Great Teacher System

Great Teacher System
ouija


__ADS_3

Malam itu, gedung sekolah yang berdiri kokoh di siang hari masih tetap terlihat kokoh.


Tidak ada penerangan lain selain bulan purnama yang sebenarnya juga tidak memiliki pengaruh besar sebagai sumber penerangan.


Dia adalah bulan yang menerima cahaya dari matahari, dan hanya memantulkannya sedikit ke bumi.


Sekolah tidak memiliki penjaga malam. Sekolah itu tidak perlu dijaga, karena dapat menjaga dirinya sendiri.


Aliran udara masuk ke dalam gedung melalui jendela yang dibiarkan terbuka, dan ventilasi udara.


Tenang, dan sunyi. Jika ada sebuah koin yang jatuh, suaranya mungkin akan menggema di seluruh isi bangunan.


Di gelapnya malam, ada satu kelas kosong yang tampak memiliki aktifitas.


Empat orang remaja sedang bermain di dalamnya dengan bertemankan sebuah cahaya lilin.


Mereka duduk mengelilingi sebuah papan persegi empat yang bertuliskan huruf abjad dari huruf A hingga z, angka 1 hingga 0, kata yes dan no, goodbye, gambar bulan dan matahari.


Jari telunjuk keempatnya ditumpukan pada sepotong kayu berbentuk segitiga yang memiliki lubang di tengahnya.

__ADS_1


Mereka menggeser kayu keci itu mengelilingi papan besar hingga salah satu di antara mereka yang mengenakan kaos berwarna putih berkata, "apakah kamu di sana?"


Sesaat kemudian kayu kecil berbentuk segitiga itu bergerak menuntun jari mereka bergerak menuju kata 'Yes'.


Keempat remaja itu tersenyum melihat kata yang ada di dalam bolongan kayu kecil yang mereka sentuh.


"Kamu bulan atau matahari?" tanya remaja yang mengenakan kaos warna putih.


Kayu segitiga itu kembali menuntun keempat jari mereka menuju bulan, hingga beberapa kali, dan membuat keempatnya sedikit panik.


Remaja yang mengenakan kaos berwarna putih itu kembali bersuara, "selamat tinggal."


Keempatnya kembali lagi duduk dengan konsentrasi mencoba melanjutkan permainan mereka, berkonsentrasi memutar- mutar kayu kecil berbentuk segita di atas papan hingga kayu kecil itu bergerak sendiri menuntun jari mereka.


"Apakah kamu di sini?"


Sesaat kemudian kayu kecil berbentuk segitiga itu bergerak menuntun jari mereka bergerak menuju kata 'Yes'.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


Sesaat kemudian kayu kecil berbentuk segitiga itu bergerak menuntun jari mereka bergerak menuju ke huruf demi huruf hingga menjadi kata 'Udin,"


"Udin, apakah kamu mengenal semua murid kelas 2-C?"


Kayu kecil berbentuk segitiga itu bergerak menuntun jari mereka menuju ke huruf 'No'.


"Dia tidak tahu, cari hantu yang lain saja," bisik remaja yang menggunakan kaos warna biru.


Remaja yang mengenakan kaos putih, Shopia Lorentz, melihat ke arah kedua temannya yang lain. Dan keduanya mengangguk.


Mendapat kesepakatan dari semua orang, Shopia memutuskan untuk mengusir hantu yang mereka yakinin sedang ikutan bermain dengan kayu kecil yang mereka sentuh.


"Selamat tinggal Udin,"


Keempatnya kembali lagi mencoba memanggil hantu yang lain lagi, hingga mereka mendapatkan hantu yang sesuai dengan kriteria yang sedang mereka cari.


Merupakan hantu baik, ramah, usianya tidak terlalu tua, juga tidak terlalu muda, dan mengenal semua murid kelas 2-C.


Shopia Lorentz dan ketiga temannya sengaja datang ke sekolah malam hari untuk mendapatkan jawaban atas misteri uang kas hilang di kelas mereka.

__ADS_1


Mareka tidak begitu penasaran sebenarnya dengan misteri tersebut. Mereka lebih penasaran ingin mencoba papan mainan yang baru saja dibeli oleh Shopia. Ia membelinya secara online.


__ADS_2