Great Teacher System

Great Teacher System
kandang sapi


__ADS_3

“Kau sudah tahu mengapa Natasha Hovey dan yang lainnya merundung Pauline?” sindir Allen Max.


“Ya, mereka tidak menyadari kesalahannya dan menyalahkan temannya. Tetapi tenang saja Mr. Max, saya sudah menyadarkan mereka untuk introspeksi diri.”


“Tidak ada orang yang ingin disalahkan. kita memang selalu mencari sesuatu untuk disalahkan, benar kan Mr. Binary?" kata Allen Max bernada serius.


“Jika tidak memberitahukan mereka tentang kesalahannya, mereka tidak akan tahu mana yang baik dan benar,” tutur Fabio.


“Apakah kau mengira Pauline tidak akan dirundung lagi setelah keluar dari gedung sekolah ini? Jika kau sangat memerlukan nilai objektif untuk mengisi buku nilaimu, maka pastikan kau membuat tugas yang tidak bisa disontek,” kata Allen Max memandang kesal ke arah Fabio, orang yang menyebabkan ia tidak bisa memanfaatkan waktu istirahatnya untuk tidur siang, dan uangnya dirampok. “Kau menciptakan monster baru.”


“Monster?!”


Allen Max menghela napas, lagi Aku harus melakukan bakti sosial tanpa bayaran. Batinnya. Ia bergegas pergi meninggalkan laboratorium komputer.


***


.


.


Di sebuah lembah yang tak jauh dari persawahan, ada sebuah kolam dengan sebuah pancuran air yang terbuat dari selongsong bambu. Tampaknya air yang barasal dari mata air lereng gunung itu tidak akan habis.


Pauline Polaire, sedang meringkuk kedinginan di bawah tepi jalan menuju ke atas tebing. Dinding tebing yang dipahat menyerupai tangga dengan beberapa selongsong bambu sebagai kerangka.


“Kau baik- baik saja?” tanya Zoe charlotte setelah berhasil menemukan Pauline. Ini bukan kali pertama terjadinya perundungan di sekolah tempat ia bekerja sebagai admin. Biasanya ia tidak pernah turun tangan mencampuri urusan murid.


Tetapi kali ini ia terpaksa turun tangan karena Allen Max yang memintanya, dan mengancam tidak akan membayar hutangnya.


Zoe menyelimuti tubuh Pauline yang telah basah kuyub dengan sebuah selimut yang ia bawa. Dia pikir perundungan adalah hal biasa yang terjadi di lingkungan sekolahnya, dan akan selesai dengan sendirinya tanpa harus ikut campur lebih dalam.


“Apa kau bisa berjalan sendiri?” tanya Zoe.


Pauline mengangguk, dan berdiri.


Zoe membantunya berdiri dan menuntunnya berjalan menaiki tangga. “Aku akan mengantarmu pulang,” katanya.


Pauline menahan dirinya, dan berhenti berjalan. Dia menggeleng. “Miss Charlotte, saya tunggu baju saya kering saja, di sini.”


Zoe memandang langit mendung di atas kepala mereka. “Hei, sampai besok bajumu tidak akan kering, apa kau mau semalaman di sini?”


Pauline diam tidak menjawab, dan tidak bergerak. Dia tetap dengan pendiriannya tidak akan pulang sebelum baju yang dikenakanya mengering.

__ADS_1


Anak ini, mengapa dia sangat keras kepala? Batin Zoe sedikit kesal.


Zoe menghela napas dan berkata, “baiklah kita ke rumahku, kita lihat apakah ada baju yang cocok untukmu.”


Zoe kembali menuntun Pauline untuk melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini Pauline menurut.


“Miss Charlotte, mengapa Anda ada di sini?” tanya Pauline


“Guru Max yang memintaku untuk mencarimu disini,”


“Oh,”


“Pauline, yang terjadi hari ini bukan salahmu. Kau bisa melupakannya atau mengingatnya sebagai pelajaran,” tutur Zoe mulai merasuki pikiran Pauline.


“Pelajaran?”


“Orang yang kau percaya dapat memberi perlindungan, justru semakin menyulitkanmu. Artinya hanya satu, tidak mempercayai seorang pun itu lebih baik.”


