
Malam semakin larut, gue sama si Poci pun merasa mulai nyaman untuk saling berbagi. Tapi, karena gue kangen sama pujaan hati gue, gue pun mutusin untuk melihat keadaannya lagi.
“Gue tinggal dulu ya l, Ci"
“Loe Mau kemana, Ka?”
“Gue, mau ngelihat keadaan pujaan hati gue di dunia sana....”
“Gue boleh ikut, ga?"
“Yaudah Ikut aja, Ci" Akhirnya, gue pun langsung pergi menuju kediaman pujaan hati gue yang berada di dunia sana. Sesampainya di sana, gue pun memulai aksi gue seperti biasa, manjat gerbang. Saat itu si Poci benar-benar kebingungan melihat aksi gue.
“Kok manjat, Ka?”
“Iya, Ci. Gue gak kayak setan yang lainnya, gue gak bisa apa-apa”
__ADS_1
“Yaudah, loe pegang pundak gue aja, jangan lupa pejamkan mata..”
"Buat apa,Ci?" tanya gue heran.
"Yaudah pegang aja, KA"
Tanpa banyak kata, gue lngsung pegang pundak si Poci sambil memejamkan mata, gak lama setelah gue memejamkan mata.
“Loe bisa buka mata sekarang, Ka..”
Setelah gue membuka mata, ternyata gue udah berada di dalam kamarnya dia(Amel), sumpah gue senang banget. Tapi, saat itu dia sedang tertidur pulas. Setelah gue perhatiin lagi, gue benar-benar gak tega melihat keadaannya, raut wajahnya juga sangat murung dan yang lebih membuat hati gue semakin perih, gue melihat di samping ranjang tidurnya banyak foto-foto gue, foto-foto kenangan saat bersamanya semasa gue masih hidup.
“Lo kenapa, Ka...?”
“Gak kenapa napa ko, Ci...” Setelah gue mencium keningnya, gue pun langsung pergi ke alam gue yang udah berbeda, meskipun masih berhubungan dengan dunia nyata.
__ADS_1
Setiap waktu yang bisa gue lakukan cuma termenung. Dan di siang harinya, kalau ada kesempatan gue pun suka mampir ke kampus pujaan hati gue untuk melihat keadaannya. Tapi, setelah gue melihat keadaannya, gue semakin sedih, karena dia gak ceria seperti yang dulu lagi.
***
Malam pun tiba, berkat bantuan si Poci, gue pun mampir untuk mengunjunginya lagi. Sesampainya gue di kamarnya, ternyata dia sedang menulis sesuatu di buku hariannya, gue lihat dia hanya menulis kata-kata itu saja”kenapa, mengapa, kenapa, mengapa,”
"Maafin gue, Mel. Seandainya waktu bisa di putar" ujar hati gue. Gak jarang gue juga lihat dia sering lihat-lihat profil gue di Facebook , gue pun semakin cemas dengan keadaannya.
“Kayaknya loe sayang banget sama dia,.Ka?”
“Gue bukan sayang lagi, Ci. Tapi, benar-benar sayang, gue ngerasa dunia ini udah runtuh kalau tanpa dia..”
“Tapi kan, Ka. Dunia loe sama dia udah berbeda"
“Gue tahu dunia gue udah berbeda. Tapi, rasa sayang gue sama cinta gue gak akan pernah hilang, meskipun gue udah jadi setan.”
__ADS_1
Malam demi malam pun gue lewatin dengan penuh kehampaan. Tapi, berkat si Poci yang selalu nemenin gue, gue pun bisa happy menjalani semuanya.
Enam bulan telah berlalu, setiap malam gue cuma bisa memandanginya hanya sebatas pandangan dan gue juga gak bisa nyentuh dia, padahal gue ingin banget bertatap muka langsung dengannya.