Gue Bukan Pocong

Gue Bukan Pocong
BAB 11


__ADS_3

Perjalanan jadi pocong pun di mulai.


“Gue udah mati!"


Yang bisa gue lakukan saat itu hanya menatap mereka dengan wajah yang penuh dengan ketidak percayaan.


“Kenapa loe pergi secepat itu, Ka. Kenapa loe gak pernah cerita tentang penyakit loe??” ujar Rahel menangis, Rasanya gue ingin banget memeluknya dan berkata.


“Gue gak mau loe khawatir, Hel”


Gue pun lngsung menghampirinya. Namun, baru saja gue melangkahkan kaki tepat kearahnya. Tiba-tiba, gue langsung terjatuh ketempat di mana manusia gak akan pernah tahu.


Setelah gue tersadar. Tempat itu sangat gelap, gak ada satu cahaya penerangan pun yang ada, sumpah saat itu gue bingung banget.


“Apa mungkin ini dunia setelah kematian?"


ujar Gue. Lalu cahaya pun muncul dan gue sudah berada di sebuah lorong yang di mana tiap kanan kiri lorong itu terdapat sebuah pintu misterius.


Gue benar-benar bingung dan terus memperhatikan setiap tulisan yang ada di atas pintu itu.


Gue terus berjalan di lorong itu dan setiap pintu yang gue lewati ada sebuah tulisan yang menurut gue aneh.

__ADS_1


Di setiap pintu bertuliskan Jadi kuyang. Jadi Kunti, Jadi Siluman, Jadi suster ngesot. Jadi Manusia kemabali. Pokoknya aneh banget.


Namun, di saat gue lagi memperhatikan salah satu pintu yang di atasnya bertuliskan jadi genderuwo. Tiba-tiba, pintu itu pun terbuka dan dari dalam pintu muncul sesosok Genderuwo yang sangat menyeramkan. Gue benar-benar panik. Saking paniknya gue langsung lari dan masuk ke salah pintu yang berada di belakang gue. Pintu itu bertuliskan Jadi Pocong .


"Lah, itu setan kenapa?" ucap genderuwo.


Gue gak habis pikir, kenapa hidup itu harus berakhir.


Banyak yang bilang hidup itu hanya sekali. Tapi, setelah gue mati, hidup bukan hanya sekali, ada kehidupan lagi setelah kematian. Seperti yang gue alami, gue merasa hidup itu gak adil.


Sekarang gue udah jadi setan, hidup gue plontang-planting gak karuan. Gue terjebak di antara dunia nyata dan dunia akhirat, yaitu dunia setan.


Gue bingung banget mau ngapain di dunia setan yang gak jelas ini, mau beli nasi goreng di bilang setan, mau beli minum di bilang setan, ribetnya jadi arwah penasaran.


Setelah gue membuka mata, ternyata gue sudah berada tengah-tengah pemakaman umum.


Waktu benar-benar serasa terhenti dan rasa gelisah pun semakin menyelimuti benak hati gue. Namun, di saat gue lagi kebingungan, tiba-tiba ada seseorang yang negur gue. Setelah gue menoleh, sumpah gue kaget banget, ternyata yang ada di hadapan gue, 4 sosok Pocong dan 1 Kuntilanak. Yang bisa gue lakukakn saat itu hanya gemetaran aja.


“Ngapain loe disini, ini komplek gue?


“Mungkin penghuni baru, Bos?

__ADS_1


“Siapa nama loe?


“Dika. Kalian siapa?”


“Oh, penghuni baru, gue Poli ketua Geng Pocong di komplek ini, kenapa loe ga kayak kita-kita, jadi Pocong?”


“Pocong?”


“Iya, Pocong. Setiap penghuni disini, di wajibkan jadi Pocong”


“Gue gak mau kayak kalian, gue masih hidup..” Pocong dan Kuntilanak yang berada di hadapan gue pun langsung tertawa terbahak bahak.


“Hahahahahahaha, yakin masih hidup. Tuh, lihat di samping loe itu apa...” Gue langsung menoleh kearah yang di tunjukan Pocong itu. Ternyata makam gue yang masih basah.


“Gimana, loe itu udah mati..”


“Gue masih hidup, gue gak mau jadi Pocong..!”


“Bos, kayaknya nih anak perlu di kasih pelajaran..”


“Gak usah. Kunti, ambilkan baju kebesaran Pocong di kamar gue..!

__ADS_1


”Hah, masa Pocong punya kamar, aneh banget" ujar hati gue.


__ADS_2