen Max. “Apa? itu mengerikan!”


“Benar, sangat mengerikan! Seharusnya kalian mengasihaninya, bukan menindasnya,” kata Allen Max. dia beranjak pergi meninggalkan ketujuh siswi itu, “Belajarlah untuk belajar, jika sudah tahu bagaimana rasanya bekerja dan hanya mendapatkan sebungkus kepah,”


“Guru gila itu, dia memberi kita sebungkus kepah?” tanya Natasha kesal melihat bungkus kepah di tangan kanannya, selepas kepergian Allen Max.

__ADS_1


“Hei, ini rasanya enak. Kau harus mencobanya Nat,”


***


.


.


[ Misi selesai


Anda mendapat 355 poin


Poin Anda : 405


Misi selanjutnya : sedang mencari….


(Belanja Item)]


Dalam perjalanan pulangnya Layar sistem kembali muncul di depan Allen Max, “Layar jelek, pelit, tukang rampok! Kau tidak mengembalikan uangku?!”


[ HA HA HA]


“Tukar semua poin!” pinta Allen Max.


No. Rek xxxx11xx11 ada dana masuk sebesar $405. Saldo akhir: $406


Bagus!


“Beristirahatlah dengan tenang,” gumam Allen Max tertawa senang melanjutkan perjalanan pulangnya.


Terlalu serius menjalanin perkerjaan sampinganya ia lupa dengan pekerjaan utamanya sebagai pembunuh bayaran.


Sesampainya di kamarnya, dia langsung membuka laptop curian yang belum dikembalikannya. Sebuah pesan masuk dari Baldoni. Dengan semangat Allen Max membuka file yang diterimanya. Kali ini targetnya adalah seorang nara pidana korup yang mendapatkan pembebasan bersyarat. Ia menerimanya.


Allen Max melihat jadwal mengajar yang diberikan Zoe kepadanya. Walaupun tidak mempengaruhi hari keberangkatannya melenyapkan target, ia tetap melihat jadwalnya.


Allen Max memutuskan pergi meninggalkan Desa Piedmone pada hari senin minggu depan pukul 7 pagi karena bus antar desa yang menuju terminal jadwalnya begitu.


***


Keesokan paginya, Allen Max bergegas menuju kantor guru setelah mendapat kabar dari Guido, bahwa ibunya Chad datang ke sekolah untuk mengurus surat pindah Chad.


Brak! Pintu ruang kepada sekolah dibuka tanpa permisi oleh Allen Max.


Semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut batinnya. Arthur Ergard dan Luisa Principi langsung menoleh ke arah pintu.


“Tunggu Ms. Principi, Anda tidak bisa memindahkan Chad!” seru Allen Max.


“Ada apa Mr. Max? Anda tiba- tiba menyela,” ucap Arthur tanpa mengalihkan pandanganya dari Allen. Ia menuntut jawaban.

__ADS_1


“Kami akan pindah ke kota Broglie yang sangat jauh dari sini,” jawab Luisa.


“Tidak! Anda tidak bisa pindah ke manapun!”


“Mr. Max!” tegur Arthur.


Allen Max berjalan menuju mendekati meja Arthur, “Maaf Pak, bisakah kami berbicara empat mata sebentar?” tanya Allen Max kepada Arthur dengan tegas dan tatapan tajamnya.


Apa? batin Arthur bingung. Mengapa ia jadi takut dengan bawahannya?


“Silahkan,” kata Arthur pada akhirnya, dari pada wajahnya yang tidak begitu tampan itu menjadi tampan dibuat Allen Max.


Allen menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar, mempersilahkan Arthur keluar dari ruanganya.


Cih! Orang ini, kapan Aku bisa memecatnya, Batin Arthur.


“Ms. Principi tidakah Anda tahu Chad dalam pengawasan seseoang?” tanya Allen setelah Arthur menghilang di balik pintu ruangannya.


“Saya tahu Pak guru, karena itulah saya memindahkan Chad ke tempat yang lebih aman,” jawab Luisa.


“Anda tahu?” Allen terkejut, ternyata ibunya Chad sudah mengetahuinya.


“Ya, beberapa minggu belakangan ini ada murid baru di kelasnya yang tinggal bersama kami, sejak kedatangannya Chad seperti diikuti oleh kematian, di mana orang tuanya?” katanya dengan nada sedikit ketakutan.


“Eh.. Ms. Principi, itu anak itu sebenarnya…,” kata Max ingin mengklarifikasi, tetapi tidak jadi karena baik dirinya, maupun anggotanya Guido adalah tidak boleh dikenal dan terkenal. “Ms. Principi, apakah Anda pernah menerima ancaman dari seseorang? Atau apakah Anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang?” tanya Allen Max.


Luisa membelalakan matanya, “Mengapa mempertanyakan hal pribadi kepada saya?”


“Karena mungkin saja orang yang menginginkan kematian Chad adalah orang yang berhubungan dengan Anda,” tutur Max.


“Itu tidak mungkin!” tegas Luisa, namun getaran bola matanya menandakan ia terlihat ragu.


Hal itu tidak luput dari pengamatan Max, ia tahu ibunya Chad menyembunyikan sesuatu. “Apakah Chad setuju dengan ini?”


“Chad di bawah tanggung jawab saya sebagai ibunya, jadi tidak perlu meminta persetujuan Chad untuk bersekolah dimana,” tegas Luisa.


“Chad mungkin saja mematuhi Anda sebagai ibunya. Tetapi jika Chad tidak menyukai sekolahnya yang baru, sangat besar kemungkinan keinginan belajar Chad akan menurun atau bahkan membuatnya menjadi pemberontak, dan berdampak kepada nilainya. Semester depan Chad akan mengikuti olimpiade Sains, apakah Anda tidak ingin Chad tetap fokus belajar?” kata Allen Max mencoba mempengaruhi Luisa. “Mengenai murid baru itu, dia adalah yatim piatu.”


Brak! Pintu ruangan kepada kesolah kembali dibuka tiba- tiba, kali ini pelakukanya adalah Cesare Bocci.


“Ms. Principi, Apakah benar Anda akan membawa Chad keluar dari sekolah ini?!” tanya Cesare Bocci dengan napas yang memburu, ia tidak rela jika murid kesayangannya hilang dari kelasnya.


Luisi Principi berdiri dari kursinya, dan berbalik menghadap pintu keluar dimana Cesare Bocci berdiri di sana.


“Itu, saya akan bertanya dulu kepada Chad,” jawab Luisa. “Kalau begitu saya pamit pulang, Pak guru Bocci dan Pak guru Max.”


Cesare menjauh dari ambang pintu dan membiarkan Luisa lewat. Ia belum bisa bernapas lega.


“Tenanglah Cesare, Chad tidak akan keluar dari sekolah ini,” kata Allen Max menenangkan.

__ADS_1


“Begitu?” Cesare manatap Allen Max dengan pandangan tidak percaya.


Allen mengangguk yakin, “Ya dia tidak akan ke mana- mana, tidak sampai aku tahu siapa X,” katanya kemudian menepuk pundak Cesare dan berjalan keluar melewati Cesare.


__ADS_2