Gue Bukan Pocong

Gue Bukan Pocong
BAB 13


__ADS_3

Lama-kelamaan gue semakin BT sama Pocong yang satu ini, rasanya ingin gue tendang mukanya. Tapi, gue kasihan, soalnya Pocong termasuk setan yang teraniaya. Lihat aja, tampilannya di bungkus sama kain putih, jalan aja harus lompat, benar-benar teraniyaya. Akhirnya, si Potti ninggalin gue sendiri, malam itu yang bisa gue lakuin cuma melamun dan melamun dan entah kenapa gue jadi keinget sama dia(Amel).


“Gue kangen banget sama loe, Mel” Gue ngerasa seperti kertas yang terbakar, hambar banget. Gue pun mutusin untuk melihat keadaan dia setelah gue tinggal pergi untuk selama-lamanya, Sesampainya gue di rumahnya, gue langsung masuk kedalam rumahnya. Karena gue setan, gue pasti bisa nembus rumahnya. Tapi sayang, gue gak kayak setan yang lainnya, gue gak punya kemampuan apa pun, jangankan nembus tembok, terbang aja gue gak bisa. Malam itu gue mutusin untuk manjat gerbang rumahnya, dengan usaha yang gigih, akhirnya gue sampai juga di ujung gerbang. Tapi, sial buat gue, karena saat itu ada tiga warga yang lagi ronda bisa ngelihat gue. Alhasil, gue di sangka maling.


“Maliiiiiiiiiiing....Maliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!” Dengan terpaksa gue ngeluarin jurus kaki seribu. Tapi, sial buat gue. Gue ketangkap juga sama warga dan langsung dapat bogeman mentah, saat itu yang bisa gue lakuin cuma merintih kesakitan.


“Tunggu dulu deh, kayaknya gue kenal, loe kan Raka yang baru meninggal kemarin??” Warga yang sedang mukulin gue langsung panik dan langsung pergi terbirit-birit.


“Seeeeeeeeettaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn..” Teriak warga ketakutan.


“Kenapa sadarnya setelah mukulin gue, kan sakit juga di pukulin, dasar manusia" Keluh gue sambil menahan rasa sakit.

__ADS_1


Malam itu gue benar-benar gak tahu arah, di saat gue lagi plontang-planting ga karuan, gue sempet melihat anak kecil yang sedang menangis di pinggir jalan komplek.


“Dek, malam-malam kok ada di luar sih, gak takut ketemu setan?”


“Saya bingung, Om. Saya lupa rumah saya dimana..” Ternyata anak yang lagi tersesat. Tapi, gue benar-benar bingung, dia gak takut sama gue, padahal gue kan setan.


“Yaudah, biar Kakak bantu..” Akhirnya malam itu gue cuma bisa membantu anak kecil itu untuk mencari rumahnya. Setelah dicari berjam-jam, hasilnya pun nihil, Gue udah mulai nyerah. Namun, saat itu juga gue ke papasan sama wanita separuh baya yang sedang kebingungan.


“Gender...”


“Kemana aja, ibu benar-benar panik nyariin Gender..”

__ADS_1


“Tadi, Gender habis main, Bu. Tapi Gender, terlalu jauh mainnya, jadi gak tahu arah pulang, untung ada Kakak yang mau ngebantuin Gender”


“Makasih ya, Mas. Udah ngebantuin anak saya..”


“Gak apa-apa kok, Bu...”


“Rumah kami dekat kok di ujung sana, mampir aja dulu ya..” Saat itu juga gue mulai merasakan keanehan. Setahu gue, di ujung jalan sana kan sawah.


“Gimana, ya..” Gue bingung banget, gue kan setan. Kok, mereka gak sadar.


“Main aja ya, Kak...,” Malam itu gue pun mutusin untuk mampir kerumah mereka, sesampainya gue di rumah mereka, gue senang banget. Karena, gue di sambut hangat sama keluarga nya, gue juga sempat di kasih makan.

__ADS_1


Lama-kelamaan gue pun lupa waktu. Karena, terlalu malam, akhirnya gue pun mutusin untuk pulang, dengan perlahan-lahan gue mulai melangkah kan kaki untuk pergi. Namun, sesampainya gue didepan pintu rumah, gue kesandung sesuatu sampai terjatuh, pas saat gue bangun. Ternyata, gue udah ada di dalam sawah tepat di bawah pohon beringin yang sangat besar.


“Jangan-jangan, Gender. Genderuwo..???” Gue panik banget, tanpa pikir panjang gue langsung pergi ninggalin sawah dengan tergesa-gesa.


__ADS_2