
Terlihat di tempat lain sebuah rumah dengan pagar berjejer dengan tekstur yang nampak seperti sebuah kaca, dengan lantai dari batu marmer yang begitu mengkilap. Dindingnya pun nampak begitu indah, dengan aksen ke timur-timuran. Sungguh rumah yang begitu luar biasa.
Di dalamnya nampak seorang wanita, tidak terlalu tua tapi tidak juga terlalu muda. Ia nampak gelisah. Berkali-kali ia menengok ke layar ponselnya, menghubungi sebuah nomor yang sama. Namun nomor yang dituju tak kunjung mengangkatnya. Ia nampak semakin gelisah. Ia pun duduk di kursi sofa, sebuah kursi sofa dari kulit domba yang begitu empuk. Dia menelepon ke nomer yang lain, terdengar suara berdering. Selang beberapa lama telepon pun terhubung.
“Nak Zero, Rehan ada disana gak?” tanya nya agak cemas.
“Emm... gak ada kok, Bu,” jawab Zero. Suara seketika tidak jelas. Dan telephone tiba-tiba terputus.
……….
Ia duduk disana, bersama dengan Rina di sebuah warung bakso. Sejak semalaman di rumah Zero ia belum pulang hingga kini jam menunjukkan pukul 10. Ia masih terpaku dengan sendok dan garpunya di atas sebuah meja besar, di atas meja itu ada 2 mangkok bakso, saos, kecap, cuka dan sebuah handphone milik Rehan. Sebuah handphone cukup bagus keluaran terbaru bermerek apple.
Ia menyalakan handphonenya dengan pandangan masih menghadap gadis di depannya. Tiba-tiba, handphone itu bergetar. Ribuan pesan masuk dan panggilan tak terjawab yang tak henti seakan musik sebuah piano di atas panggung. Indah meski tak beraturan. Namun Rehan tak peduli. Ia masih menatap gadis di depannya.
Handphone tersebut kembali bergetar, sebuah getaran yang cukup lama sekali dengan dibarengi sebuah nada dering. Rehan memegang handphonenya, lalu menatap ponsel tersebut.
“MAMA”
Ternyata telephone itu dari ibunya, ia menatapanya tanpa mengangkatnya. Ia mendiamkan beberapa lama.
“Yang, siapa yang nelepon, barangkali penting angkat aja?” tanya Rina penasaran.
“Nggak…. Itu biasa sales yang nawarin jam tangan. Aku udah bilang gak mau tapi dia maksa terus. Padahal kan aku gak butuh.”
“Ouh, gitu ya. Yaudah biarin aja, biar dia capek sendiri,” ucap Rina agak tersenyum.
“iya”
Nomer tersebut berulang kali menghubunginya. Namun ia tak lagi peduli. Ia justru sibuk dengan kegiatannya sendiri, bersama dengan Rina gadis pujaan hatinya. Mereka saling memuji satu sama lain, saling memberikan suapan kecil, hingga suapan yang besar. Hingga membuat orang yang menatap akan iri dibuatnya.
“Yang, kita kan udah lama pacaran.” Rina memulai percakapan setelah beberapa suapan manja.
__ADS_1
“Ya, terus….”
“Ya terus kapan kamu mau nikahin aku?”
Seketika suasana menjadi gelap. Nada-nada romantis yang sebelumnya tercipta oleh getaran hati dua insan yang dimabuk cinta kini menjadi nada kegelisahan dan keputusasaan dari orang yang seperti benar-benar mabuk. Rehan tak sanggup berbicara, ia hampir tak pernah memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Yang ia tahu, mereka berdua baru saja lulus sekolah, dan mereka berpacaran. Itu saja. Ia seakan belum memahami tentang kelanjutan hubungan tersebut. Namun ia tak punya alasan yang tepat untuk tidak menjawab, akhirnya ia berucap,
“Iya, nanti aku nikahin kamu kok. Tenang aja.”
Namun seperti halnya ungkapan pria yang kepepet oleh keadaan. Semua itu nampaknya tak akan terjadi untuk waktu yang dekat, bahkan mungkin saja itu tidak akan terjadi sama sekali.
“Bener loh ya?”
“Iya.”
“Kalau kamu bohong, lebih baik hubungan kita cukup sampai sini aja,” ucap Rina mengancam.
“Loh kok gitu?"
Rehan benar-benar tidak memikirkan itu. Selama ini hubungannya dengan Rina hanyalah sebatas pacaran, ia sama sekali belum berfikir untuk masuk ke fase selanjutnya. Namun apa boleh buat, semua itu sudah terlanjut. Dan ia sudah memberikan sebuah harapan kepada wanita.
Apalagi Rehan seorang pria dimana segala ucapannya bermakna janji yang harus ditepati, kecuali kalau ia ingin menjadi transgender atau banci, mungkin ia bisa membatalkan omongannya. Namun jika itu dilakukannya, ia jelas akan kehilangan Rina untuk selamanya
………..
