Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan

Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan
Zero


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukan pukul 11 siang. Cahaya mentari hampir tepat di atas kepala, lalu lalang aktivitas manusia yang bolak-balik meramaikan seisi jalan pun kian riuk di jalanan.


Akan tetapi, suasana yang berbeda justru nampak di rumah hijau itu. Tepat di dalam gang yang kecil, dimana burung merpati berterbangan. Ia nampak masih tertidur, seorang pemuda di dalam rumah itu, dengan memakai baju oblong dan celana kolornya. Sepertinya ia sama sekali tak ada kegiatan hari itu. Ia masih tertidur pulas.


Mungkin itu semua karena semalaman ia masih bergadang dengan temannya, ditemani sebuah kopi dan kartu remi hinggal pukul 3 pagi. Entah apa yang difikirannya, yang jelas mereka seakan tak kenal waktu saat itu.


“Ada pekerjaan gak, Mus?” ia melemparkan kartu remi itu, angka 5 sekop.


“Alah Ro, gw aja masih nganggur.”


Dilemparkannya kartu 7 waru.


“Gini amat ya, waktu gw sekolah, milih SMK, gw pikir SMK itu gampang cari kerjaan, ternyata sama aja,” ucap Zero menggerutu, ia melemparkan kartu berangka 2 waru.


"Haha, kalah lu Mus,” Ia mengoleskan tangannya ke dalam sebuah cangkir berisi tepung. Lalu mencoretkannya ke pipi Muslih. Sebuah bentuk garis-garis, selayaknya tokoh Naruto.


“Han, hajar Han”, ucap Zero tak sabar


“Syiap Bos.”


Rehan pun mengoleskan tangannya ke cangkir itu, lalu mengoleskannya ke dahi Muslih, sebuah bentuk symbol konoha.


Mereka bertiga pun tertawa dengan senangnya, tak ada rasa yang tidak menyenangkan bagi mereka saat itu, meski dalam setiap permainan pasti ada menang dan kalah, namun dalam pemikiran mereka selama mereka menikmatinya, kekalahan bukanlah hal yang menyedikan untuk diterima.

__ADS_1


Begitu pula Muslih, sudah hampir puluhan coretan mewarnai wajahnya. Hingga wajahnya sudah nampak tak karuan. Namun ia tak dendam atas itu, ia terlihat menikmati itu.


Begitulah malam itu, mereka menikmati malam itu dengan tawa dan kesenangan. Setidaknya, bagi mereka tertawa adalah cara untuk menutupi kepedihan mereka, kesengsaraan hidup mereka, yang benar-benar membuat segalanya nampak tak berarti.


Namun, itu tak berlangsung lama. Malam sudah berganti dengan pagi, mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula segala tawa yang perlahan-lahan terus memudar.


Kembali ke Zeno, seorang pemuda yang tinggal di rumah kecil berwarna hijau, di dalam sebuah gang sempit yang tak lebih dari 1 meter, dengan burung merpati yang berterbangan, dan mengotori jalanan dengan kotoran yang sulit dihilangkan.


Ia masih tertidur, memeluk gulingnya yang nampak sudah lusuh. Dengan sprei yang sangat berantakan. Ayah dan ibunya telah berangkat berdagang pagi tadi, pukul 6 pagi. Mereka berjualan pakaian. Hingga pukul 3 sore. Rumah itu sangat sepi. Adiknya pun sedang ada di sekolah, adik tertuanya seorang laki-laki yang duduk di kelas 6 SD, sedangkan satunya seorang perempuan masih kelas 1 SD.


Zero menggeliat, nampaknya tidur panjangnya telah berakhir, mukanya masih sangat mengantuk, ia duduk sejenak. Memandang handphonenya yang diletakkan di atas meja belajarnya. Ia mengambil itu. Di meja itu, juga terdapat sebuah album kenangan nya saat sekolah SMK, ia mengambilnya, membuka halaman perhalaman dengan pelan. Setiap lembaran dipandanginya dengan tatapan tajam, hingga ia berhenti pada sebuah halaman. Nampak dirinya disana bersama dengan teman-temannya dan wali kelasnya. Ternyata itu foto kelasnya.


“Huft,,, heh.” Dia tersenyum dengan malas, lalu melemparkan album itu.


Ia mulai menyalakan handphone nya, melihat halaman sebuah sosmed. Tiba tiba 1 pesan masuk berbunyi, itu Muslih temannya.


“P”


Zero mengamatinya, selang beberapa kedipan mata, pesan selanjutnya masuk.


“Ro, besok naruh lamaran yuk.” Tulisan yang sangat singkat.


“Ok, jam berapa?”

__ADS_1


“jangan terlalu pagi, jam 10 aja.”


“Ok,” ketik Zero singkat.


Singkatnya begitulah hari-harinya, sejak pertama kali lulus dari sekolahan ia sama sekali belum bekerja, mungkin sekitar 3 bulan. Hidupnya luntang-lantung tak kenal tujuan. Padahal sebelum lulus sekolah ia adalah murid yang pintar, cukup di segani diantara teman-temannya. Namun kini itu tak berarti.


Gurunya pernah berucap, “Kehidupan setelah kalian lulus berbeda dengan saat sekolah, jika kalian tak bisa beradaptasi, kalian hanya akan menjadi sampah yang tak berguna, dunia luar itu keras bagi kalian yang lembek.”


Dan kenyataannya itu semua benar, sekarang Zero dan teman-temannya hanya menjadi sampah masyarakat, dicaci tetangga, jadi omongan warga, bahkan diremehkan oleh keluarga.


Begitulah nasib mereka, padahal sebelum mereka lulus, harapan itu pernah menggebu-gebu di pundak teman sekelasnya, ada yang ingin menjadi polisi, ada yang ingin menjadi tentara, ada yang ingin kuliah, dan ada pula yang ingin menjadi PNS. Namun seperti halnya mimpi dan harapan lainnya, mereka semua terlalu menikmati untuk bermimpi, sehingga lupa untuk mewujudkannya.


Tapi tenang, ini baru 3 bulan dimana segala perjalanan baru dimulai. Dan setidaknya, mereka masih berusaha untuk mencari pekerjaan, setidaknya agar mereka tak mati dengan sia-sia karena tak sanggup menahan malu.


Zero pun bergegas mandi, mengguyur badannya yang penuh dengan air liur, tapi ia tak perlu buru-buru tak ada sesuatu yang menunggu,


“Byurr”, guyuran itu membasahi tubuh Zero. Setelah itu, Zero terdiam, ia duduk di atas kloset jongkok, ia melamun. Melamun tentang sesuatu dengan lelapnya.


 


Mohon kritik dan sarannya!


Dari seorang pemula

__ADS_1


__ADS_2