Sementara itu…


Natasha Hovey dan keenam temannya berjalan menelusuri jalan umum desa yang terhubung ke mana saja. Tidak seperti pintu doraemon, kita harus melakukan perjalanan panjang untuk sampai ke mana saja. Berjalan kaki, tentu saja. Karena tidak ada kenderaan umum yang selalu melintas di Desa Piedmone. Sebuah bus lintas Desa menuju terminal hanya lewat setiap hari senin dan kamis, pukul 7 pagi dan pukul 5 sore


“Pak guru,” gumam mereka serentak.


Allen Max tertawa membayangkan apa yang akan dilakukannya kepada orang- orang yang terlibat dalam perampokan uangnya.


***


.


.


.


“Pak guru, kami sudah selesai mencabut seluruh bayam!” seru Natasha Hovey sembari memamerkan tumpukan bayam yang ia dan teman- temannya cabut dan ikat sedemikian rupa.


“Benar, kami sudah bisa pulang kan?” timpal siswa yang lain.


“Ini upah mencabut bayam,” kata Mike Spinaci, pemilik ladang bayam sembari memberikan beberapa sen koin kepada Allen Max.


Mike Spinaci yang mengira Allen Max sedang belajar mengenal bayam dengan muridnya hanya bisa diam saja melihat Allen Max yang mengeksploitasi anak di bawah umur.

__ADS_1


Allen Max berdiri dari duduk santainya. “Ayo, lanjut ke pelajaran berikutnya!”


“Apa? lagi?!” rengek mereka mencoba menolak.


Mereka hanya bisa diam menurut kepada Allen Max yang namanya terkenal sebagai guru tukang pukul.


Allen Max membawa ketujuh muridnya ke kandang sapi. Saat ini kandangnya sedang kosong karena sapi- sapi sedang dilepas mencari makan sendiri, mengingat para sapi itu sudah baligh. Ada yang turun ke jalan menghalangi masyarakat lewat. Niatnya mungkin mencari pemilik baru, karena pemilik mereka yang tidak bertanggung jawab membiarkan mereka mencari makan sendiri.


Tetapi karena bahasa mereka sulit dipahami, jadi tidak ada yang mengetahui penderitaan yang mereka alami.


“Pak guru! Kami membersihkan kendang sapi?!” pekik Natasha.


“Ya, cepat selesaikan! Sebelum hari benar-benar sore sekali,” kata Allen Max yang sedang makan es mambo.


Natasha menjatuhkan skop yang dipegangnya, “Kami tidak mau!” protesnya, ia menolak keras.


“Benar! Kami sudah mengupas biji buah aren, memecahkan kemiri, mancabut bayam, dan membersihkan kendang sapi?!” imbuh murid lain.


“Pelajaran apa? Pak guru hanya memeras tenaga Kami,”


Allen Max dengan tenang mengambil skop yang dilemparkan oleh Natasha, dan menyerahkannya kembali kepada siswi itu.


Natasha mengambil kembali skopnya dengan kesal yang tidak bisa disembunyikan.


“Segeralah keluar jika sudah selesai, jangan betah berlama lama di kandang sapi,” katanya kemudian sembari beranjak keluar dari kandang sapi.


“Apa dia manusia?” gumam Natasha menatap bayangan Allen heran, “Bagaimana bisa dia makan di dalam kandang sapi?”


Setelah tiga puluh menit Natasha dan keenam siswa lain berada di dalam kandang sapi, Kandang itu terlihat lumayan sedikit bebas dari kotoran sapi. Mereka keluar dari kandang sapi dengan bau kotoran melekat di baju yang mereka kenakan.


“Pak guru, kami sudah selesai!” teriak Natasha kepada Allen Max yang sedang duduk santai di ayunan yang terbuat dari ban bekas digantungkan dipohon manggis.


Dia sedang memakan kepah yang ditumis dengan banyak micin.


“Kerja bagus,” puji Allen Max sembari membagi-bagikan sebungkus kepah tumis micin kepada ketujuh siswanya, “kalian sudah bisa pulang,”


“Pak guru menipu kami? Kami yang bekerja, Pak guru yang menerima bayarannya. Ini tidak adil. Namanya ini romusa berkedok belajar.”


“Tidak ada pelajaran, adanya kami bau kotoran,”


Ketujuh siswi itu mulai merengek dan menangis karena telah ditindas dan diperas sedemikian rupa oleh gurunya. “Kami akan melaporkan Pak guru,” isak mereka.

__ADS_1


__ADS_2