Sudah pukul 10 malam ia belum kembali ke rumahnya, ibunya benar-benar cemas karena kelakuannya. Setelah mengantar Rina ke rumahnya ia tidak langsung pulang. Padahal ibunya benar-benar mengkhawatirkannya, dari pagi hingga malam nafsu makannya hampir tak ada, sepiring nasi dan lauk pauk ayam goreng itu sama sekali tak tersentuh. Ia duduk di sofa berbulu domba itu sejak tadi sambil memegang handphonenya mengharapkan Rehan menelephonenya.
Tiba-tiba, seseorang membuka pintu itu. Ah itu Rehan, tidak-tidak seseorang itu nampak lebih tua. Kumisnya yang membentang dari timur ke barat itu tidak sanggup membuat wanita ini tersenyum. Ia masih terlihat murung.
“Rehan belum pulang, Pa.”
“Dari kemarin?”
__ADS_1
“Iya”
Namun ekspresi muka lelaki itu nampak biasa. Ia tidak marah tidak juga senang. Benar-benar lelaki yang datar.
“Gimana nih, Pa. Kalau terjadi sesuatu kepadanya gimana?” ucap wanita itu yang makin terlihat cemas.
“Sudahlah. Anak itu sudah dewasa, jangan berlebihan seperti itu.”
Namun bagi seorang ibu, seorang anak tetaplah anak kecil meskipun ia sudah berjenggot atau berkumis, bahkan hingga anak itu memiliki 2 anak yang selalu digendongnya di atas pundaknya. Seorang anak tetaplah anak kecil bagi ibunya.
“Sudahlah jangan khawatir seperti itu. Saat ia butuh uang ia pasti akan kembali.” Lelaki itu menuju ke kamarnya meninggalkan perempuan itu.
Benar saja apa yang lelaki itu ucapkan. Selang beberapa lama Rehan pulang dalam keadaan benar-benar mabuk. Padahal hari itu ia sama sekali tidak meminum alkhohol.
“Kenapa baru pulang, Han. Mama sangat mengkhawatirkanmu.”
“Sudahlah jangan berlebihan, aku ingin istirahat,” ucap Rehan dengan singkat. Rehan langsung memasuki kamarnya. Ia nampak seperti orang mabuk meski ia sebenarnya tidaklah mabuk. Setelah masuk ke kamar, ia mengambil dompetnya yang kosong tanpa uang sepeser pun di saku kanannya. Ia mengambil sebuah foto, foto perempuan, foto Rina. Ia menatap foto itu, mengelus-elusnya, lalu mencium nya dengan bibirnya yang agak kehitaman itu.
“Ouh Rina, Aku sangat mencintaimu. Jika kau ingin bukti besar cintaku dengan membelah dadaku. Akan ku berikan itu Rina. Akan ku persilahkan kau membelahnya meski itu harus membunuhku. Tapi… tapi kau meminta bukti yang sangat sulit Rina, aku mencintaimu… benar-benar mencintaimu. Tapi untuk saat ini, aku tak bisa menikahimu karena kau tahu aku hanyalah pengangguran. Dan aku sadar dalam hubungan suami istri, cinta tidak akan bisa memenuhi segalanya.”
Ia kembali menatapnya, memeluk foto tersebut dengan eratnya. Benar-benar ia seperti orang mabuk. Ia kemudian menatap sebuah cermin. Memandangi wajahnya di dalam cermin itu dari atas hingga bawah.
Sambil memegangi foto itu, dan menghadapkannya ke arah cermin, ia berucap, “Lihat Rina, aku begitu berantakan. Aku seperti orang mabuk…. Karena untuk pertama kalinya aku tidak bisa menggunakan akalku. Karena kini hatiku telah berduka dan akal ku kini sedang menjenguknya mencoba mengusap segala kesedihannya.”
“Rina oh Rina, seandainya segala isi dunia ini miliku, aku rela memberinya untukmu. Tapi maaf sekali lagi Rina, dunia ini bukan milikku.”
Kepedihan Rehan benar-benar tak terbendung lagi. Ia benar-benar sudah sangat kacau atas wanita itu. Harapannya hampir habis. Segala dunianya telah runtuh, padahal 17 tahun orang tuanya membesarkannya dengan keringat, darah dan air mata. Namun dalam sekejap di tangan perempuan itu, perempuan yang baru dikenalnya beberapa tahun yang lalu, segalanya nampak tak berarti lagi. Segalanya bagai titik tengah dalam sebuah kue donat, kosong. Begitulah hatinya dan begitulah jiwanya. Memang benar, cinta adalah virus yang mematikan.
Mohon Kritik dan Saran
Dari Seorang Pemula
__ADS_1